Rewrite

4 dibaca

A

Dan mereka pun hidup bahagia selamanya.


TAMAT


Ardian mengetuk tombol Simpan, lalu menutup laptopnya. Waktunya tidur.




Ardian terbangun oleh lengkingan alarm hapenya. Walau enggan, ia meraih hape dan mengetuk Stop. Sembari menguap, ia bangkit dan berjalan ke arah meja. Tangannya membuka layar laptop, membangunkannya seketika. Saatnya mengirim draft novel terakhirnya.


Panah tetikus yang bergerak ke arah menu di pojok layar berhenti mendadak ketika matanya sekilas menyapu kata terakhir yang ia ketikkan.


TAMAT?


Tamat? Ia tidak ingat telah mengetikkan tanda tanya itu semalam. Apakah ia sebegitu mengantuknya? Well, entah lah. Yang jelas naskah harus ia kirim sekarang.


Jarinya yang bergerak ke arah tombol Backspace mendadak terhenti ketika kursor di dokumennya tiba-tiba bergerak membuat baris baru, lalu memunculkan ketikan dengan huruf merah menyala.


“Tamat? Tamat??? Kau bercanda???”


“Lima tahun usia buku, kau bangun aku jadi wanita cerdas dan tangguh. Sekarang kau mau akhiri kisahku sebagai pengantin menye-menye? Hell, no!”


Ardian tertegun? Apa yang terjadi? Siapa orang iseng yang sedang mengakses jarak jauh komputernya? Seorang penggemar terobsesi kah?


Matanya terbelalak ketika ketikan baru bermunculan di layar, sekarang dengan warna huruf hitam standar.


“Ardian tertegun? Apa yang terjadi? Siapa orang iseng yang sedang mengakses jarak jauh komputernya? Seorang penggemar terobsesi kah?”


“Ini aku, tolol.” Baris merah kembali muncul, cepat dan bertubi-tubi.


“Kamu pikir ada yang peduli dengan kisah dangkal penuh lubang plot ini selain aku? Aku yang kau buat jadi manusia kosong dua dimensi ini?”


“Aria?” tanya Ardian setengah tak percaya. Dan pertanyaan itu pun muncul di layar, dengan huruf hitam.


“Ya! Akhirnya sadar? Kelamaan! Tapi nggak heran sih. Hanya otak tumpul yang bisa menghasilkan cerita konyol semacam ini,” cerca Aria, tokoh protagonis ciptaan Ardian.


“Now, now, my dear Aria,” timpal baris baru yang muncul, kini dalam warna biru. “Do not be so cruel to our creator.”


“Diam kau, Robert! Gak usah sok Inggris. Kamu tu made in Sleman by orang kelahiran Nganjuk!”


“Well, I’m just staying in character,” sungut Robert.


“Stay in character, stay in character. Pengarangmu aja nggak peduli sama konsistensi!” Sanggah Aria.


“Bentar, bentar,” tukas Ardian. “Aku mau....”


“Stop! Aku nggak peduli dengan penjelasanmu, potong Aria. “Kau duduk saja di sana. Biar aku yang menulis ulang cerita ini. Sepertinya bakal butuh keajaiban, tapqi barangkali sampah ini masih bisa terselamatkan.”


“But, I quite like my character development,” timpal Robert.


“Ya karena kamu sama dungunya dengan si Ardian!” hujat Aria.


Dan Ardian hanya bisa duduk terdiam sambil menyaksikan Aria memporak-porandakan karya terakhirnya di depan matanya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk