Malam itu, asrama commoner terasa seperti kulkas raksasa yang pintunya dibiarkan terbuka. Angin dingin menyusup lewat celah-celah jendela kayu tua yang sudah lapuk, membawa serta suara dengkuran kasar dari tiga teman sekamarku yang lain.
Tapi aku tidak bisa berhenti berkeringat.
Tubuhku terbakar dari dalam. Otot-ototku berkedut dan kram dengan ritme yang menyiksa, sisa dari Constitution debt berat yang harus kubayar mahal karena melawan Golem Batu Level 15 di dungeon. Rasanya seperti ada seseorang yang memeras serat-serat ototku seperti handuk basah, lalu menaburkan garam di atasnya. Di tenggorokanku juga masih tertinggal rasa logam darah dari mimisan sore tadi, dan setiap kali aku menarik napas, dada kiriku terasa seperti ditusuk jarum tumpul.
Pekerjaan tambahan. Lagi.
Aku meringis, memeluk bantal tipis yang berbau apek dan lembap ke dadaku. Aku tidak bisa pergi ke UKS lagi malam ini. Jika aku terlalu sering masuk klinik dengan alasan yang sama, Instruktur Valerius atau pihak administrasi akan mulai bertanya. Dan di Akademi Gotyevsk, pertanyaan selalu berarti penyelidikan. Penyelidikan berarti mereka akan melihat rekaman mana atau anomali di tubuhku. Dan itu berarti aku akan dikembalikan ke “Fasilitas”.
Aku lebih memilih mati kepanasan di sini daripada kembali ke tempat itu.
“Suhu tubuh subjek: 39,4 derajat. Detak jantung: 110 BPM. Sel-sel otot mengalami robekan mikro parah di area bahu kiri dan paha kanan,” suara The Observer bergema di kepalaku. Nadanya datar, klinis, dan sama menyebalkannya seperti biasa, seolah-olah dia sedang membaca daftar belanjaan, bukan kondisi kritis inangnya. “Saran: Konsumsi air minimal dua liter dan istirahat total. Jika tidak, efisiensi inang akan turun 60% besok, meningkatkan risiko pingsan saat aktivitas fisik ringan.”
“Diam,” geramku pelan, suaraku serak dan parau. “Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu itu semua. Tapi aku tidak punya obat demam, dan aku terlalu malas untuk berjalan ke asrama lain hanya untuk mencuri air.”
Aku memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan rasa sakit yang berdenyut di setiap persendian. Aku berharap bisa tidur. Aku benar-benar, sangat menginginkan tidur yang nyenyak. Hanya delapan jam. Itu saja permintaanku pada alam semesta yang kejam ini.
Tiba-tiba, rasa dingin yang aneh merambat dari pelipis kiriku.
Bukan rasa dingin biasa seperti angin malam yang menyusup lewat jendela. Ini adalah dingin yang tajam, terstruktur, dan menusuk. Rasanya seperti ada aliran cairan nitrogen cair yang menyebar turun melalui leher, bahu, hingga ke seluruh tulang belakangku. Seperti ada es batu yang dilelehkan dengan presisi matematis tepat di dalam aliran darahku, mengejar setiap titik panas di tubuhku.
Aku tersentak dan langsung membuka mataku, napasku tercekat. “Apa yang kau lakukan?”
“Menginisiasi termoregulasi paksa,” jawab The Observer tanpa jeda. “Mendinginkan sistem saraf pusat untuk mengurangi demam dan meredakan kram otot. Efisiensi pendinginan: 88%.”
Aku terdiam, terkesima. Aku menatap langit-langit asrama yang gelap dan penuh noda air.
Tunggu sebentar.
Dalam semua laporan, analisis, dan hinaannya selama ini, The Observer tidak pernah peduli pada rasa sakitku. Baginya, aku ini hanya “wadah”, “subjek percobaan”, atau “inang fana yang tidak efisien”. Dia adalah mesin pengumpul data. Dia tidak punya protokol untuk “merawat”, “menghibur”, atau “membantu” inangnya bertahan hidup, kecuali jika itu secara langsung menguntungkan pengumpulan datanya.
Tapi sekarang, dia secara sukarela menggunakan energi artefak yang seharusnya dia simpan untuk dirinya sendiri, hanya untuk menstabilkan suhu tubuhku?
Itu tidak ada di protokol pengumpulan datamu, batinku, menatap kegelapan dengan curiga. Sejak kapan mesin peduli pada kenyamanan komponen yang bisa diganti?
Hening. Hanya ada suara napasku yang perlahan menjadi lebih teratur dan dalam karena rasa dingin yang menenangkan itu mulai meredakan kram di otot-ototku.
“Koreksi,” suara The Observer akhirnya bergema lagi. Nadanya masih datar dan mekanis, tapi ada jeda yang sangat singkat, hampir tidak terdengar, sebelum dia berbicara. Sebuah glitch kecil dalam kesempurnaannya. “Wadah yang rusak akan menghambat proses materialisasi jangka panjang. Mempertahankan kondisi fisik inang pada tingkat fungsional minimum adalah... prioritas logis.”
Prioritas logis.
Aku menatap langit-langit lagi, bibirku membentuk senyum tipis yang sinis di dalam kegelapan. Aku tahu dia berbohong. Atau setidaknya, dia sedang beradaptasi. Sejak kapan sebuah entitas kosmik yang sekarat peduli pada “prioritas logis” jika tujuannya hanya mengumpulkan data dari jarak jauh? Ada sesuatu yang berubah di dalam kode pemrogramannya. Sesuatu yang mulai belajar dari kelelahan dan keteguhan manusiaku.
Tapi aku terlalu lelah untuk memperdebatkan filosofi mesin dengan sisa kesadaranku yang tinggal sedikit. Rasa sakit di ototku perlahan memudar, digantikan oleh rasa berat yang hangat dan nyaman. Kelopak mataku terasa seperti ditimpa batu bata.
“Terima kasih,” gumamku, hampir tak terdengar, suaraku tenggelam dalam desau angin malam, sebelum aku menarik selimut tipis itu hingga ke dagu.
Tidak ada jawaban dari The Observer. Tidak ada laporan efisiensi, tidak ada hinaan tentang makhluk fana. Hanya ada keheningan yang tenang dan menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku melarikan diri dari fasilitas sialan itu, sejak aku masuk ke akademi penuh politik ini, aku tertidur nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Tanpa bayangan Subject 74 yang menatapku dengan mata biru yang sempurna. Hanya kegelapan yang damai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!