Stasis

3 dibaca

A

Aku terbangun dan kecewa. Kamar ini, tubuh ini, masih sama seperti kemarin. Hari ini adalah Switch Day. Seharusnya aku sudah bisa terlepas dari tubuh terkutuk ini.


Aku tidak meminta banyak. Jadi gelandangan pun akan lebih baik. Setidaknya aku punya kesempatan untuk menjadi selain diriku. Apakah semesta begitu jahat padaku?


Aku bangun, lalu memakai baju berbekas peluh kemarin. Sengaja tidak ku cuci. Ku kira tidak perlu lagi. Ku langkahkan kaki keluar dari kamar mewah yang seperti neraka. Ya, setidaknya aku tidak perlu berurusan dengan si bangsat itu lagi.


Aku masuk ke dapur untuk membuat kopi bagiku. Dia sudah ada di sana. Tapi, bukan dia kan?


“Hei,” sapaku.


“Hei,” jawabnya. Wajahnya penuh was was. Wajar sih, karena kita baru bertemu.


Aku mengambil cangkir favoritku, sendok mungil, dan mulai membuat kopi sesuai seleraku.


Dia menatapku tajam.


“Cafe latte?” tanyanya dengan nada curiga.


Aku melirik ke gelas di hadapannya. Sangat familiar.


“Bangsat!” teriak kami berbarengan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk