Bab 4

1 dibaca

A

Glagah melangkah keluar dari pintu lift lantai tiga Gedung Hardjo. Tangan kanannya membawa sebuah  karton berisi dua gelas kopi. Dia berjalan menyusuri lorong berkarpet abu-abu dengan santai. Karyawan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat, dan Glagah membalasnya dengan senyum tipis. Sebagai pengacara perusahaan, wajahnya cukup dikenal di gedung ini, meskipun dia jarang sekali turun ke divisi pengadaan.

Ruangan Kepala Bagian Pengadaan berada di ujung lorong. Pintu kacanya setengah terbuka. Glagah mengetuk bingkai pintu kayu tersebut dua kali sebelum masuk.

Hendra mendongak dari balik layar komputernya. Kacamata bacanya melorot sedikit di pangkal hidung. Pria paruh baya itu mengerutkan dahi, tampak kebingungan melihat kehadiran pengacara perusahaan di ruangannya pagi-pagi. Meja kerja Hendra dipenuhi tumpukan map bersampul kuning dan merah. Suara mesin pencetak di sudut ruangan terus mendengung, mengeluarkan lembar demi lembar kertas faktur.

“Pak Glagah? Ada keperluan apa turun ke bagian pengadaan?” Hendra bertanya. Nadanya menyiratkan kehati-hatian. Dia membenarkan letak kacamatanya dan menyingkirkan beberapa tumpukan kertas agar mejanya terlihat lebih rapi.

Glagah tersenyum. Dia meletakkan nampan karton itu di atas area meja yang kosong, lalu menyodorkan satu gelas kopi ke hadapan Hendra. “Hanya ingin menyapa, Pak. Saya kebetulan sedang meninjau beberapa dokumen kepatuhan hukum di lantai ini. Saya dengar bagian pengadaan sedang sibuk-sibuknya menjelang akhir bulan. Saya bawakan kopi hitam, pesanan khusus tanpa gula.”

Hendra menatap gelas kopi itu, lalu kembali menatap Glagah. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Dia mengambil gelas tersebut dan menghirup aromanya. “Terima kasih, Pak Glagah. Anda sangat mengerti kebutuhan orang tua yang kurang tidur. Silakan duduk.”

Glagah menarik kursi tamu di depan meja Hendra dan duduk. Dia sengaja tidak membawa dokumen apapun di tangannya. Ini adalah pendekatannya untuk menggali informasi tanpa membuat lawan bicaranya merasa sedang diinterogasi.

“Pekerjaan memang tidak pernah ada habisnya, Pak,” kata Glagah santai. Dia meraih gelas kopinya sendiri. “Saya perhatikan tumpukan faktur di meja Bapak makin tinggi setiap minggunya. Apa tidak lelah memeriksa semua tagihan ini satu per satu?”

Hendra menghela napas panjang. Dia menyesap kopinya pelan. “Sangat melelahkan. Dulu, waktu sistem kita masih manual, saya bisa memilah tagihan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Saya membaca setiap nama vendor dengan teliti. Tapi sekarang, semuanya serba otomatis. Saya hanya tinggal menekan tombol persetujuan.”

Glagah menangkap celah itu dengan cepat, tetapi wajahnya tetap menunjukkan simpati yang wajar. “Otomatis? Bukankah sistem digital seharusnya membuat pekerjaan Bapak jauh lebih ringan?”

“Seharusnya begitu,” jawab Hendra. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Enam bulan yang lalu, sistem manajemen faktur kita dirombak total. Katanya untuk efisiensi. Sekarang, semua tagihan di bawah batas dua puluh lima juta rupiah digabungkan ke dalam satu antrean digital. Sistem mengelompokkannya secara massal. Saya hanya perlu meninjau halaman depan, lalu memberikan satu tanda tangan digital untuk menyetujui puluhan dokumen sekaligus. Kalau saya harus membuka lampirannya satu per satu, saya tidak akan pernah pulang ke rumah.”

Glagah mengangguk paham. “Saya mengerti, Pak. Birokrasi memang kadang diciptakan untuk terlihat efisien di atas kertas, tapi praktiknya menyulitkan di lapangan. Perombakan sistem enam bulan lalu itu dikerjakan oleh tim teknologi informasi internal kita?”

Hendra menggelengkan kepalanya. “Bukan. Itu yang membuat saya sempat protes ke bagian personalia. Sistem ini dipasang oleh orang luar. Seorang konsultan lepas.”

Glagah menjaga agar matanya tidak melebar. “Konsultan lepas? Bapak ingat siapa namanya atau dari vendor mana dia berasal?”

“Saya tidak terlalu ingat nama panjangnya. Dia memperkenalkan diri secara singkat. Surat tugasnya resmi dari manajemen atas, jadi saya biarkan saja dia bekerja. Dia pria muda, bekerja sangat cepat, dan jarang bicara. Sejak dia mengubah rute masuk dokumen pengadaan, faktur-faktur operasional kecil ini langsung menumpuk di kotak masuk saya setiap hari Kamis,” jelas Hendra.

Glagah merekam setiap kata tersebut di dalam kepalanya. Dia mengangkat gelas kopinya dan menghabiskannya dalam satu tegukan panjang. Glagah kemudian berdiri.

“Informasi yang sangat berharga, Pak Hendra. Saya akan menyampaikan keluhan Bapak terkait sistem ini kepada Mas Bintang. Perusahaan tidak seharusnya membebani karyawan senior seperti Bapak dengan antrean dokumen yang merepotkan,” kata Glagah.

Hendra tersenyum lega. “Terima kasih banyak, Pak Glagah.”

“Sama-sama, Pak. Selamat bekerja kembali.” Glagah membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum  Glagah hilang berganti dengan raut wajah serius. Dia baru saja menemukan benang pertama dari jaringan ini. Seorang konsultan lepas yang memiliki akses langsung ke dalam server Hardjo.

Di lantai atas, suasana di dalam ruangan direktur utama sangat jauh dari kata tenang. Bintang mondar-mandir di depan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan jalanan Jakarta. Kemejanya terlihat kusut. Dia berbalik dengan cepat, menatap Diara yang sedang duduk diam di kursi seberang mejanya.

“Aku akan memanggil Hendra ke ruangan ini sekarang juga,” kata Bintang. Suaranya sarat akan emosi yang tertahan.

Diara tidak mengangkat wajahnya dari layar tablet di pangkuannya. Dia terus membaca laporan log transaksi harian. “Duduk, Mas. Pusing aku lihatnya.”

“Mereka merampok perusahaanku dari dalam, Diara. Mereka menyentuh klien kita di Surabaya juga,” Bintang melangkah mendekati meja kerjanya. “Aku tidak akan membiarkan orang yang memberikan tanda tangan persetujuan itu duduk tenang di kursinya sambil minum kopi.”

“Uang kita tidak akan kembali hanya karena Mas Bintang berteriak di depan wajah Pak Hendra,” kata Diara. Dia menekan tombol kunci pada tabletnya, lalu meletakkannya di atas meja. Diara menatap Bintang lurus. “Pak Hendra kemungkinan besar bahkan tidak tahu kalau dia sedang menyetujui faktur fiktif. Dia dijebak oleh sistem.”

“Aku pemilik perusahaan ini. Aku berhak memecat siapa pun yang merugikan keuanganku,” bantah Bintang.

“Tentu saja,” jawab Diara datar. “Pecat saja. Dan setelah Mas Bintang memecatnya hari ini, dalang utamanya akan tahu kalau kita sedang bergerak. Mereka akan menghancurkan semua jejak kertas, menutup rekening penampung, dan kabur. Mas Bintang akan kehilangan kesempatan untuk menangkap otak dari penipuan ini. Silakan.”

Bintang meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Diara. “Kenapa aku harus menahan diri melihat uangku dicuri setiap minggu?”

“Karena Mas Bintang menyewa auditor investigasi dan pengacara bukan untuk menakut-nakuti ikan kecil. Mas Bintang membayar Pranajiwo untuk menangkap hiunya. Jadi, kembali duduk di kursi itu, minum kopinya, dan biarkan Glagah bekerja,” balas Diara tanpa berkedip.

Bintang menatap Diara selama beberapa detik. Dia mendengus pelan, lalu menarik kursinya dan menjatuhkan tubuhnya ke sana. Dia memutar kursinya ke kiri dan ke kanan. “Kamu tahu, aku bisa saja memecatmu karena berani menyuruh atasanmu duduk.”

“Silakan, Mas. Tapi setelah itu Mas Bintang harus menyusun jadwal rapat sendiri, menyeduh kopi sendiri, dan menghadapi omelan Mas Laut karena mengacaukan audit ini,” jawab Diara tenang.

Bintang tidak menjawab. Dia mengambil sebuah pulpen dari atas meja dan memutar-mutarnya di sela jari. Diara benar. Tindakan impulsif hanya akan merusak seluruh skema penyelidikan yang sudah disusun semalam bersama Laut. Dia harus menunggu hasil kerja Glagah di lantai bawah.

Pintu ruangan terbuka. Glagah masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dia berjalan cepat mendekati meja Bintang.

“Mas Bintang, tahan emosimu,” kata Glagah sebelum Bintang sempat membuka mulut. “Pak Hendra bukan bagian dari sindikat ini. Dia hanya operator yang dieksploitasi oleh sistem.”

“Bagaimana kamu bisa yakin?” tanya Bintang. Dia meletakkan pulpennya.

Glagah mengambil tempat duduk di sebelah Diara. Dia membuka ritsleting tas kerjanya, mengeluarkan laptop, dan menyalakannya. “Enam bulan yang lalu, sistem manajemen faktur divisi pengadaan diperbarui. Jalur persetujuannya diubah sehingga tagihan di bawah batas tertentu digabungkan ke dalam satu persetujuan massal. Pak Hendra hanya menyetujui antrean itu tanpa bisa memeriksa rinciannya satu per satu.”

“Siapa yang mengubah sistemnya?” Diara bertanya. Dia mengambil kembali tabletnya untuk bersiap mencatat.

“Seorang konsultan teknologi informasi lepas,” jawab Glagah. Jari-jarinya menari di atas papan ketik laptop. Dia sedang membuka aplikasi komunikasi terenkripsi untuk menghubungi Anton yang berada di apartemen. “Orang ini datang ke Hardjo selama dua minggu dengan surat tugas resmi, mengubah rute dokumen, lalu pergi.”

Bintang mengerutkan dahi. “Aku tidak pernah menandatangani surat persetujuan untuk menyewa konsultan lepas dari luar. Divisi teknologi kita punya staf internal yang memadai.”

“Itu yang sedang aku cari tahu sekarang,” kata Glagah. Dia mengetikkan pesan cepat kepada Anton, meminta data log masuk dari server Karya dan klien holding di Surabaya pada periode enam bulan yang lalu.

Glagah menunggu balasan Anton. Ruangan itu hening. Bintang menatap layar laptop Glagah dari seberang meja. Diara mencatat tanggal perombakan sistem tersebut ke dalam catatannya.

Bunyi notifikasi terdengar dari laptop Glagah. Pesan dari Anton masuk bersama sebuah dokumen lampiran. Glagah membuka dokumen tersebut. Matanya menelusuri baris data yang dikirimkan oleh Anton.

“Dapat,” kata Glagah. Dia memutar layar laptopnya agar bisa dilihat oleh Bintang dan Diara.

Di layar tersebut, terdapat dua tabel log akses peladen. Tabel pertama berasal dari perusahaan Karya, tabel kedua berasal dari klien Surabaya.

“Anton menemukan jejak masuk dari identitas eksternal yang sama di peladen Karya lima bulan yang lalu. Rentang waktunya hanya berselang satu bulan setelah orang itu mengutak-atik server Hardjo,” jelas Glagah. Dia menunjuk baris data yang disorot warna kuning. “Dan pola yang sama juga terjadi di server holding Surabaya empat bulan yang lalu. Seorang konsultan lepas diberikan akses masuk penuh untuk merombak sistem penagihan mereka.”

Bintang menatap data tersebut. Kemarahannya yang tadi meluap kini berubah menjadi fokus yang tajam. “Satu orang yang sama masuk ke tiga perusahaan berbeda, merusak sistem birokrasi dari dalam, dan menciptakan pintu belakang agar faktur fiktif dari PT. Bina Karya Sejahtera bisa masuk.”

“Benar,” kata Glagah. Dia menarik kembali laptopnya. “Ini bukan serangan acak. Konsultan ini adalah benang merah kita.”

“Bagaimana konsultan lepas ini bisa masuk ke tiga perusahaan yang tidak saling berhubungan dengan surat tugas yang sah?” Diara mengajukan pertanyaan logis. “Orang ini tidak menerobos masuk lewat peretasan. Dia diundang secara resmi masuk ke dalam gedung.”

Glagah mengangguk. “Itu bagian dari tugas pelacakanku selanjutnya. Ada seseorang di tingkat manajemen atas yang merekomendasikan orang ini kepada bagian pengadaan di Hardjo, Karya, dan Surabaya. Seseorang yang punya pengaruh cukup kuat sehingga tidak ada staf bawahan yang berani mempertanyakan surat tugasnya.”

“Cari tahu siapa orang itu, Glagah,” perintah Bintang. “Aku ingin nama konsultan itu dan aku ingin tahu siapa yang membawanya masuk ke perusahaanku.”

“Aku akan menyelidikinya melalui jejak korespondensi email internal enam bulan yang lalu,” jawab Glagah. Dia menutup laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. “Sementara itu, Mas Bintang harus tetap bertindak seolah tidak ada masalah apapun. Biarkan faktur minggu ini cair seperti biasa.”

Bintang menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menarik napas panjang. “Kau akan membuatku mati karena diam saja.”

Diara langsung memelototinya, “Mas Bintang punya banyak pekerjaan. Sepuluh menit lagi rapat dengan HRd terkait skema baru recruitment.” Bintang mendengus kesal.

Glagah berdiri dari kursinya. Dia mengangguk ke arah Diara, lalu berjalan keluar dari ruangan Bintang. Langkahnya kini jauh lebih pasti. Jejak kertas yang dia cari sudah mulai menunjukkan wujudnya. Sindikat ini cerdik dalam menyembunyikan uang, tetapi mereka meremehkan fakta bahwa setiap perubahan pada sistem administrasi selalu meninggalkan tanda tangan sejarah.

Penyelidikan ini baru saja berpindah dari sekadar pencarian rekening bodong menjadi perburuan terhadap sosok yang membuka pintu dari dalam. Glagah akan memastikan orang tersebut tidak punya tempat untuk bersembunyi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk