Sin
Aku melihat dosa-dosa
dari masa yang jauh
menikamku tepat di dada
apa kau mendengarku, Mama?
Sepasang Mata di Balik Kaca
Aku bisa saja melihat lampu merah yang tak
kunjung hijau, atau kendaraan yang lalu lalang tak
beraturan, juga satu-dua orang yang melintas pada
penyeberangan, dan mungkin trotoar yang penuh
sesak oleh pedagang. Namun tidak, aku lebih
memilih melihat matamu dari balik kaca spion-mu.
Dari matamu aku rasai kau seperti tergesa. Mata
cemerlangmu bercerita kepadaku, ada sesuatu
yang sudah menunggu.
Hijau menyambut. Kendaraan berhamburan.
Aku yang sedari tadi di belakangmu semakin kau
tinggal. Kau melesat dengan cepat, yang secepat
itu pula tiba-tiba tubuhmu terpental, terpelanting
pada aspal kering.
Kau basahi aspal itu dengan merah. Matamu
terbelalak. Aku mendekat, kulihat matamu sekali
lagi, dan kau sudah tidak di situ lagi.
Hari Itu Kelam Datang Lebih Cepat
Matanya
hampir-hampir
jadi bengkak
Kutanya: mengapa menangis?
kata-katanya tertahan
ia ambil ponsel; mengetik sesuatu
hening menyentak
Layar masih menyala
ponsel tergeletak
di sana ada beberapa kata; tiga
Aku, tertulis di situ
dua kata berikutnya membikin pipiku panas
Apa perlu kulanjutkan?
o, biar jadi rahasia
perkara ini terlarang, tentu
dan aku tak ingin mengingatnya
Perempuan dan Bunga-Bunga
Pada mulanya anggrek
kuning
berayun tersapu
angin pegunungan Andes
Swaddled babies
katanya
tiba-tiba
O, bunga musim semi
aku berkata
Selanjutnya merekah
baunya
kautahu
seperti kayu manis
lalu aku curiga
kepada penciumanku
sendiri
Dan anggrek-anggrek
tumbuh
semakin tinggi
Namun, lihatlah
bunga itu bermekaran
makin banyak
melilit yang ada di dekatnya
Perempuan itu
kautahu
perempuan itu
tenggelam di dalamnya
Perayaan Lahir
Hujan waktu itu
airnya rembes
membasahi ruas-ruas
kakimu yang lesu
Kau terbangun
dengan perut
yang semakin besar
dan kaki-kaki mungil
bergerak-gerak
di dalam sana
Kau sadar
tak lama lagi
atau boleh dihitung
hari-hari
sekuntum cinta hadir
Bertahun-tahun kemudian
kau rayakan sebagaimana orang-orang
“Ah anakku. Selamat ulang tahun, selamat ulang
tahun.” Katamu
“Bukan, Mama. Bukan,”
melainkan kesakitan-kesakitanmu
dan cinta
yang patut dikenang
Kosong
Malam-malam
di pinggir jendela
gorden terbuka
di luar hanya gelap
Kubuka gawai
menelusuri setiap nomor kontak
dari A sampai Z
“O, aku tak punya teman.”
Perjumpaan
Kami telah berjanji
dan aku tak bisa banyak berkata
Ia sudah menunggu di sana
dengan segelas susu segar
milik pengunjung lain
yang ia minum sampai separuh
Dan wajahnya, kautahu, kusut
dan lihat
sejak kapan ia merokok?
apa sudah tak ia indahkan
perkataan orangtuanya:
jangan merokok, jangan merokok
bukankah dokter tak boleh merokok?
Mari pejamkan mata
dan mulai menerka:
apa jaminan hari tua
membuatnya sinting?
Boleh jadi aku salah:
ia tak hanya sinting
tapi goblok
Setelah beberapa tahun
ia jadi banyak bicara
dan aku kira, kalau tak keliru
pekerjaan menganggu kerja otaknya
Ia melantur
berbicara banyak-banyak
seolah segala kecakapan
yang pernah dimiliki
seluruh umat manusia
telah ia telan bulat-bulat
Ruangan ini cukup sesak
asap mengepul
dan seseorang terbatuk-batuk
Aku hanya duduk meringkuk
di kursi
yang sebetulnya aku sedang
menepis kenyataan bahwa
akulah yang sebetulnya sinting
dan, baiklah, goblok
Setelahnya, aku pulang
berkendara pelan saja
dengan perasaan
seperti ditusuk-tusuk jarum tumpul
di wajah
Melewati menit-menit tak berarti
seperti segala hal bukan dihadirkan
untukku
Genangan air
juga sampah plastik
berserakan
menghalangi laju kendaraan
yang sebetulnya itu
hasil dari orang-orang
yang sedang menyiapkan
kematiannya masing-masing
Sekejap, aku menyadari
di jalanan itu
hanya ada aku sendiri














Kak, gimana kalo puisinya per bab, biar bisa menyesapi satu per satu
Jadi kecil2 kak per judulnya nanti