“Terkadang seseorang datang dalam hidupmu begitu tidak terduga, mengambil hatimu dengan mengejutkan dan mengubah hidupmu selamanya. Bahkan aku tidak tahu apa-apa.”
-Seira Kinanti.
Kemarin
Pagi itu, Fabian Dirgantara berpacu dengan mentari yang belum juga muncul di ufuk timur. Biasanya ia mengawali hari di gym, tetapi kali ini ia memilih berlari di lapangan atletik milik pemerintah. Ia sekadar ingin menjernihkan pikiran dari penat yang menumpuk, membiarkannya luruh di bawah basuhan udara pagi khas kota Gudeg yang masih lembab dan tenang.
Dirga sengaja datang lebih awal, ketika langit masih berwarna biru pudar dan orang-orang belum banyak berdatangan. Lapangan ini terletak strategis dekat kampus, rumah sakit, sekolah, dan hanya sepelemparan batu dari Polda tempatnya bekerja.
Setelah jam enam, tempat ini akan dipenuhi pejalan, pesepeda, hingga muda-mudi yang nongkrong sambil menyesap kopi instan dari warung bergerobak pinggir jalan yang biasa disebut angkringan.
Dirga tidak membenci keramaian. Tapi baginya, waktu terbaik adalah ketika dunia masih sepi. Ketika hanya suara langkah dan detak jantungnya sendiri yang terdengar.
Dirga akan siap dengan serbuan wartawan mewakili timnya setelah tuntas penyelidikan kasus untuk press release perkara yang sedang diusut. Di tengah hiruk-pikuk hidupnya sebagai dokter kepolisian, baginya kesunyian adalah kemewahan.
Tiga belas putaran terlewati. Keringat menetes deras di bawah cahaya matahari yang mulai hangat. Ia memperlambat ritme lari, lalu menyeka peluh yang bercucuran dari kening hingga kepalanya dengan punggung tangan.
Sosoknya tak luput dari pandangan kaum hawa yang berjoging atau bersepeda bahkan beberapa muda-mudi yang hanya sedang kumpul bergibah atau tidak melakukan hal yang semestinya di lapangan.
“Guys bang Polpan lewat. Gila! Itu bukan manusia tapi Dewa turun dari langit,” bisik seorang gadis pada gengnya.
“Itu Dokter viral yang berhasil bongkar kasus kematian anak kolonel yang tenggelam di danau UI Jakarta setahun lalu kan?” seru salah satu temannya antusias.
“Iya, baru-baru ini juga nyelesain kasus penemuan korban mutilasi dalam kardus di basement mall” tambah Hani memberitahukan.
“Kok tahu kamu, Han?” tanya temannya asal.
“Papaku Kabid Humas Polda DIY, hello...” jawab Hani sambil tersenyum puas.
“Ya ampun, udah ganteng, jenius, berprestasi dan jadi dokpol pula!” Teman Hani berdecak kagum.
“Ngeliat Dewa tampan berkeringat gitu rasanya pengen bilang: bang, nikahin adek, bang!” Katanya yang lain makin menggila.
“Lebay kalian!” sahut Hani, tapi justru dialah yang kemudian berlari mendekati Dirga.
Tidak sedikit wanita menjadi korban karena terbius oleh paras Dirga yang memiliki postur tubuh tinggi dan atletis ditambah bahu bidangnya yang lebar.
Hani menatap pria itu dari dekat. Rambut cokelat gelap model buzz cut tertata rapi membingkai wajahnya yang tegas. Sepasang mata hazel yang berbeda dari orang kebanyakan, terasa teduh sekaligus tajam.
Keringat mengalir dari rahangnya, jatuh perlahan ke leher berotot di balik kaus cokelat yang melekat. Pakaian tipis itu mencetak jelas setiap garis otot di lengan dan punggungnya yang tegap memancarkan aura pria yang begitu menjaga bentuk tubuh.
Wajahnya, meski kerap terpapar sinar matahari karena tuntutan pekerjaan sebagai aparat negara, terbilang cukup putih dan bersih untuk ukuran seorang pria. Wajar jika banyak kaum hawa yang terhipnotis oleh pesonanya. Fabian Dirgantara memang sosok yang menyatukan dua hal langka, ketegasan dan rasa aman.
Hani mengakui perkataan teman-temannya. Dari samping, dia memandang lekat-lekat paras Dirga dan sekali lagi, ia tertegun melihat mata hazel itu. Seperti danau yang tenang namun sangat dalam, mampu menenggelamkan siapa saja yang berani menatapnya.
“Pagi bang Dirga” sapa Hani ceria.
“Pagi juga dek, nggak kuliah?” Dirga menjawab ramah sambil mengatur napas.
Hanya sedikit yang Dirga tahu, Hani Ayunda adalah anak dari komandan atasannya sekaligus pelatihnya dulu saat di Semarang.
“Libur akhir semester, Bang,” katanya tersenyum manis, mencoba menyesuaikan langkah Dirga.
“Wah asyik dong ya,” balas Dirga sembari memperlambat langkahnya.
Dirga bukan tipe pria yang suka basa-basi, apalagi dengan orang di luar lingkaran kehidupannya. Tetapi sejak lama ia belajar mengatasi sisi introver dan mengikis arogansi dari tabiat lamanya. Ia belajar untuk tetap hangat tanpa kehilangan batas.
“Hmm.., Bang, hari Sabtu ada cuti nggak?” tanya Hani pelan belum sempat ia menjawab, ponsel Dirga berdering. Nama IPTU Kartika tertera di layar.
“Maaf, dek. Ada telepon.” Dirga menunjuk ponselnya dan mengangkatnya cepat.
Wajah Hani menegang, tahu betul siapa Kartika, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Dirga satu tim Sat Reskrim di Subdit Jatanras Polda. Tanpa pamit, Hani memilih berlari pergi sambil melambaikan tangannya dan hanya dibalas Dirga dengan senyum sopan.
☕
“Woi Tika! Makan mulu ya,” suara Dirga terdengar dari balik pintu kantin Polda.
Kartika menoleh cepat, nyaris tersedak bakso. “Dih bikin kaget aja kamu bang... Ayo duduk sini!” ajak Kartika sambil menepuk bangku di sebelahnya.
“Iya, aku udah pesen.” Dirga memilih duduk di depannya berbarengan dengan sotonya yang baru diantar.
Kantin Polda masih sepi. Sebagian personel tengah bersiap untuk apel pagi. Sama halnya dengan Kartika Lavina sudah lengkap dengan PDL-nya. Wajahnya segar, meski mata menunjukkan lelah dari malam jaga sebelumnya.
“Tik, hari ini kamu ikut penyidikan bareng bang Yudhis?” tanya Dirga di sela santapannya.
“Enggak, Bang Yudhis lagi ngurus hasil P21 di PN,” jawab Kartika menghabiskan bakso terakhirnya.
“Wah, mantap itu. Tim Pandawa kalau di bawah Bang Yudhis progresnya selalu cepat. Kasus apapun bisa kelar.” Dirga tersenyum bangga.
“Kan ada kamu juga bang tiap identifikasi korban gercep,” balas Kartika memandang Dirga dengan lembut.
“Karena kamu juga mbak Detektif, kita semua ambil bagian Tika. Tim itu soal saling melengkapi” ucap Dirga dengan nada santai.
Kartika yang mendengar senormal mungkin menjaga ekspresi wajah dengan berpura-pura sibuk mengaduk tehnya seakan menutupi senyum yang sempat muncul.
“Berarti hari ini kamu ikut tim Progo Sakti, Tik?” Dirga melihat Hand Gun HS9 milik Kartika bertengger di meja
Kartika mengangguk. “Iya, dapat komando dari Bang Leo, ada operasi penyergapan bandar narkoba di selatan”
“Dari selatan lagi?” Dirga mendesah pendek.
Dirga kembali memakan sotonya sambil memandang Kartika di depannya. “Kamu kenapa nggak tugas di Sat Kamneg atau di Resmob sekalian? sama seperti Leo aja sih Tik, kan sama Reskrim juga kita?”
“Namanya juga keputusan atasan bang, kita cuma jalani kewajiban.”
Dirga tidak menimpali lagi, ia hanya mengangguk pelan. Kamu kan punya bapak yang bisa dimintai apa aja, kalimat itu hanya berani terucap dalam hati Dirga. Ia tahu betul Kartika bisa saja dengan mudah pindah fungsi jika mau.
Sebagai anak Wakapolda dan lulusan PTIK terbaik, semua jalan terbuka baginya. Tapi entah kenapa, gadis itu tetap di Forensik bertugas melakukan olah TKP dan penyidikan barang bukti. Kartika Lavina memilih berdiri di garis dingin antara hidup dan kematian.
Sedangkan dibandingkan dengan Dirga sendiri adalah anak dari tiga bersaudara yang terlahir dari seorang pebisnis di Jakarta, menjadi Polisi lulusan SIPSS menurutnya adalah profesi paksaan dari keluarga.
Karena ia ingin dihargai atas usahanya, bukan dari nama keluarga Eyangnya yang menentukan secara paksa profesinya.
“Kamu off hari ini, rencananya ngapain aja, bang?” tanya Kartika memecahkan hening.
“Pagi ini isi seminar forensik di FK-KMK UGM, habis itu rencananya sih ada janjian ketemu sama temen SMP” jawab Dirga menyelesaikan santapannya.
“Cewek?” tatap Kartika penasaran.
“Cowok, Imigrasi bandara, kamu mau kenalan?” Dirga terkekeh, membuat Kartika menggeleng cepat dengan ekspresi pura-pura geli.
Ponselnya kembali berdering. “Panjang umur, mau nggak Tik?” gurau Dirga sambil menunjukkan layar ponselnya. Kartika menolak dengan kibasan tangan.
“Woi Sam! Mau kemana kita?” sapa Dirga ceria saat mengangkat panggilan.
Di seberang telepon, terdengar suara pria tertawa. “Gue aman juga, eh gue free lumayan panjang hari ini, lu sibuk ngga?” Dirga balas bertanya.
Kartika meminum tehnya yang sudah dingin sembari mendengarkan obrolan Dirga dengan orang diseberang sana.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Dirga berdehem kecil terkesan batuk untuk memancing suasana. “Hmm Sam, gue kangen si pony tail lu kan janji kita mau kumpul?”
Sedetik kemudian, senyum semringah terbit di wajah Dirga setelah mendengar balasan dari seberang telepon. “Lu kabarin gue lah. Kayanya setiap janjian gagal terus. Iya, ya. Yaudah gue tunggu lu. Oke, bye!” Dirga menutup sambungan telepon lalu mengembalikan ponsel ke sakunya.
“Pony tail? Siapa, Bang?” Selidik Kartika pelan.
“Cinta pertamaku, Tik.” Dirga menatap jauh ke luar jendela kantin sambil meminum air putihnya.
Dirga tersenyum samar, tetapi mata hazelnya yang menghijau tidak lagi di sini. Mata itu seolah sedang menatap masa lalu, masa yang belum benar-benar selesai.
Kartika yang mendengarnya hanya bisa diam. Ia berusaha meneguk kembali minumannya, meski kini cairan itu terasa begitu serat dan susah melewati tenggorokan.
“Hmm... nanti malam kamu mau temani aku nonton, Bang?” Suara Tika terdengar pelan, tetapi matanya menatap penuh harap.
“Nonton apa, Tika? Musik jazz lagi?” tanya Dirga sambil melirik sekilas.
Tika tersenyum kecil. “Hmm... kalau XXI gimana?”
Lelaki itu menatapnya sebentar sambil menghela napas ringan, lalu tersenyum hangat. “Okay.”
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Glosarium
Polpan: Polisi Tampan
IPTU: Inspektur Polisi Satu
Sat Reskrim: Satuan Reserse Kriminal
Subdit Jatanras: Sub-Direktorat Kejahatan dan Kekerasan
Fungsi Kamneg: Fungsi Keamanan Negara
PDL: Pakaian Dinas Lapangan
P21: Konfirmasi JPU (Jaksa Penuntut Umum) kepada pihak penyidik (kepolisian) bahwa berkas perkara suatu tindak pidana telah lengkap.
Hand Gun HS9: Pistol/Senjata Api Standar Polri
Komando: Perintah
Resmob: Reserse Mobile
PTIK: Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
SIPSS: Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana
FK-KMK UGM: Fakultas Kedokteran-Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM














Tika, kataku mundur aja ya 🙃