Penahan Barat

0 dibaca

A

Dataran kecil di balik batu hitam itu cukup tersembunyi untuk membuat Liora menurunkan laju Rav. Dalam perjalanan seperti ini, aman tidak pernah berarti benar-benar aman. Aman hanya berarti musuh harus bekerja sedikit lebih keras untuk menemukan mereka.

Liora membawa Rav masuk perlahan, ia tidak langsung mematikan mesin. “Matikan,” kata Kael dari belakang.

Liora mematikan mesin. Kael menyandarkan kepala ke kursi belakang sebentar. Namun Liora melihatnya lewat spion, dan seperti biasa, kakaknya langsung menegakkan tubuh seolah tertangkap melakukan kesalahan. “Aku tidak tidur,” katanya.

Liora membuka pintu dan turun. Kakinya masih menyimpan getar pedal. Tangannya masih kaku oleh kemudi. Di kursi depan, Zevran menatap keluar jendela, tidak ikut bicara sampai Kael melepas ikatan dari dashboard dan memegang ujung talinya sendiri.

“Kita bisa berhenti sebentar di sini,” kata Zevran setelah turun. “Jejak ban tertutup batu. Kalau tidak menyalakan api, kecil kemungkinan terlihat dari jalur.”

Kael menatapnya. Lama. Seperti sedang mencari bagian dari kalimat itu yang bisa dijadikan alasan untuk marah.

Liora membuka kotak makanan dari belakang kursi. “Kita makan sedikit.”

“Makanannya tinggal berapa?” tanya Kael.

“Cukup untuk membuat kita tidak bodoh malam ini.”

“Itu bukan angka.”

“Angka tidak membuat makanan bertambah.”

Kael mengambil potongan makanan yang diberikan Liora, lalu duduk di sisi Rav dengan punggung menempel pada badan kendaraan. Pistol tetap ada di tangan kanan. Zevran duduk cukup jauh untuk tidak mengambil ruangan di dekat Liora tanpa diizinkan. Ia makan paling lambat. Bukan karena sopan. Tubuhnya hanya terlalu lelah untuk menerima apapun dengan cepat.

Liora melihat balutan pahanya. Darah masih tampak di tepi kain. Ia membagi sedikit bagian makanannya dan meletakkannya di dekat Zevran, bukan langsung ke tangan. Zevran menatap potongan itu sesaat, lalu mengambilnya dengan gerakan hati-hati.

Kael melihat. Tidak berkomentar. Perubahan itu kecil, terlalu kecil untuk disebut percaya. Namun Liora tahu Kael sedang menelan sesuatu yang lebih pahit daripada makanan. Ia masih membenci Zevran. Itu tidak berubah. Tetapi di luar kebencian itu, ada hitungan baru, laki-laki yang ia benci baru saja membuat Rav tidak terlihat dari jalur utama. Hitungan seperti itu tidak membuat seseorang diterima, tetapi cukup untuk membuatnya sulit dibuang.

Setelah makan, Liora membuka peta di atas kap Rav. Cahaya lampu kecil jatuh pada garis-garis ayah mereka yang tetap terlalu singkat, terlalu hemat, seolah penjelasan lengkap adalah barang mewah yang tidak sempat diwariskan. Jalur yang baru mereka lewati tidak ada di peta. Liora menandainya dengan garis putus kecil dan satu titik yang hanya akan ia pahami sendiri nanti.

Zevran berdiri di sisi lain kap. Ia melihat peta dari jarak yang dijaga. Tangannya yang terikat tidak menyentuh plastik. Ketika Liora mencari jalur berikutnya, ia hanya mengangkat jarinya sedikit, berhenti di udara, lalu menunjuk tanpa benar-benar menyentuh. “Penahan barat seharusnya di sini,” katanya.

Kael menatapnya. “Seharusnya.”

“Ya.”

“Kamu tidak yakin.”

“Aku tidak pernah bilang yakin.”

Liora mengikuti arah jarinya dengan pensil. “Penahan itu gerbang?”

“Bukan. Lebih seperti tempat untuk memperlambat kendaraan sebelum jalur masuk ke bawah kota. Tanahnya biasanya dibuat lebih terbuka, kendaraan dipaksa menurunkan laju, lalu orang yang menunggu bisa melihat dari jauh.”

“Orang yang menunggu,” ulang Kael.

Zevran menurunkan tangannya. “Kalau tempat itu masih dipakai.”

Kael tertawa pendek, tanpa senang. “Kamu punya bakat membuat semua arah terdengar seperti cara untuk mati.”

Zevran menatap peta, tetapi tetap menjaga matanya tidak terlalu lama di sana. “Karena terlalu banyak jalan yang dibuat agar orang percaya mereka sedang memilih.”

Kael menatap peta, lalu gelap di luar batu. “Besok kita kembali ke jalur Ayah.”

Liora menatapnya. “Kalau jalurnya tidak dijaga.”

“Kalau dijaga, kita cari patahannya. Tapi kita tidak terus berjalan di jalur pemburu.”

Zevran mengangguk kecil. “Itu lebih baik.”

Kael langsung menatapnya. “Aku tidak butuh persetujuanmu.”

“Aku tahu.”

“Jangan bicara seperti kamu duduk di meja yang sama.”

Zevran diam. Liora melipat peta sebagian. “Dia berdiri di sisi kap, Kael. Bukan duduk di meja.”

Kael menatapnya, dan ada kilatan yang lewat di wajahnya sebelum ia diam lagi. Liora tahu bagian itu bukan tentang meja. Bukan tentang peta. Bukan juga sepenuhnya tentang Zevran. Sejak kursi depan berganti orang, setiap benda di sekitar mereka seperti punya arti baru. Dan itu terasa seperti pengkhianatan bagi Kael.

Mereka berjaga bergantian, meski tidak ada yang benar-benar tidur. Liora sempat duduk di kursi pengemudi dengan mata tertutup beberapa menit, tetapi setiap bunyi angin membuatnya kembali membuka mata. Kael tertidur sebentar dengan kepala miring, lalu bangun sendiri sebelum Liora sempat membangunkannya. Zevran lebih banyak menatap gelap.

Menjelang pagi, batu-batu hitam di sekitar mereka tidak lagi tampak seperti bayangan. Liora menyalakan Rav saat langit masih abu-abu. Mesin batuk dua kali sebelum hidup stabil. Rav keluar dari dataran batu.

“Kita akan sampai wilayah penahan sebelum tengah hari,” kata Zevran.

Kael menatapnya lewat spion. “Kalau kamu benar.”

“Kalau aku salah, mungkin kita sampai ke tempat lain yang juga lebih buruk.”

“Menarik. kamu membuat kesalahan terdengar seperti peta alternatif.”

Zevran menatap kaca depan. “Tidak ada peta yang baik untuk orang yang diburu.” Liora meliriknya. Kalimat itu tidak terdengar seperti sindiran. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan.

Kael juga mendengar bedanya, tetapi ia memilih jalan lain. “Kamu sering diburu?”

Zevran diam. Liora tidak menambah kecepatan. Tangannya tetap di kemudi, tetapi tubuhnya ikut menunggu jawaban dengan cara yang tidak ia inginkan. Zevran akhirnya berkata, “Setelah jatuh.”

“Jatuh dari Tiga Garis?” tanya Kael.

“Dari mereka.”

“Jangan merapikan kata.”

“Aku tidak merapikan. Keluar berarti melewati pintu.” Kabin Rav menjadi lebih sempit oleh kalimat itu. Liora menatap jalan yang semakin pucat.  “Aku membawa sesuatu yang bukan milikku,” lanjut Zevran. Suaranya tetap rendah, tidak meminta dikasihani. “Daftar rute. Bukan semua. Cukup untuk membuat beberapa orang marah.”

Kael langsung menegang. “Kamu punya daftar?”

“Dulu.”

Kael tertawa kasar. “Nyaman sekali.”

“Tidak nyaman.” Zevran menatap jalan, tidak menoleh kepada siapa pun. “Kalau ditemukan, orang-orang yang pernah lewat jalur itu akan dicari ulang. Orang mati tidak perlu dicari. Orang yang lolos masih bisa dijual.”

Liora menahan napasnya. Kael tidak langsung bicara. Penahan barat akhirnya mulai tampak.

Kael menatap Zevran dari belakang. “Kalau aku tahu kamu berbohong,” katanya, “aku tidak akan menunggu sampai Avara.”

“Aku tahu.” Zevran tidak meminta dipercaya. Kael tidak memberinya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk