Bagian 1

12 dibaca

A

Sin

Aku melihat dosa-dosa

dari masa yang jauh

menikamku tepat di dada

apa kau mendengarku, Mama?

Sepasang Mata di Balik Kaca

Aku bisa saja melihat lampu merah yang tak

kunjung hijau, atau kendaraan yang lalu lalang tak

beraturan, juga satu-dua orang yang melintas pada

penyeberangan, dan mungkin trotoar yang penuh

sesak oleh pedagang. Namun tidak, aku lebih

memilih melihat matamu dari balik kaca spion-mu.

Dari matamu aku rasai kau seperti tergesa. Mata

cemerlangmu bercerita kepadaku, ada sesuatu

yang sudah menunggu.

Hijau menyambut. Kendaraan berhamburan.

Aku yang sedari tadi di belakangmu semakin kau

tinggal. Kau melesat dengan cepat, yang secepat

itu pula tiba-tiba tubuhmu terpental, terpelanting

pada aspal kering.

Kau basahi aspal itu dengan merah. Matamu

terbelalak. Aku mendekat, kulihat matamu sekali

lagi, dan kau sudah tidak di situ lagi.

Hari Itu Kelam Datang Lebih Cepat

Matanya

hampir-hampir

jadi bengkak

Kutanya: mengapa menangis?

kata-katanya tertahan

ia ambil ponsel; mengetik sesuatu

hening menyentak

Layar masih menyala

ponsel tergeletak

di sana ada beberapa kata; tiga

Aku, tertulis di situ

dua kata berikutnya membikin pipiku panas

Apa perlu kulanjutkan?

o, biar jadi rahasia

perkara ini terlarang, tentu

dan aku tak ingin mengingatnya

Perempuan dan Bunga-Bunga

Pada mulanya anggrek

kuning

berayun tersapu

angin pegunungan Andes

Swaddled babies

katanya

tiba-tiba

O, bunga musim semi

aku berkata

Selanjutnya merekah

baunya

kautahu

seperti kayu manis

lalu aku curiga

kepada penciumanku

sendiri

Dan anggrek-anggrek

tumbuh

semakin tinggi

Namun, lihatlah

bunga itu bermekaran

makin banyak

melilit yang ada di dekatnya

Perempuan itu

kautahu

perempuan itu

tenggelam di dalamnya

Perayaan Lahir

Hujan waktu itu

airnya rembes

membasahi ruas-ruas

kakimu yang lesu

Kau terbangun

dengan perut

yang semakin besar

dan kaki-kaki mungil

bergerak-gerak

di dalam sana

Kau sadar

tak lama lagi

atau boleh dihitung

hari-hari

sekuntum cinta hadir

Bertahun-tahun kemudian

kau rayakan sebagaimana orang-orang

“Ah anakku. Selamat ulang tahun, selamat ulang

tahun.” Katamu

“Bukan, Mama. Bukan,”

melainkan kesakitan-kesakitanmu

dan cinta

yang patut dikenang

Kosong

Malam-malam

di pinggir jendela

gorden terbuka

di luar hanya gelap

Kubuka gawai

menelusuri setiap nomor kontak

dari A sampai Z

“O, aku tak punya teman.”

Perjumpaan

Kami telah berjanji

dan aku tak bisa banyak berkata

Ia sudah menunggu di sana

dengan segelas susu segar

milik pengunjung lain

yang ia minum sampai separuh

Dan wajahnya, kautahu, kusut

dan lihat

sejak kapan ia merokok?

apa sudah tak ia indahkan

perkataan orangtuanya:

jangan merokok, jangan merokok

bukankah dokter tak boleh merokok?

Mari pejamkan mata

dan mulai menerka:

apa jaminan hari tua

membuatnya sinting?

Boleh jadi aku salah:

ia tak hanya sinting

tapi goblok

Setelah beberapa tahun

ia jadi banyak bicara

dan aku kira, kalau tak keliru

pekerjaan menganggu kerja otaknya

Ia melantur

berbicara banyak-banyak

seolah segala kecakapan

yang pernah dimiliki

seluruh umat manusia

telah ia telan bulat-bulat

Ruangan ini cukup sesak

asap mengepul

dan seseorang terbatuk-batuk

Aku hanya duduk meringkuk

di kursi

yang sebetulnya aku sedang

menepis kenyataan bahwa

akulah yang sebetulnya sinting

dan, baiklah, goblok

Setelahnya, aku pulang

berkendara pelan saja

dengan perasaan

seperti ditusuk-tusuk jarum tumpul

di wajah

Melewati menit-menit tak berarti

seperti segala hal bukan dihadirkan

untukku

Genangan air

juga sampah plastik

berserakan

menghalangi laju kendaraan

yang sebetulnya itu

hasil dari orang-orang

yang sedang menyiapkan

kematiannya masing-masing

Sekejap, aku menyadari

di jalanan itu

hanya ada aku sendiri

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Kak, gimana kalo puisinya per bab, biar bisa menyesapi satu per satu

Jadi kecil2 kak per judulnya nanti

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk