Bab 1

2 dibaca

A

Wanita itu memberiku selembar kertas. Seperti sudah difotokopi berkali-kali. Sampai ada beberapa tulisan terlihat membayang. Dia memintaku untuk membacanya. Bahkan dengan suara yang lantang seperti guruku di sekolahan.

“Sudah, kau bisa membacanya ulang nanti.”

“Baik, apa aku bisa bawa barang-barang ini ke kamar sekarang?”

“Yaah…silahkan saja.”

Tangannya mengibas begitu saja. Seperti hendak mengusir atau mungkin dia tidak peduli dengan kehadiranku. Uang yang kuberikan masih digenggamnya erat.

“Bagus, kau memilih yang itu dan jangan coba-coba masuk ke kamar lainnya.”

“Memangnya kenapa dengan kamar lainnya?”

“Aku sudah memaku pintunya agar tidak bisa dibuka. Baiklah, semoga kau betah disini.”

Dia pergi meninggalkanku. Memang betul ada banyak kamar disini. Tapi semuanya dipaku. Aneh, sepertinya memang hanya kamar yang aku tempati saja bisa dibuka. Tempatnya juga begitu luas. Sepertinya ini dulu rumah orang kaya.

Bagus, aku bisa santai sejenak. Tempat ini juga masih bersih. Aku tidak perlu sibuk lakukan apapun untuk hari ini. Lagipula perjalanan di bis tadi cukup bikin leher pegal. Kursinya terlalu tegak. Leherku seperti dipaksa untuk terus lurus selama empat jam.

“Aah…setidaknya tempat ini yang murah dan nyaman.”

Memang sebuah keberuntungan aku menemukan rumah sewa dengan harga murah. Soal tua dan seram biarkan saja. Toh, aku bisa lebih leluasa ada disini. Tanpa ribut dengan drama teman sekamar dan lainnya.


“Duk…Duk…Duk….”

Seperti suara barang yang sengaja dijatuhkan. Tapi kan di rumah ini hanya ada aku. Aku coba mengecek tapi seperti tidak ada apa-apanya.

“Huh! Apa disini ada tikus?”

Tempat bersih seperti ini rasa tak mungkin ada hewan pengerat itu. Aku coba berjalan ke dapur dan ya tidak ada apapun. Aku kembali ke kamar dan melihat di buffet. Ternyata ada yang tergeletak miring. Aku benahi seperti sediakala. Eh, tapi tunggu dulu. Aku langsung teringat dengan salah satu aturan yang sempat ku baca. Segera aku lari ke kamar untuk mengambil kertas itu.

“Tidak boleh memindahkan barang apapun.”

Aku membaca kembali dengan keras kertas aturan penghuni di rumah ini. Tapi rasanya aku tadi tidak memindahkan apapun. Hanya membenahi saja. Seharusnya itu tidak masuk dalam peraturan di rumah ini.

“Srrrr…!”

Angin seketika masuk membuat gorden terbang. Aku mengecek kembali jendelanya. Sudah ditutup sejak sore tadi. Seharusnya tidak ada angin masuk sekencang ini. Ah, sudah biarkan saja. Lebih baik tidur saja.


“Whoaa kau tinggal di rumah tua itu?”

Pertanyaan teman baruku itu hanya ku jawab anggukan saja. Sambil minum segelas smoothie yang ku pesan di kantin. Mereka bilang tempatku tinggal itu seram.

“Memang iya sih tapi aku sudah biasa.”

“Oh, ayolah Ben! Kau yakin mau disana terus?”

“Itu tempat yang paling murah. Apa aku harus tidur di emperan toko?”

“Ee, maksudnya kau bisa di apartemenku sementara waktu.”

Aku menggeleng keras. Tidak mau menumpang di tempat orang. Apalagi mereka ini baru aku kenal. Rasa tak enak merepotkan orang lain.

“Rumah itu tidak pernah baik pada siapapun. Terakhir orang yang menghuni disana menghilang.”

“Apa sebabnya, Bil?”

Billy bercerita kalau penyewa sebelumnya sempat menelepon 911. Tapi ketika didatangi rumah itu tampak kosong. Tak ada siapapun jadi polisi pun pergi. Meski saat membalikkan badan masih terdengar suara orang meminta tolong.

“Kapan itu terjadi?”

“Um…seminggu yang lalu mungkin.”

“Tidak, Bil. Tiga hari sebelum kita masuk. Berarti setelahnya kau masuk ke rumah itu kan, Ben?”

Aku coba mengingat dan benar kata Hans. Tapi pemilik rumah itu bilang sudah kosong lama. Mana yang benar?

“Pemilik rumah bilang begitu? Ini tidak beres!”

Dua orang itu tetap memaksaku pindah. Tapi mau kemana lagi, aku juga sudah membayar. Akhirnya kami saling bertukar nomor. Bila terjadi sesuatu bisa saling menghubungi.

“Aku habiskan dulu masa sewaku. Baru pindah dari sana.”

“Kami sudah beritahu, tapi terserah kau saja.”

Tidak ada masalah apapun. Sekedar suara-suara yang mengganggu. Itu sudah sangat biasa. Bahkan hari ini pun sama saja. Tertawa cekikikan masih ku anggap biasa saja. Sambil aku makan Snack coklat dari minimarket tadi. Aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Tapi tiba-tiba saja layarnya mati.

“Huh! Baterainya masih banyak. Apa masalahnya?”

Suara mesin dalam laptop masih terdengar. Artinya bukan mati karena habis baterai. Kalau rusak rasanya tidak mungkin. Karena frustasi semua tombol sampai ku pencet. Hingga terlihat kilasan cahaya dari layarnya.

“Ayolah, normal lagi aku butuh untuk tugas besok!”

Aku pikir sudah normal tapi malah muncul wajah. Kulitnya pucat dan terlihat sekilas seperti menunduk. Bukan, itu bukan wallpaper laptopku. Perlahan terangkat pelan dan wajah pucat itu menyeringai padaku. Tapi mata ya matanya tidak ada.

“Aaaaaarggh…!”

Aku memejamkan dua mataku sambil ku tutupi dengan kedua tanganku. Setelahnya ku buka lagi. Tidak ada apa-apa. Laptopku kembali normal. Tapi itu tadi cukup buat keringatku bercucuran. Tanganku masih gemetar saat hendak mengetik. Tapi sesuatu yang tak ku mengerti terjadi lagi.

“Ada apa lagi ini?”

Kursor bergerak sendiri, membuka menu notes. Lalu mengetik sendiri dengan huruf kapital semua.

SELAMAT MALAM, BEN. SEMOGA KAU MENIKMATI MALAM TERAKHIRMU.

Akhirnya aku tutup paksa laptop itu. Lebih baik ku kerjakan sebelum jam masuk saja. Masih ada waktu untuk mengerjakan. Daripada aku kerjakan dengan pikiran kalut malam ini.


Serem amat sih! Kok bisa nggak pindah? 😭

Gak kepikiran buat pindah lagian Eman udah bayar di muka 😅

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk