Bab 3

1 dibaca

A

Satunya lagi yang seperti Hans pun menyeringai dari belakang badan yang mirip Billy. Sudah jelas ini tak beres. Aku langsung lari ke dapur. Ternyata mereka mengikuti ku. Tanpa ragu aku ambil pisau disana. Bersiap melawan jika perlu. Tapi keduanya malah tertawa. Tawanya persis cekikikan seperti yang pernah ku dengar di malam sebelumnya.

“Jangan dekati aku ya!”

Tidak ada kata-kata apapun selain mereka berdua yang terus mendekat. Senyuman mereka seolah hendak menghabisiku. Saat ada kesempatan aku bergegas lari lagi sambil membawa pisau tadi. Tapi aku dengar sesuatu.

“Hei, aku tidak boleh dibawa keluar dari dapur!”

Mereka berdua sudah tidak ada lagi. Tapi kenapa tadi ada yang bicara. Saat kusadari segera pisau itu ku lempar. Benda itu bisa punya mata, bahkan mulut juga. Astaga, apa iya pisau pun tak boleh berpindah tempat. Kini aku berada di dekat pintu utama lagi. Tapi saat ku putar kenopnya malah justru ada yang bicara lagi.

“Arggh! Jangan memutarku sembarangan ya.”

Rumah ini dan semua isinya hidup? Ini gila! Aku berusaha memecahkan kaca jendela dengan kursi yang ada. Betul bisa pecah. Berharap ini jalan keluarku. Tapi baru saja mau melompat, pecahan kacanya menyatu kembali. Ponselku berdering lagi. Segera aku mengangkatnya.

“Ben, kulihat dari luar kau lari-larian. Ada apa?”

“Hans, Billy, kalian bisa melihatku dari luar? Bantu aku sekarang!”

“Tapi apa yang bisa kami lakukan?”

“Dobrak pintunya bareng Billy. Aku tidak bisa membukanya.”

“Kau gila ya! Sama saja kami merusak….”

“Cepatlah! Aku bisa mati disini.”

Kulihat memang ada yang mendekat disini. Itu pasti mereka berdua. Syukurlah aku terselamatkan. Tapi entah kenapa mereka berdua terpental.

“Maaf, Ben kami tidak bisa.”

“Tolonglah, coba sekali lagi!”

Sebelum mereka berhasil menendang, tiba-tiba ada yang datang. Entah apa yang diomongkan tapi mereka berdua jadi menjauh. Ponselku berdering lagi.

“Benar kan kami kena tegur dari polisi. Aku tidak berani lagi, Ben.”

“Polisi? Kalau begitu minta tolong padanya saja….”

Belum sempat aku bicara lagi. Ponselku terlempar begitu saja. Aku ingin meraihnya tapi makin menjauh. Saat ku kejar malah justru menabrak sesuatu. Aku mendongakkan kepalaku. Melihat sosok lain yang sepertinya tak asing. Seorang pria tua memakai kemeja putih dan jas warna abu-abu. Kulitnya pucat seperti mayat hidup.

“Kau sudah banyak melanggar aturan di rumah ini.”

T-tapi apa yang aku langgar?”

Dia mengangkat ponselku. Menunjukkan kalau itulah penyebabnya. Lalu laptopku yang tiba-tiba melayang disini. Padahal tadi masih ada di kamar. Bagaimana dia bisa melakukan itu?

“Rumah ini tidak menerima benda asing.”

Seketika aku merasa tersedot dengan cepat kembali ke kamar. Padahal tadi masih di dekat pintu utama. Apa ini semua mimpi?

“Ini adalah tempatmu sekarang. Aku senang rumah ini selalu ada penghuni baru.”

Sosok tadi muncul tiba-tiba lagi dihadapanku. Aku masih tak mengerti. Ku dengar juga suara-suara orang yang meminta tolong. Apakah mereka orang yang sebelumnya menyewa rumah ini?

Dalam kebingungan aku masih bertanya apa iya itu salahku. Tapi sekarang aku tak bisa berbuat apapun. Hanya bisa terduduk di atas kasur. Diam seperti boneka.


“Huh! Penghuni kali ini apa melanggar lagi?”

Wanita ini melepas potongan timun yang sempat ditempel di matanya. Dia bergegas mengambil kunci mobil lalu pergi mengendarainya. Sampai di depan rumah tua yang disewakan. Lampunya masih menyala tapi dia seperti tahu sesuatu.

“Kakek, jangan bilang kau melakukannya lagi.”

Tidak ada apapun disini. Dia seperti berbicara sendiri. Tapi beberapa benda bergerak pelan di buffet. Serta lukisan lelaki dengan jas warna abu-abu sedikit berbeda. Matanya seperti mengarah pada wanita itu.

“Uuh, biar aku lihat dulu.”

Dia mengeluarkan kertas yang selalu dibawanya dalam kantong. Membuka lipatannya dan tampak ada tambahan tulisan pada daftar paling bawah.

-Tidak ada benda melebihi jamanku di rumah ini-

Peraturan baru tertulis begitu saja. Sementara wanita itu hanya bisa diam sambil membacanya dalam hati. Dia masih ingat kamar yang ditempati penyewa barunya. Segera dibuka olehnya dan tampak ada ponsel, laptop serta boneka porselen laki-laki yang terduduk di atas kasur.

“Maaf, seharusnya aku tidak menyewakan tempat ini padamu.”

Wanita itu mengambil boneka porselen tadi. Lalu membawanya ke lemari pajangan. Ternyata disana sudah ada banyak boneka. Untuk yang baru ini diletakan di tempat yang sekiranya masih muat. Lalu wanita itu menatap ke arah lukisan lelaki di dekatnya.

“Kakek, aku benci kelicikanmu!”

Dia menghentakkan kakinya kencang sebelum meninggalkan rumah tua itu. Tapi tanpa dia sadari, lukisan itu tersenyum.


Tamat

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

😱😱😱😱

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk