Sepuluh menit berikutnya tidak terasa seperti perjalanan. Rav bergerak di atas jalur pecah dengan suara rendah yang tidak pernah benar-benar stabil, membawa tiga napas yang sejak awal tidak seirama.
Balutan di paha Zevran belum basah sepenuhnya, tetapi warnanya semakin gelap. Liora melihatnya lewat pantulan kaca samping. Kael juga melihat lewat spion, meski ia tidak mengatakan apapun. Rav menghantam batu kecil. Tubuh Zevran tersentak, napasnya tertahan terlalu cepat sebelum ia memalingkan wajah ke jendela. Kael melirik spion. “Kalau pingsan, jangan jatuh ke lantai.”
Zevran membuka matanya sedikit. “Aku akan pingsan dengan mempertimbangkan kenyamananmu.”
“Bagus. Akhirnya berguna.”
“Kael,” kata Liora, tanpa menoleh penuh.
“Apa?”
“Jangan memulai pertengkaran sebelum makan.”
“Aku hanya memberi instruksi.”
“Instruksi tidak harus terdengar seperti ancaman.”
“Kadang lebih cepat dimengerti.”
Zevran menatap langit-langit Rav, napasnya masih belum kembali utuh. “Aku mengerti banyak hal hari ini.”
Liora menoleh sedikit. “Simpan napasmu.” Zevran menutup mulut.
Kael tidak suka cara Zevran berhenti saat Liora bicara, Zevran mendengar batasan. Kael tidak bisa memukul seseorang hanya karena orang itu mendengar batasan, dan kenyataan itu membuatnya kehilangan pegangan yang paling mudah untuk membencinya.
Jalur tanah di depan mereka membelah area rendah dengan batu-batu putih dan semak mati. Liora menunduk ke peta, mencari lekuk kecil yang digambar ayah mereka dengan garis tipis, lalu menunjuk ke depan. “Ada cekungan batu di depan. Kita berhenti.”
“Tidak.”
“Bukan tawaran.”
“Jalannya terbuka.”
“Cekungannya tertutup dari tiga sisi.”
“Dan kalau ada orang di atas batu?”
“Kita cek.”
“Kita jalan dulu.”
Liora menatap bahu Kael. Sejak mereka meninggalkan Unit Perbaikan Jalur, tubuh Kael tidak setegak biasanya. Tangan kirinya tidak naik setinggi tadi ketika Rav berbelok. Ada rasa sakit yang ia sembunyikan dengan amarah, dan Liora sudah terlalu lama hidup di dekatnya untuk mengenali cara Kael memaksa tubuhnya. “Kamu bahkan tidak bisa mengangkat penuh tangan kirimu,” katanya.
Kael menggerakkan bahunya sedikit, terlalu sengaja, terlalu cepat. Wajahnya tidak berubah, tetapi jari-jarinya memutih di kemudi. “Bisa.”
“Jangan membohongi orang yang duduk setengah meter darimu.”
“Aku tidak butuh diperiksa.”
“Tubuhmu tidak meminta pendapatmu.”
Dari belakang, Zevran berkata pelan, “Kalau selangka atau bahu retak terus dipakai, geraknya akan semakin buruk.”
“Diam,” kata Kael.
Zevran menutup mulut. Liora menoleh ke belakang sebentar. Zevran melihat bahu Kael seperti orang yang pernah memakai tubuh yang rusak dan dipaksa berjalan terlalu jauh lalu tahu akhirnya selalu lebih buruk. Kael melihat pantulan tatapan itu di spion, lalu matanya menggelap. “Aku tidak butuh pengamatan dari mantan pemburu.”
Zevran memandang keluar jendela. “Aku tidak mengamatimu. Aku hanya pernah melihat orang bodoh yang memaksa tubuhnya sampai tidak bisa dipakai.”
“Pengalaman pribadi?”
“Kadang.”
Kael hampir membalas, tetapi Liora lebih dulu menutup peta dengan pelan. Gerak itu tidak keras, cukup untuk membuat udara berubah. Ia melepaskan sabuk, dan menaruh tangannya di tuas gigi.
Kael langsung melirik. “Jangan.”
“Belok ke cekungan.”
“Liora.”
“Belok.”
“Kalau kamu menyentuh tuas itu lagi dan—”
“Dan apa?!” Liora menatapnya. “Kamu mau mendorong tanganku dengan bahu yang bahkan tidak bisa kamu gerakkan itu?”
Wajah Kael berubah. Bukan karena kalimat itu menghina, tetapi karena ia benar. Rav masih melaju, roda depannya melewati tanah yang mulai menurun ke sisi cekungan. Kael menatap jalan beberapa detik lagi, lalu membelokkan kendaraan itu dengan gerakan kasar yang membuat ban kanan menghantam batu rendah. Rav masuk ke cekungan dengan suara berat, berhenti di antara tiga sisi batu yang cukup tinggi untuk menyembunyikan badan kendaraan dari jalur utama.
Kael mematikan mesin. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak. “Sepuluh menit,” kata Kael.
Liora membuka pintu. “Cukup untuk makan dan ganti balutan.”
Kael menatapnya, tetapi kali ini ia tidak punya cukup ruang untuk menang. Ia turun lebih dulu, memeriksa puncak batu dengan pistol di tangan kiri, gerakannya hati-hati meski wajahnya menolak mengakui rasa sakit. Liora turun setelah memastikan Zevran tetap duduk, lalu membuka kotak obat dan makanan dari belakang.
“Balutanmu,” kata Liora.
“Masih menempel.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Zevran menatapnya sebentar, lalu menurunkan mata. “Masih bisa ditahan.”
Kael kembali dari sisi batu dan mendengar kalimat terakhir itu. “Semua orang yang bilang begitu biasanya berakhir merepotkan orang lain.”
Liora membuka pintu belakang dan mulai mengganti balutan. Luka di paha Zevran tidak separah ketika pertama mereka menemukannya, tetapi perjalanan singkat tadi membuat beberapa tepi lukanya kembali basah. Saat cairan pembersih menyentuh kulit, tubuhnya menegang. Ia tidak menarik diri. Tangannya yang terikat hanya mengepal di atas lutut, lalu pelan-pelan melepas lagi setelah Liora selesai menekan kain baru.
Kael berdiri di sisi kap, memakan sedikit makanan padat dengan cara yang lebih mirip kewajiban daripada kebutuhan. Liora tahu ia mengawasi setiap jarak, tangan Zevran, posisi Liora, pintu belakang, sisi batu, jalan masuk cekungan. Tidak satu pun bagian dari dirinya yang benar-benar makan.
Liora memberi Zevran sedikit air lewat tutup botol. Zevran menerima dengan cara yang sama seperti sebelumnya, dekat tetapi berhenti sebelum kulit mereka bersentuhan. Gerakan itu kecil. Hampir tidak berarti jika dilakukan orang lain. Kael meletakkan makanannya di kap dengan bunyi keras. “Kamu selalu begitu?”
Zevran menatapnya. “Minum sedikit?”
“Berhenti sebelum menyentuh.”
Liora menoleh kepada Kael. “Kenapa itu jadi masalah?”
“Karena dia membuatnya tampak seperti pilihan yang baik.”
Zevran menurunkan tutup botol. “Tidak ada yang baik dariku.”
“Bagus. Kita sepakat.”
“Aku berhenti karena dia tidak memberiku ruang lebih dari itu.”
Kalimat itu membuat angin di cekungan terasa berhenti. Liora tahu Zevran tidak sedang memperhalus dirinya. Ia hanya menjawab. Namun jawaban itu tepat mengenai bagian yang paling Kael sembunyikan. Jika Zevran bisa membaca ruang Liora, berarti Kael bukan satu-satunya orang yang tahu kapan harus menariknya, kapan harus menutup pintu, kapan harus berdiri di depannya. Kael bergerak setengah langkah, tetapi Liora menutup pintu belakang cukup untuk membuat gerak itu berhenti. “Makan,” katanya.
“Aku belum selesai bicara.”
“Justru itu masalahnya.”
“Dia bermain kata.”
“Dia menjawab pertanyaanmu.”
“Jawabannya terlalu bersih.”
“Karena kamu ingin semua jawabannya kotor agar lebih mudah dibunuh.” Kael menatap Liora. Zevran tidak ikut bicara. Kali ini ia memilih hidup. Liora mengambil botol dan menyodorkannya kepada Kael.
“Minum.”
“Aku tidak—”
“Kalau kamu bilang tidak haus, aku tuang ke kepalamu.”
Kael merebut botol itu, minum, lalu mengembalikannya. Liora menerima botol itu tanpa komentar.
Kael berdiri. Liora duduk di tepi batu rendah, peta di pangkuan. Zevran tetap di kursi belakang dengan pintu terbuka. Setelah makanan habis, Liora membuka peta. Ia menandai tempat mereka berhenti, tanda titik bawah, dan bangunan perbaikan jalur. Zevran menatap garis-garis itu dari dalam Rav.
“Kamu tahu arti titik bawah?” kata Liora.
Zevran melihat Kael dulu sebelum menjawab. “Tahu sebagian.”
Kael mengangkat alis. “Sebagian?”
“Tiga Garis tidak selalu memakai arti yang sama di semua tempat. Titik bisa berarti arah, status, atau peringatan. Tergantung siapa yang memasang dan kapan dipasangnya.”
“Jawaban yang sangat berguna.”
“Lebih berguna daripada pura-pura tahu semua tanda berarti satu hal.”
Liora menahan napas sedikit, menunggu Kael meledak. Kael tidak melakukannya. Ia hanya menatap Zevran dari balik kap, dengan tangan kiri masih memegang botol air.
“Titik kanan?” tanya Liora.
“Biasanya jalur pancingan. Kebutuhan diletakkan supaya orang lapar atau haus masuk dari arah yang mudah dilihat.”
“Titik kiri?”
“Sudah disentuh, sudah diambil, atau sudah dibaca orang lain. Bisa juga tanda bahwa jebakannya bukan di tempat kebutuhan, tapi di tempat kendaraan berhenti.”
“Titik bawah?”
Zevran menunduk sedikit ke arah peta. “Jebakan yang rusak, sudah dipakai, atau tidak lagi bersih. Orang yang memasang tanda ingin kelompoknya tahu bahwa tempat itu pernah dipakai dan masih bisa dipakai ulang kalau perlu. Tapi bukan tempat pertama untuk menunggu.”
Liora mencatat dengan pensil. “Berarti Unit Perbaikan Jalur bukan tempat utama mereka?”
“Bukan hari ini. Kalau mereka mengejar kalian dari depo, mereka mungkin akan membaca jalur itu sebagai tempat yang sudah dibuka, lalu memeriksa sisa tanda.”
Liora menatap peta lebih lama, lalu menandai jalan setelah cekungan. Ada jalur utama menuju Avara, tetapi setelah tanda tiga garis muncul berulang, jalur utama mulai terasa seperti kalimat yang terlalu rapi. Di sisi barat laut, ada lambang kecil yang digambar ayah mereka dengan tinta memudar, REG-K/17. Di bawahnya, catatan pendek: jika jalur luar terbuka, lewati sebelum menara lama.
“REG-K/17,” kata Liora.
Zevran melihat peta dari kursi belakang. “REG berarti registrasi atau regulasi jalur, tergantung wilayah.”
Kael langsung menoleh. “Kamu diminta untuk bicara?”
Liora tetap memandang peta. “Lanjutkan.” Kael menatapnya. Liora tidak menatap balik. “Dia tahu istilahnya.”
Zevran menunggu beberapa detik, memastikan kalimat berikutnya tidak membuatnya ditembak, lalu berkata, “Kalau itu pos lama, biasanya ada menara atau pemindai. Kendaraan yang lewat bisa terbaca.”
“Rav tidak punya nomor aktif,” kata Kael.
“Tidak semua pembaca mencari nomor aktif.”
Liora menatap Zevran. “Maksudmu?”
“Beberapa sistem lama membaca mesin, rangka, atau kartu unit. Kalau kendaraan kalian pernah terdaftar, dia bisa mengenalinya”
Kael diam. Diam yang tidak tenang. Liora melihat tangannya bergerak ke dada. “Kamu tahu Rav?” tanya Kael.
Zevran menatap kendaraan itu. “Tidak.”
“Jawab yang benar.”
“Aku tidak tahu Rav. Aku tahu cara sistem membaca kendaraan.”
“Dari mana?”
Zevran mengangkat tangan terikatnya sedikit, lalu menurunkannya kembali.
“Saat bekerja untuk orang yang menjual manusia di jalan.” Jawaban itu kotor karena memang kotor, dan justru karena itu Kael tidak punya celah untuk menuduhnya sedang membersihkan diri.
Liora menatap peta lagi. “Kalau REG-K/17 masih hidup, kita bisa terbaca.”
“Ya,” kata Zevran.
“Kalau kita menghindar?”
“Bisa. Tapi kalau peta ayah kalian menandainya, mungkin pos itu bukan tanda bahaya. Bisa jadi akses. Bisa jadi titik yang harus dilewati agar sistem berikutnya tidak memperlakukan kalian sebagai penyusup.”
Kael memandang jalan keluar cekungan. “Kata mungkin terlalu banyak.”
Zevran menatapnya. “Di luar kota, kepastian biasanya disimpan oleh orang yang memasang jebakan.”
Kalimat itu terdengar cukup berat untuk membuat Liora berhenti menulis. Kael tidak membalas. Dari arah jalur utama, suara mesin terdengar tipis. Liora langsung mengangkat wajah. Kael bergerak ke sisi batu, menaiki satu bagian rendah untuk melihat tanpa membuat tubuhnya terlihat dari jalan. Zevran juga menoleh, tetapi tidak mencoba bangun. Suara itu tidak dekat, tetapi bergerak. Satu kendaraan, mungkin lebih, melambat di arah yang mereka tinggalkan.
“Mereka membaca jejak,” kata Kael.
Zevran menutup mata sebentar, seperti sedang menghitung bunyi mesin dan arah angin. “Kalau mereka dari depo, mereka akan menuju Unit Perbaikan Jalur dulu.”
“Kamu yakin?”
“Tidak. Tapi titik bawah akan membuat mereka memeriksa tempat itu. Mereka ingin tahu siapa yang merusak pola.”
Kael turun dari batu. “Kita bergerak.”
Liora merapikan peta. “Ke REG-K/17?”
“Ke arah sana. Kita putuskan sambil bergerak.”
Zevran menatap pintu Rav yang masih terbuka. “Pakai jalur terbuka.”
Kael berhenti. “Kenapa?”
Liora menunggu. Zevran melanjutkan, “Jalan rendah memberi dinding di dua sisi. Bagus kalau kamu ingin tidak terlihat dari jauh. Buruk kalau ada orang yang menutupnya di depan dan belakang. Kalau aku memasang jebakan untuk Rav, aku akan memilih tempat seperti itu.”
Kael memandangnya lama. “Kamu baru saja mengatakan cara untuk membunuh kami.”
“Aku mengatakan caranya agar kalian tidak masuk ke tempat yang kupilih kalau ingin membunuh kalian.”
Liora memasukkan peta ke dalam Rav. “Jalur mana?”
Zevran mengangguk ke arah utara. “Di atas bukit. Terbuka, tapi lebih sulit dikunci. Kalau ada yang menunggu, kalian melihatnya lebih dulu.”
Kael menatap jalur itu. Tidak nyaman. Terlalu terbuka bagi matanya yang selalu mencari pelindung. Namun tempat terbuka kadang lebih jujur daripada tempat sempit yang terlihat aman. “Kamu duduk dan diam sampai ditanya,” kata Kael.
Zevran bersandar lagi. “Baik.”
“Kalau jawabanmu terlambat, aku anggap kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Baik.”
“Kalau jawabanmu terlalu cepat, aku anggap kamu sedang mengarahkan.”
Zevran menatap Kael beberapa detik. “Lalu kapan aku bicara?”
Kael membuka pintu pengemudi. “Saat Liora bertanya.”
Liora menoleh kepadanya. Kael tidak melihat balik. Ia masuk ke Rav, menarik pintu dengan satu tangan, dan menyalakan mesin. Kalimat itu bukan kepercayaan. Namun ia menggeser sesuatu. Kael masih membenci Zevran, tetapi untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa informasi dari mulut Zevran mungkin lebih aman jika melewati keputusan Liora. Zevran juga menangkapnya. Ia duduk lebih tegak.
Rav keluar dari cekungan batu. Di belakang mereka, suara mesin pengejar semakin jauh. Di depan, jalan menuju REG-K/17 mulai naik ke punggung tanah yang terbuka. Liora membuka peta di pangkuan, menahan sudutnya agar tidak terangkat, lalu menandai jalur atas dengan garis pendek.
Kael menyetir tanpa bicara. Rav bergerak di jalan yang dipilih bukan hanya oleh amarah Kael, bukan hanya oleh peta ayah mereka, dan bukan sepenuhnya oleh bekas kotor di kepala Zevran. Untuk sementara, ketiganya ikut membentuk arah. Itu belum berarti kepercayaan. Bahkan belum berarti mereka akan selamat. Namun di dunia yang penuh tanda palsu, jebakan lama, dan jalan yang terlalu sering dibuat untuk menjual orang lapar, mengetahui cara sebuah perangkap bekerja kadang sudah cukup untuk menunda kematian.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!