Pagi itu, Akademi Gotyevsk berubah menjadi papan pengumuman raksasa yang berisik.
Di setiap sudut koridor, di pintu ruang kelas, bahkan di tiang-tiang lampu kristal di halaman utama, poster-poster baru ditempel dengan rapi. Wajah Julian von Hartmann tersenyum sempurna di atasnya, dicetak dengan tinta emas yang mencolok. Di bawah wajahnya, tertera slogan yang terdengar sangat muluk: ”Efisiensi. Kemurnian. Kemajuan untuk Gotyevsk.”
Aku berdiri di depan salah satu poster itu, mengunyah permen lemon dengan datar. Rasanya terlalu manis, tapi setidaknya itu bisa menetralkan rasa asam di lambungku setiap kali aku melihat wajah itu.
“Dia benar-benar tidak punya malu, ya?”
Suara Kira bergema di sampingku. Gadis berambut merah itu menatap poster Julian dengan tatapan yang bisa melubangi besi. Di tangannya, dia meremas selembar kertas resmi berstempel lilin merah.
“Apa maksudmu?” tanyaku, meskipun aku sudah sangat paham.
“Surat pemberitahuan resmi dari Student Council,” geram Kira, mengibaskan kertas itu di depan wajahku. “Mereka menyatakan bahwa Klub Penelitian Artefak Kuno ‘tidak menghasilkan prestasi akademik yang sepadan dengan alokasi dana’. Mulai bulan depan, anggaran kita dipangkas delapan puluh persen. Dan jika kami tidak bisa menunjukkan ‘kontribusi nyata’ dalam waktu satu bulan, ruang klub akan disita dan dialihkan ke Klub Persiapan Duel Elite.”
Aku menghela napas panjang. Napas yang terasa berat dan lelah.
Pekerjaan tambahan. Lagi.
Aku sudah menduganya. Ini bukan sekadar bullying biasa dari anak bangsawan yang bosan. Ini adalah manuver politik tingkat tinggi.
Kepala Sekolah Gotyevsk adalah sosok hantu. Tidak ada yang pernah melihatnya di kampus selama dua tahun terakhir. Kekosongan kekuasaan di puncak itu menciptakan vakum yang berbahaya. Dan seperti hiu yang mencium darah, keluarga-keluarga noble berebut untuk mengisi kekosongan itu.
Student Council bukan lagi sekadar organisasi siswa. Itu adalah kunci kendali de facto atas anggaran akademi, aturan disiplin, dan hak ekspulsi. Keluarga Hartmann, dengan segala arogansi dan kekayaannya, ingin kursi Presiden Student Council untuk memastikan kebijakan akademi menguntungkan bisnis dan prestise mereka.
Dan untuk mendapatkan suara dari faksi-faksi noble lainnya, Julian harus menunjukkan satu hal: bahwa dia “tegas” dan “efisien”. Cara termudah untuk terlihat tegas adalah dengan menyingkirkan elemen yang dianggap lemah, tidak berguna, dan mudah diinjak.
Yaitu kami. Siswa beasiswa. Dan Klub Artefak yang dianggap kumpulan “pemulung gila”.
“Kita bisa melapor ke Instruktur Valerius,” kata Lilia yang baru saja bergabung dengan kami, wajahnya pucat dan cemas. “Beliau pasti tidak akan membiarkan ini terjadi.”
“Valerius hanya seorang guru teori, Lilia,” jawab Dima dengan suara rendahnya yang tenang. Dia berdiri di belakang kami, tangannya secara refleks menyentuh gagang pedang pendek di pinggangnya. “Dia tidak punya wewenang untuk membatalkan keputusan administratif Student Council. Apalagi keputusan yang didukung oleh Baron Hartmann.”
Kira mendengus kesal, tapi bahunya merosot. Dia tahu Dima benar.
Aku menatap poster Julian lagi. Senyum di wajah itu tiba-tiba terlihat sangat berbeda. Itu bukan senyum percaya diri. Itu adalah senyum seseorang yang sedang dikejar-kejar oleh ekspektasi keluarganya sendiri. Jika Julian gagal memenangkan posisi ini, dia tidak hanya akan mempermalukan dirinya sendiri, tapi juga dianggap “gagal total” oleh ayahnya.
Dia terjebak dalam permainan politiknya sendiri. Dan dia memilih untuk menjadikan kami sebagai tumbal untuk membuktikan kompetensinya.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan, Victor?” tanya Kira, menatapku dengan harapan yang menyala-nyala. “Kau selalu punya ide, kan? Kau yang membuat pintu itu patah minggu lalu. Kau yang...”
“Aku hanya kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, Kira,” potongku cepat, memasang wajah bodohku yang paling meyakinkan. “Aku ini hanya siswa beasiswa yang gampang pingsan. Ingat? Aku tidak tahu apa-apa tentang politik atau strategi.”
Kira mengerucutkan bibirnya, jelas tidak puas dengan jawabanku, tapi dia tidak bisa membantah logika “kebodohan”-ku.
“Kita akan mencari cara,” gumam Dima, menepuk bahu Kira dengan lembut. “Kita tidak akan menyerahkan ruang klub kita begitu saja.”
Mereka bertiga berjalan mendahuluiku menuju ruang kelas, meninggalkan aku sendirian di koridor yang mulai ramai.
Aku merogoh saku, menemukan satu cokelat batangan yang masih tersisa. Aku membukanya dan menggigitnya dengan kasar. Rasa manis dan lemak cokelat itu sedikit menenangkan saraf-sarafku yang tegang.
Aku tidak peduli dengan politik. Aku tidak peduli dengan ambisi keluarga Hartmann. Tapi mereka mengancam satu-satunya tempat di akademi ini di mana aku bisa tidur siang dengan damai. Mereka mengancam Kira, Dima, dan Lilia. Orang-orang yang, tanpa aku sadari sepenuhnya, telah menjadi satu-satunya alasan aku betah bertahan di tempat sialan ini.
Garis batas kenyamanan pribadiku telah dilanggar. Lagi.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema dengan nada yang datar dan menghakimi.
“Analisis sosiopolitik: primitif,” suara The Observer bergema. “Spesies ini memperebutkan kendali atas tumpukan batu, kertas, dan hierarki sosial yang rapuh. Sementara itu, entitas Realm Machine sedang menyusun armada materialisasi di orbit planet ini. Efisiensi spesies ini: nol.”
Diamlah, batinku, menatap langit-langit koridor yang megah. Kau tidak perlu mengurus politik sekolah. Tapi aku yang harus menghadapi anak manja ini setiap hari. Dan jika dia pikir dia bisa mengambil tempat tidur siangku...
Aku menelan sisa cokelat di mulutku, rasa manis itu berubah menjadi tekad yang dingin.
...dia akan belajar bahwa mengganggu waktu tidur seseorang adalah kesalahan fatal.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!