Bab 2: Klub Penelitian Artefak Kuno
Jika ada satu hal yang lebih menyiksa daripada suara kapur di papan tulis, itu adalah suara langkah kaki siswa bangsawan yang bergema di lorong marmer Akademi Gotyevsk.
Aku butuh tempat tidur. Bukan kasur empuk di asrama bangsawan, tapi sekadar sudut yang gelap, sepi, dan bebas dari tatapan yang merendahkan.
Aku menyusuri Sayap Utara, area laboratorium praktik tua yang jarang dikunjungi. Di ujung lorong yang berdebu, ada sebuah pintu kayu dengan papan nama yang hampir pudar: Ruang Penyimpanan Artefak Rusak.
Sempurna.
Aku mendorong pintu itu. Bunyi engselnya berdecit nyaring.
Di dalam, ruangan itu berantakan. Tumpukan roda gigi, kristal retak, dan kabel tembaga berserakan di lantai. Tapi di tengah kekacauan itu, ada seorang gadis dengan rambut merah berantakan dan kacamata las di dahi sedang mengutuk sebuah mesin uap kecil.
“Sialan, rasio kompresi mana-nya tidak sinkron!” gerutunya sembari memukul mesin itu dengan kunci inggris.
Di sudut ruangan, seorang pria berotot dengan bekas luka di pipi sedang duduk tenang, mengelap pedang pendeknya dengan kain bersih. Dia hanya menatapku sekilas dengan mata abu-abunya, lalu kembali ke pedangnya.
“Eh? Siapa kamu?” Gadis rambut merah itu menoleh, matanya berbinar aneh. “Kamu nyasar ya? Ini ruang Klub Penelitian Artefak Kuno!”
“Maaf,” gumamku dengan suara datar. “Sepertinya aku salah kamar. Aku akan pergi sekarang.”
“Tunggu!” Dia langsung berlari menghampiriku, mengulurkan tangan yang penuh noda oli. “Aku Kira Volkov, ketua klub! Dan itu Dima. Kau siswa tahun pertama? Wajahmu terlihat seperti orang yang sangat butuh tidur!”
Dia terlalu observatif. Ini berbahaya.
“Aku hanya ingin...”
KRAK!
Suara kayu retak memotong ucapanku. Rak besi tua di belakang Kira, yang tadi dia panjat untuk mengambil sebuah kristal, tiba-tiba miring. Beban di atasnya—sebuah patung logam seberat minimal lima puluh kilogram—mulai jatuh lurus ke arah kepala Kira.
Waktu melambat. Dima terlalu jauh. Kira terpaku, matanya membelalak menatap bayangan logam yang jatuh.
Sial. Sial. Sial.
Aku benci pekerjaan tambahan. Dunia ini penuh dengan orang yang membuat masalah, dan selalu aku yang harus membersihkannya. Tapi jika tidak aku lakukan, aku juga tidak mau melihat orang mati di depan mataku.
Tanganku meraba saku dengan cepat, menarik keluar cokelat batangan, menggigitnya dengan kasar dan membiarkan gula cair langsung membanjiri aliran darahku.
Di balik kacamata tebalku, aku memejamkan mata kananku. Memfokuskan seluruh kesadaran ke mata kiri.
Rasa dingin yang tajam kembali menusuk saraf optikku untuk yang kedua kalinya di hari ini. Pupil kiriku berdenyut, bersinar terang, dan membentuk pola perisai biru metalik yang berputar cepat.
[Fitur Diaktifkan: Mata Kiri - Mode Perisai Biru]
Aku mengulurkan tangan kiriku, kemudian sebuah penghalang energi transparan berwarna biru muncul di atas kepala Kira.
BRUK!
Patung logam itu menghantam penghalangku. Getarannya merambat langsung ke tulang lenganku, membuat gigiku bergemeretak.
Di saat yang bersamaan, efek penggunaan Mode Perisau Biru ini langsung terasa.
Dunia di mata kananku seperti padam total. Mata kananku hanya bisa melihat kegelapan, dengan kata lain, saat ini aku buta sebelah.
Rasa sakit yang membakar langsung menjalar dari pelipis kananku ke seluruh otak. Constitution debt. Sel-sel di mata kananku menjerit karena dipaksa mati fungsi secara paksa.
Satu detik. Hanya itu waktu yang kubutuhkan.
Aku mendorong Kira ke samping dengan bahu kiriku, lalu mematikan penghalang itu. Patung logam jatuh menghantam lantai dengan suara dentuman keras, tepat di tempat Kira berdiri sebelum aku mendorongnya.
“K-Kira!” Dima bangkit, tangannya meraih gagang pedang.
Aku hanya diam. Lututku lemas, membiarkan tubuhku jatuh ke depan, pura-pura kehilangan kesadaran dan mendarat di lantai berdebu.
Maaf, Kira. Dima. Aku butuh tidur. Dan mata kananku butuh waktu sepuluh menit untuk booting ulang.
Suara langkah kaki mendekat. Kira berlutut di sampingku, tangannya gemetar saat menyentuh dahiku.
“Dia pingsan! Dima, ayo bawa dia ke UKS!”
Di dalam kegelapan mata kananku yang buta, suara itu bergema.
“Durasi penghalang: 1,2 detik. Efisiensi penyerapan kinetik: 84%. Kerusakan saraf optik kanan: sementara. Subjek ini benar-benar tidak efisien dalam mengelola cadangan energinya,” suara The Observer bergema, nada klinisnya diwarnai sedikit nada merendahkan yang khas. “Tapi... refleksnya bisa diterima untuk standar makhluk fana.”
Diam, batinku, sambil tetap pura-pura tidak sadarkan diri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!