Peta yang Tidak Pernah Menjelaskan Semuanya

3 dibaca

A

Rav mulai batuk sebelum matahari benar-benar naik, suaranya tersangkut di dalam karena sudah terlalu lama dipaksa bertahan. Kael mengubah tekanan kakinya pada gas, tidak banyak, hanya cukup untuk membuat kendaraan itu kembali menemukan ritmenya. Di sampingnya, Liora mengangkat wajah dari peta plastik yang sejak semalam berada di pangkuannya, lalu menatap jarum bahan bakar yang sudah terlalu dekat dengan garis merah.

Kael pasti sudah melihatnya.

Kael selalu melihat hal-hal yang bisa berubah menjadi bahaya bahkan sebelum bahaya itu cukup jelas untuk disebut ancaman: batu di pinggir jalan, bayangan di balik reruntuhan, papan miring, bekas ban di tanah, suara Rav yang berubah setengah nada, sampai tangan Liora yang berhenti terlalu lama di atas peta.

Mereka dibesarkan untuk memperhatikan hal-hal kecil.

Ayah mereka pernah mengatakan bahwa di Padang Debu, manusia tidak selalu mati karena badai atau kekurangan air. Kadang mereka mati karena terlambat menyadari satu tanda kecil yang berubah.

Dulu, Kael mengira itu hanya nasihat seorang ayah yang terlalu berhati-hati.

Sekarang ia tahu, keluarganya bertahan hidup karena kebiasaan itu.

Karena mereka tidak punya perlindungan.

Tidak punya nama.

Tidak punya tanda.

Di mata sebagian besar kota, mereka hanyalah satu keluarga buangan yang mencoba bertahan di antara pasir dan reruntuhan. Tidak ada yang tahu bahwa darah yang mengalir dalam tubuh mereka pernah memiliki tempat di pusat Avara. Tidak ada yang tahu bahwa sebelum menjadi orang-orang tanpa identitas, keluarga mereka pernah disebut Veyr.

Dan memang begitu yang diinginkan ayahnya.

Dilupakan.

“Jangan menatap jarum itu seakan bisa naik karena dikasihani,” kata Kael tanpa melepaskan pandangan dari jalan.

Liora menurunkan peta sedikit. “Aku sedang menghitung.”

“Kamu selalu menghitung saat sesuatu hampir habis.”

“Karena memang hampir habis.”

Kael tidak menjawab.

Di dinding sebuah toko, poster lama masih menempel dengan sudut mengelupas, tulisannya sudah pudar tetapi belum cukup hilang untuk dilewatkan begitu saja.

WARGA BERTANDA, WARGA SAH.

YANG TIDAK TERCATAT TIDAK DILINDUNGI.

Di bawah poster itu, seseorang pernah menulis dengan arang:

LAPAR TIDAK BUTUH TANDA.

Liora membaca kalimat itu sampai Rav melewatinya.

Ia tidak pernah menyukai tulisan-tulisan seperti itu.

Bukan karena ia tidak setuju.

Justru karena ia tahu kalimat itu benar.

Bertahun-tahun lalu, orang tua mereka memilih kehilangan nama daripada ikut dalam pertumpahan darah yang menguasai kota. Ayah mereka menanggalkan identitas Veyr, membawa kunci pusat dan dokumen terakhir yang tersisa, lalu menghilang bersama keluarganya ke balik dinding Avara.

Mereka membangun kehidupan baru sebagai kaum tak bertanda.

Tanpa kemewahan.

Tanpa perlindungan.

Tanpa hak untuk bertanya mengapa dunia memperlakukan mereka seperti tidak pernah ada.

Liora tidak pernah melihat kota tempat keluarganya dulu memiliki pengaruh. Ia hanya mengenal Padang Debu, rumah kecil yang dibangun jauh dari pusat keramaian, suara mesin tua yang diperbaiki ayahnya, dan tangan ibunya yang selalu sibuk mengajarinya cara bertahan hidup.

Rahasia terbesar keluarganya adalah kebohongan yang mereka rawat setiap hari bahwa mereka hanyalah orang biasa. Dan mungkin kebohongan itu akan tetap bertahan jika malam itu tidak datang.

Jika para pemburu manusia tidak menemukan mereka.

Jika orang tua mereka masih hidup.

Liora menarik napas pelan dan memaksa dirinya kembali melihat jalan.

Masa lalu tidak membantu mereka menemukan air.

Botol air di antara kursi tinggal seperempat, dan Kael belum menyentuh bagiannya sejak malam. Ia selalu begitu, menyisakan air untuk Liora, lalu berpura-pura tubuhnya tidak punya kebutuhan yang sama.

Liora mengambil botol dan menyodorkannya lebih dekat.

Kael hanya melirik sekilas, rahangnya bergerak menolak sebelum kata-katanya keluar.

“Aku sedang menyetir.”

“Kamu masih punya tangan satu lagi.”

“Kalau kamu sodorkan lebih dekat, aku lempar keluar.”

“Lempar setelah minum.”

Tangan Kael tidak bergerak, tetapi Liora juga tidak menurunkan botol itu.

Rav melewati lubang kecil, akibatnya air di dalam botol pun tumpah dan mengenai jari Liora.

Setelah beberapa detik yang panjang, Kael akhirnya mengambil botol itu, minum satu teguk terlalu cepat, lalu meletakkannya kembali di antara kursi.

Liora kembali membuka peta, merapikan lipatan plastik yang sudah kusam, lalu menelusuri garis barat dengan ujung jari.

Peta itu tidak dibuat seperti peta resmi.

Garis-garisnya lebih mirip ingatan seseorang yang tahu jalan-jalan yang tidak boleh diketahui oleh banyak orang.

Ayah mereka membuat peta itu bukan untuk perjalanan biasa.

Ia membuatnya untuk seseorang yang harus bertahan hidup.

Ada jalur utama menuju Avara, titik cadangan air, tanda bahan bakar, satu lingkaran kecil untuk tempat singgah, dan catatan pendek dengan tulisan tangan ayah mereka yang selalu seperti ditulis dengan buru-buru.

Hari itu, Liora membenci kebiasaan tersebut lebih dari biasanya.

[Jika jalur barat bersih, ikuti sampai penanda lama.

Jika air kurang, turun ke kota mati selatan. Jangan berhenti di bawah papan jatah. Avara. Pusat. Jangan berhenti sebelum tanda lama.]

Kata Pusat selalu membuat Liora berhenti lebih lama.

Ayah mereka jarang menjelaskan apa pun tentang masa sebelum mereka tinggal di Padang Debu.

Ia hanya pernah berkata bahwa beberapa tempat menyimpan terlalu banyak darah untuk disebut rumah.

“Ada depo di selatan,” katanya. “Tiga kilometer dari sini. Simbol bahan bakar, air, dan gudang kecil.”

“Peta itu dibuat sebelum separuh jalan berubah jadi kuburan.”

“Deponya mungkin kosong. Tapi kalau kita terus berjalan tanpa berhenti, Rav bisa kosong terlebih dulu.”

“Kalau depo itu ditandai orang lain, kita masuk jebakan.”

“Kalau kita tidak berhenti, jebakan tidak akan berguna. Kita sudah akan mati di jalanan.”

Kael melirik peta, lalu kembali menatap jalan.

Liora tahu ia sedang menghitung.

Jarak.

Risiko.

Kemungkinan terburuk.

Sejak malam orang tua mereka meninggal, Kael selalu menghitung semuanya.

Seolah jika ia cukup cepat menghitung, ia bisa mencegah kehilangan berikutnya.

Di antara mereka, Rav kembali batuk pelan, lebih pendek dari sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat keputusan yang belum diucapkan itu terasa lebih masuk akal.

Kael tidak suka dipaksa oleh keadaan. Ia lebih suka membuat semua orang percaya bahwa keputusan itu berada di tangannya.

“Ada jalur lain?” tanyanya.

“Kalau jalur lain akan memutar lebih jauh.”

“Berapa jauh?”

“Cukup jauh untuk membuat jarum penanda bahan bakarnya jatuh dan kamu menyalahkanku karena tidak memilih depo.”

Kael menekan lidah ke pipi, tanda buruk yang biasanya muncul sebelum ia memutuskan sesuatu tanpa memberi kesempatan. Namun kali ini, Rav berbelok ke arah jalan menurun. Itu cara Kael mengalah, tanpa mengaku kalah.

“Depo di belakang blok tiga,” kata Liora, menahan suaranya agar tetap datar.

“Aku dengar.”

Jalan menuju depo selatan lebih buruk daripada jalur utama. Bekas kantor distribusi air berdiri dengan menara kecil yang patah di atasnya. Tulisan resmi di temboknya masih cukup terbaca,

JATAH AIR HANYA UNTUK WARGA BERTANDA. PELAPOR WARGA TIDAK TERCATAT MENDAPAT TAMBAHAN AKSES.

Kael memperlambat Rav sebelum sampai di depan depo. Ia tidak langsung menghentikan kendaraan, melainkan membiarkannya merayap melewati pagar. Matanya memeriksa pintu gudang, bayangan di bawah truk tua, atap miring, selokan kering, dan papan besar di depan pos air. Di bawah papan itulah Liora melihatnya, tiga garis hitam, pendek, dicoret miring di dinding samping. Di dekat ujung garisnya ada satu titik kecil di kanan.

Kael menghentikan Rav jauh sebelum papan. “Jangan turun,” katanya.

Liora sudah membuka pengunci sabuk. “Kita butuh air.”

“Aku yang turun.”

“Kalau kamu turun sendirian, kamu akan mengecek terlalu jauh, mengabaikan air, lalu menyebut itu strategi.”

“Tempat ini ditandai.”

“Aku melihatnya.”

“Berarti kamu paham kenapa harus tetap di dalam.”

“Aku akan keluar dengan mata terbuka.”

Kael membuka pintu lebih dulu, pistol sudah berada di tangannya. Ia tampak lebih tinggi saat marah. Dulu Liora sering mundur saat Kael marah. Bukan karena takut kepadanya, tetapi karena takut pada hal-hal yang bisa terjadi jika Kael benar. Hari ini ia tetap turun, menutup pintu pelan, lalu mengambil tas kecil dari belakang kursinya.

Kael menatapnya dengan wajah gelap. “Masuk lagi.”

“Tidak.”

“Liora.”

“Jangan menyebut namaku seperti tadi.”

Kalimat itu membuat Kael diam sesaat. Amarahnya bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa didorong kembali ke dalam Rav. Liora menahan pandangannya. Ia tahu Kael ingin melindunginya. Tapi seringkali perlindungan itu  berubah menjadi ruang sempit yang membuatnya sulit bernapas. “Aku di sampingmu,” katanya lebih pelan. “Bukan di belakangmu.”

Dari dalam pos air, ada bunyi seng bergeser. Ketegangan itu memotong pertengkaran mereka sebelum sempat melebar. Kael menoleh ke arah suara, lalu mengangkat pistol sedikit. “Di sampingku,” katanya akhirnya. Liora mengangguk.

Kael memeriksa pintu, tidak masuk terlalu jauh. “Cepat.”

Liora memeriksa rak belakang dan menemukan dua botol air tertutup debu. Salah satunya retak. Satunya masih utuh, isinya keruh. Ia mengangkatnya ke cahaya, memperhatikan endapan tipis di dasar botol. “Tablet pembersih tinggal empat,” katanya.

“Kita pakai satu kalau airnya tidak berbau.” Kael mengambil botol itu, mencium sedikit, lalu menyerahkannya kembali. Liora menyimpannya di tas. Di ruang belakang depo, mereka menemukan jerigen kecil dengan sisa bahan bakar. Tidak penuh, bahkan mungkin hanya seperempat, tetapi cukup untuk membuat napas Kael turun sedikit. Kael mengangkat jeriken. “Kita keluar.”

“Belum. Ada gudang kecil di sisi kanan.”

Wajah Kael berubah. “Tidak.”

“Peta menandai ada makanan di sana.”

“Tapi peta menandai tempat ini sebelum dindingnya punya tiga garis.”

“Kita butuh makanan.”

“Tapi kita punya sisa.”

“Untuk berapa lama?”

Kael tidak cukup cepat menjawab. Liora menatap lorong kecil menuju gudang, pintu kayunya setengah terbuka. Perut Liora nyeri, lapar sudah mulai menggigit dari dalam, dan rasa lapar membuat semua bahaya tampak sedikit lebih bisa dinegosiasikan.

Kael melihat wajahnya. Ia menarik napas pendek, lalu menggeser posisi pistol. “Yang di dekat pintu. Tidak masuk terlalu jauh.”

Mereka bergerak ke gudang kanan. Kael membuka pintu dengan ujung sepatu, dan bau busuk langsung keluar. Cahaya dari luar memperlihatkan rak-rak rendah yang sebagian masih menyimpan kaleng. Di sudut kiri, seekor tikus besar melesat melewati lubang dinding. Liora menahan napas, bergerak cepat mengambil tiga kaleng kecil, satu bungkus makanan padat yang keras seperti batu, dan kantong kain berisi garam kasar, sementara Kael tetap berada di pintu, pistol mengarah ke bagian gelap gudang.

Di rak paling bawah, Liora melihat satu lagi kaleng besar. Tangannya bergerak sebelum Kael menangkap bagian belakang jaketnya dan menariknya mundur. “Cukup.”

“Ada satu lagi.”

“Lantainya.”

Liora melihat ke bawah dan baru menyadari kawat halus yang hampir menyentuh sepatunya, terbentang dari rak bawah ke sisi gelap. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Kael menariknya keluar dari gudang, lalu menutup pintu dengan kaki. Tangannya baru melepas jaket Liora setelah mereka kembali ke ruang utama depo. Pegangan Kael kasar, tetapi ada getar kecil di jarinya. Liora melihatnya. Kael sadar, lalu memalingkan wajah ke arah pintu.

Mereka keluar dari depo dengan jerigen kecil, botol air keruh, dan makanan yang tidak cukup untuk disebut aman, tetapi cukup untuk membuat mereka hidup lebih lama. Saat kembali ke Rav, Liora melihat tanda lain di sisi tembok rendah dekat ban belakang kendaraan, tiga garis yang sama, tetapi kali ini dengan titik kecil di kiri. Ia berhenti. Kael hampir menyentuh bahunya dari belakang. “Apa?”

Liora menunjuk tanda itu. Kael melihatnya, lalu menatap depo, jalan tempat mereka masuk, dan papan air di depan. Wajahnya menjadi dingin

“Titik kanan di papan air,” kata Liora. “Titik kiri di sini.”

“Jangan sentuh.”

Kali ini Liora tidak melawan. Ada perbedaan antara Kael yang mengarang dan Kael yang benar. Ia membenci kenyataan keduanya memakai suara yang sama. Mereka memasukkan barang ke Rav tanpa bicara lagi. Kael menuang bahan bakar dari jerigen ke tangki dengan gerakan cepat, sementara Liora memasukkan tablet pembersih ke botol air keruh, mengocoknya pelan, lalu meletakkannya di dashboard.

Dari ujung jalan, suara mesin terdengar. Jauh, tetapi ada. Kael menatap arah itu. Liora langsung masuk ke kursi penumpang tanpa menunggu perintah. Kael menutup tutup tangki, melempar jerigen kosong ke belakang, lalu masuk ke kursi pengemudi. Rav hidup setelah dua kali batuk, lebih berat daripada sebelumnya, tetapi tetap hidup.

“Jalur keluar?” tanya Kael.

Liora sudah membuka peta. “Belakang kiri. Jalan kecil. Buruk.”

Kael menginjak gas. Rav melompat keluar dari halaman depo, melewati sisi gudang, menghantam batu kecil sampai seluruh badan kendaraan terguncang. Dari kaca samping, Liora melihat debu naik di ujung jalan tempat suara mesin tadi muncul. Belum terlihat kendaraan, tetapi suara itu makin dekat. Kael membawa Rav masuk ke jalan belakang dengan sisi kanan yang hampir menggesek dinding rumah pekerja. Jalurnya sempit, sebagian tertutup puing, lebih cocok untuk kendaraan kecil daripada tubuh Rav yang tua dan berat.

“Kael, kanan.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, jangan melawan tembok.”

“Aku sedang melawan jalanan.”

Di belakang mereka, suara mesin lain masuk ke halaman depo. Satu kendaraan, mungkin dua. Belum ada tembakan, tetapi itu tidak membuatnya lebih aman. Kael menambah kecepatan begitu jalan melebar sedikit. Rav menghantam tanah, melompat, lalu mendarat dengan bunyi keras. Botol air hampir jatuh dari dashboard, dan Liora menangkapnya cepat sebelum menghantam lantai.

“Air?” tanya Kael.

“Aman.”

“Peta?”

“Aman.”

Kael tidak menanyakan hal ketiga, tetapi Liora tahu pertanyaan yang tidak ia ucapkan. Ia menatap jalan di depan dan berkata, “Aku juga masih di kursi.”

Tangan Kael di kemudi sedikit berubah. Bukan lega, hanya tahu Liora masih berada di sana, masih melawan, masih hidup.

Mereka keluar dari blok rumah pekerja dan kembali ke jalur utama lewat sisi yang lebih rendah. Suara mesin pemburu masih terdengar jauh di belakang, tetapi tidak mengejar di jalur yang sama. Kael tidak menurunkan kecepatan sampai kota mati benar-benar tertinggal.

Setelah itu Rav melaju lebih rendah, dengan napas mesin yang masih berat. Jarum bahan bakar naik sedikit dari garis mati. Tidak banyak. Cukup untuk memberi mereka jalan.

Liora menatap botol air di dashboard. Tablet pembersih mulai larut, meninggalkan pusaran kecil. Ia mengambil peta lagi, merapikan lipatannya, lalu menandai depo selatan dengan pensil, tiga garis, titik kanan di papan air, titik kiri di dinding dekat Rav.

Kael melirik. “Jangan menulis terlalu banyak.”

“Kalau tidak ditulis, kita mengandalkan ingatanmu yang penuh amarah.”

“Ingatan penuh amarah bertahan lama.”

“Tidak selalu akurat.”

Kael diam beberapa detik. “Titik kanan mungkin jalur pancingan. Titik kiri mungkin tanda bahwa kebutuhan sudah diambil atau dipakai.”

“Dipakai oleh siapa?”

“Orang sebelum kita. Atau orang yang memasang tanda.”

“Atau orang yang menunggu orang seperti kita.”

Kael menatap jalan. “Kita tidak seperti mereka.”

Liora tidak menjawab. Di dunia yang membagi manusia menjadi bertanda dan tidak bertanda, mereka termasuk orang yang mudah dihapus dari catatan, mudah dijual oleh siapa pun yang ingin air tiga musim atau pemutihan hidup. Namun Rav membuat mereka berbeda. Perbedaan itu bukan berarti aman. Kadang perbedaan hanya membuat harga seseorang lebih tinggi.

Ia menatap catatan ayah di bagian bawah peta.

[Avara. Pusat. Jangan berhenti sebelum tanda lama.]

“Kita tahu Avara adalah tujuan,” kata Liora pelan. “Tapi kita masih tidak tahu kenapa.”

“Kita akan tahu saat sampai.”

“Kamu selalu mengatakan itu.”

“Karena kalau kukatakan aku tidak tahu, kamu akan menatapku seperti aku sedang merusak dunia.”

“Kamu tidak sedang merusak dunia,” jawab Liora. “Kamu hanya sering mencoba memperbaikinya dengan menabrak.”

Mereka tidak melanjutkannya. Bukan karena damai. Tidak ada yang benar-benar damai di dalam Rav. Hanya ada jeda, dan kadang jeda itu cukup untuk membuat dua orang tetap hidup di antara satu pertengkaran ke pertengkaran berikutnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk