Bab 02

Bab 2

0 dibaca

A

Diara membuka pintu rumah dan langsung disambut oleh aroma tumisan bawang putih, lada, dan minyak wijen yang menguar dari arah dapur. Dia menutup pintu, melepas sepatu kerjanya, dan meletakkannya di rak kayu dekat pintu masuk. Setelah menyandarkan tas kerjanya di salah satu kursi meja makan, Diara melangkah menuju dapur.

Glagah sedang berdiri membelakanginya, sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan. Tangan kanannya memegang spatula, sementara tangan kirinya mengatur besaran api kompor. Diara menyusupkan kedua lengannya dari belakang, melingkarkannya tepat di perut Glagah, lalu menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki itu.

“Di, cepat ganti baju,” kata Glagah tanpa menoleh. Tangannya tetap bergerak mengaduk isi wajan agar bumbunya tidak gosong.

“Suamiku masak apa hari ini?” Diara mengabaikan perintah itu. Dia justru semakin menempelkan wajahnya di punggung Glagah, meresapi kehangatan yang menjalar dari tubuh suaminya. Glagah melepaskan tangan kirinya dari kenop kompor, lalu menepuk punggung tangan Diara yang melingkar di pinggangnya. “Ganti baju. “ Glagah mengulang instruksinya.

Mendengar nada itu, Diara sengaja menggesekkan pipinya di punggung Glagah karena gemas. “Di,” Glagah mendesah panjang.

Diara akhirnya tertawa pelan. Dia melepaskan pelukannya dari pinggang Glagah, melangkah mundur dua tindak. “Iya, iya, aku ganti baju. Jangan sampai gosong dagingnya.” Diara berbalik dan berjalan masuk ke kamar utama untuk berganti pakaian.

Saat Diara kembali ke ruang tengah lima belas menit kemudian, meja makan sudah tertata rapi. Dua piring berisi nasi hangat sudah disiapkan. Di tengah meja, terdapat mangkuk besar berisi tumis daging sapi dengan irisan paprika hijau dan bawang bombai yang asapnya masih mengepul. Glagah menaruh dua gelas air putih, lalu duduk di kursinya.

Diara langsung mengambil tempat duduk di seberang Glagah. Dia menyiapkan sendok dan garpunya dengan cepat. “Kamu tahu...” Diara baru saja membuka mulut untuk memulai ceritanya tentang kejadian menjengkelkan di kantor Bintang.

Namun, kalimat Diara terpotong seketika. Glagah menyodorkan sendok berisi potongan daging sapi melintasi meja, menyentuhkannya tepat di bibir Diara.

“Makan dulu, setelah itu cerita,” kata Glagah tegas. “Aturan meja makan, tidak ada pembahasan pekerjaan sebelum piring kosong. Nanti asam lambungmu naik lagi kalau makan sambil menahan emosi.”

Diara mendengus pelan, menatap mata Glagah dengan ekspresi pura-pura kesal, tapi dia membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Mereka pun memakan porsi masing-masing dengan cepat, hanya diselingi suara dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca.

Selesai makan, Diara mengambil alih tugas membersihkan sisa makan malam. Dia mengumpulkan piring dan gelas kotor, membawanya ke bak cuci piring, dan mulai mencucinya. Sementara itu, Glagah membersihkan meja makan, lalu berjalan ke area pantri kecil untuk menyeduh dua cangkir kopi hitam tanpa gula dan menyiapkan setoples kecil biskuit gandum. Glagah membawa nampan berisi kopi dan camilan itu ke ruang tengah, meletakkannya di atas meja kopi.

Glagah duduk di ujung sofa, melipat satu kakinya dengan santai. Dia menunggu Diara yang baru saja selesai mengelap piring terakhir dan meletakkannya di rak pengering. Diara mengeringkan tangannya dengan lap bersih, lalu berjalan menyusul Glagah ke ruang tengah.

“Jadi, apa kelakuan Mas Bintang hari ini?” tanya Glagah.

Diara menjatuhkan dirinya di sofa, duduk merapat di sebelah Glagah, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu suaminya itu. Dia meraih cangkir kopinya, meniup permukaannya sebentar, lalu menyesapnya sedikit sebelum meletakkannya kembali.

“Hari ini aku menyuruhnya menahan diri,” kata Diara.

Glagah menoleh, menatap puncak kepala Diara dengan ekspresi tidak percaya. “Mas Bintang diam?”

“Aku menemukan beberapa transaksi mencurigakan di laporan pengeluaran operasional bulan ini,” jelas Diara. “Ada vendor alat tulis dan pemeliharaan yang menagih kita lima belas juta setiap minggu, tapi saat aku cek ke gudang basemen, barangnya tidak pernah ada. Fakturnya fiktif. Uangnya terus mengalir keluar selama beberapa bulan terakhir.”

Glagah diam mendengarkan. “Lima belas juta setiap minggu. Angka itu pasti sengaja dibuat di bawah batas maksimal kewenangan pencairan divisi. Siapa yang tanda tangan berkasnya?”

“Kepala Bagian Pengadaan, Pak Hendra,” jawab Diara. “Mas Bintang tadinya mau langsung menelepon bagian keuangan untuk membekukan rekening vendor itu dan memanggil Pak Hendra ke ruangannya. Kalau dia melakukan itu, pelakunya pasti langsung menghapus semua jejak digital di server kantor sebelum kita bisa melacak aliran dana sebenarnya.”

“Langkahmu menahan Mas Bintang sudah sangat tepat,” kata Glagah menyetujui. “Kalau manajemen atas panik duluan, tikusnya akan langsung lari ke gorong-gorong. Terus, bagaimana kamu menghentikan Mas Bintang agar tidak meledak di tempat?”

“Aku langsung menyuruhnya pergi rapat dengan divisi pemasaran agar dia diam dan sibuk.” Diara terkikik mengingat wajah tidak terima Bintang tadi siang saat dia mengusir atasannya sendiri dari ruangannya demi menghadiri rapat rutin. “Dia menuruti instruksiku, tapi wajahnya sangat jengkel sepanjang sore. Kami sepakat membiarkan transaksi minggu ini lewat dulu sambil diam-diam menyalin data server.”

Glagah tersenyum. “Pintar juga pelaku ini main di bawah radar. Memakai pengeluaran operasional kecil yang sering luput dari pengawasan auditor internal. Nama vendornya apa?”

Belum sempat Diara menjawab pertanyaan itu, ponsel Glagah yang tergeletak di meja berbunyi. Nada deringnya bukan nada panggilan biasa atau pesan singkat standar. Itu adalah notifikasi khusus. Sebuah email masuk ponsel terenkripsi milik Pranajiwo.

Mendengar nada itu, Glagah langsung menegakkan punggungnya. Perubahan postur tubuhnya yang tiba-tiba membuat Diara mau tidak mau ikut menegakkan tubuhnya, menjauhkan kepalanya dari bahu Glagah.

“Maaf,” kata Glagah cepat setelah sadar gerakannya yang mendadak membuat istrinya tidak nyaman.

“Tidak apa-apa.” Diara mengusap punggung Glagah dengan lembut. Dia tahu betul beban pekerjaan yang dibawa oleh jalur komunikasi khusus tersebut. Pranajiwo tidak pernah menerima pesan untuk urusan sepele.

Glagah mengambil ponselnya, membuka aplikasi yang diamankan dengan beberapa lapis kata sandi, dan membaca isi email tersebut. Matanya menyapu baris demi baris teks dengan cepat. Email itu berisi permintaan audit investigasi tertutup. Kliennya adalah seorang dewan direksi dari sebuah perusahaan holding besar yang berbasis di Surabaya. Mereka mencurigai adanya kebocoran dana dari anak perusahaannya melalui pembayaran ke pihak ketiga yang proses tendernya tidak pernah tercatat di pusat.

Glagah membaca bagian lampiran yang berisi ringkasan kecurigaan klien. Matanya terpaku pada satu baris kalimat. “Mereka meminta kita mengaudit sebuah perusahaan pengadaan barang yang terdaftar di Jakarta. Perusahaan ini dicurigai sebagai entitas cangkang yang digunakan untuk menyedot kas anak perusahaan mereka.”

“Siapa nama perusahaan yang menjadi auditi itu?” tanya Diara, ikut memperhatikan wajah Glagah yang tiba-tiba terlihat sangat serius.

Glagah menatap layar ponselnya, membaca nama entitas yang tertera dengan jelas di sana. “PT. Bina Karya Sejahtera.”

Mendengar nama itu, Diara menoleh dengan cepat. Matanya membulat. “Itu nama perusahaan yang baru saja aku ceritakan. Itu perusahaan yang melakukan transaksi janggal di kantor Mas Bintang.”

Glagah menatap Diara dalam diam selama beberapa detik. Otaknya memproses informasi yang baru saja saling bertabrakan ini. Sebuah perusahaan di Surabaya meminta Pranajiwo mengaudit PT. Bina Karya Sejahtera, dan di hari yang sama, Diara menemukan perusahaan yang sama persis sedang menguras kas di perusahaan milik Sriwedari secara diam-diam. Ini bukan lagi kebetulan. Ini adalah jaringan kejahatan kerah putih yang sistematis dan menyasar banyak perusahaan sekaligus.

Tanpa banyak bicara, Glagah langsung menekan tombol panggilan cepat di ponselnya, menghubungi Laut.

Panggilan itu tersambung hanya dalam hitungan detik. “Mas, ada permintaan audit baru yang masuk lewat email klien,” lapor Glagah tanpa berbasa-basi. “Kliennya dari Surabaya. Meminta kita melakukan audit investigasi untuk sebuah vendor pengadaan bernama PT. Bina Karya Sejahtera. Lampiran ringkasannya sudah aku teruskan ke folder berbagimu.”

“Bina Karya Sejahtera?” Laut mengulang nama itu.

“Iya, Mas. Mas Laut pernah dengar nama perusahaan ini sebelumnya?” tanya Glagah, menangkap nada tidak wajar dari respons sepupunya itu. Glagah menoleh ke arah Diara, memberikan isyarat lewat tatapan mata bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di pihak Laut.

Terdengar suara helaan napas pendek dari seberang sana. “Ada indikasi fraud dari vendor yang sama di Karya. Amira melaporkannya siang tadi. Polanya tagihan operasional fiktif.”

Glagah menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga, lalu mengulang kalimat Laut itu dengan bisikan pelan kepada Diara. “Ada indikasi fraud di perusahaannya Laut. Pakai vendor yang sama.”

Mendengar itu, Diara tidak bisa lagi menahan diri. Dia memajukan tubuhnya mendekati ponsel Glagah agar suaranya bisa tertangkap oleh mikrofon. “Mas Laut, ada indikasi yang sama persis juga di Hardjo.”

Keheningan menyelimuti jalur telepon itu selama beberapa saat. Informasi itu terlalu masif. Satu vendor cangkang secara bersamaan menyerang perusahaan konstruksi milik Karya, perusahaan induk milik Hardjo, dan sekarang diketahui juga menyedot dana dari sebuah holding di Surabaya. Skema penggelapan dana ini dilakukan oleh kelompok yang memiliki sumber daya besar dan memahami struktur birokrasi korporat dengan sangat detail.

“Kita harus segera bertemu. Malam ini juga. Di unit. Aku akan menghubungi Bintang agar dia langsung menuju ke sana. Bawa semua data yang kalian punya.” Telepon ditutup sepihak dari arah Laut.

Glagah menurunkan ponselnya, lalu menatap Diara. Rencana malam santai mereka baru saja dibatalkan oleh satu baris nama perusahaan. “Kamu mau ikut?” Glagah menoleh, menatap istrinya. Dia tahu ini sudah masuk jam istirahat Diara, tapi dia juga tahu keterlibatan data dari kantor Bintang membuat Diara menjadi bagian penting dari penemuan ini.

“Dan melewatkan Mas Bintang yang meledak setelah tahu perusahaannya dibobol oleh jaringan penipu yang sama dengan perusahaannya Mas Laut?” Diara menjawab tanpa ragu, langsung berdiri dari sofa. “Tentu saja tidak.”

Diara berjalan cepat menuju kamar utama, membuka lemari, dan mengganti baju rumahnya dengan baju kasual. Glagah mengikutinya masuk ke dalam kamar, dan mengganti kaus santainya dengan kemeja katun berlengan panjang.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk