Dua hari sebelum tes simulasi fisik. Akademi Sihir Orbis.
“... Kamu menyinggung soal tim investigasi di tes wawancara kemarin, anakku?”
Kianzo mengangguk
“iya benar, Tuan.”
Suasana remang-remang makan malam di tenda pemimpin tertinggi Lelight dengan beberapa penjaga yg ada di dalam tenda itu. Piring-piring sajian khusus tertata apik di meja makan bulat. Valerie dan Kianzo duduk dengan posisi berseberangan.
Valerie meneguk gelasnya dan meletakkannya ke meja. Lilin-lilin runa bergerak-gerak di meja makan.
“Saya harap, jika benar mendapat slot Headmaster, kamu tahu apa yang selanjutnya lakukan, anakku.. Reformasi tidak pernah mudah.” katanya.
Seketika hening, Kianzo meletakkan alat makannya.
“Tuan Valerie.”
“Apakah tidak ada jalan lain bagi Headmaster Orbis agar… tidak melakukan kewajiban dalam mensuplai mana empati kepada Chain Throne ?”
Valerie bergeming. Tidak menjawab.
“Saya ingat Prime Waden selalu lelah disetiap menemui kami...”
Seketika kilas balik semasa murid Akademi Sihir Orbis terkuak di ingatan Kianzo. Prime Waden Desmond yang berasal dari Naukatania Aquar. Sering berada di kantin publik Akademi Orbis hanya demi menyapa murid dan mahasiswanya. Hal itulah membuat Kianzo selalu memperhatikan penampilan dan tingkah lakunya.
“Kadang saya terpikir, jangan-jangan ini yang terjadi di Tuan Yurene..”
Sesaat helaan napas terdengar dari seorang Pemimpin Tertinggi itu. Valerie meletakkan alat makan kemudian mengelap bibir keriputnya dengan secarik kain sejenak dengan lelah.
“Seperti yang sudah kamu tahu—“
“Mana empati ini yang menjadi kekuatan bagi Chain Throne untuk menguatkan segel yang mengunci Remanight rapat lewat Headmaster.”
Kepala Valerie sedikit menengadah kemudian kembali melihat mentee-nya.
“...Dan itu memang sangat melelahkan. Suka tidak suka.” tukasnya.
Kianzo diam seribu bahasa. Keheningan kembali menyapa. Valerie menenggelamkan diri ke kursi pemimpinnya.
“Soal jalan lain, Sudah banyak wacana untuk memusnahkan Remanight sendiri tetapi resikonya sangat besar..”
“Ilmuwan dari Arcanquill Sanctum mengatakan : memusnahkan Remanight berarti harus melepaskannya dari segel Chain Throne. Jika segel Chain Throne dilepas, maka fungsinya bisa padam dan menghilang. Meninggalkan Remanight sendiri.”
Tangan Valerie membentuk sikap menara sembari menyandarkan ke lengan kursi— menandakan dia sedang menjelaskan sesuatu dengan strategis.
“Namun, jika pula Remanight dimusnahkan bersama Chain Throne apakah bisa menjamin Remanight menghilang sepenuhnya?”
Mendengar sebuah pertanyaan yang mengelitik rasa ingin tahunya, Kianzo sedikit memajukan badannya. Perlahan.
“Yang kita semua tidak tahu, seberapa besar kekuatan Remanight tanpa pengaman segel Chain Throne atau setidaknya.. sedikit dari kekuatannya. Tidak ada jaminan Remanight tidak mengamuk seperti 900 tahun lalu —“
“— Sehingga.. wacana ini dibiarkan di sudut ruangan hingga berdebu.” lanjut Valerie beralegori.
Uap panas makanan di meja mulai berayun tipis. Sementara jauh dalam hati Valerie sedang berhitung tentang betapa logistik berharga ini jangan sampai sia-sia. Dia mulai mempercepat penjelasan.
“Maka tiada daya lain selain harus meneruskan tradisi tumbal ini. Tumbal yang terhormat. Tumbal yang menyumbangkan mana empati ke dewa Chain Throne...”
Mata Kianzo menegang. Tangannya terangkat ke meja makan.
“Dan—satu hal yang saya pikirkan dan perlu kamu tahu, anakku. “
“Kita tidak tahu sampai kapan segel ini bertahan. Ratusan tahun berlalu. Orang-orang sudah mewajarkan dan berpikir bahwasanya semua baik-baik saja. Namun, sebenarnya Allands masih belum lolos dari ujung tanduk.”
Kianzo menatap meja makan. Hatinya mencelos. Meja yang penuh dengan hidangan kini sedikit dingin. Sedingin penjelasan Valerie malam itu. Sementara Valerie sendiri mulai menyantap hidangannya kembali.
“Makanlah, Anakku. Dan,.. tolong percakapan malam ini jangan sampai siapapun termasuk Cerine tahu.”
Kianzo menurut dan perlahan memegang alat makan dengan sedikit rasa berat di dada. Berat karena mengetahui kenyataan bahwa seluruh umat di Allands dan Alludra harus terlibat dalam meneruskan pergantian para Headmaster di Akademi Sihir Orbis. Demi mempertahankan hidup masing-masing.
Kianzo masuk ke kandang Listhra dengan lunglai. Cerine melihat ekspresi sepupunya yang bermuram durja sembari mengelus Listhra yang tengah tertidur lelap.
“Diceramahi, Kian?”
Pemuda elf bermuram durja itu mengangkat alis. Bibirnya manyun.
“Biasa.”
Cerine bergeser untuk memberikan tempat. Mereka lesehan yang beralaskan jerami paku-pakuan kering. Kianzo menghadap langsung ke Listhra yang sedang mendengkur halus.
“Gimana dengan Listhra ? Apakah sudah sembuh?”
Cerine mengangguk.
“Lumayan. Kemarin tenda ini sempat beraroma pesing yang awet karena Listhra sempat mengeluarkan gasnya. Bahkan penjaga tentara Lelight pun tak tahan lama-lama disini.”
Mereka berdua cekikikan pelan agar tidak membangunkan Listhra.
“Pak Tua botak itu juga sempat ngomel -ngomel bilang : Demi Chain Throne, siapa yang menyimpan telor griva busuk di sini!” cerita Cerine dengan mukanya yang datar. Kianzo terkesiap dengan fakta yang menggelikan itu.
“Pak Tua botak?? Maksudmu Tuan Carbett?”
“Ah iya, Tuan Carbett. Suara beliau kedengaran banget sampai ke kavling faksi Verdantaxy sebelah kita. Jadi sepertinya baunya sangat bandel hingga ke tenda beliau berada.”
Kianzo berusaha keras mengerem nada ketawanya yang tidak terbendung. Mengetahui muka sepupunya berubah menjadi lebih sumringah, bibir Cerine melengkung sedikit dengan perasaan lega.
“Bagaimana persiapan besok lusa, Kian? Kalau tidak salah besok lusa tes si…, si… apa itu namanya?”
“Simulasi Fisik, Cer.” tandas Kianzo.
“Simulasi Fisik, benar. Orang-orang besar ini sering memberikan nama yang susah ya.” jawab Cerine.
Mereka pun tertawa pelan. Hangatnya tenda kandang Listhra serta cerita Cerine cukup membuat dada Kianzo yang tadinya sesak karena informasi dari Valerie menjadi lebih lapang.
“Kamu tahu, Kian.” celetuk Cerine. “Kamu itu sebenarnya anak baik - baik. Tapi kadang membuat masalah—yang jadinya sangat bermasalah.”
Kianzo mengangkat alis lagi.
“Aku tidak membuat masalah.” elaknya. Cerine menatap Kianzo dengan seksama.
“Kutukan Fae? Hingga menjadi seperti saat ini. Itu buktinya.” ujarnya sambil nyengir.
Jawaban Cerine menandaskan semua alasan Kianzo. Pemuda elf itu hanya garuk garuk kepala dan ikutan nyengir seperti kebiasaan Cerine.
“Lainkali jika mau membuat masalah, ajak-ajak, Kian. Salah sendiri makan apel di halaman rumah Fae tua sendirian.” canda Cerine.
“…Dan kamu mau dikutuk bareng aku, Cer?”
“Tidak — aku akan lari secepat mungkin.”
Kianzo tersenyum kecut kemudian mencuwit lengan Cerine sampai mengaduh hingga kesakitan. Namun mereka ketawa bareng.
“Tapi serius, aku tidak tahu bahwa itu halamannya seorang Fae tua. Padahal terlihat seperti hutan biasa … “
Cerine memiringkan kepala.
“Tetua Desa sudah mewanti-wanti kita daridulu, Kian. Hutan di desa kita itu sebagian besar masuk kekuasaan Fae.”
Kianzo hanya termangu mendengarkan hal yang paling biasa yang diucapkan Tetua Desa dia dulu.
“… Makanya Tuan Valerie sering mendadak ke desa Flouren ya … “ujar Kianzo pelan.
“Kalau begitu … kenapa Tuan Valerie tidak gusar ketika saya terkena kutukan itu ya …?”
“Mungkin korbannya tidak hanya kamu, Kian. Tuan Valerie sudah biasa.” jawab Cerine santai sembari asyik mengelus Listhra.
Mendengar jawaban Cerine, Kianzo bergumam keras dengan perasaan ngenes : Kalau begitu, kenapa Tuan Valerie malah memilih saya dari sekian banyak korban kutukan Fae …
Malam itu ditutup oleh dengan hangatnya tenda Lishtra, candaan Cerine serta informasi ngenes.
“Kian, apakah Listhra sudah sembuh?”
Kianzo, yang saat itu tengah latihan mandiri sejak pagi bersama Carbett di sebuah bukit tidak jauh dari area kavling Lelight, memberhentikan kuda-kudanya ketika sosok jenderal aristokrat bertanya tentang Listhra.
“Su—sudah, Ayah Carbett. Cerine menanganinya dengan baik …”
Carbett mengangguk. Pundaknya turun.
“Tolong beritahu sepupumu untuk antisipasi efek selama penyembuhan Listhra. Salah satu tenda harus dibersihkan ulang karena baunya tidak bisa hilang.”
Kianzo mengernyit sambil menahan tawa. Namun dia menghampiri Carbett dan sedikit menundukkan badan.
“Atas nama Cerine dan Listhra, saya mohon maaf jika mereka mengganggu rombongan selama berada di sini, Yah.”
Carbett hanya diam. Tidak membalas. Tangannya menyentuh pundak Kianzo.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Kian. Saya hanya ingin kamu dan Cerine berada sini aman tanpa masalah.”
Kianzo mendangak.
“Besok adalah ujian fisik simulasi diri. Kamu tidak merasakan persaingan mulai sengit, Kian?” tanya Carbett. Kepala dan matanya mengikuti keramaian lalu lalang faksi lain dari kejauhan — Seolah-olah seperti memantau musuh.
“Ada apa, Tuan?” tanya Kianzo balik
Tangan Carbett menyentuh pinggang — kebiasaannya ketika hendak menyampaikan informasi krusial.
“Saya hanya berpesan kamu jaga diri baik-baik dan tetap fokus ke ujian selama disini. Kita kekurangan tentara untuk mengawasi setiap hari di sini karena pertimbangan keamanan di Lelight. Sementara saya dapat info bahwa ada seseorang yang berafiliasi dengan Black Alba sedang bergerak.”
Mata Kianzo menegang.
“Black Alba? kenapa disini?”
Carbett hanya mengangkat kedua pundaknya “Siapa yang tahu? Itulah Black Alba. Handal dalam mata-mata.”
Carbett berjalan ke seberang anak angkatnya tanpa diminta. Tangan kanan dia langsung mewujud sebuah pedang mana.
“Sambil menunggu musuh bergerak, bagaimana jika disambi drilling dahulu, Kian? Menunggu juga termasuk taktik.”
Carbett mulai memasang kuda-kuda. Kianzo langsung mengiyakan ajakan ayah angkatnya walaupun jauh dalam benaknya punya berbagai pertanyaan tentang mata-mata ini.
“Baik, yah. Tunggu sebentar.”
Awalnya Kianzo hendak menulis sebaris runa di tanah dengan menggunakan pedang biasa. Namun sebuah pedang mana, ternyata dari Carbett, mendarat nancap persis didepannya. Merobek barisan ukir runa yang telah ditulisnya. Kianzo langsung melompat mundur dan jatuh terduduk.
“B—Black Alba??!!” latahnya.
Carbett menatap anak angkatnya yang panik konyol hanya bisa memijat kening.
“Musuh tidak akan menunggumu mengukir sebaris runa, Kian. Bukankah sudah saya bilang, sering-seringlah merasakan aliran mana dari berbagai jenis runa.…” kata Carbett sambil geleng kepala.
Kianzo nyengir sambil garuk kepala.
“Maaf, yah. Heheh… “
Carbett hanya menghela napas panjang. Dia sudah tahu Kianzo setengah serius menanggapi tantangan drilling dengan memakai pedang mana.
“Untuk kali ini, saya biarkan. Lainkali saya tidak akan beri ampun di drilling selanjutnya, Kian.”
Kianzo bergegas meneruskan ukiran barisan runa dan dalam hitungan detik pedang mana berbentuk di salah satu tangannya. Ketika dia berdiri tegak, Carbett sudah menghilang dari hadapannya.
Badannya refleks berbalik. Benar saja — Carbett sudah mengayun serong ke lehernya di belakang.
PRAAKKKK—!!
Suara gesekan dua pedang mana berderak seperti petir halus. Ayah dan anak menatap satu sama lain dalam gerakan mengunci. Kuncian mereka bergantung pada rumput yang mereka pijak dan menciptakan debu tanah yang berterbangan. Angin berhembus melawan arah mereka.
“Uggh …”
Kianzo meringis menahan daya agresif sang jenderal. Seperti yang dia duga bahwa masih belum bisa mengimbangi kekuatan si lawan yang sangat dia hormati ini. Walau sudah sering melakukan drilling. Inilah kenapa dia sedikit enggan untuk melakukannya saat ini.
Sambil melemahkan kekuatan lengan tangan, Dia memantulkan daya dorong lawan ke arah samping hingga Carbett bisa sedikit menjauh dan Kianzo segera mengambil ancang-ancang menyerang balasan secara melintang.
PRAK—! PRAKK—! ZZZTT— PRAKK—!
Mereka saling menangkis, menebas, menghindar, melompat, melempar dengan memakai apapun yang berada di sekitar mereka secara instan. Jejak kilau mana berwarna hijau berpendar tipis. Menciptakan gelombang kejut lemah diantara ilalang.
“Ya! Benar! Begini! Bagus!” seru Carbett dengan semangat. Sementara Kianzo fokus setengah mati mengatur serangan dan bertahan secara berkesinambungan. Napasnya memburu, rahangnya mengatup keras.
Mereka menjauh beberapa meter. Carbett mengangkat alis ketika Kianzo mengambil pedang biasa di tangan kosong satunya.
“Hei, Kian. Sejak kapan kamu bisa menggunakan dua pedang begini?”
“… Dari—ahlinya, yah!”
Kianzo melesat maju dengan maksud tidak mau memberikan jeda pada lawannya kemudian Carbett menangkisnya dengan mudah. Kali ini kedua tangan sang ayah angkat terdapat pedang mana.
“Bagus, Kian! Pertahankan! Jika kamu memegang pedang fisik dan mana itu, kini giliran saya memegang kedua pedang mana. Mari kita lihat apakah kamu bisa memecah salah satu pedang mana ini, Kian! “
Kianzo mencoba ganti taktik. Dia berusaha mendesak jenderal itu dengan fokus meretakkan, setidaknya, salah satu pedangnya. Walaupun secara logis, tidak mungkin. Materialisasi mana Carbett hampir padat, sepadat berlian dari Terraferum. Sehingga gerakan pemuda elf itu tidak memberikan dampak apapun selain reaksi agresif jendral elf itu. Sebatas memberikan sedikit luka fisik ke Carbett pun percuma.
“ Sial …” gumam Kianzo sambil gemeretakin gigi.
Dengan gerakan putus asanya, Kianzo melempar pedang mana di salah satu tangannya tepat ke arah muka Carbett. Carbett menghindar dengan mudah. Namun sekilas detik, matanya tidak melihat Kianzo di hadapan —Carbett terbelalak. Disaat yang sama suara dari belakang menyapa.
“Belakang KOSONG! “
PRANNGGGGG—!
Dua sosok itu membeku seolah-olah waktu berhenti untuk memutuskan siapa yang terpojok. Sementara sebuah pedang terlempar jauh. Angin berhembus seolah-olah tidak terusik dengan waktu yang terasa berhenti di antara mereka berdua.
“Ha … ha … ha …”
Kedua tangan Kianzo terangkat — kosong tidak menggenggam apapun. Menandakan kekalahan untuk kesekian kali. Sementara pedang mana Carbett hampir menyentuh kulit lehernya.
Carbett menurunkan pedangnya. Sikapnya tidak masuk ke kuda-kuda lagi. Teknik materialisasinya batal.
“Sangat lumayan, Kian.”
“— Tapi belum cukup.”
Kianzo menjatuhkan badannya telentang di tanah. Kakinya lemas, bulir keringat menyiram dahinya.
“Pedang saya terlempar, yah …”
“Ya, saya lihat terlempar ke hutan seberang. Hutan itu—“
“Baik, yah… Saya ambil dulu.” ujar Kianzo sambil bangkit perlahan
Carbett maju selangkah “Tunggu, Kian! Itu hutan sumbangan dari Verdantaxy untuk Akademi Orbis. Jangan sembarangan kesana.”
“Hutan itu berfungsi sebagai mantel kedap mana. Banyak orang-orang dari faksi lain keluar masuk dari situ sebagai tempat yang cukup bikin rileks. Terutama para Noiras yang … mau istirahat.”
Kianzo membeku. Dia mengernyitkan dahi.
“Noiras? Istirahat?”
“Ya. Sebaiknya tidak usah kesana. Pedang penggantinya akan diberikan nanti.” ujar Carbett.
Kianzo hanya mengangguk kemudian menatap kembali deretan pohon pohon rimbun itu. Sunyi dan penuh misteri. Namun rasa penasarannya mengundang aksinya nanti bersama Cerine untuk memasuki hutan itu dengan alasan mencari pedangnya. Tentu saja — tanpa sepengetahuan Carbett.
————Bab 6 selesai————














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!