Bab 2

1 dibaca

A

“Gilaaa…! Apa makhluk seperti itu bisa masuk ke dalam laptop?”

“Segala sesuatu bisa saja terjadi, Bil. Eh, tapi sudah kau kerjakan?”

“Sudah, tapi apa malam ini aku sebaiknya menginap di tempat kalian?”

“Ya, tidak apa-apa. Kami tunggu kau nanti, Ben.”

“Kalau perlu bawa semua barangmu nanti.”

Mereka malah menyuruhku kabur. Tapi tidak masalah daripada aku diteror seperti malam tadi. Aku juga bercerita tentang aturan yang diberikan oleh pemilik rumah. Termasuk sempat membetulkan letak benda yang tergeletak tidak pada tempatnya.

“Tidak memindahkan barang tapi kau lakukan itu, Ben.”

“Astaga! Itu masuk dalam aturan?”

Memang benar-benar aneh kalau begini. Aku memutuskan untuk lebih cepat saja. Billy dan Hans aku minta menunggu di depan rumah itu. Tapi katanya mereka takut. Jadi tidak apalah mereka di depan gang saja. Sembari aku membereskan barang-barang. Begitu sudah siap, aku membuka pintu dah melihat keduanya.

“Bil, Hans, bukannya kalian bilang di depan gang saja?”

“Ya, tapi kami berubah pikiran.”

“Apa maksudmu sih, Hans?”

“Daripada kau menginap di tempat kami, kenapa tidak kita yang tidur disini menemanimu.”

Aku merasa aneh tapi tidak apalah. Mereka bahkan sudah siap dengan dua tas. Mungkin isi baju dan perlengkapan mereka. Setidaknya malam ini ada temannya. Besok aku mau cari tempat lain saja. Keduanya juga setuju. Kami pun memilih untuk satu kamar. Seperti pesan pemilik rumah sebelumnya. Kamar lainnya sudah dia paku pintunya. Artinya tak mungkin bisa dibuka.

“Kita hanya begini saja di kamar ini?”

“Terserah kalian berdua saja, aku sih biasa begini.”

Memang sudah terbiasa aku diam di kamar atau mungkin membuat cokelat hangat di dapur sebentar. Udaranya terasa dingin. Tapi ini seperti tidak biasanya. Kulihat Hans dan Billy sempat asik mengobrol saat ku tinggal tadi. Namun mereka terdiam saat aku kembali.

“Eh, apa aku mengganggu?”

“Ooh, tidak tidak tadi aku berencana bagaimana kalau kita coba berkeliling di rumah ini.”

“Ya, benar kata Hans. Kelihatannya itu seru!”

Aku menaikkan satu alisku karena memang sejak tinggal disini tak pernah berani berjalan kemana-mana. Selain kamar mandi, dapur dan kembali ke kamar. Tapi rasanya aneh karena mereka berdua kan pernah bilang kalau takut dengan rumah ini.

“Aku tidak ikut deh, kalian saja.”

“Kau takut ya?”

“Ada aku dan Hans, tidak masalah kan?”

Sampai disini aku mulai rasa aneh. Biasanya orang dua ini sempat memanggil namaku. Kenapa sejak mereka datang sampai sekarang tidak sama sekali. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku. Tapi saat membacanya aku jadi bingung. Buru-buru aku mengetiknya.

<Ben, kau lama sekali. Ayolah, kita sudah menunggumu di depan gang.>

<Bukannya kau kan sudah masuk rumah sewaku ini, Hans.>

<Masuk? Kalau iya pasti tak akan mengirimkan pesan ini padamu.>

Tanganku gemetar membacanya. Nyaris ponselku terjatuh. Jadi siapa yang ada di hadapanku saat ini?

“Ada apa? Kau sepertinya sedang sakit.”

“Aah, tidak-tidak aku buru-buru mau ke kamar mandi.”

Jantungku berdegup kencang. Segera ku ketik lagi pesan pada Hans. Termasuk pada Billy. Mereka bahkan bisa mengirim gambar dimana berada. Memang benar itu mereka. Lalu siapa mereka berdua. Setidaknya aku harus tenang menghadapi ini. Kesempatanku untuk pergi masih bisa.

“Ah, perutku rasanya tidak beres tadi. Sepertinya aku perlu membeli obat.”

Baru aku mau memutar kenop pintu. Tiba-tiba satu tangan sudah ada diatasku. Dia memandangku lekat. Wajahnya memang mirip dengan Billy. Tapi tatapan matanya semakin lama terlihat tajam.

“Tidak, kau tidak perlu obat apapun.”

Aku bergegas menarik tangan dan berjalan mundur. Rasa panikku makin jadi. Tiba-tiba ada yang menelepon. Itu nomor Hans. Karena panik aku tidak mengangkatnya. Malah aku masukkan dalam saku.

“Apa kau sudah tahu tentang kami?”


Ngeri bangeeet! 😭

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk