Frasa menekan tombol enter dengan keras. Layar lengkung di depannya langsung memunculkan deretan algoritma yang bergerak vertikal. Tangannya dengan cepat berpindah ke keyboard mekanik, menyusun parameter baru untuk mengamankan jaringan internal. Matanya menatap baris kode yang terus berjalan, memastikan tidak ada celah dari luar yang bisa menyadap peladen mereka malam ini. Suara dengung rendah dari mesin pendingin di sudut ruangan menjadi satu-satunya latar suara.
Di seberang mejanya, Anton melakukan rutinitas yang sama. Empat layar monitor menyala sekaligus di depan laki-laki itu. Satu layar menampilkan peta jaringan aktif, layar kedua membuka akses peladen utama, sementara dua layar lainnya disiapkan untuk proyeksi data sebelum orang-orang datang. Jari-jari Anton bergerak cepat, menavigasi tumpukan folder yang baru saja dia tarik dari arsip cloud.
“Enkripsi jalur komunikasi sudah siap?” tanya Anton. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari monitor paling kiri.
“Sudah. Aku menambahkan dua lapis protokol keamanan tambahan,” jawab Frasa cepat. Tangannya terus bergerak menyelaraskan parameter terakhir. “Kalau ada yang mencoba melacak IP kita sekarang, mereka hanya akan berputar-putar di server palsu di Singapura.”
Pintu utama apartemen terbuka. Suara beep dari panel akses keamanan berbunyi singkat.
Bintang masuk membawa beberapa kantong plastik besar berisi kotak makanan. Kemejanya sedikit kusut, bagian lengannya digulung hingga siku, dan dasinya sudah dilonggarkan. “Belum ada yang datang?” Bintang meletakkan kantong-kantong plastik itu di atas meja kaca di tengah ruangan. Suaranya terdengar lelah.
Anton menghentikan ketikannya sebentar. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan monitor dan berbisik ke arah Frasa. Jarak mereka memang terhalang punggung monitor, tapi ruangan itu cukup hening sehingga bisikan Anton terdengar jelas. “Aku curiga Mas Bintang bahkan belum sampai rumah.”
Frasa membalas bisikan Anton sambil melirik Bintang yang kini sedang berkacak pinggang di tengah ruangan. “Jangan diungkit, nanti kita tidak jadi dapat makanan.”
Bintang mendengus. Dia menunjuk Anton dan Frasa bergantian dengan jari telunjuknya. “Kalian mau aku cabut kabel server-nya sekarang?”
Mendengar ancaman itu, Anton dan Frasa seketika mengangkat kedua tangan mereka, menyerah. Bintang menggeleng pelan, lalu menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Dia melonggarkan dasinya lebih jauh, bersandar dengan mata setengah terpejam.
Pintu apartemen kembali terbuka. Laut masuk dengan langkah tenang. Jas hitamnya masih terpasang rapi di tubuhnya, badannya tegak, berbanding terbalik dengan Bintang yang sudah terlihat kehabisan tenaga. Mata Laut langsung menangkap pemandangan di depannya: Anton dan Frasa yang baru saja menurunkan tangan, kantong makanan yang menumpuk di meja kaca, dan Bintang yang bersandar di sofa dengan pakaian kerja yang berantakan.
“Kamu belum pulang?” Laut berjalan santai, menduduki sofa di sebelah Bintang, lalu langsung membuka ponselnya.
Bintang membuka matanya sebentar, menatap Laut. “Setengah jalan saat kamu menelepon.”
“Kita tunggu Glagah, baru diskusi,” kata Laut. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, jari jempolnya terus menggulir kotak masuk emailnya.
Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Glagah dan Diara masuk. Diara tidak membuang waktu. Matanya langsung tertuju pada kantong-kantong plastik di atas meja kaca. Dia mengambil kantong-kantong itu, membawanya ke area pantri, mengeluarkan piring-piring keramik dari kabinet, dan mulai menata makanannya.
Glagah menarik kursi, duduk berhadapan dengan Bintang dan Laut. “File sudah aku kirim ke folder. Kalian sudah membacanya kan?” Glagah menoleh ke arah meja IT.
Anton mengacungkan jempolnya. Jari-jarinya menekan kombinasi tombol. Sedetik kemudian, layar TV 80 inci di dinding depan mereka menyala terang, memproyeksikan seluruh data yang ada.
Layar raksasa itu terbagi menjadi tiga panel utama. Panel pertama menampilkan rekapitulasi data tagihan yang ditemukan Diara di kantor Hardji. Panel kedua menampilkan laporan keuangan dari divisi logistik Karya. Panel ketiga menampilkan lampiran email permintaan audit dari klien holding di Surabaya.
Ketiga panel tersebut memiliki satu benang merah yang sengaja disorot Anton dengan warna kuning terang: PT. Bina Karya Sejahtera.
“Tampilkan struktur rekening mereka,” perintah Laut. Suaranya mengisi ruangan, mengambil alih kendali.
Layar berubah. Panel-panel dokumen itu menyusut, digantikan oleh sebuah grafik alur dana yang saling silang.
“Ini hasil pelacakan awal,” lapor Anton. Dia tidak berbalik, matanya tetap menatap monitornya sendiri. “Bina Karya Sejahtera memecah aliran dana operasional dari Hardjo, Karya, dan holding di Surabaya ke puluhan rekening bodong. Begitu uang masuk ke rekening utama mereka, sistem langsung memecahnya menjadi nominal-nominal kecil di bawah batas pantauan bank.”
Bintang menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada dengan raut wajah luar biasa jengkel. “Mereka masuk ke perusahaanku, menyedot dana operasional setiap minggu tanpa memicu satu pun alarm dari tim audit internal. Kalau Diara tidak jeli melihat pola tagihan alat tulis itu siang tadi, orang-orang ini masih akan terus menagih uang buta dari brankas Hardjo sampai tahun depan.” Bintang mendengus kasar. “Aku mau tahu siapa benalu di perusahaanku yang berani memberikan tanda tangan persetujuan itu.”
Glagah menatap layar raksasa itu. “Klien di Surabaya menawarkan nilai kontrak yang besar kalau kita bersedia mengambil kasus ini dan menemukan siapa dalang di baliknya,” kata Glagah. Dia berdiri, berjalan mendekati layar. “Polanya identik. Seseorang mengendalikan vendor cangkang ini dari luar dan merekrut orang dalam di tiga perusahaan berbeda secara bersamaan. Mengingat perusahaan Mas Bintang dan perusahaan Mas Laut ikut menjadi target, kita tidak punya alasan untuk menolak.”
Laut menatap layar itu dalam diam. Otaknya mengevaluasi seluruh variabel, membedah risiko, alur kerja, dan keuntungan strategis. Ini bukan sekadar pembersihan internal perusahaan, ini audit investigatif yang membutuhkan intervensi penuh. Laut menoleh ke arah Glagah, memberikan satu anggukan tegas.
“Kita ambil kasusnya,” putus Laut.
Dia lalu beralih menatap dua ahli IT di seberang meja. “Anton, Frasa. Retas masuk ke dalam server klien kita di Surabaya. Jangan tunggu mereka memberikan akses data yang sudah mereka saring secara resmi. Ambil seluruh data mentah transaksi mereka selama satu tahun terakhir.”
“Meretas klien sendiri?” Anton memastikan. Tangannya sudah bersiap di atas keyboard.
“Kita tidak bisa mengandalkan data dari perusahaan yang sedang diincar dari dalam,” tegas Laut. “Jika ada manajer level menengah yang terlibat di sana, data yang diserahkan ke kita pasti sudah dimanipulasi.”
“Dimengerti.” Frasa menjawab singkat. Dia langsung menekan keyboard-nya, memasukkan parameter baru untuk mulai mencari celah keamanan di server perusahaan Surabaya tersebut. Layarnya kini dipenuhi oleh jendela terminal hitam dengan teks hijau yang bergerak cepat.
Diara berjalan dari arah pantri membawa nampan berisi beberapa piring makanan dan gelas minuman. Dia meletakkannya di tengah meja kaca. Bintang langsung mengambil satu piring, sementara Laut dan Glagah mengabaikan makanan itu dan terus merancang strategi.
“Faktur yang mereka masukkan ke kantorku sangat rapi,” kata Diara. Dia berdiri di belakang kursi Glagah, ikut menatap layar. “Nomor surat jalan, stempel, semuanya dibuat persis dengan vendor asli. Orang yang membuat dokumen ini tahu persis jadwal pencairan dana operasional kita. Mereka menagih setiap hari Kamis karena Jumat adalah hari validasi sistem keuangan di divisi logistik Hardjo. Aku sudah cek langsung ke gudang basemen siang tadi, tidak ada satu lembar pun kertas atau satu botol pun tinta dari vendor itu yang benar-benar masuk ke gedung kita.”
Glagah mengangguk menyetujui analisis Diara. “Mereka membaca kelemahan birokrasi operasional. Di Karya, mereka menarik dana otomatis setiap hari Selasa. Pelakunya sangat menguasai ritme cashflow masing-masing perusahaan target. Seseorang memberikan mereka buku panduan cara merampok kita dari dalam.”
Layar 80 inci berkedip. Jaringan grafis aliran dana itu kini bertambah panjang, menghubungkan titik-titik rekening ke sebuah alamat pusat.
“Alamat registrasi PT. Bina Karya Sejahtera terdeteksi,” lapor Anton. “Terdaftar di sebuah ruko pinggiran Jakarta Timur. Statusnya disewa sejak delapan bulan lalu atas nama Gunawan Sutanto.”
“Cari profilnya,” perintah Laut.
Data kependudukan muncul di sudut layar. Pasfoto pria paruh baya dengan latar merah.
“Gunawan Sutanto, enam puluh dua tahun. Pekerjaan terakhir buruh bangunan. Meninggal dunia empat bulan lalu karena serangan jantung,” baca Frasa langsung dari basis data yang diretasnya.
Bintang yang sedang mengunyah makanannya berhenti sejenak. Dia menelan makanannya, lalu meletakkan sendoknya. “Mereka menggunakan KTP orang mati sebagai direktur perusahaan. Sindikat terstruktur.”
“Mereka menggunakan metode smurfing untuk memecah dana, memakai identitas orang mati untuk entitas cangkang, dan menyuap orang dalam untuk memanipulasi invoice,” Glagah merangkum situasinya. “Target kita bukan cuma orang yang menyetujui dokumen di perusahaan kalian. Target utama kita adalah siapa pun yang menyewa ruko itu delapan bulan lalu.”
Laut berdiri dari sofanya. Dia berjalan mendekati meja pantri, mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya.
“Kita bagi tugas,” kata Laut, memberikan instruksi operasional kepada Glagah. “Kamu fokus melacak jejak kertasnya. Periksa siapa saja staf internal di Hardjo, Karya, dan holding Surabaya yang memiliki akses otorisasi untuk tagihan di bawah dua puluh lima juta. Kita cari irisan dari ketiga perusahaan ini. Apakah ada vendor IT yang sama, mantan karyawan yang berpindah, atau perusahaan afiliasi yang mengelola sistem mereka.”
“Aku akan turun langsung memeriksa alur birokrasinya besok,” balas Glagah menerima bagian tugasnya. “Anton, siapkan log login dari ketiga server perusahaan itu. Aku butuh data siapa yang mengakses folder invoice Bina Karya di jam-jam sebelum tagihan itu dicetak.”
“Sedang ditarik, Mas. Firewall di Surabaya agak tebal, butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk menyedot semuanya tanpa memicu alarm mereka,” lapor Frasa, tangannya tidak berhenti mengetik.
Bintang kembali melanjutkan makannya. Perusahaannya sedang diserang, dan dia tidak akan membiarkan pelakunya lolos. Sisanya berada di pundak Glagah sebagai ujung tombak audit, Laut sebagai pengambil keputusan strategis, serta Anton dan Frasa sebagai mata dan telinga digital mereka.
Layar raksasa di depan mereka terus bergerak memperbarui data secara waktu nyata. Titik-titik merah baru bermunculan, menghubungkan lebih banyak rekening bodong yang tersebar di berbagai bank lokal. Ruangan itu hanya diisi oleh suara klik mouse dan ketukan keyboard mekanik yang bekerja dengan kecepatan tinggi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!