Bab 8: Ancaman dari Jurusan Atas
Akhirnya aku bisa mendapatkan satu jam tidur siang yang berkualitas di sudut ruang klub. Walaupun kepalaku masih sedikit berdenyut akibat dari manipulasi gesekan mesin uap tadi, tapi rasa manis dari roti isi krim Kira juga berhasil meredakannya.
Aku baru saja memasuki fase tidur nyenyak ketika suara tendangan keras menghancurkan kedamaianku.
BRUK!
Pintu kayu ruang klub terbuka paksa. Tiga orang siswa tahun ketiga berdiri di ambang pintu. Jubah mereka memiliki bordir emas yang lebih rumit, menandakan status mereka sebagai bangsawan tingkat tinggi.
Pemimpin mereka, seorang pria berpostur tinggi dengan rambut pirang disisir gel, melangkah masuk dengan dagu terangkat.
“Dengar baik-baik, anak-anak junior dan senior yang tidak berguna,” suara pria itu bergema, penuh dengan arogansi yang tidak perlu. Matanya menyapu Victor dan Kira dengan jijik, sebelum menatap Dima dengan tatapan menantang. “Mulai besok, ruang ini akan diambil alih oleh Klub Persiapan Duel Elite. Klub Artefak Kuno kalian dipindahkan ke gudang belakang yang tidak terpakai.”
Kira langsung berdiri, tangannya yang penuh noda oli mengepal. “Kau tidak bisa begitu saja mengambil alih ruangan klub kami! Kami sudah mendaftarkan ruangan ini secara resmi ke Student Council!”
“Student Council?” Pria itu tertawa merendahkan. “Presiden Student Council adalah sepupuku. Anggap ini sebagai perintah langsung dari keluarga Hartmann.”
Di sudut ruangan, Dima perlahan berdiri. Tangannya secara refleks bergerak ke gagang pedang pendek di pinggangnya. Matanya yang abu-abu menatap ketiga siswa tahun ketiga itu dengan dingin.
Aku menghela napas panjang di dalam hati. Pekerjaan tambahan. Lagi.
Aku hanya ingin tidur. Aku tidak peduli dengan politik ruang klub. Tapi jika mereka mengambil ruang ini, Kira akan kehilangan tempat untuk merakit mesinnya, dan aku akan kehilangan tempat tidur siang terbaik di seluruh akademi ini.
Garis batas moral dan kenyamanan pribadiku telah dilanggar.
“Keluar dari sini, atau kami akan membantu kalian keluar,” ancam Dima dengan suara yang rendah dan terdengar berbahaya.
“Berani sekali kau, anak kampung!” Pria tahun ketiga itu maju selangkah, mengangkat tongkat sihirnya. Ujung tongkat itu mulai menyala merah, memanaskan udara di sekitarnya. “Aku akan ajarkan sopan santun padamu—“
Aku tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya.
Dari posisi dudukku di sudut yang gelap, aku menundukkan kepalaku, membiarkan rambut hitamku menutupi kacamata tebalku. Aku memejamkan mata kananku. Memfokuskan sedikit kesadaranku ke mata kiri.
Pupil kiriku berdenyut pelan, berubah menjadi pola roda gigi alien yang saling mengunci.
[Fitur Diaktifkan: Mata Kiri - Mode Roda Gigi]
Aku tidak menargetkan pria itu. Itu akan terlalu mencolok. Sebagai gantinya, aku memanipulasi koefisien gesekan di antara sol sepatu bot kulit mahalnya dengan lantai yang diinjaknya.
Ubah. Gesekan menjadi nol.
Dan sebagai bonus, aku sedikit melonggarkan baut pada engsel pintu kayu berat di belakangnya.
Pria tahun ketiga itu mengayunkan tongkatnya, melangkah maju dengan percaya diri untuk memberikan pelajaran pada Dima.
Tapi kakinya tidak menemukan traksi.
“Wha—?!”
Kaki kanannya tergelincir ke depan dengan kecepatan yang tidak wajar. Keseimbangannya hilang total. Dia terhuyung ke belakang, lengannya berputar liar, dan tongkat sihirnya menembakkan bola api kecil yang meleset ke langit-langit.
Dia jatuh telentang dengan suara GUBRAK! yang sangat tidak anggun.
Tubuhnya yang jatuh menghantam pintu kayu di belakangnya. Karena baut engsel yang sudah kulonggarkan, pintu itu tidak hanya terbuka, tapi terlepas dari satu sisi engselnya dan jatuh menimpa wajah pria itu.
KRAS!
Hening.
Dua pengikutnya menatap pemimpin mereka yang kini terbaring di lantai dengan pintu kayu yang menempel di wajahnya, sama sekali tidak bergerak.
“A-Apa yang terjadi?!” salah satu dari mereka berteriak panik. “Lantainya... lantainya licin!”
“Mungkin... mungkin ruang ini berhantu!” yang lain menambahkan, wajahnya pucat. “Ayo kita pergi!”
Mereka menyeret pemimpin mereka yang masih mengerang kesakitan keluar dari ruangan, meninggalkan sisi kiri sepatu botnya yang tertinggal di lantai. Membiarkan pintu yang patah seperti tidak ada yang berubah dengan pintu itu.
Aku segera mematikan mata kiriku. Roda gigi di pupilku menghilang.
Rasa pusing ringan menghantam kepalaku. Constitution debt. Memanipulasi dua objek sekaligus (lantai dan engsel pintu) memang menguras sedikit lebih banyak kalori.
Aku merogoh saku, mengambil permen peppermint, dan memasukkannya ke dalam mulut. Untungnya rasa mint yang tajam dari permen ini bisa langsung menyegarkan otakku.
“Wow...” Kira menatap pintu yang patah, lalu menatap lantai, matanya berbinar tak percaya. “Kira-kira... apa lantai ini memang sudah aus? Atau pintu ini memang rapuh?”
Dima menatap lantai batu itu, lalu menatapku sekilas. Dia tidak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia tahu. Atau setidaknya, dia curiga ada campur tanganku disana.
“Aku rasa kau harus memperbaiki pintunya, Kira,” kataku dengan suara datar, pura-pura menguap. “Dan aku butuh tidur lagi. Tolong jangan berisik.”
Kira langsung tersenyum lebar, berlari menghampiriku dan menepuk bahuku dengan keras. “Terima kasih, Victor! Entah bagaimana, kau selalu ada di saat yang tepat! Nanti malam aku akan buatkan kue cokelat khusus untukmu!”
Kue cokelat. Baiklah, mungkin pekerjaan tambahan ini ada harganya.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema.
“Metode mengusir parasit sosial: sangat efisien,” suara The Observer bergema, nada klinisnya diwarnai sedikit nada merendahkan yang khas. “Memanfaatkan gravitasi dan kebodohan target. Meskipun... kau seharusnya tidak membuang energi untuk melindungi tempat tidur siangmu. Itu sangat tidak logis untuk ukuran makhluk fana.”
Diamlah, batinku sambil terus mengunyah permen yang ada di dalam mulut. Kau tidak pernah tidur di lantai keras, jadi kau tidak akan pernah paham nilai strategis dari sebuah tidur siang yang berkualitas.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!