Bab 1: Harga Sebuah Permen
Suara kapur yang berdecit di papan tulis hitam adalah suara paling menyiksa yang pernah dikenal umat manusia. Suara itu lebih buruk dari derit pintu berkarat. Bahkan jauh lebih buruk dari suara The Observer yang bergema di dalam kepalaku.
“Dan oleh karena itu, koefisien aliran mana pada mantra Ignis tingkat satu harus dijaga agar tidak melebihi ambang batas termal...”
Instruktur Valerius, seorang penyihir tua dengan janggut yang terlihat seperti sarang laba-laba terus berceramah di depan kelas Teori Sihir Dasar.
Sedangkan aku? Victor Borisovich, siswa beasiswa tahun pertama di Akademi Gotyevsk, saat ini sedang berjuang dalam pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya: melawan rasa kantuk.
Aku menggeser posisiku di kursi kayu yang keras, jari-jariku meraba saku jas seragam. Ada. Butiran kecil di dalam bungkus yang bisa membantuku melawan rasa kantuk ini. Sebuah permen rasa lemon.
Aku menyelipkan permen itu ke dalam mulutku dengan gerakan sehalus mungkin. Rasa asam-manis yang tajam seketika langsung meledak di lidahku, mengirimkan sinyal ke otakku: Glukosa masuk. Sistem stabil.
Bagi siswa lain di Akademi Gotyevsk yang megah ini, sihir adalah seni, warisan darah, atau anugerah dewa. Bagiku? Sihir adalah transaksi bisnis yang buruk. Setiap mantra adalah hutang yang harus dibayar oleh sel-sel tubuhku. Dan mata kiriku—yang saat ini tersembunyi di balik kacamata berbingkai tebal dan perban tipis—adalah penagih hutang yang paling kejam.
”Detak jantung subjek stabil. Kadar glukosa darah meningkat 4%. Efisiensi kamuflase: 98%,” suara itu bergema di kepalaku seperti mesin yang membaca data.
Diamlah, batinku sambil mengunyah permen dengan kesal. Aku sedang mencoba untuk tidak tertidur, bukan meminta laporan kinerja.
Tiba-tiba, suasana kelas yang mengantuk itu pecah.
“Perhatikan baik-baik, orang-orang kampung! Ini adalah cara yang benar untuk memanipulasi elemen api!”
Itu suara Julian, putra seorang bangsawan wilayah selatan. Dia berdiri di depan meja praktiknya, tongkat sihirnya diayunkan dengan gaya yang lebih cocok untuk panggung teater daripada laboratorium. Di hadapannya, berdiri Lilia, seorang gadis desa yang rajin dan baik hati, yang sukarela menjadi “target latihan” karena terlalu polos untuk menolak.
“Julian, tunggu, mantranya belum stabil—“ cicit Lilia dengan wajah pucat.
“Diam! Aku sudah menguasainya!” Julian membentak. Ujung tongkatnya menyala. Tapi alih-alih bola api yang terkontrol, cahaya oranye itu bergetar liar, berubah menjadi cahaya ungu gelap.
Mana-burst. Tekanan mana di sekitar Julian runtuh. Mantra itu tidak akan meledak ke arah dinding, vektor ledakannya mengarah lurus ke dada Lilia.
Waktu seolah melambat. Instruktur Valerius masih menoleh ke papan tulis. Siswa lain masih tertawa. Tidak ada yang sadar bahwa dalam beberapa detik lagi, Lilia akan mengalami luka bakar tingkat tiga atau lebih.
Aku bisa membiarkannya. Itu bukan urusanku. Intervensi berarti menarik perhatian. Perhatian berarti penyelidikan. Penyelidikan berarti mereka akan melihat apa yang ada di balik perban mata kiriku, dan aku akan dikembalikan ke “fasilitas” itu.
Tapi ada garis yang bahkan seorang pengecut pragmatis sepertiku tidak bisa lewati.
Aku benci pekerjaan tambahan.
Dengan helaan napas yang berat, aku mendorong mejaku. Berpura-pura tersandung kaki kursiku sendiri, tubuhku terjungkal ke depan dengan dramatis, tepat ke jalur antara Julian dan Lilia.
“Ah, sial!” teriakku dengan suara yang terdengar panik dan canggung.
Di balik kacamata tebalku, aku memejamkan mata kananku rapat-rapat. Memfokuskan seluruh kesadaran ke mata kiriku. Aku melepaskan segelnya.
Rasa sakit yang tajam dan dingin langsung menusuk ke otakku, seperti jarum es yang dimasukkan ke dalam saraf optik. Di balik kelopak mata yang tertutup, pupil kiriku tidak lagi bulat. Ia berdenyut, berubah bentuk menjadi pola geometris alien yang berputar seperti roda gigi yang saling mengunci.
[Fitur Diaktifkan: The Changing Eye - School of Transmutation]
Aku tidak mencoba menghentikan ledakan itu. Itu di luar batas Constitution-ku. Sebagai gantinya, aku mengubah sifat dari ruang di antara kami.
Dengan sisa tenaga yang kuperas dari sel-sel tubuhku, aku memanipulasi koefisien gesekan udara dan kepadatan lantai tepat di bawah kaki Julian.
Ubah. Padat menjadi licin.
“Whoa—?!”
Kaki Julian, yang sedang bersiap menahan ledakan balik dari mantranya tiba-tiba kehilangan traksi. Dia tergelincir dengan gaya yang sangat tidak anggun, lengannya terayun liar ke atas. Bola api ungu yang tidak stabil itu sudah tidak mengarah ke Lilia, ia langsung menuju lurus ke atas, dan meledak dengan suara BOOM! yang menggema di langit-langit kelas yang tinggi, menghancurkan lampu kristal dan menghujani ruangan dengan debu plester.
Kelas mendadak hening. Membiarkan debu dari atas perlahan turun.
Lilia terduduk gemetar di lantai tanpa luka. Sedangkan Julian tergeletak di lantai dengan wajah yang memerah menahan rasa malu dan sakit. Instruktur Valerius berbalik dengan wajah yang juga memerah karena marah.
Dan aku? Aku terduduk di lantai dengan napas yang tersengal-sengal.
Dunia di sekitarku terasa seperti berputar. Vertigo yang brutal menghantamku seperti palu godam. Telingaku berdenging, dan aku bisa merasakan cairan hangat yang mengalir dari lubang hidung kiriku. Constitution debt. Tubuhku baru saja membakar kalori setara dengan lari marathon selama sepuluh detik. Sel-selku menjerit meminta energi.
”Anomali terdeteksi,” suara The Observer bergema, tanpa ada sedikit pun kepedulian pada rasa sakitku. ”Manipulasi lokal berhasil. Kerusakan jaringan kapiler hidung: minimal. Penurunan efisiensi seluler: 12%. Saran: Segera lakukan pengisian ulang biomassa.”
Diam, geramku dalam hati sambil meraba-raba saku yang lain dengan tangan gemetar.
“Victor Borisovich!” suara Instruktur Valerius menggelegar. “Apa yang kamu lakukan?!”
Aku mengangkat kepala, menyeka darah dari hidungku dengan punggung tangan, dan memasang ekspresi paling bodoh yang bisa kubuat.
“Maaf, Pak Instruktur,” kataku, suaraku terdengar lemah dan gemetar (yang mana, secara teknis, bukan akting). “Kaki saya tersandung. Saya... saya pikir saya akan jatuh menimpa Lilia, jadi saya mencoba untuk menangkap diri saya sendiri.”
Aku merogoh saku lagi, mengeluarkan bungkus permen yang sudah agak penyok. Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka satu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis itu langsung menyebar, sedikit meredakan kram yang mulai menyerang otot-ototku.
“Kamu ceroboh, Borisovich!” bentak Valerius, meski dia tampak lebih lega karena tidak ada siswa yang terluka parah. “Hukuman! Bersihkan seluruh laboratorium ini setelah kelas selesai! Dan kamu, Julian, kontrol manamu atau aku akan melaporkan ini ke Dewan!”
Julian mendengus, bangkit sambil membersihkan debu dari jubah mahalnya, melirikku dengan tatapan merendahkan. “Dasar orang kampung. Hampir saja kau merusak eksperimenku.”
Aku hanya tersenyum tipis, membiarkan dia berpikir seperti apa yang dia mau. Ya, ya. Aku ini memang orang kampung yang bodoh dan kikuk. Silakan terus berpikir begitu.
Saat kelas kembali berbisik-bisik dan Lilia membisikkan “terima kasih” yang hampir tak terdengar, aku menatap debu yang berjatuhan di lantai.
Di balik perban dan kacamataku, mata kiriku perlahan kembali ke bentuk bola mata abu-abu yang membosankan. Rasa sakitnya perlahan surut, menyisakan rasa lelah yang dalam.
”Fase pengamatan harian: Selesai,” bisik The Observer. ”Data tersimpan. Menunggu instruksi selanjutnya.”
Aku mengunyah permenku lebih keras. Instruksi selanjutnya adalah bertahan hidup sampai jam makan siang. Dan semoga kantin hari ini menyajikan puding. Aku benar-benar membutuhkannya sekarang.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!