Nama yang Terucap Tanpa Direncanakan

0 dibaca

A

Penahan Barat tidak menyambut mereka dengan gerbang besar. Dari jauh, ia tampak kosong. Justru itu yang membuat Liora menurunkan laju Rav sebelum ban depan menyentuh bagian tanah yang warnanya sedikit berbeda.

“Pelan,” kata Zevran dari kursi depan.

Kael langsung menatapnya lewat spion. “Dia sudah pelan.”

“Lebih pelan di bagian tengah. Tanahnya turun sedikit.”

Liora menahan Rav sebelum rel besi tua yang hampir tertutup debu. Ia tidak bertanya apakah Zevran yakin, karena jawaban yang keluar pasti bukan kepastian. Zevran membaca bentuk tanah, bekas jejak, dan cara tempat itu dibuat. Hanya jalan yang pernah dipakai untuk menahan orang-orang yang tidak punya pilihan lain selain lewat.

Rav bergerak lagi. Ban depan melewati rel pertama dengan getar berat, lalu badan kendaraan miring sedikit saat roda kanan masuk ke cekungan dangkal. Liora menahan kemudi. Kael dari belakang sudah condong terlalu jauh, seolah tubuhnya masih bisa mengambil alih. Bahunya menolak gerakan itu, tetapi ia menggigit sakitnya tanpa suara.

“Jangan ke tengah,” kata Zevran. “Kiri sedikit.”

Liora mengikuti. Untuk beberapa meter, Rav berhasil lewat. Lalu bagian bawah kendaraan mengeluarkan suara gesekan panjang, kasar, seperti logam diseret di atas batu. Liora langsung menginjak rem. Tubuh mereka terdorong ke depan. Zevran menahan diri pada dashboard dengan tangan terikat, wajahnya memucat. Kael mengumpat pendek dari belakang.

“Apa itu?” tanya Liora.

“Bagian bawah terkena sesuatu,” jawab Kael.

“Aku tahu. Sesuatu apa?”

Kael sudah membuka pintu belakang sebelum menjawab. “Kita lihat.”

“Kamu tidak masuk ke bawah Rav dengan bahu begitu.”

“Aku belum bilang akan masuk.”

“Kamu memikirkannya.”

Kael menatapnya, tetapi kali ini tidak punya cukup tenaga untuk berbohong dengan meyakinkan. Ia turun lebih dulu, pistol di tangan kanan, lalu memeriksa sekitar. “Kamu turun kalau diminta. Kamu berdiri di tempat yang bisa kulihat.”

Zevran mengangguk.

Liora sudah berlutut di sisi kiri Rav. Panas dari mesin dan bau logam naik ke wajahnya ketika ia menunduk. Ada sesuatu tersangkut di bawah pelindung bawah, tidak besar, tetapi cukup membuat Rav tidak bisa dipaksa maju tanpa merusak sambungan. Batang pengait terselip di sela pelat bawah, menahan badan Rav setiap kali kendaraan bergerak.

“Pengait,” kata Liora. “Tidak dalam, tapi kalau dipaksa maju, pelindung bawah bisa robek.”

Kael berjongkok di dekatnya. “Keluar. Aku yang tarik.”

“Tidak.”

“Liora.”

“Ruangnya sempit. Bahumu tidak bisa masuk.”

“Aku masih punya tangan kanan.”

“Simpan tenagamu untuk marah.”

Kael menatapnya. Dari jarak dekat, Liora melihat keringat dingin di pelipisnya. Bukan hanya marah. Sakit. Kael membenci fakta itu lebih dari siapa pun di sana.

“Aku butuh lampu,” kata Liora sebelum ia memaksa dirinya merasa bersalah. “Dan penjepit.”

Kael mengambil alat dari kotak belakang. Ia mencoba memegang lampu sambil tetap mengawasi sisi penahan, tetapi cahaya di bawah Rav bergerak terlalu sering. Setiap kali ada bunyi angin di jalur terbuka, Kael menoleh, dan Liora kehilangan baut yang sedang ia lihat.

“Jangan banyak bergerak,” kata Liora dari bawah Rav.

“Aku sedang melihat jalan.”

“Aku butuh lampu.”

Zevran berdiri di dekat pintu depan, tidak maju. “Aku bisa pegang lampu.”

“Tidak,” kata Kael cepat.

Liora menahan napas di bawah Rav. Debu masuk ke hidungnya. “Kael, kalau kamu memegang semua hal sendiri, kita akan tetap di sini saat orang menemukan kita.”

Tidak ada jawaban. Liora tidak bisa melihat wajah Kael, hanya sepatu botnya di tanah dan bayangan tubuhnya di cahaya yang goyah. Akhirnya Kael berkata, “Tangannya terlihat. Dia tidak mendekat ke kakimu.”

“Aku tidak perlu dia mendekat ke kakiku. Aku hanya perlu lampu.”

Zevran mengambil lampu dari tangan Kael dengan dua tangan terikat. Ia berlutut di sisi Rav, cukup jauh dari tubuh Liora, lalu mengarahkan cahaya ke bawah kendaraan. Cahaya itu langsung jatuh tepat ke sambungan yang tadi hilang dari pandangan Liora.

“Sedikit naik,” kata Liora. Lampu naik. “Bukan sebanyak itu. Turun lagi.” Lampu turun.

Kael berdiri di sisi mereka dengan pistol di tangan kanan dan wajah yang terlalu diam. Ia mengawasi jalan, tetapi Liora tahu sebagian matanya tetap berada pada Zevran, pada jarak lampu, pada setiap inci ruang yang bisa berubah menjadi alasan untuk menarik laki-laki itu menjauh.

Liora melonggarkan baut kecil, memasukkan penjepit ke celah pengait, lalu mencoba menariknya. Pengait itu tidak bergerak. Ia mengubah posisi, masuk lebih dalam sampai punggungnya menyentuh tanah dan lengannya bisa mencapai sisi yang lebih rendah. Panas dari mesin membuat napasnya pendek.

“Lampu ke kanan,” katanya. Zevran menggeser cahaya. “Bukan sana. Ke bawah. Zev, tahan di situ.”

Cahaya berhenti. Tidak ada suara selama satu detik. Liora baru sadar setelah kata itu keluar. Zev. Bukan Zevran. Hanya satu suku kata pendek yang terlepas karena tubuhnya sedang berada di bawah Rav, logam hampir jatuh, dan ia membutuhkan tangan lain untuk tidak bergerak terlalu lambat. Kael mendengarnya. Zevran juga. Namun pengait itu bergerak tepat pada saat yang sama, dan Liora tidak punya ruang untuk mundur dari kata yang sudah telanjur hidup di antara mereka.

“Tahan,” katanya lagi, kali ini tanpa nama. Zevran menahan lampu. Cahaya tidak goyah.

Liora menarik pengait dengan penjepit. Logam tua itu berderit, lalu terlepas. Kael menangkap batang itu sebelum jatuh mengenai tanah di dekat kepala Liora. Gerakannya terlalu cepat untuk bahunya. Wajahnya memucat, tetapi ia tetap menggenggam logam itu sampai Liora merangkak keluar dari bawah Rav.

Ia duduk di tanah dengan napas berat, tangan dan lengan beroli, rambut di pelipis menempel oleh keringat. Zevran masih memegang lampu. Cahaya jatuh ke antara mereka bertiga, memperlihatkan bagian bawah Rav yang kini lebih bersih dari pengait, wajah Zevran yang pucat, dan Kael yang mencengkeram batang logam seolah benda itu musuh yang bisa dipatahkan jika ditekan cukup keras.

“Rav bisa jalan?” tanya Kael.

“Bisa,” jawab Liora. “Pelan dulu. Kalau ada bunyi lagi, kita berhenti.”

Dari kejauhan, suara mesin muncul lagi. Tidak dekat, tetapi cukup untuk membuat semua percakapan berhenti. Zevran menoleh ke arah jalur terbuka. Kael langsung bergerak, menarik tali di tangannya. “Masuk.”

Zevran hendak bergerak ke pintu penumpang, tetapi kakinya gagal di langkah pertama. Tubuhnya miring ke arah Rav. Liora, terlalu dekat, menangkap siku jaketnya sebelum ia jatuh. Sentuhan itu singkat. Tetap saja sentuhan.

Kael melihat. Wajahnya berubah, tetapi suara mesin di belakang membuatnya menelan ledakan itu dengan cara yang tampak menyakitkan. “Masuk,” ulang Kael, lebih rendah.

Zevran menarik diri secepat tubuhnya sanggup. “Aku bisa.”

“Tidak cukup cepat,” kata Liora.

Ia tidak membantu lebih jauh. Hanya membuka pintu dan membiarkan Zevran jatuh ke kursi penumpang dengan napas berat. Kael masuk ke kursi belakang. Gerakannya kaku, bahunya buruk, dan harga dirinya lebih buruk lagi. Liora masuk ke kursi pengemudi, menyalakan Rav.

Rav bergerak keluar dari area penahan dengan pelan, melewati rel tua dan tanah pucat yang menunggu terlalu sabar di bawah ban. Suara mesin di belakang terdengar lagi, kali ini sedikit lebih dekat.

“Jalur depan?” tanya Liora.

Zevran menatap kaca depan. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap bekerja. “Turun sedikit, lalu ambil kanan di antara dua batu hitam. Jangan kiri. Kiri kembali ke jalur yang terlihat dari atas.” Liora mengangguk.

Kael berkata dari belakang, “Nama lengkapnya masih Zevran.”

Liora tidak menoleh. “Aku tahu.”

“Gunakan itu.”

Zevran menutup mata sebentar. Liora menggenggam kemudi lebih kuat. “Kalau kamu tersinggung, tersinggunglah setelah kita tidak dikejar.”

Kael menatapnya lewat spion. Liora menatap balik sebentar, lalu kembali ke jalan.

Zevran menunjuk kanan di antara dua batu hitam. “Sekarang.” Liora mengikuti.

Rav masuk ke celah sempit. Dinding batu di kedua sisi sangat dekat. Ranting kering menggores kaca. Bagian bawah Rav tidak lagi berbunyi. Itu seharusnya membuat lega, tetapi kabin masih penuh oleh hal lain yang tidak bisa dicabut dengan batang pengungkit.

Kael duduk di belakang, diam, dan mata yang terus memeriksa jarak antara kursi pengemudi dan kursi penumpang. Zevran duduk di depan, darah kembali merembes ke balutan, wajah pucat, mulut tertutup rapat seolah satu suku kata bisa menjadi kesalahan baru. Liora menyetir di antara mereka, tangan ber-oli di kemudi, tubuh lelah, dan nama pendek yang tadi terlepas masih menggantung di udara kabin seperti tanda lain yang tidak bisa dihapus dari dinding.

Jalan menuju Avara semakin menuntut hal yang tidak ingin Kael berikan, ruang bagi orang lain untuk berguna. Dan di dalam Rav, ruang kecil seperti itu bisa lebih berbahaya daripada jebakan mana pun.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk