Rav mulai kehilangan suara lagi. Mesin kendaraan tua itu masih berjalan, tetapi getarannya berubah menjadi lebih rendah, seperti ada bagian dalam yang tertahan setiap kali Kael menekan gas. Liora tidak perlu melihat untuk tahu Kael mendengarnya lebih dulu, ia melihatnya dari tangan kakaknya itu menegang di kemudi, yang selalu muncul setiap kali Rav menunjukkan tanda tidak baik.
Botol air di dashboard masih keruh. Liora memegang botol itu terlalu lama. Kael melirik tangannya dari sudut mata. “Belum,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu memegangnya.”
“Aku memeriksa.”
“Kamu akan meminumnya kalau aku tidak bicara.”
Liora menaruh botol itu kembali ke dashboard. “Aku bukan dirimu. Kalau aku perlu minum, aku minum. Aku tidak menunggu tubuhku hampir mati supaya terlihat kuat.”
Kael menoleh sekilas, lalu kembali pada jalan. Ada banyak hal yang bisa ia balas, tetapi Rav kembali batuk sebelum kalimatnya keluar. Di depan, papan jalan yang miring berdiri di tepi jalur. Tulisan aslinya sudah hilang sebagian, tetapi kata AVARA masih tampak di ujung kanan. Di bawah papan itu, ada coretan tiga garis lagi. Kali ini titik kecilnya berada di bawah. Liora menegakkan badan. “Titik bawah.”
“Aku lihat,” jawab Kael, tetapi suaranya berubah. Ia memperlambat Rav dan membiarkan kendaraan itu merayap mendekati persimpangan. Jalur utama ke kanan tampak lebih lebar, lebih bersih, dan terlalu mudah untuk dipercaya. Jalur kiri turun ke area bangunan rendah yang sebagian terendam lumpur kering, sementara jalur tengah tertutup bangkai bus yang terbakar.
Liora membuka peta dan mencari tanda yang sama, tetapi tidak menemukan apapun. Ayah mereka tidak pernah menulis tentang tiga garis. Mungkin ia tidak tahu.
“Jalur kanan terlalu bersih,” kata Kael.
“Karena itu jalur utama.”
“Mungkin juga karena mereka ingin orang berpikir begitu.”
Liora menatap titik bawah di papan. Setelah titik kanan di papan air dan titik kiri di dinding dekat Rav, tanda baru itu membuat jalan seolah mulai punya bahasa sendiri, hanya saja mereka belum tahu cara membacanya. Kael tidak menunggu lebih lama. Ia membelokkan Rav ke kiri, turun ke jalur yang lebih rendah. Ban depan menghantam retakan jalan, tetapi tanah di bawahnya tidak seburuk yang terlihat dari atas.
Di sisi kanan, saluran kering membentang dengan dinding beton rendah. Di sisi kiri, bangunan panjang tanpa pintu berdiri dengan papan nama patah,
“UNIT PERBAIKAN JALUR.”
Tempat itu bisa menyelamatkan Rav sebentar. Rav kembali batuk, kali ini lebih dalam.
“Berhenti,” kata Liora.
Kael membawa Rav memutar ke sisi bangunan, berhenti di tempat yang membuat hidung kendaraan menghadap keluar. Ia mematikan mesin, tetapi tangannya tetap berada di kunci beberapa detik, seolah tidak rela melepas satu-satunya benda yang masih bisa ia perintah. Liora melepaskan sabuk, mengambil tas kecil dan pistolnya. Kael melihat gerakan itu, tetapi kali ini ia tidak menyuruhnya tetap di Rav. “Tetap di dekat Rav,” katanya.
“Di dekat Rav,” ulang Liora, bukan sebagai janji kosong, melainkan batas yang masih bisa ia terima.
Mereka turun bersama. Kael membuka kap Rav lebih dulu, memeriksa sambungan yang bergetar, selang yang mulai longgar, dan bagian kecil di dekat mesin yang tampak terlalu panas. Liora menahan lampu kecil, tetapi matanya terus bergerak ke sekeliling. Di dinding bangunan, tidak jauh dari pintu samping, tiga garis hitam muncul lagi, hampir tertutup debu. Titik bawahnya dibuat lebih tebal daripada tanda di papan jalan. “Ada lagi,” katanya.
Kael menoleh, lalu mengumpat pelan. “Mereka mengarahkan ke sini.”
“Atau mungkin memperingatkan.”
“Dua hal itu sering terlihat sama.”
Kael kembali ke mesin, tetapi gerakannya berubah lebih cepat. Ia mengencangkan sambungan sementara, menekan satu bagian dengan kain, lalu meminta kunci kecil dari tas alat. Liora mengambilkannya tanpa banyak bicara. Di dalam bangunan, terdengar sesuatu bergeser. Kael langsung menutup kap sebagian. Pistolnya terangkat.
Liora menahan napas. Suara itu datang lagi, kali ini disertai gesekan logam pendek dari arah ruang dalam. Jika itu jebakan, ia terlalu hidup. Jika itu manusia, ia terlalu diam untuk meminta tolong. “Di belakangku,” kata Kael.
Liora bergerak di sisi kirinya, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh agar Kael tidak langsung menariknya mundur. Mereka masuk melalui pintu samping. Di dinding belakang ada pintu lain yang tertutup sebagian oleh panel yang jatuh. Suara itu datang dari balik panel. Kael mengarahkan pistol ke celah. “Keluar.”
Tidak ada jawaban. Liora mengangkat lampu lebih tinggi. Di sela panel yang miring, ia melihat tangan. Kotor, penuh luka kecil, dan terlalu diam. Tangan itu terjepit di bawah besi, jari-jarinya menggenggam debu seolah pemiliknya pernah mencoba menarik diri keluar sebelum tenaganya habis.
“Kael,” kata Liora pelan.
“Aku lihat.”
Mereka mendekat dengan hati-hati. Di balik panel, seorang laki-laki terbaring miring, tubuhnya tertahan rak besi yang menekan paha. Wajahnya pucat karena kehilangan darah dan panas. Rambutnya lengket oleh keringat, bibirnya pecah, dan pergelangan kirinya dibalut kain kotor yang tidak cukup menutupi bekas cap terbakar di kulit. Di dekat tubuhnya ada tanda tiga garis yang dibuat kasar di lantai, titik bawahnya digores terlalu dalam sampai semennya terkelupas.
Mata laki-laki itu terbuka ketika cahaya mengenai wajahnya. Ia tidak langsung bicara. Pandangannya bergerak dari pistol Kael, ke tangan Liora yang memegang lampu, lalu ke arah pintu tempat Rav menunggu di luar. Kael melihat bekas cap di pergelangan kiri itu. Wajahnya menjadi lebih dingin. “Tiga Garis,” katanya.
Liora menatap pergelangan laki-laki itu lagi. Bekasnya tampak sengaja dibakar, bukan sekadar luka. Laki-laki itu menelan ludah. Suaranya keluar. “Mantan.”
Kael tertawa. “Mantan pemburu tetap pemburu kalau dia masih bernapas.”
Liora menoleh kepadanya, tetapi Kael tidak menatapnya. Pistolnya tetap mengarah ke dada laki-laki itu. Kael sepertinya sudah membuat keputusan. Tiga Garis bukan cerita kosong di luar Avara. Mereka menjual jalur, mengejar orang tanpa Tanda, memasang tanda di tempat kebutuhan, dan membuat manusia yang lapar berjalan ke arah perangkap.
“Siapa namamu?” tanya Liora.
Laki-laki itu melihatnya, lebih lama daripada orang sekarat seharusnya punya tenaga. “Zevran.”
Kael langsung berkata, “Tidak penting.”
“Dia tahu tanda itu,” kata Liora.
“Justru itu alasannya.”
Zevran menutup mata sebentar. “Titik bawah berarti jebakan sudah dipakai atau rusak. Bukan aman. Hanya tidak lagi bersih.”
Kael diam. Liora merasakan perubahan itu sebelum melihatnya. Kael masih mengarahkan pistol, tetapi matanya bergerak ke tanda di lantai, ke panel yang menjepit Zevran, lalu ke pintu keluar. Informasi itu masuk terlalu tepat untuk diabaikan. Titik bawah bukan sekadar arah. Ia menjelaskan kenapa jalur kanan terlalu bersih, kenapa Unit Perbaikan Jalur seperti menunggu, kenapa bangunan itu tidak langsung menyerang mereka meski jelas ditandai. “Kamu yang memasang tanda itu?” tanya Kael.
“Bukan.”
“Jawaban yang mudah.”
“Kalau aku memasangnya, aku tidak akan terjepit di sini.”
Kael melangkah mendekat sedikit. “Kamu pikir itu cukup untuk membuatmu terdengar tidak berbahaya?”
“Tidak,” jawab Zevran. “Aku hanya menjawab.”
Liora menatap rak besi yang menekan paha Zevran. Darah di bawahnya sudah mengering sebagian, tetapi masih ada bagian baru yang basah di kain. Luka itu buruk. Kalau mereka meninggalkannya, ia mungkin tidak bertahan sampai malam. Kalau mereka membawanya, mereka membawa Tiga Garis ke dalam Rav. Keputusan seperti itu tidak punya yang sisi bersih.
“Kita angkat panelnya,” kata Liora.
“Tidak.”
“Dia tahu tanda itu.”
“Dia juga Tiga Garis.”
“Mantan.”
“Kamu percaya kata itu karena dia mengatakannya saat terjepit?”
“Aku tidak bilang percaya. Aku bilang dia tahu tanda.”
Kael menatapnya. Marahnya tidak meledak, dan itu lebih buruk. “Liora, orang seperti dia tidak hanya membaca jalan. Mereka membuat orang lain mati di jalan.”
Liora melihat Zevran. Laki-laki itu tidak membela diri.
“Kalau dia mati di sini,” kata Liora pelan, “kita tidak tahu arti tanda berikutnya.”
Kael menatapnya cukup lama. Akhirnya Kael menurunkan pistol sedikit, bukan karena ia setuju, tetapi karena ia memilih keputusan yang paling bisa ia benci. “Tangannya diikat sebelum masuk Rav,” katanya.
“Kalau kita bisa mengeluarkannya lebih dulu.”
“Kalau dia salah bergerak, aku tembak.”
Zevran membuka mata lagi. “Masuk akal.”
Kael menatapnya. “Jangan memberiku alasan yang cukup untuk menembakmu.”
Liora menyimpan lampu di sela rak, lalu mereka mengangkat panel besi itu bersama-sama. Kael memakai bahu dan tangan dengan kekuatan yang membuat urat di lehernya terlihat. Liora mendorong dari sisi lain, menahan agar panel tidak jatuh kembali ke paha Zevran. Begitu tekanan terangkat, Zevran menarik kakinya dengan gerakan yang buruk. Ia tidak berteriak. Hanya napasnya yang tertahan.
Kael mengikat tangan Zevran sebelum membantunya berdiri. Ikatannya kuat, lebih kuat daripada yang diperlukan. Liora tidak memprotes. Kael membutuhkan batas itu untuk tidak menembaknya. Zevran tampaknya memahami hal yang sama.
Rav terlihat dari tempat mereka berdiri. Untuk beberapa detik, Zevran menatap kendaraan itu dengan cara yang membuat Liora berhenti. Zevran terlihat menyadari kendaraan di depannya tidak masuk dalam kategori kendaraan biasa.
Kael melihat tatapan itu. “Jangan melihatnya terlalu lama.”
Zevran menurunkan mata. “Baik.”
Mereka memasukkannya ke kursi belakang. Kael memeriksa ikatannya lagi, lalu mengikatnya ke pegangan samping. Liora membuka kotak obat dan memotong kain di sekitar luka. Bau darah kering langsung memenuhi kabin. Luka di paha Zevran lebih buruk daripada yang terlihat, tetapi belum terlambat jika ditahan dengan benar.
Kael berdiri di luar pintu belakang, pistol tetap di tangan. “Cepat.”
“Kalau kamu ingin dia tetap hidup, berhenti menyuruhku bergerak cepat,” kata Liora. Kael mengatupkan mulutnya. Tidak meminta maaf. Namun ia tidak mengulang.
Zevran menatap atap Rav saat Liora membersihkan lukanya. Tubuhnya menegang, tetapi ia tidak menarik diri. Liora bekerja dengan cepat, menekan kain, mengikat balutan sementara, lalu memberinya sedikit air dari tutup botol setelah memastikan tablet pembersih sudah cukup larut. Zevran menerima air itu dengan hati-hati, berhenti sebelum kulit mereka bersentuhan.
Kael menutup pintu belakang, lalu masuk ke kursi pengemudi. “Kita jalan sebentar. Cari tempat yang tidak terbaca dari jalur utama. Setelah itu berhenti.”
Rav menyala setelah batuk pendek. Ketika kendaraan itu bergerak keluar dari balik Unit Perbaikan Jalur, Liora kembali membuka peta. Ia menandai titik baru dengan tulisan kecil: titik bawah, orang terjepit, Zevran. Kael melirik catatan itu, tetapi tidak meminta Liora menghapusnya. Zevran duduk di belakang, pucat, terikat, dan hidup.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!