#002 Rencana Yang Busuk

2 dibaca

A

##

“Mas Wira sehat?” Damar mencoba berbasa-basi saat bertemu pandang dengan Wira.

“Sehat, Mar. Kamu yang kurusan gitu.” Wira menggeser es teh yang sudah dipesannya sejak tadi.

Damar mengangguk berterima kasih dan meminumnya langsung karena memang haus.

Udara siang di kantin sekolah tingkat menengah itu memang panas. Cuaca kota Salatiga pada umumnya sejuk, tapi beberapa minggu ini adalah puncak musim kemarau. Kota sejuk itu tidak bisa lolos dari panas menyengat.

Tapi bukan karena udara panas kantin itu kosong, Wira yang datang saat jam pelajaran. Damar sejujurnya keberatan meninggalkan kelas, tapi Wira bukan orang yang bisa ditolaknya dengan sembarangan.

“Kamu butuh istri buat nemenin sama nyiapin makan itu, biar ndak kurus melas.” Wira kembali menyinggung hal yang membuat Damar tersenyum masam.

“Nanti mungkin, Mas. Kalau udah lulus. Masih repot kalo sekarang.”

Damar masih belum tahu kenapa Wira ingin bertemu dengan tiba-tiba, tapi berharap bukan sekadar untuk menyindir saja. Damar tidak bisa menebak, karena sikap Wira yang tidak konsisten. Terkadang bisa penuh senyum, tapi Damar juga masih ingat bagaimana Wira memfitnahnya mengambil uang dari dompet kakeknya. Wira bisa menjadi madu dan racun—tergantung situasi.

“Kamu tu sekolah buat apa lagi? Udah pol S1, udah kerja juga. Apa ndak bosen belajar terus?” Wira menggeleng sambil menggigit pisang goreng yang tersaji.

“Bosen emang, Mas. Tapi ya udah terlanjur.” Damar mengatakannya bukan karena benar-benar bosan, tapi agar Wira tidak lagi mengatakan hal buruk tentang kegiatannya. Kalau menentang pendapat itu, Damar tahu Wira akan semakin tajam mengolok.

Lha yo! Tau gitu uangnya kamu pake nikah aja. Kamu sekarang malah ga punya modal buat nikah kan? Kamu udah mau tiga puluh kok malah belum ngapa-ngapain.” Wira tertawa sendiri, karena Damar tidak merasa hal itu lucu. Tapi ia masih bisa tersenyum sopan.

“Tapi cocok kok, saya belum punya calon. Nanti kalau udah ada, saya ngumpulin lagi.” Damar sedikit membela diri. Pencapaian hidupnya tidak amat gagal hanya karena belum menikah di usia dua puluh tujuh.

“Kabar Mbah Sumo gimana, Mas? Saya belum sempet sowan.” Damar cepat-cepat bertanya hal lain, agar pembicaraan mereka tidak membahas hal yang membuat lidahnya masam.

“Masih di Mekkah. Belum pulang dari enam bulan lalu. Kamu kalo mau sowan, ya sekalian umroh. Ndak bisa juga tho?”

Damar menyesal telah bertanya. Pembahasan itu masih bisa membuat hatinya terasa gatal. Meski tidak amat mengejek, tapi Wira kurang lebih kembali menyindir ketidakmampuannya untuk menjalankan ibadah itu karena kurangnya uang.

“Tapi kamu punya rumah kan?” tanya Wira, tiba-tiba.

“Ha?” Damar jelas bingung. Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan apapun yang mereka bahas.

“Punya kan?” desak Wira.

“Punya, Mas. Masih nyicil.” Damar menjawab jujur.

“Kalau begitu, aku punya usul.” Wira tersenyum lebar, girang.

“Usul buat apa, Mas?” tanya Damar, kembali bingung.

“Kamu tahu Menur kan? Kamu ndak datang pas aku nikahan, tapi kamu tahu kan?”

“Istri Mas Wira? Tahu.” Damar tidak mengenalnya, tidak pernah pula bertemu. Hari pernikahan Wira dan Menur bersamaan dengan hari wisudanya. Damar tidak bisa datang.

Tapi Mbah Sumo pernah memperlihatkan foto-fotonya saat Damar berkunjung tiga tahun lalu. Saat itu Damar juga tidak bertemu dengannya karena Wira dan Menur berkunjung ke rumah mertuanya yang sakit. Setelah itu Damar tidak sempat datang lagi, karena sibuk mulai kuliah lagi.

Mbah Sumo juga sama. Ia masih sangat aktif berkegiatan, sampai akhirnya memutuskan tinggal di Mekkah sementara, untuk fokus ibadah.

Damar hanya tahu Menur sebatas foto. Cantik dan mungil saat berdiri di samping Wira yang memang tinggi menjulang—hampir sama dengan dirinya.

“Gimana kalau kamu nikah sama Menur?”

Kalau tidak melihat jelas gerak bibir Wira saat mengatakannya, Damar mungkin akan merasa kalau baru saja ada setan lewat dan berbisik hal ngawur di telinganya. Tapi gerak bibir Wira dan apa yang didengarnya sesuai. Wira baru saja menawarkan istrinya untuk dinikahi pria lain.

“Mas itu ngomong apa? Kok ngawur gitu!” sergah Damar. Nyaris membentak.

“Sabar tho, Mar. Dengerin dulu.” Wira mengangkat tangan menenangkan.

“Aku udah pisah dari Menur, Mar. Udah dua bulan lebih malah. Udah resmi, bentar lagi lewat masa iddahnya.”

Damar mengernyit. “Kok cepet? Aku malah belum denger.”

Selain terkejut karena status perpisahan itu, Damar merasa heran dengan bertapa cepatnya perceraian itu resmi. Ia tidak berpengalaman, tapi setahunya mengurus perceraian tidak cukup sebulan atau dua bulan.

“Ya maunya Menur begitu. Aku bisa apa?” Wira mengangkat bahu dengan wajah sedih.

“Aku ngomong gini soalnya Menur itu ndak mau sama sekali nerima uang dariku. Padahal kamu tahu masih ada Gita kan? Aku pingin kamu nikah sama Menur biar aku bisa tetep deket sama Gita. Kita itu dah kayak sodara kan? Aku—“

“Apa pantes tho, Mas? Ya coba bujuk aja Mbak Menur-nya dulu.” Damar tidak mengerti kenapa Wira sampai mengusulkan hal seliar itu. Seharusnya masih ada jalan lain.

“Ya mesti sudah tho! Tapi Menur tu kekeh ndak mau. Aku paksa ngasih uangnya ya ndak dipakai. Aku tambah bingung sekarang soalnya Gita kan mau masuk sekolah. Aku pingin bayarin biar bisa sekolah bagus, tapi Menur kekeh milih sekolah ndeso yang murah.”

Damar memejamkan mata, tidak ingin mendengar lagi sebenarnya. Tapi ia masih punya kewajiban hormat pada Wira.

“Aku tu cuma minta tolong biar Gita keurus, Mar. Aku bakal ngasih duit ke kamu nanti, terus kamu bilang aja itu uangmu. Menur ndak akan curiga,” bujuk Wira lagi, saat melihat Damar diam menunduk.

“Ini nikah lho, Mas. Bukan main-main. Apa boleh tujuannya begini? Ini tipuan!” Damar belum bisa luluh.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk