BAB 2

0 dibaca

A

3 tahun berlalu


Ketika pulang kampung, Kianzo mendengar kabar bahwa acara Pemilihan Headmaster yang diumumkan oleh Majelis Pemilihan Headmaster mendekati tiba. Kianzo dan sepupunya, Cerine, berangkat dari Desa Flouren menuju Kota Metropolitan Lelight.

Perjalanan memakan waktu 3 hari dan sesampainya disana, lembar pengumuman sudah berada ditengah kota Lelight.

“Kamu hebat sekali, sepupuku! Padahal baru kemarin diceng-cengin karena dikutuk fae tua rese’ itu!” kata Cerine seraya menepuk punggung Kianzo hingga dia terbatuk-batuk.

Kianzo dan Cerine berada diatas gerobak yang dikendarai oleh Gramyagaja. Mereka melewati kerumunan orang-orang yang tengah memadati sebuah papan pengumuman besar itu.

“Ah, ingin teriak ke semua bahwa yang disampingku ini adalah ca-lon Head-mas-ter.” goda Cerine lagi dengan nada berbisik. Alis dan muka Kianzo mengkerut.

“Diam saja, Cerine. Tuan Valerie tidak memperkenankan mengumumkan diri dahulu sebelum beliau yang melakukan.” katanya dengan nada sebal.

“Aaahhhh… Karena itu kamu bilang ke orang-orang desa bahwa calonnya tidak hanya kamu saja? Dan ada kemungkinan kamu tereliminasi?”

“Kalau aku ngomong bahwa calonnya diriku saja, pasti semua orang bisa menebak dengan mudah bahwa aku adalah calon tunggal yang membawa nama Lelight. ” jelas Kianzo lagi. “.. Dan aku tidak mau membawa beban itu ketika berada diantara keluarga kita.”

Cerine ngangguk-ngangguk sambil terkekeh.

“Ayah ibumu gimana? Bibi dan Paman pasti bangga banget dong.”

Kianzo hanya menghela napas panjang tidak menjawab. Matanya masih fokus dengan jalan didepan. Tangannya yang memegang tali kendali masih sibuk mengarahkan Gramyagaja agar gerobak terarah dengan baik.

Ia mengingat kembali, ketika Ayah dan Ibunya berbicara dengan Valerie secara langsung. Awal mula muka mereka berdua sumringah kemudian tidak berapa lama alis mereka berdua mengernyit. Tangan ibu memegang kedua tangannya dengan erat seolah-olah antara rela dan tidak rela jika Kianzo harus diajukan sebagai calon Headmaster.

“Bangga iya.. Sedih juga iya…” jawab Kianzo seadanya.

Hening sejenak, setelahnya Cerine nyeletuk.

“Iya, ya. Bibi dan Paman juga harus rela kamu bakal lama tidak pulang.” ujar Cerine yang matanya masih melayang kearah kerumunan lainnya. Bagi Cerine, momen di kota metropolitan Lelight adalah kesempatan yang jarang sekali sehingga tidak mau melewatkan begitu saja melihat-lihat pemandangan sekitar.

Sementara Kianzo yang mendengar itu ada rasa terenyuh dalam hati yang tidak bisa dijelaskan. Namun Kianzo tetap fokus mengarahkan gerobaknya ke arah jalan belakang istana Lelight, yang ia ketahui sejak dibawa oleh Valerie diam-diam menyelinap ke dalam istana, untuk menghindari keramaian sekaligus identitasnya terbuka sebagai seorang aristokrat.

“Heh. Belum tentu juga saya terpilih menduduki salah satu posisi Headmaster, Cerine.” jawab Kianzo menelengkan kepalanya.

“Sebenarnya kamu tidak mau menjadi Headmaster kan, Kian? Kenapa kamu tidak menolak permintaan Valerie saat itu?”

Pertanyaan itu menyentil logika Kianzo karena memang terus muncul selama ini : Kenapa saat itu aku tidak menolak?

“Kupikir Pak Tua itu tidak bermasalah juga jika kamu tidak membalas budi atas pengobatan kutukan fae itu.”

Tanpa terasa, gerobak mereka sudah mendekati gerbang belakang istana yang dijaga oleh tentara aristokrat Lelight. Kianzo turun dari gerobak kemudian mendekati salah seorang tentara untuk proses verifikasi identitas. Tidak berapa lama gerbang terbuka, Kianzo mendekati Gramyagaja untuk dituntun hingga melewati gerbang istana.

Mata Cerine seketika berkilau dengan pemandangan indah di dalam istana kebesaran Lelight.

“Kian, kamu tinggal disini saja. Biar aku bisa punya alasan main ke Istana setiap aku ke Kota Metropolitan. “

“Huss. Jaga etikamu disini, Cerine. Aku disini bukan untuk bermain-main. Jangan bikin aku jadi omongan orang-orang Istana. Ayo turun. “ sergah Kianzo.

Cerine turun dari gerobak dengan terkekeh.

 –––––– –––––– ––––––


Kianzo menemui Valerie diruang tahta utama Istana. Ditengah seisi istana sibuk pada pagi hari mempersiapkan pengumuman akbar calon Headmaster, dia masih duduk santai di ruang makan, dengan wine encer ditangannya.

Aroma pie, buah tropis dan parfum kasturi semerbak memenuhi ruangan. Aroma yang sangat familiar di hidung Kianzo sejak berada di Istana.

“Kamu sudah tiba,.. Bagus.” sambut Valerie dengan senyum tipis. Kemudian pandangannya berpindah ke belakang Kianzo. Cerine sadar bahwa dirinya sedang ditatap.

“Ah, Mohon maaf yang Mulia jika saya belum memperkenalkan diri sebelumnya. Saya Cerine, sepupu Kianzo. Saya yang sering bekerja di ladang bersama Kianzo sebelum diculik oleh Yang Mulia. “ kata Cerine dengan sedikit menundukkan kepala dan badan.

Dia belajar etiket itu 2 jam sebelum keberangkatan ke kota Metropolitan. Tentu saja dipaksa Kianzo demi keselamatan reputasinya di Istana. Dari pengajaran halus hingga Kianzo dibuat geleng-geleng kepala. Semua itu tidak sedikit pun membuat Cerine menganggap serius ajarannya dia. Namun perkenalan diri Cerine tadi membuat Kianzo ngebatin keras. Sementara Valerie hanya tersenyum lebar sambil menyisir janggut uban panjangnya.

“Ooh.. Kamu rupanya. Kianzo sering bercerita tentangmu jika dia sedang kangen sekali dengan Desa kecilnya.” celetuk Valerie. Cerine nyengir, matanya melirik Kianzo. Sementara mata Kianzo melirik ke arah lain, sambil menyembunyikan gengsinya.

Tangannya meletakkan gelas wine tersebut diatas meja. Sikap duduknya tegak. Mata Valerie kembali ke Kianzo.

“Kian, anakku. Saya harap besok kamu bersiap lebih awal. Rakyat menunggu dirimu.”

Bulu kuduk Kianzo seketika merinding. Ini pertama kalinya dia berdiri dihadapan khalayak umum. Selama ini dia hanya petani yang diabaikan oleh para bangsawan, kini menjadi pusat perhatian yang membawa nama Lelight di ajang pemilihan Headmaster di Akademi Sihir Orbis.

Kontras yang membuat kepala Kianzo sesak walaupun sudah familiar dengan masyarakat Metropolitan sini. Sebab setiap bulan diseret oleh Valerie untuk menyertainya dalam rangka kampanye kepemimpinan Istana Lelight selama tiga tahun ini.

“Kianzo, jangan hilang kesadaran dulu.” bisik Cerine. Kianzo nyenggol lengannya. Cerine mengaduh dengan nada rendah.

“Aku sadar.” jawab Kianzo dengan wajah datar.

“Badanmu mau jatuh. Kamu yakin?” tanya Cerine. Kianzo memejamkan mata sejenak.

“Aku yakin.” jawab Kianzo.

Tidak lama kemudian mereka berdua diijinkan bubar untuk kembali ke kamar. Kianzo ingin berjalan dengan langkah yang gontai namun mata aristokrat memaksanya bersikap selayaknya bangsawan pada umumnya. Sementara Cerine dipandu oleh dayang istana untuk diarahkan ke kamar tamu.


 –––––– –––––– ––––––


Menjelang tengah malam, suasana lorong koridor remang-remang dengan api runa di sepanjang pilar. Entah mengapa membuat langkah kaki Kianzo sedikit ragu tapi tetap memaksa untuk terus maju. Tidak gelap, tidak terang, tapi cukup memandu arah kemana tujuan Kianzo. Yaitu menuju kantor kerja Valerie.

Ketika Kianzo bertemu dengan seorang pengawal yang bersiaga didepan, ia membukakan daun pintu untuknya. Terlihat Valerie duduk di kursi besar, menatap api unggun. Kianzo berdiri di depannya.

“Kianzo, anakku...” Valerie memulai. Suaranya pelan tetapi pandangannya masih di tungku api runa.

“Aku pikir apa yang aku berikan padamu, bersama Carbett, di waktu yang sangat singkat ini — selama 3 tahun. Tiada lagi yang bisa saya ajarkan padamu.”

Kianzo mengerutkan alis. “Tuan...?”

Valerie kembali menatapnya.

“Pengumuman siapa calon Headmaster utusan dari Lelight untuk institusi Akademi Sihir Orbis diadakan besok. Jika kamu ingin mundur, inilah saatnya.”

Kianzo terdiam. Kaget.

“Kamu sudah tahu resiko tinggi dari posisi Headmaster nanti. Kamu sudah belajar sejarah para Headmaster yang beberapa berakhir... tidak bahagia.”

Api runa yang membakar ranting dan menghangatkan ruangan kantor itu berderak. Remang cahayanya bergerak diantara dalamnya percakapan tengah malam itu. Valerie menatap Kianzo dengan mata sayu.

“Kamu akan terikat oleh Chain Throne selama puluhan tahun.. Kamu menjadi tumbal samsak pihak yang bermusuhan denganmu nanti. Ini pertaruhan seluruh jiwa dan ragamu.”

Tangan Kianzo mengepal.

“Jika kamu ingin mundur, inilah saatnya.”

Dia tertunduk lama. Lalu menegakkan kepala.

“Tuan Valerie... kenapa memilih saya?”

Pemimpin Tertinggi itu tersenyum tipis. Kepalanya sedikit ditelengkan.

“Apakah kamu mau tahu jawabannya, anakku...?”

Kianzo mengangguk pelan. Valerie menghela napas panjang. “Bagaimana jika jawaban sejujurnya adalah ‘tidak tahu’? Apa yang kamu lakukan, anakku?”

Mata coklat pemuda elf itu sedikit melebar kemudian menunduk.

“Jikalau pun kamu mundur, itu juga tidak masalah. Lelight bisa mengumumkan bahwa bakal calon menyerah ditengah pelatihan. Terlepas dari permohonan Majelis Pemilihan Headmaster yang sudah memohon-mohon seorang calon utusan Lelight kepada saya selama bertahun-tahun.”

“…Dan acara besok tetap diadakan pesta Rakyat—sambil berdoa seperti biasa. “ tukas Valerie dengan tenang. Seketika hening. Dua sosok itu menatap tungku perapian.

“Saya,.. telah berpikir selama 3 tahun ini, Tuan.”

“Ini bukan sekedar soal saya harus membalas budi apa yang Tuan Valerie lakukan untuk mengangkat kutukan saya, kan?”

“Saya sudah tahu, setelah mendengar desas desus dari aristokrat lain maupun Tuan Carbett, bahwa Tuan Valerie telah diminta berkali-kali oleh Majelis Pemilihan Headmaster untuk mengirim seorang calon utusan Lelight setelah bertahun-tahun absen sejak kejadian Tuan Yurene itu…”

Memori Kianzo memutar kembali pada hari berkabungnya seluruh Lelight, bahwa Headmaster Vice of Student Affairs —Yurene Lelight —gugur dalam masa tugasnya di Akademi Sihir Orbis. Kabar tersebut menyebar cepat hingga ke desa Flouren. Ditengah asyiknya bermain, Kianzo kecil sedang mencerna keadaan ketika para tetangga dan orang-orang desanya berhenti sejenak sambil menunduk seusai sebuah terompet ditiupkan oleh seorang petugas kerajaan Lelight dari sebuah posnya.

Valerie mengangkat alis dan tersenyum — untuk pertama kalinya. Walaupun ada sedikit siratan melankolis di sinar matanya.

“….Sebuah galian info yang bagus, anakku.” puji Valerie.

“… Saya tahu Tuan Yurene sangat berarti buat Tuan. Berdasarkan penjelasan dari Tuan Carbett, Beliau sahabat Tuan… kemudian anda bertemu saya dan — sepertinya saya paham kenapa saya yang dipilih Tuan untuk dijadikan calon utusan Lelight setelah bertahun-tahun Lelight absen. Apakah,… anda sedang putus asa, Tuan..?” tanya Kianzo balik dengan ragu.

Valerie sedikit terkejut tapi tidak marah dan menjawab. Ada sisi dirinya yang sangat antusias menyimak murid menteenya yang mengupas habis tabir dirinya walaupun tidak dipungkiri sisi egonya juga ingin menjawab. Namun Valerie mengabaikan ego itu, seperti dirinya mengabaikan suara ego Puristenant.

Sembari mengatur suara dan menekan kegamangannya, Kianzo menutupnya dengan “ Apapun itu… Saya percaya pada penilaian Tuan. Dan saya akan berusaha membuktikan bahwa penilaian Tuan terhadap saya tidak salah.”

Valerie menatapnya lama sekali. Derak api unggun mana mewarnai heningnya momen itu. Lalu senyum sekali lagi — kali ini tulus, seperti ayah ke anak.

“Semoga seluruh Elven memberkatimu... selamat berjuang. Jikalau pun bukan mereka, berkat dariku sudah cukup. “ tutup Valerie malam itu.

 –––––– –––––– ––––––


Aroma kasturi semakin semerbak, hidung Kianzo tidak tahan sehingga bangun sebelum matahari pagi menjelang.

Muka Kianzo kusut, kepalanya pening.

“….”

Namun diluar kamarnya mulai riuh rendah. Suara langkah kaki pelayan, cahaya lampu minyak yang berjalan.

Kianzo bergerak ke tepi ranjang dan mengumpulkan nyawa dan nyali. Mengusap muka sejenak. Hari ini adalah pertama kalinya menunjukkan diri sebagai calon Headmaster utusan Lelight dikhalayak umum.

“Apa yang kulakukan…”

Ia mengingat momen semalam ketika bertemu dengan Valerie. Kemudian bertolak ke cermin di samping ranjangnya. Melihat pantulan dirinya. Rambut belum tersisir, muka bantal, mata lelah. Tidak ada aura kebangsawanan yang terpampang.

Kemudian Kianzo bercakap dengan cermin dirinya.

“….Sejarah para Headmaster angkatan sebelumnya yang kubaca,.. Mereka sering mempunyai keraguan tapi tetap melangkah maju… apakah hapalan buku tebal lusuh itu yang menggerakkanku semalam…?” gumamnya.

“Mereka maju terlepas entah jadi harapan, buangan, dimanfaatkan atau pun dipaksa… apakah seperti itu..? Apakah itu takdir yang digariskan oleh Chain Throne..?”

Kianzo tidak bisa berhenti bergumam hingga pintu kamarnya diketuk kemudian dibuka oleh salah satu pelayan pria.

“Tuan, Sudah bangun?” Tanya pelayan pria dengan sopan.

Kianzo segera beranjak dari kursi.

“Ya, Richelle”

Pelayan pria itu masuk disertai beberapa dayang dibelakangnya yang membawa beberapa baju khas aristokrat Lelight.

“Tuan Valerie sudah memesan pakaian untukmu, Tuan. Silahkan dipilih.” Ujar pelayan tersebut mempersilahkan. Baju tersebut berjejer dihadapannya.

Benak Kianzo berisik. Selama 3 tahun berinteraksi dengan gaya hidup kelas aristokrat Lelight membuat semua hal bahkan sebatas memilih baju pun punya simbolitas yang dalam. Suatu hal yang tidak pernah dia temukan selama menjadi kelas rakyat jelata Lelight.

Tentu saja, dia lumayan pengap dengan gaya hidup itu.

“Saya pilih warna putih.” Jawab Kianzo mantap.

“Baik.”

Beberapa dayang dengan sigap menaruh baju pilihan itu di balik bilik ganti. Kianzo menghela napas dan berjalan ke bilik tersebut dengan mata yang lurus pertanda tekad yang mantap.


 –––––– –––––– ––––––


Kianzo berjalan di koridor menuju gedung tahta istana bersama dua pengawal dibelakangnya.

“Warna putih, pilihan yang cemerlang, Tuan Kianzo.”

Nada sarkas berbalut pujian itu sangat Kianzo kenal. Langkah Kianzo terhenti. Badannya menghadap kearah suara itu dan memasang sumringah tipis.

“Terima kasih, Tuan Willior.” Ujar Kianzo dengan sedikit menundukkan kepala.

Willior, yang diketahui sebagai anggota Puristenant, memicu terbentuknya pagar mental dalam diri Kianzo. Ia tidak bisa melupakan seberapa menyiksanya dipermalukan oleh mereka.

Dia teringat ketika Willior mengajaknya ke sebuah pesta Aristokrat dengan ramah tamah manipulatifnya. Meyakinkan dirinya bahwa dia pantas menghadiri pesta tersebut — tanpa formalitas undangan. Tentu saja hasilnya adalah salah kostum dan Willior justru nimbrung mengejek dia bersama bangsawan lainnya.

Valerie yang mengetahui hal itu hanya berdengus pelan.

“Sekarang, kamu belajar bahwa tidak semua orang pantas menjadi kawanmu.”

Kianzo menelan ramuan pahit melalui peristiwa ngenes itu. Kini, mereka saling berhadapan — di hari yang bersejarah bagi Kianzo setelah sekian lama mereka tidak pernah bertegur sapa melainkan hanya anggukan dan senyum hormat formalitas. Tensinya terasa diantara mereka.

“Sudah siap dengan teksnya, Tuan?” Tanya Willior dengan pembawaannya tinggi dan tersirat aura angkuh.

“Tidak perlu, Tuan Willior. Rakyat yang butuh diperhatikan. Bukan teksnya.” Jawab Kianzo lugas idealis.

Willior tersenyum miring.

“Sangat bijak, Tuan. Memang itu seharusnya calon Headmaster utusan Lelight. Bijaksana. Seperti Almarhum Tuan Yurene Wisheron”

Mata Kianzo bergerak mendengar nama itu. Willior lanjut berjalan sedikit melewati dia. Dia mengangkat dagu, matanya memicing nyamping menatap Kianzo disebelahnya Willior

“Momen ini sangat bagus untuk mengundang simpati rakyat terhadap anda sebagai calon Headmaster. Bagus pula untuk… preseden Akademi nantinya — jika beruntung masuk di salah satu slot Headmasternya.” ejek Willior “Semoga Tuan menikmati acara ini. Berterimakasihlah kepada kami, terutama Tuan Carbett dan Tuan Valerie, sehingga bisa berada disini. Lepas dari status anak petani.”

Setelahnya Willior berlalu bersama pengawal pribadinya. Mata Kianzo tidak bisa lepas dari sosok itu dan terpaku agak lama. Alis mengernyit, tangannya mengepal, dadanya terasa gejolak emosi.

Dua pengawal dibelakangnya berbisik-bisik. Kemudian salah satunya memecah kesunyian.

“Ummm, anu.. Tuan Kianzo?” Tanya pengawal itu.

“Ayo ke ruang tahta Istana. Tuan Valerie sudah menunggu.” Perintah Kianzo.

“Siap, Tuan.” Jawab para pengawal dengan sigap.


Mereka berjalan menuju gedung tahta istana Lelight. Sementara diluar, lautan warga Lelight menunggu di area bawah Istana. Mereka bertanya-tanya siapa sosok yang diutus dari mereka sebagai calon Headmaster Akademi Sihir Orbis. Setelah berbagai rumor dan spekulasi kemarin akhirnya ini hari dimana itu semua terjawab.

 –––––– –––––– ––––––


Lautan warga riuh rendah berdesakan menunggu. Sekitar sepeleton tentara Lelight berjaga. Ada yang memagari batas buffer antara daerah steril dengan warga. Ada yang berjaga di setiap enam anak tangga. Ada berjaga di sekitar area balkon dan radius beberapa meter darinya.

Terlihat Valerie dengan baju kebesaran Pemimpin Tertinggi Lelight, kombinasi emas dan biru langit, menuju panggung balkon tertinggi di bagian tengah tangga istana kebesaran. Kianzo menunggu di belakang dengan khidmat.

Valerie berdehem untuk bersiap mengeluarkan suara terbesar dan termegahnya. Kerumunan massa terdiam. Bahkan angin pun berhenti berhembus.

“Selamat Pagi, saudara-saudari seperjuangan — setanah cahaya gemilang, Lelight.”

“Hari ini, di hari paling bersejarah dalam sejarah Lelight. Setelah bertahun-tahun kita absen— kini kami mengumumkan seorang calon Headmaster utusan Lelight ke ajang Pemilihan Headmaster di Akademi Sihir Orbis.”

Kerumunan mulai antusias, ada yang berbisik-bisik. Namun keramaian riuh rendah mulai naik. Valerie mengencangkan suara dari balkon tertinggi.

“Dengan ini, saya, Valerius Giralte Lelight, Pemimpin Tertinggi Lelight, memberkati, Kianzo Tiarrent, anak angkat dari Jendral Istana Carbett Tiarrent, sebagai calon Headmaster utusan Lelight— Semoga langkah-langkahnya diberkati oleh para leluhur Elven Lelight!”

“ WOOO—!!”

Massa bergemuruh meriah. Selanjutnya sosok dari balik Valerie, yaitu Kianzo, muncul dihadapan lautan warga Lelight. Gerumuh makin menjadi. Siulan, siutan, dukungan, memenuhi seisi momentum itu. Awalnya Kianzo merasa sedikit kewalahan tetapi setelahnya terbawa perasaan bangga. Tangan Kianzo yang kaku terangkat oleh tangan Valerie. Membentuk kepalan tinggi sebagai tanda salut patriotik Lelight.

“Untuk Lelight, untuk Dunia. Semoga empati tetap menyatukan Allands!”

Massa mengikuti mantra berapi-api dari Valerie.

“UNTUK LELIGHT, UNTUK DUNIA. SEMOGA EMPATI TETAP MENYATUKAN ALLANDS. WOOHOO——!!”

Lautan tersebut bertepuk-tangan sembari terdengar puji-pujian. Berbagai kembang segar dan buket bunga-bunga petikan bertebaran ke arah balkon. Kianzo terperangah melihat massa menyebut namanya.

“Hidup, Tuan Kianzo!! Hidup, Tuan Valerie!! Hidup Lelight!!”


——————Bab 2 selesai——————

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk