BAB 12 — NAMA-NAMA DI DALAM NYANYIAN
Tidurlah, anakku, malam telah tiba,
Pejamkan matamu, lupakan dunia.
Angin membawa garam dari lautan,
Jangan kau ikuti suara panggilan.
Nara menatap alat perekam tanpa berkedip. Ia mengingat potongan lagu yang pernah didengarnya di dekat pantai. Melodinya serupa, tetapi rekaman ini memiliki bagian yang lebih panjang. Sarai melanjutkan nyanyiannya dengan suara yang semakin lirih.
Jika terdengar suara memanggil namamu,
Jangan kau jawab, jangan cari wajahnya.
Tak semua yang datang membawa rindu,
Tak semua yang pulang adalah milikmu.
Nara merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melirik Zabdiel, tetapi laki-laki itu tetap diam, mendengarkan dengan dahi berkerut. Ina Jose juga tidak mengatakan apa-apa.
Suara Sarai terdengar kembali setelah jeda pendek. Kali ini, melodinya berubah sedikit. Ada nada yang lebih rendah dan sendu, seolah bagian tersebut bukan ditujukan untuk menenangkan anak kecil, melainkan untuk memperingatkan seseorang yang sudah cukup dewasa untuk memahami bahaya.
Pulanglah sebelum bulan menemukanmu,
Sebelum laut menyebut namamu.
Bila jalan pulang tak lagi terlihat,
Jangan percaya pada cahaya yang dekat.
Nara menggenggam alat perekam lebih erat. Ia mengenali kalimat tentang pulang sebelum bulan meninggi dari sesuatu yang pernah didengarnya di desa. Namun, bagian selanjutnya membuatnya semakin gelisah.
Di balik batas, nama-nama tertahan,
Tak semua yang hilang menjadi kenangan.
Laut menyimpan yang tak sempat pulang,
Menjaga suara di antara karang.
Ia segera menoleh kepada Ina Jose, tetapi bibinya memberi isyarat agar ia mendengarkan sampai selesai. Sarai menyanyikan bait terakhir dengan suara yang nyaris berbisik.
Tidurlah, anakku, jangan kau menunggu,
Jika malam datang membawa masa lalu.
Dan suara yang kau rindukan,
Belum tentu ingin kembali.
Suara itu menghilang perlahan, menyisakan desis kaset yang terus berputar. Nara tidak segera menekan tombol berhenti. Ia duduk diam, menatap alat perekam di tangannya, sementara kata-kata yang baru didengarnya terus terngiang di dalam kepala.
Batas. Nama-nama yang tertahan. Laut yang menyimpan orang-orang yang tidak sempat pulang.
Lirik tersebut terlalu dekat dengan catatan Sarai yang ia temukan di pianika. Ibunya telah menuliskan nama-nama orang yang menghilang selama bertahun-tahun, lalu menyimpan catatan tentang pertemuan rahasia. Sekarang, sebuah rekaman lama menunjukkan bahwa Sarai juga menyanyikan sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang hilang dan batas yang tidak boleh dilewati.
“Bibi pernah mendengar lagu ini sebelumnya?” tanya Nara akhirnya.
Ina Jose mengangguk pelan. “Aku pernah mendengar Sarai menyanyikannya ketika kalian masih tinggal bersama. Tapi tidak semua bagian itu ada dalam lagu yang biasa ia nyanyikan di rumah.”
“Maksud Bibi?”
“Dulu, Sarai sering mengubah liriknya. Kadang ia menambahkan satu atau dua baris, lalu kembali menyanyikan versi yang lama. Aku tidak terlalu memikirkannya. Kukira itu hanya kebiasaannya ketika sedang mencoba membuat lagu sendiri.” Ina Jose menunduk sambil memandangi cangkir tehnya. “Tapi bagian tentang nama-nama yang tertahan itu tidak pernah kudengar sebelumnya.”
“Apakah Ibu pernah bercerita tentang arti lagu ini?”
“Tidak.” Ina Jose menggeleng. “Kalau aku bertanya, dia hanya bilang bahwa beberapa lagu lebih baik didengarkan sampai selesai daripada ditanyakan artinya.”
Nara memutar kembali kaset itu beberapa detik, memastikan ia tidak salah mendengar liriknya. Desis dari alat perekam terdengar lagi, disusul suara Sarai yang mengulang bagian tentang batas. Ia memperhatikan setiap kata, berusaha mencari hubungan antara lagu tersebut dan daftar nama yang selama ini diselidikinya.
Zabdiel akhirnya angkat bicara. “Menurutmu, lagu ini memang dibuat untuk memperingatkan seseorang?”
Nara tidak langsung menjawab. Ia masih memandangi alat perekam di tangannya. “Aku belum tahu. Tapi Ibu menyebut batas dan nama-nama yang hilang dalam satu lagu. Itu bukan sesuatu yang bisa kuabaikan begitu saja.”
“Bisa jadi dia hanya terinspirasi dari cerita lama desa,” kata Zabdiel. “Kita belum tahu kapan rekaman ini dibuat.”
“Benar. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan apa pun.” Nara menghentikan kaset dan meletakkannya di atas meja. “Tapi kalau ini memang hanya cerita lama, mengapa Ibu menyimpannya bersama catatan tentang orang-orang yang hilang?”
Ina Jose tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi ragu. Ia memandang Nara cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.
“Aku tidak tahu apa yang sedang dicari Sarai waktu itu. Dia tidak banyak bercerita kepadaku menjelang kepergiannya. Yang kuingat, dia sering terlihat gelisah dan beberapa kali datang kemari untuk meminjam kertas atau menyimpan barang. Aku pernah menanyakan apakah dia sedang memiliki masalah, tetapi dia selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.”
Nara merasakan kekecewaan yang sulit disembunyikan. Sekali lagi, ia menemukan jejak ibunya tanpa mendapatkan jawaban yang benar-benar jelas. Meski demikian, rekaman tersebut memberinya sesuatu yang tidak ia miliki sebelumnya: suara Sarai sendiri, menyanyikan lirik yang mungkin menyimpan petunjuk.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!