Prolog

4 dibaca

A

“Bila hidup ialah setebing ngarai. Takdir adalah apa yang menjatuhkan dan segala diluar itu, biarlah tetap sebagai rahasia”
-Fabian Dirgantara.



Dunia luar mungkin mengenalnya sebagai Alat Permainan Edukatif, sebuah permainan puzzle kayu yang dirancang untuk melatih motorik halus, menakar ketabahan, serta melatih anak memecahkan masalah sejak dini. Namun, di dalam ruang keluarga yang hangat puzzle kayu adalah sebuah warisan sakral.

Bagi orangtua, memberikan sebuah puzzle kayu kepada generasi penerusnya bukan sekadar menyerahkan mainan biasa melainkan sebuah simbol harfiah tentang cara menyusun kembali kepingan kenangan, waktu dan kebijaksanaan hidup yang perlahan mulai terpencar.

Setiap potongan kayu yang kokoh dan presisi itu merepresentasikan setiap fase kehidupan yang telah mereka lewati lengkap dengan lekuk kesulitan. Serta kelembutan momen bahagia yang kini ia wariskan agar sang anak kelak dapat belajar merangkai takdir mereka sendiri dengan sabar.

Dengan menyatukan bilah-bilah kayu tersebut hingga membentuk satu kesatuan yang utuh, sang pendahulu secara tersirat membagikan sebuah pesan mendalam pada penerusnya bahwa kehidupan yang rumit sekalipun akan selalu menemukan bentuk indahnya jika dihadapi dengan kegigihan, ketenangan dan cinta sebagai fondasi yang tidak akan pernah lapuk oleh zaman

Jakarta, Tragedi 1998

Menjelang siang, bel berbunyi memecah keheningan koridor Early Year Center, sebuah gedung TK di bilangan selatan Jakarta. Seorang bocah laki-laki berlari lincah, mengejar seorang anak perempuan yang baru pertama kali ia temui hari itu.

“Ayo, ikut aku!” seru bocah itu sambil menarik jemari mungil temannya menuju ruang Preschool.

“Mamaku belum jemput,” ucap anak perempuan itu resah, namun langkah kecilnya tetap menuruti tarikan tersebut.

“Kita tunggu sambil main ini, ya?”

Bocah itu membongkar bingkai puzzle kayu yang semula tersusun rapi, membuat kepingan-kepingannya berserakan di atas meja. Anak perempuan berambut kuncir kuda itu akhirnya mengangguk, lalu ikut duduk.

Di luar, angin berembus lambat membawa suara bising anak-anak lain yang bermain di taman, menunggu jemputan. Dengan tangan kecil mereka, setengah bagian puzzle tersusun dengan cepat.

Anak perempuan itu menunduk, memungut sesuatu yang terjatuh di bawah meja. Lalu ia kembali duduk setelah menemukan satu kepingan puzzle yang tadi jatuh dan menggengam benda itu di tangan mungilnya.

“Kamu cita-citanya apa?” tanya si bocah laki-laki yang berbadan tambun dan pipi yang gempill itu tiba-tiba.

“Aku mau bahagia dengan Otou-san, mama dan Hito-san” jawab anak perempuan itu dengan mata berbinar, kemudian tersenyum hingga mata almondnya menyipit membentuk bulan sabit yang sangat lucu.

“Kalo Bian?” Anak Perempuan itu balik bertanya dengan tulus, memamerkan ekspresi wajahnya yang manis.

“Bian mau nikah dan bahagia sama kamu,” jawabnya asal dengan ekspresi jenaka.

Bocah itu bahkan belum paham apa arti yang diucapkan dia barusan. Namun, sedetik kemudian, tanpa diduga ia memajukan wajahnya. Aroma manis khas buah berry yang segar tiba-tiba menguar dari napas anak perempuan itu, menggelitik indra penciumannya.

Ia langsung mendaratkan kecupan polos tepat di bibir manis anak perempuan itu. Sensasi wangi berry itu seketika terikat mati pada alam bawah sadar bocah itu, menjadi sebuah memori sensorik abadi yang belum mampu dicerna oleh otak kecilnya. Tanpa alasan yang sama sekali belum ia pahami, ia pun tak tahu bahwa aroma dan kecupan itu adalah hal magis yang akan melekat sepanjang hidupnya kelak.

Si anak perempuan itu hanya melongo polos tak mengerti, sementara si bocah nakal itu justru tersenyum sumringah. Tak tahu dari mana bocah itu belajar kenakalan semanis itu. Usianya baru seumur jagung, tapi sudah berani mencuri ciuman pertamanya. Ajaibnya, bulan sabit di mata almond anak perempuan itu kembali terbit dan jauh lebih menggemaskan.

Keduanya kembali menyusun puzzle yang hampir selesai. Kini, gantian bocah laki-laki itu yang merosot dari bangku, berjongkok di lantai mencari satu kepingan yang entah jatuh kemana.

Ditengah riuh sekolah yang mulai menyepi, seorang wanita masuk dengan langkah terburu-buru. Nafas yang tersengal dan matanya gelisah, seolah dunia tak memberinya kesempatan untuk tenang.

Tanpa membuang waktu, ibu dari anak perempuan itu langsung mendekat untuk mendekap. Ia segera menggendong putrinya erat dengan napas tak beraturan. Dan lekas membawanya pergi keluar.

“Bian, Mah...” Anak perempuan itu menunjuk ke bawah meja.

“Besok-besok lagi ya, Seira. Kita harus ketemu Hito-kun di rumah sakit,” potong mamanya sendu sambil mengusap wajah cantiknya yang siang ini terlihat kacau.

Anak perempuan itu tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ia hanya bisa memeluk leher sang mama dengan erat.

Mamanya mengelus punggung anaknya, sesekali terdengar suara isakan yang ditahan agar air matanya tidak jatuh dengan langkah terburu-buru menuju area parkir.

Sementara dibawah meja, si bocah laki-laki itu masih sibuk mencari satu kepingan yang hilang tanpa menyadari temannya sudah pergi.

“Argh! Aduh... sakit... Bun!” Bocah itu mengaduh. Ia hapal betul sentuhan tangan yang kini menjewer telinganya.

“Anak bandel, ya?” Suara Michelle, bundanya itu terdengar antara lega dan kesal. Nafasnya masih tersengal saat menemukan putranya berada di kolong meja.

“Bunda sudah bilang, tunggu di taman. Main ayunan atau perosotanlah Fabian...” Aksen asing suara dari bunda Michelle yang terdengar itu jelas bukan berasal dari Indonesia.

Ia menarik lembut tangan kecil anaknya yang berdebu menempel di ujung jari. “Eh, malah bersembunyi disini.” Senyumnya tetap terbit di sela omelan.

“Lihat ini, perut Bunda kalau sudah mulai besar nanti. Coba kamu bayangin, pasti bunda capek sekali setiap cari kamu pulang sekolah.” Bundanya membersihkan jemari mungil anak itu.

“Aku nggak sembunyi, Bun. Aku main puzzle,” sanggahnya cepat dengan mata berbinar tanpa dosa.

Namun, tatapannya sempat melirik ke arah pintu. Gadis berkuncir kuda itu telah hilang ditelan keramaian jemputan.

Satu kepingan puzzle terakhir masih tergenggam erat di tangan mungilnya dan sekilas ia melihat dua lubang kepingan kayu lagi yang belum terisi pada papan puzzle itu di meja.

Bundanya mendesah pelan, lalu berjongkok perlahan untuk merapikan ransel di punggung putranya. “Fabian punya banyak puzzle di rumah. Ingat, ya, kamu mau punya adik.” Suaranya melembut menjadi bisikan. “Fabian harus berubah, nggak boleh bandel lagi.”

“Iya, Bunda.” Putranya mengangguk mantap. “Bian janji mau jadi anak pintar dan baik, demi Adik.” Mata hijau kecoklatannya memancarkan keteduhan yang mengingatkan bunda Michelle pada Grüner Seedanau terindah yang pernah ia kunjungi dulu bersama mendiang orangtuanya saat berlibur di Austria.

Michelle tersenyum, mengusap penuh kasih rambut tembaga gelap putranya yang kontras dengan rambutnya yang berwarna merah alami.

“Ini anak Bunda nomor tiga paling pintar, paling ganteng sedunia. Ich liebe dich, mein Schatzi!” ucapnya lembut sembari mengapit wajah mungil di depannya dengan kedua tangan lalu mengecup kening putranya.

Anak itu tertawa gemas, menenggelamkan diri dalam pelukan hangat bundanya. Sebuah pelukan yang menutup siang itu, sekaligus mengunci kepingan-kepingan misteri pertama dari kisah mereka yang baru dimulai.

Nah lho, dijewer kan 😌🤏

Jewer juga karena udah cium anak orang itu 👀

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk