“Nur, aku kangen.”
Menur yang baru saja meletakkan secangkir teh di hadapan Wira, mendongak menatap mantan suaminya itu. Terkejut.
“Mas ngomong apa tho?” Menur menggeleng. Tidak ingin mendengar lanjutan kalimat itu.
“Mas serius, Nur. Jangan setega ini lho sama, Mas.” Wira berusaha meraih tangan Menur yang masih bergerak membuka toples kue sisa lebaran di meja, tapi Menur berhasil menarik tangannya lebih cepat.
“Ndak boleh, Mas. Kita sudah ndak nikah lagi.” Menur tidak mau menambah dosanya yang sudah menumpuk dengan menyentuh pria yang bukan lagi suaminya. Mereka sudah Resmi bercerai, tidak boleh bersentuhan lagi. Wira sendiri yang mengusirnya beberapa bulan lalu.
“Halah, dikit aja lho. Kayak sama siapa aja.”
Wira bergeser mendekati Menur yang duduk di ujung lain kursi panjang itu. Hanya ada satu kursi panjang di ruang tamu rumah Menur yang memang sederhana itu. Bukan sofa, tapi kursi kayu jati yang umurnya lebih tua dari Menur. Sesuai dengan rumah tempatnya lahir yang memang sederhana.
“Dikit juga ndak boleh, Mas. Kita bukan suami istri lagi.” Menur memilih berdiri untuk amannya.
“Kalau Mas mau nemuin Gita besok aja. Gita sudah tidur, Mas” Menur mengalihkan pembahasan agar Wira tidak semakin ngawur.
“Aku ndak cuma mau nemuin Gita lho. Aku juga kangen sama ibunya.” Wira tersenyum, tidak menyerah.
“Mas datengnya kemaleman, Gita udah tidur.” Menur berpura-pura tidak mendengar ucapan rindu yang bertubi-tubi itu. Memang hanya pembahasan tentang Gita—anak mereka satu-satunya—yang masih relevan di antara mereka.
“Nur, jangan jual mahal gitu. Kamu tahu kalo aku suka ngomongnya ngawur kalau marah. Ndak usah kamu denger. Aku pingin kita rujuk lagi, Nur.” Wira ikut berdiri dan mendekati Menur yang kini menggeleng kuat-kuat sampai jilbab hitam yang dipakainya ikut berkibar padahal tidak terlalu lebar.
Menur juga mundur lagi, memperlebar jarak. Kalau Wira terus mendekat, Menur akan memanggil ibunya yang ada di kamar untuk menemani.
Menur juga sebenarnya sudah malas membiarkan Wira masuk tadi, karena tidak pantas pria yang sudah bukan suaminya datang malam-malam. Tapi Menur terpaksa luluh saat Wira menyebut ingin bertemu Gita.
“Itu udah ndak bisa, Mas. Udah tiga kali Mas ngucapin talak. Kita ndak bisa rujuk lagi.” Setelah merasa dalam jarak aman, Menur baru bisa menanggapi permintaan aneh itu.
Permintaan rujuk itu tidak amat mengejutkan, meski tidak terduga. Menur sudah pernah menghadapi Wira yang datang merayu untuk rujuk.
Wira menyipitkan mata. “Jangan ngawur! Ndak mungkin!” Suara lembut merayunya tidak lagi terdengar.
“Ndak, Mas. Menur ndak lupa.” Menur akhirnya mendongak lagi dan menatapnya.
“Pertama pas kita baru nikah dua bulan. Mas bilang kita pisah aja soalnya aku ndak bisa masak asem-asem enak. Yang kedua pas aku habis lahiran. Kata Mas aku ndak guna, gendut—”
Menur ingin mengucapkan semuanya dengan damai, karena semua sudah lewat. Tapi ingatan ucapan menyakitkan itu rupanya masih bisa menggores meski sudah hampir empat tahun berlalu. Matanya sedikit panas oleh air mata merebak.
Masa dimana dirinya amat lemah, tapi mendapat serangan yang fatal. Menur ingat tubuhnya sampai demam malam itu.
“Kata Mas aku ndak cocok jadi istri Mas lagi. Mas bilang talak malah, katanya mau cari istri lagi. Yang ketiga beberapa bulan lalu. Mas bilang talak lagi soalnya aku ngelarang mas minum.”
Menur menjelaskan sisanya dengan lebih tenang karena memang sudah dalam taraf tidak acuh.
“Kamu inget sampai segitunya.” Wira terlihat termangu. Antara kesal bercampur takjub pada detail ingatan Menur. “Tapi… Masak udah tiga kali? Ndak bisa gitu—”
“Mas bukannya mau nikah lagi?” Menur menyela. Ia mendengar selentingan kabar itu minggu lalu saat berbelanja di pasar, dan sama sekali tidak keberatan.
Perceraian mereka kali ini lebih serius karena sampai diurus ke pengadilan agama. Menur tidak tidak berkomentar juga saat datang memenuhi panggilan pengadilan, mengira Wira meresmikan status itu karena mereka memang sudah tidak mungkin rujuk.
Karena itu Menur sejak tadi tidak bisa menganggap serius ucapan Wira. Apalagi rekam jejak yang ditinggalkan Wira tidaklah bagus. Menur akan berpikir seribu kali untuk rujuk.
“Kamu denger dari siapa? Jangan ngawur. Aku ndak ngelamar siapa-siapa. Kabar kabur itu.” Wira tampak menggaruk kepalanya sendiri, lalu tersenyum lagi. Mengulang bujukannya.
“Aku masih pingin sama kamu, Nur. Sama Gita juga. Aku masih bapaknya. Aku pingin kita kumpul lagi.”
“Mas mau gimana juga ndak bisa. Aku ndak mau dosa, Mas.” Menur sebenarnya cukup lega punya alasan kuat. Ia tahu Wira bisa menjadi sangat pemaksa.
“Tapi Gita—”
“Kalo Mas memang mau, ya penuhi aja kewajiban Mas buat Gita.” Menur belum ingin memperpanjang masalah. Kalau mau, ia bisa mengatakan kalau Wira selama ini sangat kurang perhatian pada anak mereka itu.
Jangankan uang, Wira sama sekali tidak mencoba mencari tahu kabar anak mereka. Menur tidak menegur atau berusaha meminta Wira lebih perhatian karena tidak berguna. Menur tahu rasanya mencoba meminta sesuatu pada Wira, kurang lebih seperti bicara pada tembok—percuma.
“Ya maka itu kita rujuk dulu. Kamu balik dulu ke rumah biar aku bisa perhatian ke Gita. Aku beneran kangen, Nur.” Wira terdengar mengiba. Jurus saat sudah terpepet.
“Ndak bisa. Yang lain mungkin ndak tahu, tapi aku tahu. Allah tahu, Mas. Kita mau nipu siapa? Akad sama talak urusannya sama Allah, Mas.” Menur menegaskan lagi.
Orang di rumah Wira mungkin tidak sampai menghitung berapa kali Wira mengucapkan talak, tapi memang mereka tidak perlu tahu. Allah yang tahu saja sudah cukup untuk Menur.
“Mas seharusnya yang lebih tahu, kan?” Menur kembali menatap Wira, menunggu bantahan dari segi ilmu—kalau ada.
Soal ilmu agama, Wira seharusnya memang lebih tahu. Selain pemilik kebun yang luas, keluarga Wira juga pemilik pondok pesantren. Wira tidak terlibat dalam mengelola pondok itu, tapi pelajaran ilmu agamanya tentu tidak kurang.
Ilmu yang memang lebih sering dilanggar oleh Wira, tapi Menur tidak akan mau menjadi bagian dari pelanggaran itu. Ia masih takut pada dosa.
“Ck, yo wis!”
Menur sampai terkejut karena tiba-tiba saja Wira membentak dan berdiri. Tidak berpamitan atau apa, keluar begitu saja dari rumahnya.
“Mas—” Menur menahan panggilan. Sebenarnya ingin memintanya menemui Gita besok paling tidak, tapi meminta saat Wira marah bukan ide bagus. Bisa-bisa Wira akan membentak dan malah membuat kehebohan.
Menur menatap saat Wira masuk ke mobil sedan yang tadi dibawanya. Mobil itu tidak segera mundur meninggalkan halaman.
Menur tidak terlalu peduli, ia menutup pintu dan gorden. Tidak mau memandang lagi, karena lelah secara psikis.
Tanpa alasan talak tiga itu, Menur juga akan menolak permintaan rujuk itu. Sudah cukup selama empat tahun ia menahan kejengkelan akibat sikap Wira yang membuatnya makan hati.
Menur lebih menikmati masa sendiri seperti sekarang. Ia punya Gita yang harus diurus, dan akan fokus pada tujuan itu saja.
“Mar, aku butuh ketemu.” Wira tidak segera memundurkan mobil karena menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Ada apa, Mas? Kok tumben.” Pria yang menjadi lawan bicaranya terdengar heran, karena memang baru sekali ini Wira menghubunginya setelah beberapa tahun.
“Nanti aku cerita kalau kita ketemu. Aku mau minta tolong pokoknya.” Wira akan memaksa kalau perlu.
“Boleh, Mas. Besok saya masuk tapi, Mas. Apa minggu—”
“Aku ke sekolahmu besok siang.” Wira tidak mau membuang waktu.
“Njih, Mas. Monggo. Tak tunggu.” (Iya, Mas. Silakan. Saya tunggu)
Setelah mendapat persetujuan, Wira menghembuskan napas lega. Bagian awal rencana nekatnya sudah berjalan.
Licik, tapi harus dijalankan demi Menur. Tujuan paling penting di hidupnya saat ini adalah rujuk dengan Menur.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!