“Chain Throne beserta tahta Headmaster telah eksis selama ratusan tahun, Kianzo. Selama itu pula pergantian Headmaster dan para Vice-nya berlangsung silih berganti,” ucap Valerie tenang, matanya masih tertuju pada buku lusuh yang terbuka lebar di depannya.
Suasana ruangan kelas siang itu sangat sunyi kecuali suara seorang pengajar. Hanya dua orang yang berada disitu. Sang pengajar tua elf berjanggut di mimbar guru dan seorang pemuda elf yang duduk di meja murid. Pemuda elf itu mengangguk antusias, meski keningnya sedikit berkerut.
“ Jika salah satu Headmaster atau Vice berhalangan... atau bahkan tak mampu lagi menjalankan tugasnya karena sebab lain seperti gugur,” lanjut Valerie dengan nada berat, “ Maka Majelis akan mengadakan pemilihan ulang seluruh posisi- kemudian Deputi yang ditugaskan menggantikan sementara tugas Headmaster utama. Sejarahnya panjang, dan tidak pernah ringan.”
Ia menutup buku lusuh itu pelan, seakan mengakhiri bab penting. “Segitu saja materi hari ini, Anakku. Tugasmu: buat catatan lengkap periode apa saja tugas Headmaster dilimpahkan ke Deputi dan karena sebab apa.”
“ Haaah...” Kianzo bersandar ke kursi, tangannya turun dari meja, menghembuskan napas panjang. Topik hari ini terasa menghantam pikirannya seperti palu. Valerie memperhatikan sekilas.
“Kamu boleh berjalan-jalan sebentar di taman. Sesi mentoring berikutnya masih minggu depan,” katanya. “Tapi ingat, calon Headmaster tanpa fisik dan mental yang kuat hanya akan menjemput ajalnya lebih cepat.” Suaranya lugas.
“Seperti Headmaster angkatan ke 37. Angkatan tersebut berakhir begitu saja karena semua Headmaster dibunuh oleh salah satu tamu yang berafiliasi dengan tentara bayaran dari Anekatra Pelycanthe. Karena fisik dan mental mereka tidak cukup untuk itu.” jelas Valerie lagi. Kali ini dengan info yang cukup membuat Kianzo terperanjat tapi tidak heran.
Dibunuh? Oleh tamu tentara bayaran ?
Valerie mengetahui ekspresi Kianzo yang tegang itu.
“Hmph. Sudah sepantasnya.” sahut Valerie dingin. Seolah-olah dia tahu apa yang terjadi saat itu. Mata coklatnya menatap Kianzo lekat lekat hingga lorong irisnya terlihat. “Mereka adalah korban dari kebijakan Headmaster sebelumnya. Dengan bodohnya menghapus tes wawancara dan tes fisik. Jika aku berdiri sebagai Pemimpin Tertinggi Lelight saat itu, jelas akan menentangnya. Jadi lihatlah hasilnya.” tegas Valerie lagi.
Kianzo terdiam cukup lama. turun dari mimbar dan hendak menuju pintu keluar ruangan.
“Cukup untuk mentoring hari ini. Saya ada rapat dengan aristokrat lain.”
Kianzo berdiri dari tempat duduknya untuk menghormati sesuai etiket murid aristokrat Lelight.
“Terima kasih, Tuan Valerie. “
Tatapannya mengikuti langkah Valerie yang perlahan keluar dari ruangan, meninggalkannya sendirian bersama tumpukan buku dan keheningan.
“Huff...” Kianzo kembali menghembuskan napas. Rasanya seperti ada beban berat yang menggantung di dadanya. Saat ia mulai membereskan kertas dan buku-buku catatan yang berserakan, suara lembut terdengar dari luar pintu.
“Tuan Kianzo...?”
“Ya?”
“Tuan Carbett memanggil Anda ke lapangan tengah Istana.”
“Baik... Tolong sampaikan kepada Tuan Carbett, sebentar lagi saya menyusul.”
Sudah dua belas bulan lebih Kianzo tinggal di Istana Kemegahan Lelight. Ia masih sering bertanya dalam hati — bagaimana semua ini bisa terjadi.
Semuanya berawal ketika rombongan Istana Lelight lewat di jalan setapak, di tengah hamparan gandum keemasan yang sedang panen. Di antara mereka, tampak seorang elf berjubah emas, wajahnya berjanggut uban menatap sekitar dengan tenang, jubahnya berkilau dan menyatu dengan cahaya senja.
Kianzo, yang saat itu duduk di atas gerobak gramyagajanya sembari menunggunya penuh dengan gabah gandum, hanya terpaku melihat sosok itu. Hingga elf berjubah emas itu menghampirinya dengan cepat.
“Namamu siapa?” tanyanya datar tapi tajam.
Pemuda itu sontak lompat turun dari gerobak dan berdiri sigap. Dia menundukkan kepala. “Nama saya Kianzo Einvalen, Tuan Valerie.”
Tatapan Valerie menyapu tubuh Kianzo dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Setahu saya, daerah ini sangat jarang terlihat manusia,.. Darimana kamu?”
“Maaf, Tuan, saya asli sini dan saya elf..” jawab pemuda itu dengan suara bergetar.
Valerie terdiam sejenak lalu seringai ngejek muncul dari balik janggut putih panjangnya dan mengangkat alis.
“Kenapa tampangmu seperti manusia?”. Matanya tertuju pada telinga Kianzo yang bulat seperti manusia. Tidak seperti ciri khas elf dengan telinga panjang sayunya.
“Ceritanya panjang tuan.. “ jawabnya dengan menunduk malu. Mukanya sedikit memerah. Valerie memiringkan kepala.
“Hmmm.., aku merasakan aura mana yang tidak biasa darimu. Seperti sihir transformasi. Apakah kamu dikutuk oleh seseorang?” tanya Valerie penasaran.
Mata coklat Kianzo melebar.
“I, iya tuan- saya... dikutuk oleh seorang Fae tua...”
Mata coklat Valerie menyipit, bibirnya melengkung membentuk lesung di pipinya yang berjanggut tipis. Dia tersenyum geli.
“Hahahah. Fae tua itu.. Tidak ada ampun samasekali ya.”
“Hei, anak muda-namamu Kianzo kan? Ingin tahu bagaimana cara melepaskan kutukan itu?”
Kianzo mengangkat kepalanya, mata membesar.
“Mau, Tuan!”
“Kalau begitu, ikut saya.”
Sesampainya di Istana, Kianzo — yang menyertai dibelakang Valerie — mendangak terpana dengan dalamnya Istana Kemegahan Lelight. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan dan orang-orangnya di gedung tahta istana.
Interior plafonnya menunjukkan kubah mewah dengan segala macam marmer dan kaca mozaik yang berkilau. Cahaya matahari menelisik, memantul diantara kaca mozaik ke lampu chandelier yang besar menggantung ditengah kubah. Aroma floral tipis melayang tercium di hidungnya.
Valerie menginstruksikan para bawahannya untuk memanggil para Elder Divisi Rekayasa Mana Istana. “Sebelum rangkaian proses pembalikan sihir transformasi dimulai saya ingin membuat kesepakatan.”
Mata Kianzo tetiba fokus dengan suara orang tua itu.
“Jika ritual ini berhasil. Saya ingin menawarkan... anggap saja, sebuah kesempatan.”katanya.
“Iya, Tuan. Apapun yang anda minta saya turuti. Asalkan saya bisa kembali ke wujud saya semula.” kata Kianzo dengan kedua telapak tangan tergenggam sembari kepala menunduk. Sikapnya memohon dengan sangat.
Valerie tersenyum miring.
“Hati-hati dengan keinginanmu, anak muda.”
Kianzo mengangkat alis — Maksudnya?
“Saya ingin,.. Menawarkan kesempatan untukmu - menjadi calon Headmaster utusan Lelight untuk Akademi Sihir Orbis.” jelasnya.
Mata si ‘elf’ muda itu terbelalak seolah-olah seperti mendengar kabar buruk. Ia tahu persis apa yang ‘diminta’ oleh Valerie. Langkahnya sedikit mundur ke belakang.
“Bagaimana? Tidak mau? Apa yang terjadi dengan pernyataan tadi?” tanya Valerie sedikit menelengkan kepalanya. Entah mengapa dia menikmati reaksi Kianzo tersebut.
“Jika kamu tidak mau, tidak apa. Kecuali kamu rela menjadi bahan ejekan sekitar-“
“Mohon maaf, Tuan! Ca-calon Headmaster Akademi Sihir Orbis?” sela Kianzo gugup.
Valerie mengangguk pelan, “Terlalu mendadak ya? Mungkin bisa dipikirkan selama kamu menjalani proses ritual pembalikan nanti.”
“Saya tunggu jawabannya.” Valerie berjalan ke arah pintu koridor Istana “Ngomong-ngomong, bukankah kamu lulusan Akademi Sihir Orbis? Masuk melalui Via Independens pula.”
Kianzo terpaku seperti orang yang tertangkap basah. Kali ini tertangkap soal latar belakangnya. Senyum Valerie makin ketara.
Sumringah Valerie semakin ketara “Tidak perlu penjelasan panjang lebar. Kamu sudah paham maksudku, anak muda.”. Dia berbalik badan menghampiri beberapa anggota Elder Rekayasa Mana untuk mempersiapkan prosesi pembalikkan tersebut.
Sosok Pemimpin Tertinggi Lelight itu menjauh. Meninggalkan Kianzo yang masih mematung. Tangannya mengepal. Menyadari bahwa dia tidak bisa mundur dari janjinya.
“... sialan.”
Tiga bulan Kianzo berada di Istana Kemegahan Lelight untuk melakukan segala macam ritual pembalikan sihir oleh divisi rekayasa mana Istana.
Setelah sabar mengikuti berbagai proses, wujud Kianzo kembali menjadi elf seperti semula. Dia menatap cermin, melihat dirinya sendiri dengan mata yang tidak percaya. Kulit kuning dan telinga runcingnya kembali.
“Dengan ini, ritual pembalikkan sihir transformasi sudah selesai.” kata salah satu Elder divisi tersebut.
Valerie menghampiri Kianzo yang masih menatap cermin yang dibawa oleh salah satu dayang yang menyertai ritual itu.
“Mana Fae itu sangat tricky. Sesuai tingkah mereka. Tidak tertebak. “ kata Valerie sambil hela napas dan menyisir janggutnya. “Dengan kekuatan transformasi yang sangat keras kepala itu, sepertinya kamu telah membuat seorang Elder Fae marah.”
Pemuda, yang telah menjadi elf kembali, itu mendekati Valerie dengan mata berkaca-kaca.
“Te-terima kasih, Tuan!”
Valerie tersenyum simpul. “Sore nanti. Kamu ikut saya untuk teh sore. Di taman.”
“Ya, Tuan?”
“Tidak lupa kesempatan yang saya tawarkan? Saya minta jawabannya sore ini.”
Memori Kianzo berkilat. Ia teringat lagi pembicaraan tempo 3 bulan yang lalu. Matanya coklatnya melebar. Jantungnya berdebar, hatinya ragu, otaknya penuh konflik, pikirannya gamang. Kianzo tahu betul birokrasi dan mekanisme Akademi bergengsi itu. Akademi yang memegang eksistensial seluruh dunia. Penahan dewa penyebab Pralaya, Remanight.
“... Tuan, soal menjadi calon Headmaster itu...” Kianzo menutup mata dan menghela napas.
Valerie mengangkat alis.
“Saya,.. Saya-“
Pemuda itu menenggak ludah.
“Tidak perlu buru-buru, anak muda. Masih ada waktu sampai sore nanti.” jelas Valerie berbalik badan.” Sementara saya pergi, Anda bisa mempersiapkan jawa—“
Sontak mulut Kianzo seketika meluncur sebuah pernyataan yang bakal mengubah takdir seumur hidupnya.
“Tuan-saya terima tawaran anda!”
Valerie menengok balik.
“Tapi-tapi saya tidak punya pengalaman dalam memimpin! Walaupun saya lulusan Akademi itu — saya hanya petani, Tuan Valerie!”
Suara Kianzo mengisi ruangan khusus Divisi Rekayasa Mana Istana. Valerie memperhatikan keputusan besar itu dengan antusias. Dia mengangguk.
Kemudian ia mengisyaratkan kepada seluruh orang yang berada di ruangan agar keluar dari ruangan dan meminta salah seorang anggota divisi agar memasang teknik kedap suara di ruangan tersebut. Demi menjaga sebuah kerahasiaan percakapan penting bagi Pemimpin Lelight tersebut.
Semua orang keluar ruangan hingga hanya Valerie dan Kianzo yang tertinggal.
“... Soal pengalaman itu bisa diatur. Namun apakah kamu yakin dengan keputusanmu, anak muda? Kamu tahu kan harga menjadi Headmaster di Akademi Sihir Orbis?”
“Iya,.. Saya sangat tahu, Tuan..”
Kianzo menundukkan kepala. Alisnya mengernyit. Matanya tertutup rapat. Tangan masih mengepal daritadi. Entah mungkin dirinya di masa depan akan merutuki keputusannya saat ini... atau tidak?
Valerie menghela napas panjang.
“Baik. Besok kamu bersama saya akan kembali ke desamu. Kamu masih punya orang tua lengkap kan? Saya akan bicara ke mereka. Setelahnya kamu adalah bakal calon Headmaster.” tukas Valerie.
“Telat semenit, Kianzo.”
Suara Carbett terdengar dingin seperti embun pagi di lereng gunung. Ia berdiri membelakangi Kianzo, kedua tangannya bersedekap di belakang tubuhnya — gaya aristokrat Lelight membuyarkan lamunan berjalan Kianzo.
Sepanjang jalan mengingat kilas balik awal dia di Istana membuat Kianzo sesekali berhenti, menjadi biang keroknya telat semenit.
“M-mohon maaf, Ayah Carbett...” Kianzo mengusap tengkuk lehernya pelan, gugup setengah mati. Dua belas bulan sudah ia berguru pada Carbett, tapi sikap dingin ayah tirinya tetap membuatnya sulit tenang. Sikap yang sangat aristokrat Lelight.
“Hmph.”
Orang tua elf berjanggut rapi dengan rambut setengah botak itu membalik badan perlahan. Tatapannya menusuk, seolah bisa membaca setiap pikiran Kianzo hanya dengan lirikan.
“Elf macam apa,” gumam Carbett datar, “Yang dikutuk oleh kaum Fae hanya karena mengambil apel di halaman mereka tanpa izin...”
Walaupun cerita latar belakang Kianzo itu sudah lumrah hanya kalangan terbatas aristokrat ( Tentu saja, Valerie merapatkan orang kepercayaan dan siapapun yang terlibat untuk memberikan alasan ‘setengah palsu’ demi menjaga marwah mentee-nya) masih saja membuat seorang pemuda — yang hampir dipermalukan oleh fae — nyaris tersedak udara. Wajahnya langsung memerah.
“Dari sekian banyak kisah konflik antar ras,” lanjut Carbett dengan nada sarkastik halus. “Kisah itu yang paling... tak terlupakan.”
“Jangan ulangi kebodohan itu lagi, atau kutukanmu tak akan pernah bisa dipatahkan. Kau akan terperangkap dalam bentuk manusiamu selamanya,” tutup Carbett, seakan menutup lembar hitam masa lalu muridnya.
“Hahahaha...” Kianzo terkekeh kecil, mengusap lehernya yang mulai terasa panas. Dalam hati, ia menjerit: ‘tolong... kubur aku hidup-hidup sekarang juga!’
Tiba-tiba suara dentingan tajam terdengar — cling! Carbett menarik pedangnya keluar dari selubungnya.
“Dua belas bulan,” ujar Carbett. “Bukan waktu yang singkat... tapi juga bukan waktu yang lama. Tunjukkan padaku. Sejauh mana perkembanganmu, Kianzo. Tunjukkan teknik pedangmu-beserta cara kau menyalurkan mana di dalamnya.”
Wajah Kianzo berubah serius. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Baik, Ayah.”
Ia menghunus pedangnya sendiri, logamnya berkilau diterpa cahaya senja. Kakinya bergerak lincah, menancap kuat ke tanah dalam kuda-kuda yang mantap. Aura mana perlahan merambat dari genggaman ke sepanjang bilah pedangnya, menciptakan kilatan hijau muda yang samar.
Keduanya berdiri saling berhadapan di lapangan tengah, angin sepoi menggoyang daun-daun di sekitar. Tak ada lagi canda.
“Ayah—saya sudah tidak kuat..” Kianzo terengah-engah dengan posisi pedang yang menghunus ke tanah, menahan beban tubuhnya yang kelelahan.
Carbett, yang berdiri diseberang, walaupun berpeluh masih berdiri tegap bak ksatria. Sesuai dengan latar belakangnya seorang jendral aristokrat Lelight.
Carbett menghela napas sabar dan mengembalikan pedang ke sarungnya.
“Baik, kita istirahat selama lima belas menit.” ujar Carbett. Kemudian dia balik badan berjalan kearah koridor istana dan masuk ke dalam istana.
Kianzo, yang hanya bisa menatap Carbett yang semakin menjauh, mencari pilar koridor terdekat untuk sandaran kemudian merosotkan badan hingga terduduk.
Mukanya menengadah, matanya melayang memandang megahnya istana Lelight dengan pemandangan dibawah tebing bukit istana berupa bangunan-bangunan pantheon berbagai macam ukuran yang pilarnya dihiasi oleh marble marmer yang berkilau dari kejauhan karena pantulan sinar matahari.
Hiruk pikuk manusia dan ras non manusia berseliweran dengan berbagai urusan di sekitar pantheon juga terlihat dari istana. Walaupun ini adalah pemandangan biasa di kota-kota besar Lelight. Namun bagi Kianzo, pemandangan itu tidak pernah habis rasa kagumnya.
Disitulah dia teringat kembali sebuah kesepakatan antara dia dengan Valerie dan bagaimana posisi dia dari rakyat jelata hingga bisa naik menjadi aristokrat Lelight.
“Tuan Valerie sudah membantu membalikkan kutukan fae... “ gumam Kianzo.
“Dan — Tuan Carbett sudah berbaik hati mengadopsiku..”
“Orang-orang Puristenant itu... membutuhkan pembuktian bahwa aku layak menjadi calon Headmaster...”
Kianzo meluruskan kaki, tatapannya kosong sejenak. Carbett kembali berjalan ke arah dia.
“Lima belas menit sudah usai, Kian.”
Dia berdiri dan kembali ke posisinya yang tegap.
“Selanjutnya kita akan pelajari kembali teknik materialisasi pedang mana yang katanya pernah kamu pelajari ketika ikut olahraga bela diri di Akademi Orbis itu.” ujar Carbett sembari membuang sarung pedangnya ke pinggir arena latihan.
“Maaf yah, itu teknik tingkat lanjut hanya untuk yang mengejar karir sebagai Ksatria atau Warden. Saya selalu gagal di teknik itu—“
“Kamu adalah calon Headmaster, calon pemimpin tertinggi Lembaga. Ujung tombak penjaga dunia. Penjaga dunia juga harus menguasai semua teknik tingkat lanjut agar bisa melampaui lawan-lawanmu yang tingkat lanjut pula.” tegas Carbett.
“Tapi yah, Bahkan teknik kombat dasar dan stamina saya belum bisa menyamai Ayah-“
“Lakukan, Kian. Saya mau lihat.”
Kianzo terdiam dan menghela napas.
“Baik, Yah.”
Kianzo menutup mata dan mengatur napas, beberapa saat tangan kanannya membentuk sebuah bilah kecil yang tidak berbentuk. Namun bilah tersebut buyar dengan cepat. Carbett menatap dengan antusias kemudian mengangguk - angguk.
“Coba terus, hingga berbentuk.”
Murid pemuda elf itu menurut dan menghela napas panjang. Matanya memejam untuk memfokuskan aliran mana ke arah tangannya lebih intens dan mengkonsentrasikannya menjadi bilah pedang yang diinginkannya. Walaupun begitu, bilah tersebut tetap tidak bertahan lama. Carbett masih menunggu dengan sabar.
“... Tunggu, Ayah. Saya coba tulis runanya.. Agar bisa memicu pergerakan mana yang lebih lancar...” ujar Kianzo.
Carbett mengangkat alis.
“Seperti yang sudah diperkirakan dari lulusan Akademi Sihir Orbis”, ujar Carbett seraya menyerahkan sebongkah kapur.
Kianzo menulis runa di tanah berbekal ingatan pelajaran di akademi. Mana tersebut mulai terpanggil perlahan dan tangan Kianzo sebelah kiri menyentuh runa itu kemudian sebelah kanan berusaha mematerialisasikan menjadi sebuah pedang.
“Ini.. Ternyata rasanya...” gumamnya. Seolah-olah seperti pertama kalinya Kianzo merasakan aliran mana yang lancar.
Ia melakukannya berulang kali hingga pedang mana itu berbentuk dan padat.
“Lumayan.”
Seketika tangan kanan Carbett muncul pedang mana yang sempurna. Suara rekah kilat halus mengitari pedang mana itu. Alis Kianzo terangkat karena kagum.
“Kita praktek duel. Tidak pakai pedang biasa. Pakai pedang mana.”
Mata Kianzo menegang. Ia mulai memasang kuda-kuda kembali.
“Baik.”
Kilasan kilat mana hijau saling berbenturan. Tebasan menyerong Carbett ditahan sengit oleh Kianzo. Air mukanya tidak bisa menyembunyikan kesulitannya dalam mengimbangi gerakan dan agresifnya gerakan sang jendral aristokrat itu. Sama seperti dengan pedang sungguhan sebelumnya.
Pedang mana Carbett menghujam dari atas dan kali ini Kianzo sudah bersiap menghadapinya dengan gerakan tangkisan namun yang terjadi diluar dugaan dia sendiri.
Pedang mana Kianzo pecah berkeping-keping setelah ditebas oleh pedang mana Carbett.
Mata Kianzo melebar. Syok memenuhi kepalanya.
“Jangan berhenti!!”
Teriak Carbett sambil melanjutkan ayunan pedangnya ke arah Kianzo. Sedetik kemudian Kianzo sadar akan teriakan Carbett kemudian refleks menghindar.
“Lanjut, Kian-Lawanmu tidak akan berhenti hanya karena senjatamu hilang! Bertahan hidup adalah kunci keselamatan Headmaster! Lakukan apapun untuk mempertahankan hidupmu, Kian! Bayangkan kamu adalah Headmaster sungguhan!”
Ceramah Carbett berdengung di setiap hembusan pedang mana yang dia ayunkan ke arahnya. Otak Kianzo bekerja keras. Seketika matanya melirik pedang sungguhan yang tergeletak 3 meter darinya. Namun gerak matanya terbaca oleh Carbett.
Usaha mendekatkan diri ke arah pedang tersebut digagalkan dengan mudah. Tebasan melintang brutal Carbett memaksa Kianzo ke arah sebaliknya yang justru membawanya lebih jauh dari lokasi pedang itu.
Setelah usahanya gagal Kianzo sibuk melihat momentum yang tepat untuk mengumpulkan mana. Namun langkah Carbett semakin agresif menyebabkan konsentrasinya semakin kacau dan materialisasi mana mudah buyar seperti air yang kepercik tumpah.
Semakin panik, Kianzo justru menggali ingatan teknik bela diri mana yang dia pernah ia pelajari di Akademi Orbis sebelumnya.
Sementara, di pandangan Carbett, Kianzo terus menghindar selama semenit yang membuat ia gemas.
“Lambat.”
Carbett berputar melakukan tekel rendah. Kaki Kianzo terselip.
—BRUKK
“Skakmat.”
Sadar-sadar, pedang mana sudah terhunus ke muka Kianzo. Ia hanya menyaksikan ujung pedang mana yang bersinar hijau itu dalam ketidakberdayaan.
Carbett membatalkan tekniknya, seketika pedang mananya buyar. Meninggalkan Kianzo dengan napas yang tersenggal-senggal.
Kejadian itu sudah berkali-kali Kianzo alami. Hunusan pedang itu tidak mengagetkan dia namun ada sedikit rasa kecil hati pada dirinya. Bahwa dia hampir tidak pernah — satu pun — menang melawan gurunya selama dua belas bulan berlatih. Ditambah dengan kontrol mana Carbett — yang menurut analisis Kianzo — sangat luar biasa ahli. Selama dua belas bulan berlatih dengan pedang nyata justru kini Kianzo didesak dengan pedang mana yang bahkan bukan keahliannya.
Sementara itu, Carbett mengulurkan tangannya. Sadar dengan uluran itu, Kianzo menyambutnya dengan mantap.
“Besok kita berlatih lagi seperti tadi.” kata Carbett.
“Dua belas bulan kemarin, kita berlatih dengan pedang biasa, berikutnya kita akan berlatih dengan menggunakan senjata materialisasi dengan improvisasi.”
“Sudah kubilang tadi, lakukan apapun untuk bertahan hidup. Walaupun harus gigit, tendang dan melempar pasir ke mata lawan sekalipun. Headmaster tidak bertarung dengan anggun.” ceramah Carbett dengan alis mengkerut.
Kianzo sedikit menunduk. Carbett menarik napas.
“Dan yang lebih penting lagi adalah Headmaster harus tenang di segala situasi: Jangan panik. Kamu sudah belajar dari Valerie, bukan? Cerita sejarah setiap angkatan para Headmaster yang tidak tertebak terhadap lawan-lawan mereka. “
“Maka kamu harus memberi efek kejutan ke lawan-lawanmu agar meruntuhkan daya mereka. Untuk memberikan efek kejutan itu, kamu harus tenang.” lugasnya.
Carbett mendekati Kianzo dan menepuk pundaknya.
“Latihan hari ini cukup sampai disini. Istirahatlah, Kian.” ujar Carbett. Matanya menatap mata Kianzo. Mengisyaratkan kehangatan mendalam.
Kianzo mengangguk pelan.
“Baik, Ayah Carbett...”
Carbett merespon jawaban anak adopsinya dengan senyum tipis dibalik janggut panjang putihnya. Sosok Ayah angkat dan anak tiri berdiri dibalik senja menjelang malam menandakan momen berakhirnya hari di lapangan tengah Istana Kemegahan Lelight.
“Gimana latihannya, nak? Berat ya?” tanya Quifa dengan nada keibuannya yang khas.
“Lumayan, ibu Quifa..” jawab Kianzo nyengir di seberang Quifa.
“Ayo, dimakan yang banyak..” katanya sambil menyodorkan buah buahan kecuali apel karena Quifa mendengar cerita dari Carbett.
Terakhir kali disodorkan apel, Kianzo terpaku lama dan tidak menyentuh sama sekali. Membuat Carbett cemas apakah dia ini masih sadar atau tidak.
Carbett yang duduk diujung meja makan yang panjang, diantara Kianzo dan Quifa, hanya diam sambil menyantap makan malamnya berupa bubur gandum dan buah zaitun.
Meja makan terisi oleh buah buahan segar dan sajian mewah ala aristokrat. Sesaat sunyi. Hanya terdengar suara dentingan alat makan kemudian Carbett memecah kesunyian.
“Para aristokrat, si Puristenant itu, meragukan Kianzo... maka aku perlu mendidik Kianzo lebih keras untuk membuktikan kepada mereka.”
Gelas yang digenggam ditangannya berputar - tanda bahwa Carbett sedang berpikir. Quifa menatap Carbett dengan senyum lesung tipis.
“Omongan mereka tidak perlu dibawa ke meja makan, sayang. Disini kita bertiga. Berbicara yang ringan saja.” kata Quifa.
Sedangkan Kianzo diseberang hanya menunduk. Hatinya berat karena apa yang dikatakan Carbett mengingatkan kembali ekspektasi para aristokrat terhadap dirinya sebagai perwakilan Lelight di bursa calon Headmaster.
“Headmaster sendiri saja sudah sangat berat. Jangan ditambah beban dari mereka. Mereka tidak tahu seberapa keras Kianzo berusaha mengikuti etiket istana ini.” jelas Quifa.
Carbett terdiam dan menatap Quifa balik.
“Mengingatkan dirimu dulu, Quifa?”
Kepala istri jenderal aristokrat itu miring, matanya melebar.
“Kurang lebih - iya. Kalau bukan karena Nivelt membawamu ke aku?”
“Hahaha-“
Carbett dan Quifa tersenyum dan tertawa berdua. Suara tawa mereka memenuhi ruang makan, sedangkan Kianzo bengong memperhatikan percakapan pasangan tua yang sedang bernostalgia.
Suasana malam itu terasa hangat yang tanpa sadar bibir Kianzo ikut sumringah. Karena Quifa inilah istana Lelight terasa seperti rumah kedua baginya. Terlepas dari suara sumbang para aristokrat.
------Bab 1 selesai------
Catatan Kaki :
Gramyagaja/Vaja : Lystrosaurus














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!