Bab 7: Kira dan Mesin Rusak
Mata kiriku masih berdenyut lemah sisa dari pengelihan di perpustakaan semalam. Kepalaku masih terasa berat, dan yang paling aku inginkan saat ini hanyalah kembali ke asrama, menarik selimut, dan tidur selama dua belas jam non-stop.
Tapi Kira Volkov sepertinya tidak tahu apa arti dari kata ‘istirahat’.
“Victor! Kau di sini! Sempurna!”
Gadis berambut merah itu menyeretku keluar dari lorong sepi, cengkeraman tangannya di lenganku terasa cukup kuat untuk ukuran seorang Artificer yang lebih sering memegang obeng daripada pedang.
“Aku butuh otot tambahan. Dima sedang membersihkan pedangnya dan dia bilang itu ‘pekerjaan kotor’, jadi kau yang terpilih!”
Aku menghela napas panjang. “Kira, aku siswa tahun pertama. Aku tidak punya otot. Aku hanya punya tulang yang rapuh dan keinginan kuat untuk tidur.”
“Jangan banyak bicara! Ayo!”
Dia menyeretku ke sebuah gudang kecil di belakang laboratorium praktik. Di sana, tergeletak sebuah mesin uap tua berkarat. Bentuknya kotak, besar, dan terlihat seperti boiler kapal selam.
“Itu generator mana tua,” kata Kira, matanya berbinar gila. “Aku menemukannya di ruang bawah tanah. Kalau aku bisa memperbaikinya, aku bisa membuat sistem irigasi otomatis untuk kebun klub kita! Tapi masalahnya...”
Dia menatap mesin itu dengan frustrasi.
“...beratnya sekitar dua ratus kilogram. Dan rodanya macet.”
Aku menatap mesin itu, kemudian menatap Kira, dan menatap langit-langit gudang yang berdebu.
Dima berdiri di sudut ruangan, menyandarkan pedangnya di dinding. Dia menatapku dengan mata abu-abunya yang tenang, lalu mengangguk singkat. Seolah-olah dia sudah tahu aku tidak akan bisa menolak.
Sial. Mereka berdua benar-benar tahu cara memanfaatkanku.
“Biar aku bantu di belakang,” gumamku pasrah. “Tapi kau yang menarik dari depan. Aku tidak kuat untuk menariknya.”
“Siap!” Kira langsung mengambil posisi di depan mesin, meletakkan kedua tangannya di bodi besi yang dingin. “Satu, dua, tiga, dorong!”
Dia mulai menarik, tapi mesin itu tidak bergerak. Bahkan tidak bergeser satu milimeter pun.
“Aduh, berat banget!” keluh Kira.
Aku berjalan ke belakang mesin. Aku meletakkan telapak tanganku di permukaan besinya. Terasa sangat dingin dan kasar.
Aku merogoh saku, mengambil permen peppermint, dan memasukkannya ke dalam mulut. Seperti biasa rasa mint yang tajam berhasil menyegarkan sedikit otakku yang sedang mengantuk.
Di balik kacamata tebalku, aku memejamkan mata kananku. Memfokuskan sedikit kesadaranku ke mata kiri.
Pupil kiriku mulai berdenyut pelan, berubah menjadi pola roda gigi alien yang saling mengunci.
[Fitur Diaktifkan: Mata Kiri - Mode Roda Gigi]
Aku tidak mencoba mengangkat atau mendorong mesin itu. Itu akan langsung merobek otot punggungku dan membuatku pingsan. Yang aku lakukan adalah memanipulasi koefisien gesekan antara roda besi mesin itu dengan lantai batu, dan sedikit mengurangi kepadatan udara di sekelilingnya.
Ubah. Gesekan menjadi nol.
“Tarik lagi, Kira,” kataku dengan suara datar.
Kira mengerutkan kening, tapi dia Kembali menarik mesin ini lagi dengan seluruh kekuatannya.
Kreeeek...
Mesin seberat dua ratus kilogram itu bergerak. Bukan dengan susah payah seperti sebelumnya, tapi meluncur mulus di atas lantai batu, seolah-olah roda-roda itu dilumasi oleh oli terbaik di dunia.
“Wah!” Kira terkejut, hampir terjengkang ke depan karena mesin itu bergerak terlalu mudah. “Eh? Kenapa jadi ringan? Apa rodanya sudah tidak macet?”
Dia mulai menariknya dengan cepat sambil tertawa senang. “Lihat, Victor! Rasanya ini seperti menarik kereta bayi!”
Aku berjalan di belakang mesin, tanganku hanya menempel ringan di belakang bodi mesin untuk ‘pura-pura’ membantu sambil terus menjaga fokusku pada roda gigi di mata kiri, memastikan gesekan yang terjadi tetap nol sampai kami mencapai pintu ruang klub.
Tapi ada satu masalah.
Dari sudut mataku, aku melihat Dima. Pria berotot itu tidak membantu mendorong. Dia berjalan di samping kami, matanya yang tajam menatap lantai batu tempat mesin itu meluncur. Tidak ada suara gesekan. Tidak ada goresan baru di lantai. Dan tanganku... tanganku bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda sedang mengerahkan tenaga.
Dima menatapku. Tatapannya tajam, observatif, dan penuh pertanyaan.
Aku segera mengalihkan pandangan, pura-pura terbatuk dan melepaskan tangan dari mesin saat kami masuk ke ruang klub.
“Cukup sampai di sini,” kataku, langsung mematikan mata kiriku.
Roda gigi di pupilku menghilang, kembali menjadi mata abu-abu yang membosankan.
Seketika itu juga, rasa pusing ringan langsung menghantam kepalaku. Constitution debt. Manipulasi gesekan untuk benda sebesar ini memang tidak menguras kalori sebanyak perisai, tapi tetap saja memaksa saraf mataku bekerja di luar batas normal.
Aku langsung merogoh saku lagi, mengambil cokelat Batangan disana, dan menggigitnya tanpa menunggu apapun. Rasa manis dan lemak cokelat langsung membanjiri otakku, meredakan kram yang mulai menyerang pelipisku.
“Hebat, Victor!” Kira bertepuk tangan, wajahnya bersinar. “Kau benar-benar punya tenaga tersembunyi! Atau mungkin kau punya mantra ringan yang tidak diajarkan di kelas?”
“Aku hanya tahu cara mendorong barang berat, Kira,” jawabku sambil mengunyah cokelat, suaraku terdengar lelah. “Itu saja.”
Dima berjalan mendekat. Dia menatap mesin itu, lalu menatap lantai yang mulus tanpa goresan, dan akhirnya menatapku.
“Kau tidak berkeringat,” kata Dima pelan. Suaranya tenang, tanpa tuduhan, hanya mengatakan realita yang dia lihat.
Jantungku berdetak satu kali lebih keras. Tapi aku tetap memasang wajah bodohku.
“Aku memang tidak suka berkeringat, Dima. Itu tidak efisien,” jawabku datar.
Dima menatapku selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam. Lalu, dia hanya mengangguk pelan, berbalik, dan kembali ke sudut ruangan untuk mengelap pedangnya. Dia tidak bertanya lagi.
Aku menghela napas dalam-dalam, menelan sisa cokelat di mulutku. Dima adalah orang yang paling berbahaya di klub ini. Bukan karena dia kuat, tapi karena dia diam dan memperhatikan segalanya.
“Terima kasih, Victor!” Kira menyodorkan sebuah kotak kecil ke arahku. “Ini sebagai upahmu. Roti manis isi krim buatan sendiri.”
Aku menatap roti itu. Wangi vanila dan gula langsung menusuk hidungku.
Well, setidaknya ada kompensasi untuk pekerjaan tambahan ini.
Aku mengambil roti itu dan menggigitnya. Krimnya manis, lembut, dan sempurna. Untuk sesaat, rasa pusing di kepalaku dan stres karena jadwal Harvest yang terus mendekat terasa sedikit mereda.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema.
“Menggunakan manipulasi molekuler tingkat tinggi untuk memindahkan benda mati seberat dua ratus kilogram,” suara The Observer bergema, nada klinisnya diwarnai sedikit nada merendahkan yang khas. “Efisiensi energi: 0,01%. Subjek ini benar-benar membuang-buang potensi dewa untuk menjadi kuli angkut. Sungguh menyedihkan.”
Diamlah, batinku sambil terus mengunyah roti dengan nikmat. Kau tidak punya perut, jadi kau tidak akan pernah paham seni dari upah berbentuk karbohidrat.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!