Tiga hari setelah poster-poster emas itu muncul, suasana di Akademi Gotyevsk berubah menjadi tidak nyaman.
Udara di koridor terasa berat, dipenuhi oleh bisik-bisik cemas dari siswa commoner dan tawa merendahkan dari kelompok bangsawan. Ini bukan lagi sekadar persaingan pemilu Student Council yang sopan. Ini adalah Black Campaign.
Aku sedang berbaring di sofa tua di ruang Klub Artefak, mencoba memanfaatkan waktu istirahat siang untuk tidur. Tapi suara ledakan kecil dari luar jendela memecah kedamaianku.
BOOM!
Asap hitam mengepul dari arah asrama commoner. Beberapa menit kemudian, suara lonceng darurat akademi berdentang keras.
Aku menghela napas panjang, duduk di sofa dan merogoh saku. Untungnya, masih ada satu permen peppermint. Aku memasukkannya ke dalam mulut. Rasa mint yang tajam sedikit meredakan sakit kepala yang mulai muncul.
Pintu ruang klub terbuka tanpa diketuk.
Julian von Hartmann melangkah masuk, diapit oleh dua siswa tahun kedua dari faksinya. Jubah bordir emasnya terlihat sangat kontras dengan ruangan berdebu dan penuh suku cadang mesin di sekitarku. Dia menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.
“Ruang ini benar-benar bau karat dan kegagalan,” gumam Julian, menutupi hidungnya dengan saputangan sutra.
“Ada apa, Julian?” tanyaku datar tanpa beranjak dari sofa. “Jika kau datang untuk meminta sumbangan dana kampanye, kau salah tempat. Kami bahkan tidak punya uang untuk membeli oli mesin.”
Julian menurunkan saputangannya, menatapku dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. “Aku tidak butuh uangmu, Borisovich. Aku datang untuk memberikan peringatan. Ledakan di asrama commoner tadi... itu disebabkan oleh kebocoran mana dari salah satu artefak rusak yang kalian simpan di sini.”
Aku mengerjap. Tunggu sebentar.
Aku tahu persis apa yang terjadi di asrama commoner. Konduit mana di gedung itu sudah tua dan terbuat dari tembaga murah yang dibeli oleh kontraktor keluarga Hartmann. Itu Adalah hasil dari kegagalan infrastruktur karena korupsi, bukan karena artefak kami.
“Kau berbohong,” jawabku datar. “Konduit mana di asrama commoner menggunakan tembaga grade-C. Itu gagal karena korosi, bukan karena artefak kami.”
Wajah Julian sedikit berkedut, tapi dia cepat menutupinya dengan tawa kecil. “Oh, Borisovich. Kau pikir siapa yang akan percaya pada kata-kata siswa beasiswa yang bahkan tidak punya tongkat sihir? Fakta di lapangan adalah ledakan itu terjadi di dekat gedung ini. Dan Student Council punya tanggung jawab untuk memastikan keamanan kampus.”
Dia mengangguk pada salah satu pengikutnya. Pengikut itu melangkah maju dan meletakkan sebuah dokumen di atas meja berdebu di depanku. Di atasnya tertera stempel resmi Student Council.
“Surat Pembubaran Sukarela,” kata Julian, suaranya merendahkan. “Tandatangani ini. Bubarkan klub ini, dan aku akan memastikan kalian tidak dituntut atas kerusakan asrama. Jika tidak...”
Dia menatap Kira yang baru saja masuk ke ruangan, wajahnya pucat pasi mendengar tuduhan itu.
“...jika tidak, aku akan menggunakan wewenang darurat presidensiku untuk mengekspulsi semua anggota klub ini atas tuduhan kelalaian yang membahayakan nyawa siswa. Termasuk kau, Borisovich.”
Ruangan itu hening. Hanya ada suara detak jam dinding dan napas Kira yang tercekat.
Aku menatap dokumen itu. Pembubaran sukarela. Julian sangat licik. Dia tidak ingin membubarkan kami secara paksa karena itu akan memicu protes dari Instruktur Valerius dan beberapa guru yang masih punya hati nurani. Dia ingin kami menyerah sendiri, memberikan ilusi bahwa kami mengakui kesalahan kami.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema dengan nada yang dingin dan menghakimi.
“Analisis taktik politik: manipulatif,” suara The Observer bergema. “Subjek Julian menggunakan ketakutan dan ketidaktahuan massa untuk mencapai tujuan. Efisiensi metode ini: tinggi. Namun, moralitasnya: nol.”
Diamlah, batinku, menatap Julian yang sedang tersenyum puas. Aku tidak butuh analisis moral dari mesin pembunuh kosmik.
Aku berdiri perlahan dari sofa. Tubuhku masih terasa sedikit pegal sisa dari Constitution debt minggu lalu, tapi aku tidak akan menunjukkan kelemahan di depan anak manja ini. Aku berjalan menuju meja, mengambil dokumen itu, dan menatapnya.
“Kau pikir kau bisa menginjak kami sesuka hatimu, Julian?” tanyaku dengan suaraku rendah.
“Aku tidak menginjak siapa pun, Borisovich. Aku hanya membersihkan akademi dari sampah yang tidak berguna,” jawab Julian dengan dagu yang terangkat. “Kau punya waktu sampai besok pagi. Tanda tangani, atau akan aku hancurkan tempat ini.”
Dia berbalik dan berjalan keluar, pengikutnya mengikuti dengan langkah sombong. Diikuti oleh suara pintu yang ditutup dengan keras di belakang mereka.
Kira berlari menghampiriku, matanya berkaca-kaca. “Victor... kita harus bagaimana? Jika kita dituntut, kita akan dikeluarkan! Keluargaku... aku tidak bisa kehilangan beasiswa ini!”
Aku menatap Kira, lalu menatap Dima yang baru saja masuk dari gudang belakang, wajahnya terlihat menahan amarah dan tangannya sudah dalam posisi siap di gagang pedangnya. Lilia juga ada di belakang Dima, wajahnya pucat dan gemetar.
Mereka semua menatapku. Menunggu.
Aku menghela napas panjang, meremas dokumen itu hingga menjadi bola kertas, dan melemparkannya ke tempat sampah di sudut ruangan.
“Kita tidak akan menandatangani apa pun,” kataku dengan suara tenang tapi tegas. “Dan kita tidak akan membubarkan klub ini.”
“Tapi Victor—“ Lilia mencoba membantah, suaranya gemetar.
“Lilia,” potongku lembut. “Konduit mana di asrama itu gagal karena tembaga murah. Aku akan membuktikannya. Julian hanya bluffing. Dia tidak berani mengekspulsi kita tanpa bukti nyata karena itu akan memicu penyelidikan dari dewan guru yang tidak dia kontrol.”
Aku merogoh saku lagi, menemukan cokelat batangan terakhir. Aku membukanya dan menggigitnya dengan kasar. Rasa manis dan lemak cokelat itu sedikit menenangkan saraf-sarafku yang tegang.
Pekerjaan tambahan. Lagi. Dan kali ini, aku harus bermain politik.
Aku tidak peduli dengan kursi Student Council. Aku tidak peduli dengan ambisi keluarga Hartmann. Tapi mereka mengancam satu-satunya tempat di akademi ini di mana aku bisa tidur siang dengan damai. Mereka mengancam Kira, Dima, dan Lilia. Orang-orang yang, tanpa aku sadari sepenuhnya, telah menjadi satu-satunya alasan aku betah bertahan di tempat sialan ini.
Garis batas kenyamanan pribadiku telah dilanggar. Lagi.
“Kira,” kataku, menatap gadis berambut merah itu. “Kau bilang kau bisa melacak sumber kebocoran mana dari residu yang tertinggal di lokasi ledakan, kan?”
Kira mengedip, air matanya masih menggenang di pelupuk matanya, tapi ada sedikit cahaya harapan di matanya. “I-iya. Aku bisa. Tapi aku butuh akses ke lokasi ledakan...”
“Aku akan mengurus aksesnya,” jawabku, menelan sisa cokelat di mulutku. Rasa manis itu berubah menjadi tekad yang dingin. “Julian pikir dia bisa menggunakan ketakutan untuk membuat kami menyerah. Dia akan belajar bahwa mengganggu waktu tidur seseorang... dan mengancam teman-temannya... adalah kesalahan fatal.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!