Cahaya api mana berlalu-lalang di sekitar kavling komplek faksi daerah menjelang senja menyapa. Suasana malam semakin ramai. Kianzo dan Cerine duduk santai di sofa lapangan empuk yang berisikan daun pakis di pojokan komplek yurt faksi Lelight. Menunggu pengumuman undian yang diadakan di luar bangunan Akademi Orbis.
“Sudah siap untuk tes wawancara besok, Kian??” tanya Cerine.
Kianzo menenggelamkan diri ke sofa itu. Dia tidak menjawab. Hanya menghela napas panjang. Kemudian suara sejenis terompet — suara yang sama ketika tes akademik dan birokrasi kemarin — berbunyi melengking dari arah benteng Akademi Orbis. Penanda pengumuman undian untuk tes wawancara dan fisik tiba. Para Headmaster angkatan 98 keluar dari pintu gerbang benteng akademi bersama beberapa anggota civitas akademi.
“Kian, undiannya sudah mulai! Sana samperin Pak Tua. Nanti dicariin!” sahut Cerine.
Kianzo beranjak walaupun berat. Cerine mengetahui itu seraya menyentuh punggung tangannya.
“Kian-“
Kianzo menoleh. Tangannya terasa memegang sesuatu. Cerine yang langsung menaruhnya di telapak tangan. Sesuatu itu tercium harum yang merilekskan dirinya. Cerine nyengir.
“Madu bunga dari Verdantaxy. Ciumlah ketika butuh ketenangan.” katanya.
Kianzo melihat karung kecil yang berisi botol kulit kecil tersebut. Bau itu semerbak yang membuat langkah terasa ringan.
“Cerine, terima kasih.” jawab Kianzo sambil memegang erat pemberian Cerine itu.
“Sama-sama, Kian.” sahut Cerine — kali ini dengan senyum tulus.
Kianzo bergegas menghampiri Valerie dan pengawalnya. Para Headmaster angkatan 98 - Litya, Ahydra dan Nafter -terlihat di depan gerbang benteng akademi dengan satu peleton warden yang berjaga di sekelilingnya untuk memberi jarak buffer antara kerumunan anggota faksi dengan orang orang civitas Akademi yang membawa obor api mana.
“Selamat malam, saudara saudara se-Allandsku.” kata Litya.
“Demi menghormati para noctinus, mari kita segera undikan siapa saja yang mendapat jadwal wawancara besok.” tukasnya sembari memberikan isyarat kepada Ahydra.
Dengan sigap, merman itu mengambil secarik kertas kecil dari guci kecil yang dibawakan oleh Nafter.
“Jadwal untuk ujian wawancara besok, utusan faksi Lelight, faksi Verdantaxy, faksi Pelycanthe, dan faksi Berlen! “
Kianzo maju bersama calon utusan faksi lainnya ke hadapan para Headmaster angkatan 98.
“ Tuan Kianzo Tiarrent, anda giliran pertama, Nona Ereyere, anda giliran kedua, Tuan Lirham anda giliran ketiga dan Tuan Seydez Casei, anda giliran keempat. Semoga sukses. “ jelas Nafter sumringah seperti biasa.
Setelah kembali ke bagian faksi masing-masing, Velerie menatap Kianzo dengan seksama. Sementara faksi lain masih diundi oleh Ahydra.
“Istirahatlah, anakku. Perjalanan masih setengah jalan.” sahut Valerie setengah dingin. Walaupun begitu, Kianzo paham gelagat mentornya. Valerie sedikit khawatir dengan kondisi menteenya. Karena tingkat kesulitan ujian nantinya semakin meningkat.
“... Baik, Tuan Valerie. Selamat malam.”
Malam itu ditutup dengan riuh rendah di sisi gerbang utama benteng Akademi Sihir Orbis.
Secercah cahaya fajar menelisik masuk di antara jendela aula. Para wakil faksi sudah bersiap rapi di tribun sejak fajar buta. Seorang pemuda elf melangkah melewati pintu dengan mantap. Pintu menuju aula yang sama dia datangi ketika apel pembukaan ujian Headmaster dua hari yang lalu.
Seketika mata para perwakilan tertuju pada sosok yang melewati pintu itu. Mereka pun mempunyai penilaian yang berbeda-beda. Ada yang optimis, sinis, skeptis, apatis atau campurannya yang menyesuaikan agenda dan pandangan masing-masing.
Seorang pak tua membuka sesi wawancara itu.
“... Ehem!” dehem Deirdeh.
“... Anda Tuan-Kianzo Tiarrent dari Lelight. Benar?” tanya dia sambil memacak kacamata minusnya yang bulat dan besar. Bingkainya sedikit berkarat. Tanda pemakaian yang intens bersama dengan eksperimen rekayasa mana yang telah jatuh bangun dia lakukan.
“Benar.” jawab Kianzo lugas. Matanya segera memindai seluruh sosok dan figur di tribun hadapannya.
“Baik. Silahkan untuk yang lain mengajukan pertanyaan wawancara. Maksimal seluruh wawancara ini hanya berlangsung 15 menit.”
Suasana aula itu sangat rapat. Perwakilan faksi Noiraland angkat tangan duluan. Kianzo sudah menduga.
“.... Perwakilan Alphriarkat Noiraland. Silahkan. “
“ Terima kasih atas kesempatannya Tuan Deirdeh-“ Kata sosok Noiras itu. Sosok itu berjubah hitam khas Noiraland dengan... telinga bulat kecil sedikit mencuat dari rambut hitam kecoklatannya berdiri perlahan. Postur badannya besar tapi agak membungkuk.
Seorang werebear... — batin Kianzo.
Bibirnya menyeringai. Iris matanya yang kuning menatap ke arah dia yang berada di posisi bawah tribun. Tajam bak predator yang siap menjatuhkan mangsa. Termasuk menjatuhkan wibawa kandidat kini didepan mata wakil faksi daerah.
“Saya Baero Mishakov. Saya punya satu pertanyaan.”
“Jika segerombolan sipil Noiras diserang oleh pasukan Lelight di daerah Berlen hingga terluka parah. Apa yang anda lakukan?”
Kianzo menahan diri dari mengernyit. Alam bawah sadarnya seolah-olah memperingatkan diri. Seperti yang dia pelajari selama berada di istana kemegahan Lelight : jangan terlalu menunjukkan ekspresi. Namun tetap saja sepersekian detik ekspresi itu tetap bocor...
Kianzo menurunkan bahunya. Kepalanya mendangak ke arah tribun dengan ekspresi datar tapi mata coklatnya menatap balik mata Baero tanpa berkedip. Mengisyaratkan ketegasan.
“Sebelum tahu apa yang terjadi alangkah baiknya diinvestigasikan terlebih dahulu. Pertanyaannya adalah siapakah yang mau menginvestigasikan kejadian itu secara independen?”
Audiens wakil masih hening. Namun Baero menjawab.
“Akademi Sihir Orbis. Seperti biasanya. Duh.”
Bibir Kianzo melengkung tipis. Tangannya terangkat.
“Tuan Baero sudah paham-“
“Tuan Kianzo, Bukan itu jawaban yang saya maksud!” sela Baero.
Suasana mulai tegang. Deirdeh menekan keras ujung pena. Para wakil faksi dan utusan dari Majelis saling berbisik. Namun itu tidak menggoyahkan tatapan saling menghujam antara Kianzo dan Baero.
“Tuan Baero yang terhormat, apa jawaban yang ingin anda dengarkan?” tanya Kianzo balik.
Baero menyenderkan bahunya ke kursi wakil.
“Ternyata calon Headmaster Lelight hanya begini kapasitasnya? Apa yang Valerie pikirkan ketika mengirimmu..”
Ekspresi Kianzo muntab. Tangannya mengepal keras. Sorot matanya membara. Giginya terlihat. Isi pikirannya berisik dengan api provokasi untuk membalas pendapat Baero secara agresif . Untungnya, Deirdeh menyahut tanggapan Baero lebih cepat daripada kecamuk emosi Kianzo sempat menjawab.
“Tuan Baero Mishakov! Ini peringatan pertama! Sesuai aturan yang disepakati, hanya memberi pertanyaan dalam wawancara! Bukan menyerang pribadi dan faksi lain!”
Deirdeh berdiri pelan. Badannya berbalik menghadap tribun.
“Jika Tuan tidak mengindahkan peringatan pertama ini, silahkan keluar ruangan. Hak mengikuti tes wawancara sebagai penanya dicabut selama hari ini!” jelasnya lagi.
Kali ini suara Deirdeh lebih menggema. Baero tidak berkutik — tapi tidak tergerak oleh ancaman Deirdeh. Bisik-bisik berubah menjadi keheningan kembali. Tidak lama salah satu anggota majelis menghampiri Deirdeh.
“Tuan, biar saya yang mencatat ...” ujar seorang pemuda anggota Majelis. Gugup.
“Huff ... Tolong, Rolina ... “ sahut Deirdeh seraya pegang pelipis, nadanya serak, napas tuanya terdengar sesak. Dia menenggelamkan tubuhnya ke kursi Majelisnya kembali.
“—Dan Tuan Kianzo Tiarrent,.. Silahkan jawab kembali pertanyaan Tuan Baero...”
“Baik, Tuan Deirdeh..”
Kianzo menurunkan intensitas tegangnya bahu akibat mengepal keras dengan emosinya. Intervensi Deirdeh berhasil memadamkan suasana walaupun sepertinya tidak mengenai pribadi Baero secara.
“Tadinya saya ingin melanjutkan penjelasan sebelumnya tapi Tuan Baero sepertinya belum puas. Baik, Saya coba jabarkan kembali -“
“Pertama, Apa kepentingan pasukan Lelight di daerah Berlen?”
“Kedua, Kenapa Berlen mengijinkan pasukan Lelight masuk ke daerahnya?”
“Ketiga, Jika asumsi bahwa Noiras adalah sipil itu benar. Maka saya akan bertanya-tanya pada pihak Berlen dan Lelight kecuali ada hal lain yang memicu dua pihak ini ‘ada’.”
Kianzo mengangkat tiga jarinya ke arah tribun. Kemudian Dia melanjutkan kembali.
“Terlepas dari itu, sampai ditemukan apa penyebab sebenarnya-saya tidak akan berpihak pada siapapun. Dan yang melanggar hukum, mereka harus diadili-“
“-Maka ini bersambung dengan pertanyaan saya sebelumnya. Siapa yang menginvestigasikan sekaligus mengadili secara independen selain daripada Akademi Orbis? Selama ini saya melihat seorang Prime dituntut untuk mengadili. Padahal itu bukan kapasitasnya. Akademi Orbis tidak mempunyai kekuatan sebesar itu untuk mengadili! “
Satu aula hening total, termasuk Baero yang tidak menyahut apapun.
“Kita semua tahu bahwa para Headmaster adalah tombak penjaga dunia. Bagaimana mana empati bisa dihasilkan jika para Headmaster tidak sanggup berempati karena direpotkan dengan hal hal seperti itu!”
Deirdeh memajukan badannya sambil pura-pura memperbaiki posisi kacamatanya.
“Kalau tidak salah...Tuan alumni akademi ini?”
“Ya.”
“Berarti Tuan sudah lama memperhatikan dinamika Headmaster selama berada di akademi?”
“Ya.”
Deirdeh terdiam. Jarinya menyentuh bibirnya sementara matanya melihat kertas kertas dokumen. Tangan Rolina buru-buru menyerahkan kertas lain ke depan pandangan Deirdeh.
“Selama ini... para wakil faksi meminta Akademi untuk membentuk tim investigasi sendiri yang terdiri dari gabungan faksi lain selain yang terlibat perkara.. Hmmm..” gumam Deirdeh.
“Namun.. memang tidak efektif- baik,.. Ada yang mau bertanya lagi, Tuan-tuan?” tanya Deirdeh sembari berbalik ke arah tribun.
Seorang perempuan berdiri dari tribun Verdantaxy. Tubuhnya ramping, dibalut jubah hijau lumut yang menjuntai hingga lantai. Rambutnya berupa tumpukan lipatan daunnya memanjang. Matanya hijau pucat, tanpa pupil yang jelas. Ia tidak tersenyum, tapi juga tidak mengancam.
“Saya Astriya, perwakilan Wanagara Verdantaxy.”
Suaranya lembut, seperti angin yang melewati celah bebatuan. Ia menatap Kianzo tanpa berkedip.
“Saya punya satu pertanyaan.”
Deirdeh mengangguk. “Silakan.”
“Tuan Kianzo, di alam, pohon yang tumbuh terlalu cepat seringkali memiliki akar yang lemah.”
Ia berhenti sejenak.
“Bagaimana Anda memastikan bahwa pertumbuhan Anda sebagai calon Headmaster tidak akan membuat Anda... tumbang di tengah badai?”
Aula itu sunyi. Bahkan Baero menoleh—untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Penasaran.
Kianzo tidak langsung menjawab. Ia menatap Astriya. Matanya coklat, tenang-tapi ada sesuatu di baliknya.
“ Saya tidak tahu harus berapa lama sebuah pohon bisa dibilang terlalu cepat untuk bertumbuh. Setiap tanaman mempunyai kecepatan yang berbeda. Dengan arah akar yang berbeda-“
“ -Jadi.. saya tidak tahu arah akar saya bisa cukup kuat atau lemah... Mungkin bukan masalah cepatnya sebuah pohon tumbang, bisa jadi karena tanah yang tidak cocok, angin kencang atau umurnya.”
“Tapi satu hal yang pasti, Beberapa tanaman dengan berbagai ukuran dan jenis lebih baik daripada hanya satu. Sejarah para Headmaster membuktikan, Kerjasama tim tidak akan membuat seorang pohon tumbang. Karena akar saling menopang satu sama lain.”
Astriya terdiam. Matanya yang hijau pucat menatap Kianzo tanpa berkedip. Tidak ada emosi—tapi juga tidak ada penolakan.
Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis merekah. Walaupun hanya sedikit. Dia menatap kandidat elf itu sekali lagi.
“Terima kasih, Tuan Kianzo. Jawaban Anda... sesuai ekspektasi saya. “ jawabnya. Kemudian duduk kembali dengan tenang - tanpa mengajukan pertanyaan lagi.
Semua audiens wakil terdiam. Tiada yang mengangkat tangannya. Deirdeh menunggu sesaat dan melihat reaksi itu. Saat itulah dia memutuskan menutup sesi wawancara ini.
“Karena tidak ada yang bertanya maka sesi wawancara dengan Tuan Kianzo Tiarrent resmi berakhir. Silakan meninggalkan ruangan.” tutup Deirdeh.
Kianzo menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan berbalik menuju pintu keluar aula yang tidak sama dengan pintu yang dimasuki sebelumnya.
Setelah melewati pintu keluar aula itu, jantungnya berdetak kencang, napasnya memburu, badannya sedikit lemas. Dia melepaskan perasaan gugup yang daritadi dipendamnya dengan bersender sebentar di salah satu tiang koridor akademi. Seketika tangannya meraih botol kecil pemberian Cerine. Botol itu ditekan ke hidungnya rapat-rapat.
Sekali tarik napas, aroma itu paten melegakan semua kecemasan Kianzo. Perasaannya ringan, langkahnya tidak berat. Namun pikiran dia mulai bimbang — seberapa jauh ketahanan diri dia hingga mencapai ujian Paradox? Apakah mental dia tahan hingga sesudahnya terlepas dapat atau tidaknya slot tahta Headmaster ?
...Chain Throne, kenapa kamu menggariskan ujian seperti ini..? Padahal kamu bilang menghargai kami..
Langkah kakinya terus berjalan hingga keluar benteng Akademi dan disambut oleh anggota faksinya.
————Bab 5 selesai————














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!