Renata Maharani tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama.
Baginya, istilah itu hanya cara malas manusia menjelaskan ketertarikan fisik yang datang terlalu cepat. Orang melihat wajah bagus, postur rapi, suara rendah, atau cara seseorang menggulung lengan kemeja, lalu buru-buru menyebutnya takdir agar terdengar lebih puitis daripada sekadar, oh, dia menarik juga.
Renata tidak sepolos itu. Ia tiga puluh dua tahun hidup dengan kepala yang terlalu sibuk bekerja bahkan ketika orang lain mengajaknya bicara soal perasaan. Ia besar di rumah yang mengajarkan bahwa keputusan harus punya dasar, pilihan harus punya alasan, dan kalau hati ingin ikut campur, hati harus membawa proposal yang masuk akal.
Ibunya mantan manajer perbankan; perempuan dengan cara duduk yang bisa membuat pegawai baru merasa salah mengetik bahkan sebelum membuka laptop. Ayahnya pengusaha yang cukup mapan untuk membuat orang-orang di meja makan keluarga besar menurunkan suara ketika bicara soal uang.
Renata mewarisi keduanya dengan cara yang merepotkan. Dari ibunya, ia mendapat kemampuan menatap orang sampai orang itu mengaku salah meski belum tentu bersalah. Dari ayahnya, ia mendapat kebiasaan menghitung peluang di tengah percakapan santai. Dari dirinya sendiri, ia mendapat satu kelemahan yang belum sempat dikoreksi siapapun: rasa penasaran yang kalau sudah tumbuh, sulit dihentikan dengan logika standar manusia biasa.
Dan pagi itu, rasa penasaran tersebut datang dalam bentuk seorang staf finance baru yang duduk di ujung meja rapat dengan kemeja biru pucat, jam tangan sederhana, dan wajah yang terlalu tampan untuk seseorang yang tidak berusaha menarik perhatian.
Namanya Satria Mahendra.
Renata membaca nama itu dari daftar peserta rapat lima menit sebelum rapat dimulai. Staf Finance. Baru masuk dua minggu. Diundang karena tim finance butuh orang tambahan untuk validasi angka proyek kuartal tiga. Tidak ada catatan istimewa. Tidak ada jabatan yang membuat kursinya perlu diperhatikan. Tidak ada alasan bagi Renata untuk mengarahkan pandangan lebih dari dua detik ke arahnya.
Tapi Satria duduk di sana dengan tenang yang aneh.
Bukan tenang palsu seperti anak baru yang ingin tampak siap. Bukan juga tenang sok percaya diri seperti pria-pria kantor yang baru berhasil membeli parfum mahal lalu menganggap dunia harus tahu. Satria hanya duduk, membuka laptop, mengecek dokumen, lalu menulis sesuatu di buku kecil bersampul hitam yang pinggirannya sudah sedikit aus.
Di tengah meja rapat, orang-orang mulai menyusun kegelisahan masing-masing. Divisi marketing membawa slide yang terlalu banyak warna. Divisi operasional membawa wajah yang sudah lelah sebelum diserang pertanyaan. Legal membawa dua map tebal dan satu ekspresi yang tidak menjanjikan keselamatan. Finance biasanya membawa angka, tetapi pagi ini mereka membawa Satria.
Renata datang terakhir, bukan karena terlambat, melainkan karena ia tahu orang yang masuk terakhir lebih mudah membaca ruangan. “Pagi.” Semua kepala menoleh. Ada yang langsung membetulkan duduk. Ada yang menutup ponsel. Ada yang pura-pura sudah fokus sejak tadi.
Satria hanya mengangkat wajah sebentar, memberi anggukan kecil, lalu kembali melihat layar laptopnya. Renata berhenti setengah detik lebih lama daripada biasanya. Bukan karena tersinggung. Justru karena tidak.
Orang-orang biasanya punya reaksi saat melihatnya. Sedikit gugup, sedikit berhati-hati, sedikit terlalu ramah, atau terlalu ingin terlihat tidak terpengaruh. Satria tidak tampak berusaha melakukan apapun. Ia hanya tampak seperti seseorang yang sedang bekerja.
Aneh. Dan, sayangnya, menarik. Renata duduk di kursi tengah, membuka tablet, lalu menatap layar presentasi. “Mulai.”
Rapat berjalan seperti rapat besar pada umumnya: banyak kata berputar agar masalah terdengar lebih bisa diterima. Ada target terlambat, anggaran membengkak, vendor yang mengubah harga setelah kontrak nyaris final, dan marketing yang tetap optimis dengan cara yang membuat Renata ingin menawarkan teh hangat atau obat penenang.
Ia mendengarkan sambil mencatat. Sesekali bertanya. Sesekali diam terlalu lama sampai orang yang sedang bicara memperbaiki kalimatnya sendiri.
Satria tidak bicara. Renata sempat mengira staf baru itu hanya pelengkap. Tampan, diam, rapi, dan mungkin dipilih finance untuk duduk sebagai pagar moral agar angka-angka yang kacau tidak tampak terlalu berdosa.
Lalu slide keempat belas muncul. Tabel estimasi biaya itu cukup rapi untuk menipu orang yang tidak terbiasa mencium keanehan dari jarak tiga meter. Renata menatap satu baris. Keningnya hampir bergerak, tetapi belum sempat.
“Maaf,” suara Satria muncul dari ujung meja. Tidak keras. Tidak berusaha menguasai ruangan. Tapi cukup jelas untuk membuat presenter berhenti. Semua menoleh. Satria tidak menikmati perhatian itu. Ia hanya menatap layar, lalu menekan touchpad laptopnya sekali. “Angka projected operational cost tidak sinkron dengan asumsi revisi vendor terakhir,” katanya. “Yang dipakai masih basis harga sebelum perubahan termin kedua.”
Presenter mengerjap. “Maksudnya?”
Satria memutar laptop sedikit. “Totalnya terlihat lebih rendah sekitar tiga belas koma tujuh persen. Untuk persetujuan, margin terlihat aman. Saat realisasi, gap-nya muncul di bulan kedua.”
Hening. Bukan hening dramatis. Lebih seperti hening orang-orang yang baru sadar ada lubang di lantai, dan mereka selama ini berdiri dekat lubang itu sambil tersenyum ke arah kamera. Pak Oka, manajer finance, mencondongkan tubuh. “Kamu yakin?”
“Saya pakai data revisi vendor Jumat malam. File-nya masuk setelah draft presentasi ini dibuat.”
Renata menatap Satria. Pria itu tidak sedang pamer. Itu yang membuatnya menyebalkan. Orang yang pamer biasanya memberi jeda setelah menyelamatkan keadaan, menunggu pujian masuk seperti notifikasi. Satria tidak. Setelah menjelaskan, ia kembali duduk lurus, tangan di dekat laptop, wajahnya tetap datar. Seolah menemukan selisih biaya belasan persen dalam rapat penting hanyalah kegiatan ringan sebelum makan siang.
“Kenapa ini tidak masuk ke materi presentasi final?” tanya Renata.
Marketing gelisah. Operasional menatap meja. Legal membuka map tanpa alasan jelas. Pak Oka berdeham. “Sepertinya mismatch file antar-divisi.”
Renata tidak menjawab. Ia menatap layar beberapa detik, lalu mengarahkan pandangannya pada Satria. “Bisa hitung ulang sekarang?”
Satria menatapnya balik. Tidak lama. Tidak menantang. Tapi juga tidak menunduk. “Bisa.”
Satu kata. Tidak ada akan saya coba, Bu. Tidak ada mungkin butuh waktu. Tidak ada kalimat manis penyelamat reputasi.
Bisa.
Renata menyukai jawaban itu dengan cara yang seharusnya tidak ia izinkan muncul di wajah. Maka ia menunduk ke tabletnya, pura-pura mencatat sesuatu. “Berapa lama?”
“Sepuluh menit untuk estimasi bersih. Dua puluh kalau mau skenario konservatif.”
“Lima belas menit. Buat dua skenario.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Satria bergerak tipis. Nyaris tidak ada. Tapi Renata melihatnya. “Baik.”
Rapat berhenti dalam keadaan yang tidak sepenuhnya berhenti. Orang-orang saling berbisik, membuka file, menyalahkan versi dokumen, mencari siapa yang pantas dijadikan kambing paling dekat. Sementara di ujung meja, Satria mengetik.
Renata tidak suka mengamati orang terlalu lama. Kebiasaan itu membuatnya terasa seperti karakter drama murahan yang akan jatuh cinta karena cahaya matahari kebetulan masuk lewat jendela.
Tapi ruang rapat itu tidak punya cahaya romantis. Lampunya putih dingin. AC terlalu kencang. Di luar kaca, seorang staf HR membawa kardus arsip dengan wajah kalah. Tidak ada musik. Tidak ada adegan lambat.
Hanya Satria, dengan kemeja yang tidak mahal, sepatu hitam yang dipoles rapi, dan cara mengetik yang tidak panik meski seluruh ruangan menunggu hasil kerjanya.
Renata menyandarkan punggung. Di kepalanya, dia menyusun catatan yang tidak penting.
Tinggi: cukup.
Wajah: mengganggu.
Rahang: sialan.
Cara kerja: bersih.
Cara bicara: hemat.
Reaksi terhadap jabatan: tidak berlebihan.
Potensi membuat hidup Renata tidak stabil: mencurigakan.
Satria selesai lebih cepat dari waktu yang ia minta. Ia mengirim file ke layar utama, lalu menjelaskan perubahan angka dengan ringkas. Tidak semua orang langsung paham, tetapi semua orang cukup mengerti bahwa mereka baru saja diselamatkan dari rapat persetujuan yang bisa berubah menjadi pembantaian minggu depan. Pak Oka tampak lega sekaligus malu. Marketing ingin menghilang ke dalam pot tanaman.
Renata membaca angka terakhir, lalu mengangguk. “Pakai skenario konservatif untuk revisi proposal. Materi presentasi final masuk ke saya pukul empat. Yang belum sinkron, jangan cari alasan. Cari file.”
Beberapa orang menunduk terlalu cepat. Rapat selesai dua puluh menit setelah itu. Kursi bergeser. Laptop ditutup. Orang-orang keluar dengan kecepatan berbeda tergantung tingkat kesalahan masing-masing. Renata tetap duduk, memeriksa pesan masuk sambil menunggu ruangan kosong.
Satria berdiri dari ujung meja, memasukkan buku kecilnya ke tas, lalu berjalan menuju pintu.
“Satria.” Langkahnya berhenti. Orang-orang yang belum keluar ikut berhenti setengah detik, lalu pura-pura tidak tertarik sambil memperlambat langkah. Renata melihat itu dan menghela napas. “Yang lain keluar.” Mereka keluar. Cepat.
Satria masih berdiri di dekat pintu, satu tangan memegang tali tas. “Ada yang perlu saya revisi, Bu?”
Bu.
Renata menatapnya. Ada banyak hal yang bisa ia terima dalam hidup. Target mendadak. Board rapat brutal. Vendor tidak profesional. Laporan buruk. Bahkan kopi kantor yang rasanya seperti penyesalan hangat. Tapi dipanggil Bu oleh pria setampan itu terasa seperti penghinaan administratif. “Renata,” katanya.
Satria diam sebentar. “Maaf?”
“Panggil saya Renata.”
“Di kantor?”
“Kalau rapat besar, silakan pakai jabatan kalau itu membuatmu merasa aman. Kalau hanya kita berdua, Renata cukup.”
Satria menatapnya dengan hati-hati. Ada jeda kecil di sana, seperti ia sedang memeriksa apakah kalimat itu jebakan. “Baik, Bu Renata.”
Renata memejamkan mata sebentar. Satria tidak tersenyum. Itu bagian paling kriminal. Ia tampak sungguh-sungguh. “Jangan tambahkan Bu.”
“Baik.”
“Satria.”
“Ya?”
“Kamu sengaja?”
Barulah wajahnya berubah sedikit. Bukan senyum. Hanya sesuatu yang lewat sangat cepat di matanya, cukup untuk membuat Renata tahu pria ini tidak sepolos tampangnya.
“Tidak, Renata.” Nama itu keluar datar. Rapi. Tanpa godaan. Tapi entah kenapa, ruang rapat yang dingin mendadak terasa menyempit setengah ukuran.
Renata berdiri, mengambil tablet dari meja. Ia berjalan melewati Satria dengan jarak yang seharusnya profesional, lalu berhenti tepat di sampingnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat untuk membuat Satria harus memilih antara mundur atau tetap berdiri. Dia tetap berdiri. Bagus. “Kamu tahu kamu tampan?” tanya Renata.
Satria menatapnya. Tidak langsung menjawab. Seolah kalimat itu terlalu jauh keluar dari agenda rapat untuk diproses manusia kantoran normal. “Maaf?”
“Pertanyaan sederhana.”
“Tidak terlalu sederhana kalau ditanyakan setelah rapat vendor.”
Renata tersenyum tipis. “Kalau kutanyakan di tengah rapat, HR mungkin perlu turun tangan.”
Satria mengencangkan pegangan pada tali tasnya. “Saya tidak tahu harus menjawab apa.”
“Terima kasih biasanya aman.”
“Terima kasih.”
“Bagus.” Renata memperhatikan wajahnya dari dekat, tidak malu-malu, tidak berusaha membuat tatapannya tampak tidak sengaja. “Rahangmu juga bagus.”
Satria benar-benar diam kali ini. Renata melihat lehernya bergerak ketika ia menelan ludah. Kecil. Tapi ada. Ia suka. “Renata,” katanya akhirnya, lebih pelan.
“Hm?”
“Itu bukan evaluasi kerja.”
“Bukan.” Renata mengangguk. “Evaluasi visual.”
Renata menahan tawa. Ia bisa berhenti di sana. Seharusnya berhenti di sana. Tapi Satria menegang dengan cara yang terlalu menarik. Bukan tersinggung. Bukan marah. Lebih seperti pria yang seluruh sistem pertahanannya tiba-tiba diberi input yang tidak masuk format.
Renata mengangkat tangan. Satria melihat gerakan itu. Tubuhnya tidak mundur, tapi bahunya menegang.
Renata tidak menyentuh wajahnya. Tidak segila itu. Belum. Ia hanya menyentuh ringan lipatan kecil di lengan kemeja Satria, membetulkannya dengan dua jari, lalu menarik tangannya kembali sebelum sentuhan itu punya cukup waktu untuk disebut apa-apa. “Lenganmu sedikit kusut.”
Satria menatap bagian kemeja yang baru disentuh, lalu menatap Renata. “Tidak.”
“Sekarang tidak.”
“Renata.”
“Aku tahu. Bukan evaluasi kerja juga.”
“Bagus kalau kamu sadar.”
“Aku sadar banyak hal.” Renata menatapnya lagi. “Termasuk kamu lebih menarik saat mencoba tidak panik.”
Satria mengusap pangkal hidungnya. Di luar ruang rapat, seseorang tertawa dari koridor.
“Kamu baru dua minggu?”
“Iya.”
“Dari finance langsung dilempar ke rapat lintas-divisi?”
“Pak Oka bilang saya perlu lihat alur kerja perusahaan.”
“Pak Oka butuh orang yang bisa membaca angka tanpa berkeringat.”
Satria tidak menjawab. Renata memperhatikan wajahnya dari jarak yang mungkin akan dianggap tidak perlu oleh HR. Hidungnya tegas, rahangnya bersih, rambutnya dipotong pendek tanpa gaya berlebihan. Tampan, iya. Tapi bukan tampan yang mengundang keributan. Lebih seperti tampan yang diam-diam merusak konsentrasi orang yang mengira dirinya kebal.
“Kamu lulusan mana?”
“Kampus negeri di Semarang.”
“Pengalaman?”
“Perusahaan distribusi. Tiga tahun.”
“Kenapa pindah?”
“Ingin berkembang.”
“Jawaban interview.”
“Itu memang jawaban interview.”
Renata tertawa kecil. Satria melihatnya sekilas, lalu pandangannya turun ke tablet di tangan Renata. Bukan karena tidak sopan, tapi seolah ia butuh tempat lain untuk meletakkan mata. Renata menyukai itu juga. Sial. “Kamu selalu setenang ini?”
“Tidak.”
“Oh?”
“Kalau angka salah, saya lebih tenang. Kalau orang bertanya terlalu banyak setelah rapat, saya mulai curiga.”
Renata menatapnya dua detik. Lalu tawanya keluar lagi. Kali ini Satria tampak sedikit menyesal, karena baru menyadari ia mungkin sudah memberi makan sesuatu yang seharusnya dibiarkan lapar.
Renata melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menepuk ringan lengan Satria dengan ujung jarinya. Cepat. Hanya seperti gestur biasa. “Kerja bagus hari ini.”
Satria menunduk sedikit. “Terima kasih.”
“Dan Satria?”
“Ya?”
“Kalau curiga, pertahankan. Di kantor ini orang yang tidak curiga biasanya cepat dimakan.” Ia pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan pintu ruang rapat terbuka dan aroma parfum yang tertahan tipis di udara dingin. Satria berdiri beberapa detik sebelum akhirnya keluar.
Di koridor, dua staf marketing yang tadi pura-pura tidak menunggu langsung berjalan menjauh dengan wajah terlalu sibuk. Satria tidak memedulikan mereka. Ia kembali ke area finance, meletakkan tas di meja, lalu duduk di kursinya yang masih baru, masih terlalu bersih, masih belum punya tanda-tanda seseorang benar-benar hidup di sana.
Di layar laptopnya, email masuk satu per satu. Di kepalanya, suara Renata masih tertinggal.
Panggil saya Renata. Lalu, lebih buruk: Kamu tahu kamu tampan? Satria menggosok pangkal hidung.
“Mas,” panggil Raka dari sebelah. “Dipanggil Bu Renata tadi?”
Satria membuka file baru. “Iya.”
“Dimarahin?”
“Tidak.”
“Dipuji?” Jari Satria berhenti terlalu singkat di atas keyboard. Terlalu singkat untuk orang biasa. Terlalu lama untuk Raka. Raka mencondongkan tubuh. “Kok diam?” Satria menatapnya. “Kalau tidak ada jawaban, berarti ada yang harus disembunyikan.”
“Raka.” Satria mengetik angka di sel pertama. Salah. Ia menghapusnya. Raka melihat itu, lalu tersenyum seperti menemukan bukti tindak pidana. Satria menarik napas pelan. “Kamu tidak punya laporan?”
“Punya. Tapi ini lebih menarik.”
Satria tidak meladeni. Namun tangannya bergerak lebih lambat dari biasanya.
Di lantai lain, Renata masuk ke ruangannya dengan wajah terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menemukan gangguan baru. Mila mengikuti dari belakang membawa beberapa dokumen.
“Bu, revisi proposal vendor nanti jam empat. Pak Damar minta waktu jam dua. HR kirim reminder evaluasi performa minggu depan.”
Renata meletakkan tablet di meja. “Oke.”
Mila berhenti membaca catatan. “Bu?”
Renata membuka laptop. “Ya?”
“Rapat tadi aman?”
“Aman.”
“Masalah angka ketemu?”
“Sudah.”
“Yang nemu siapa?”
Renata menekan tombol power laptop, menunggu layar menyala, lalu berkata seolah tidak penting, “Staf finance baru.”
Mila mengangguk. “Oh, Satria?” Renata mengangkat wajah. Mila langsung memeluk map ke dada. “Saya cuma tahu dari daftar onboarding, Bu. Bukan gosip.”
Renata menatapnya sebentar lebih lama. “CV-nya ada di sistem?”
Mila diam. Renata juga diam. Keduanya saling menatap dalam hening yang sangat administratif dan sangat tidak suci. “Bu,” kata Mila pelan, “itu melanggar batas kalau untuk alasan pribadi.”
“Saya tidak bilang alasan pribadi.”
“Berarti alasan kerja?”
“Dia menemukan gap cost di materi presentasi kuartal tiga sebelum manajernya sendiri bicara.”
Mila tampak mempertimbangkan apakah alasan itu cukup legal untuk menyelamatkan mereka berdua dari neraka HR. “Saya kirim profil formalnya saja,” katanya akhirnya. “Yang memang bisa diakses untuk kebutuhan struktur tim.”
Renata tersenyum tipis. “Kamu pintar.”
“Saya bertahan karena takut.”
“Itu juga bentuk kecerdasan.”
Mila keluar lima menit kemudian, meninggalkan Renata dengan inbox yang penuh, jadwal yang padat, dan satu nama yang seharusnya tidak menempati ruang sebesar itu di kepalanya.
Email profil Satria masuk pukul sebelas lewat tujuh. Renata membukanya sambil minum kopi.
Satria Mahendra. Dua puluh delapan tahun. Lulusan akuntansi dari kampus negeri di Semarang. Pernah bekerja di perusahaan distribusi regional selama tiga tahun empat bulan. Sertifikasi standar. Tidak ada pengalaman luar negeri. Tidak ada penghargaan mencolok. Tidak ada organisasi besar. Tidak ada deretan jabatan yang bisa membuat HR jatuh cinta sebelum interview.
CV biasa. Sangat biasa. Renata menggulir pelan sampai bawah. Tidak ada yang mentereng. Tidak ada yang tampak seperti alasan bagi seorang vice manager di perusahaan ibukota untuk berhenti beberapa detik lebih lama saat membaca namanya.
Tapi Renata masih ingat cara Satria mengatakan bisa tanpa tergesa-gesa. Cara ia tidak menunduk saat ditatap. Cara ia membuat angka kacau menjadi masuk akal tanpa mengubah dirinya menjadi pusat panggung.
Tampang, pikir Renata. Awalnya itu saja sebenarnya. Tampang dan ketenangan yang menyebalkan. Renata menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar profil yang sudah tidak lagi ia baca.
Lalu ia melihat catatan singkat dari hasil interview HR.
Stabil. Konsisten. Tidak ambisius secara verbal, tetapi punya orientasi proses yang kuat. Cenderung observatif. Tidak banyak bicara kecuali diperlukan.
Renata berhenti di kalimat terakhir. Tidak banyak bicara kecuali diperlukan. Ia tersenyum. Berbahaya. Pria seperti itu biasanya membuat perempuan yang terlalu sering mendengar omong kosong ingin mengganggunya hanya untuk tahu seberapa lama ia bisa tetap diam.
Renata menutup file, lalu mengambil ponselnya.
Mila, finance biasa makan siang jam berapa?
Balasan datang cepat.
Bu, saya merasa pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan performa kuartal tiga.
Renata mengetik tanpa rasa bersalah.
Semua hal berhubungan dengan performa kalau dilihat dari sudut yang cukup kreatif.
Mila tidak membalas selama hampir satu menit. Lalu:
Biasanya 12.15. Pantry lantai 9 kalau tidak keluar.
Renata menatap pesan itu. Senyumnya melebar sedikit.
Di area finance lantai sembilan, Satria sedang menyelesaikan rekonsiliasi ketika Raka berdiri dari kursinya. “Makan?”
“Nanti,” jawab Satria.
“Jangan nanti. Di sini kalau nanti, tahu-tahu jam tiga dan kamu sudah jadi bagian dari aset tetap.”
Satria menutup file. “Lima menit.” Raka hendak membalas, tetapi matanya tiba-tiba bergerak ke belakang Satria. Wajahnya berubah. Bukan takut. Lebih buruk. Antusias. Satria tidak suka wajah itu. “Apa?”
Raka tersenyum seperti orang yang akan menyaksikan kecelakaan ringan tapi indah. “Mas, aset tetapnya datang sendiri.”
Satria menoleh. Renata berdiri di batas area finance dengan blazer hitam, kemeja putih, dan kartu akses yang menggantung di leher seperti semua lantai memang miliknya. Ia tidak membawa dokumen. Tidak membawa map. Tidak membawa alasan yang cukup kredibel untuk berada di sana.
Beberapa kepala menoleh. Renata tidak peduli. Matanya menemukan Satria, lalu ia berjalan mendekat dengan tenang yang membuat seluruh divisi mendadak tampak lebih rajin.
Satria berdiri karena refleks profesional. “Renata?” Raka di sebelahnya hampir tersedak udara.
Renata melirik jam di pergelangan tangannya. “Kamu makan siang jam berapa?”
Satria diam sebentar. Ia bisa merasakan beberapa pasang telinga di belakangnya tumbuh lebih panjang. “Biasanya jam dua belas lewat.”
“Bagus. Sekarang dua belas sepuluh.”
“Saya masih ada pekerjaan.”
Renata menunduk melihat layar laptopnya. “Bisa menunggu.”
“Bagaimana Ibu tahu?”
Renata mengangkat wajah pelan. Satria terlambat menyadarinya. Raka menoleh ke arah lain dengan bahu bergetar. Renata tersenyum manis. Terlalu manis. Tidak aman. “Ibu?”
Satria menatap layar. Lalu meja. Lalu apa saja selain wajah Renata. “Renata,” koreksinya datar.
“Bagus,” katanya. “Ayo makan.”
Satria membuka mulut, mungkin untuk menyelamatkan sisa martabatnya. Namun Renata sudah bergerak lebih dulu, tangannya menyentuh ringan siku Satria. Hanya sesaat. Cukup untuk mengarahkan tanpa benar-benar menarik.
Sentuhan itu pendek. Tetapi seluruh lantai sembilan tampak mendengarnya. Satria menegang setengah detik. Renata merasakannya, lalu melepas dengan santai, seolah ia tidak baru saja merusak sirkulasi darah seorang staf finance baru.
“Kamu boleh menolak,” katanya pelan, hanya untuk Satria. “Tapi kalau alasanmu cuma pekerjaan yang bisa menunggu, aku kecewa pada kualitas alasanmu.”
Satria menatapnya. Di belakang, Raka pura-pura membuka file sambil jelas-jelas tidak membaca apapun.
Satria mengambil dompet dan ponselnya dari meja. Renata tampak puas, tapi tidak menunjukkan kemenangan terlalu banyak. Hanya sudut bibirnya yang naik sedikit.
Mereka berjalan menuju pantry dalam diam. Diam itu penuh oleh tatapan orang, langkah sepatu Renata, dan kesadaran Satria bahwa hidupnya yang rapi mungkin baru saja dipindahkan ke folder lain tanpa persetujuannya.
Di pintu pantry, Renata berhenti dan menoleh. “Aku traktir.”
“Tidak perlu.” Cepat. Terlalu cepat.
Renata menatapnya. “Aku belum selesai.” Satria menutup mulut. “Aku traktir hari ini karena aku yang mengajak. Besok kalau kamu yang mengajak, kamu boleh traktir aku.”
“Saya tidak bilang akan mengajak besok.”
“Belum.”
“Renata.” Ia menyukai cara Satria menyebut namanya ketika mulai kehilangan sabar. Ada tekanan kecil di huruf tengahnya.
Renata mengambil dua gelas dari rak pantry. “Kopi?”
“Saya bisa ambil sendiri.”
“Aku tahu.” Tangannya tetap menuang.
Satria memperhatikannya. “Kalau tahu, kenapa tetap diambilkan?”
Renata menyerahkan gelas itu ke tangannya. Jari mereka bersentuhan sebentar. Kali ini bukan kebetulan. Satria tahu. Renata juga tahu Satria tahu. “Karena aku ingin.”
Satria menerima gelas itu dengan wajah terlalu tenang untuk seseorang yang telinganya mulai merah. Renata melihatnya.
Satria menyesap kopi untuk menyembunyikan kekalahannya. Pahit. Seperti awal dari sesuatu yang ia curigai akan merepotkan.
Renata duduk di kursi pantry, menyilangkan kaki, lalu menunjuk kursi di depannya dengan dagu. “Duduk.”
Satria menatap kursi itu, lalu Renata, lalu pintu pantry yang masih terbuka. Ia bisa kembali ke meja. Bisa mengatakan ada laporan. Bisa menjaga jarak dari perempuan dengan jabatan lebih tinggi, keluarga lebih mapan, dan keberanian yang tampaknya tidak punya sistem pengereman. Tapi ia duduk.
Renata tersenyum. Cukup untuk membuat Satria merasa ia baru saja menandatangani sesuatu tanpa membaca syarat dan ketentuan.
“Jadi,” kata Renata, menopang dagu dengan punggung tangan. “Kamu selalu sekaku ini?”
Satria menatap kopinya. Lama. “Saya sedang mempertimbangkan jawaban yang tidak membahayakan masa probation.” Renata tertawa.
Di luar pantry, Raka yang kebetulan lewat langsung mempercepat langkah sambil menggigit bibir menahan gosip. Satria melihatnya. Renata juga. “Temanmu lucu.”
“Dia tidak lucu. Dia berbahaya.”
“Bagus. Aku suka lingkungan kerja yang hidup.” Satria menatapnya dengan ekspresi putus asa. Renata menyesap kopi. “Tenang. Aku tidak akan memakanmu.” Satria diam. Renata memiringkan kepala. “Wajahmu kenapa?”
“Kalimat itu tidak menenangkan kalau keluar dari Anda.”
“Anda?”
“Renata,” koreksinya cepat. Renata puas. Ia mengulurkan tangan pelan ke arah Satria. Satria langsung menegang.
Renata berhenti. Matanya turun ke kerah kemeja Satria yang sebenarnya tidak salah apa-apa. “Kerahmu rapi.”
Satria menatapnya curiga. “Lalu?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin tahu apakah kamu tetap panik kalau aku belum menyentuh.”
“Saya tidak panik.”
“Tidak?” Renata menyentuh ujung kerah itu dengan dua jari, sangat ringan. “Sekarang?” Satria menahan napas. Hanya setengah detik. Tapi Renata melihat. “Kamu tampan,” katanya pelan. “Itu masalah pertamamu.”
Satria menatapnya. “Masalah saya?”
“Iya. Orang akan mengira kamu aman karena kamu diam.” Renata menarik tangannya perlahan. “Padahal wajahmu tidak membantu siapapun berpikir jernih.”
“Renata. Saya masih ingin lulus probation dengan tenang.”
“Kalau begitu jangan duduk terlalu dekat denganku.”
“Saya tidak memilih kursinya.”
“Tapi kamu duduk.” Satria menatap gelas kopi seolah benda itu dapat memberi perlindungan hukum. Renata tertawa kecil. “Kamu lucu kalau jengah.”
“Saya tidak sedang melucu.”
“Itu yang membuatnya berhasil.”
Satria, yang seharusnya kembali bekerja lima belas menit kemudian, baru sadar tiga puluh menit lewat ketika ponselnya berbunyi di meja. Pesan dari Raka.
Mas, selamat. Kamu sudah jadi agenda lintas-divisi.
Satria menatap pesan itu dengan wajah kosong. Renata mencondongkan tubuh sedikit, mencoba membaca layar. Satria langsung membalik ponselnya. “Rahasia?”
“Keselamatan pribadi.”
“Oh.” Renata menyandarkan punggung. “Kalau begitu simpan baik-baik. Sepertinya kamu akan sering membutuhkannya.”
Satria menatap perempuan di depannya. Vice manager. Cantik. Tajam. Terlalu percaya diri. Terlalu dekat. Terlalu mudah membuat orang lupa bahwa di kantor, ada struktur, jabatan, batas, dan kemungkinan gosip yang bisa tumbuh lebih cepat daripada laporan bulanan. Ia seharusnya menjauh. Setidaknya, ia seharusnya mencoba lebih keras.
Tapi Renata sedang tertawa kecil sambil memutar gelas kopi di tangannya, dan cahaya pantry yang biasa-biasa saja jatuh di wajahnya tanpa meminta izin. Satria menarik napas pelan. Di kepalanya, satu peringatan menyala. Perempuan ini masalah.
Lalu Renata mengangkat wajah. “Besok makan siang jam berapa?”
Satria memejamkan mata sebentar. Masalah besar. “Renata.”
“Ya?”
“Saya belum mengajak.”
“Belum,” katanya, seolah kata itu adalah ruang yang sudah ia beli. Satria membuka mata. Renata tersenyum.
Dan entah bagaimana, di tengah pantry kantor yang beraroma kopi murah dan microwave bekas memanaskan ayam semalam, Satria tahu hari pertamanya benar-benar menjadi staf finance di perusahaan itu bukan saat ia menandatangani kontrak kerja. Melainkan hari ini.
Saat Renata Maharani memutuskan hidupnya menarik untuk diganggu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!