Bab 3. Kedatangan Kemal sang Koki

0 dibaca

A

“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.

“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.

Terakhir kali Miri melihat kekasihnya segusar itu adalah di tahun-tahun terakhir perkuliahan mereka. Baskara yang berjaga sepanjang malam menyusun skripsi, menatap layar dengan mata merah. Bila Miri tak sesekali singgah untuk mengantar makanan, bisa jadi Baskara sudah masuk rumah sakit.

Di akhir makan malam itu, rahang Baskara mengencang. Sepanjang perjalanan mengantar Miri pulang, ia menggenggam setir kuat-kuat. Miri tak berani mengusiknya. Siapapun akan naik pitam ketika mendengar ibunya berkata ‘Mama yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik’ di hadapan pacar sendiri.

“Aku sudah terbiasa menjadi bahan gunjingan orang, tapi tidak Baskara. Setiap kritikan dan hujatan seperti sayatan baginya. Setidaknya, aku senang Baskara masih membelaku,” ungkap Miri, tersenyum kecil.

Jihan bergumam, sambil membuang bungkus Pocky yang telah kosong ke tempat sampah terdekat. Di sisa perjalanan mereka menuju apartemen Miri, kepala Jihan mencetuskan sebuah ide.

“Gimana kalau kalian kawin lari aja? Kamu terima uang si Serigala, lalu pura-pura putus sama Baskara. Nah, ketika si Serigala lengah, kamu bawa Baskara, terus ke luar negeri!” usulnya.

Miri tertawa lepas. Ia tahu Jihan hanya berusaha menghibur.

“Bagus juga, tuh, idenya … kalau aku mau jadi target pembunuh bayaran yang disewa Amara Wibowo,” celetuk Miri.

Senyum yang sempat merekah di bibir Jihan memudar. Entah Miri serius atau tidak, Amara Wibowo terlihat seperti sosok wanita yang mampu melakukan hal itu.

Mereka akhirnya tiba area unit apartemen Miri. Sambil menaiki tangga, Miri mengingat kembali sikap teguh Baskara yang ingin menjalankan kisah cinta mereka dengan lurus. Meski terdengar kolot, Baskara enggan melanggar titah ibunya, apalagi di saat ia harus mengambil keputusan besar.

“Makasih usulnya, Jihan. Sayangnya, Baskara terlalu taat aturan untuk setuju dengan ide kawin lari. Dia si anak baik, paling anti bikin masalah. Bahkan kalau Baskara tahu aku berani terima uang itu, aku bakal habis dicecar,” ungkap Miri.

“Laki-laki seperti Baskara sepertinya udah jarang di dunia ini. Apalagi untuk orang seumuran kita. Biasanya kalau nggak tukang main cewek, ya tukang selingkuh. Baskara punya nggak teman satu lagi yang kayak dia? Nggak kaya-kaya amat juga nggak papa!” seru Jihan, membuat Miri menggelengkan kepala.

Di ujung tangga lantai lima, Miri dan Jihan mulai tersengal-sengal. Belum juga selesai mengatur napas, mereka telah disambut oleh teriakan seorang pria. Ia jongkok di depan pintu unit apartemen Miri dengan wajah dongkol.

Rambutnya yang keriting tampak tebal, dengan kulit sawo matang yang akrab dengan matahari. Wajahnya tegas, dengan alis tebal yang mengerut tajam. Kemal, sahabat Miri, sedang memeluk kantung plastik.

“Kalian dari mana? Aku udah nungguin dari tadi!” semprot Kemal.

Miri menepuk jidat. Ia lupa Kemal akan mampir untuk memasak pasta hari ini. Jihan hanya nyengir, gemas melihat Kemal yang duduk di depan pintu seperti anak anjing yang tersesat.

“Maaf! Aku beneran lupa. Tadi aku mampir bentar ke binatu untuk ambil cucian,” Miri beralasan.

“Kan aku udah bilang mau datang jam 8! Mana aku telepon kamu nggak angkat!”

Miri lupa membawa ponselnya saat pergi keluar rumah, ia beralasan. Namun, Kamal tak mau mendengar alasan apapun.

Kemal bangkit berdiri dengan wajah masam. Meski Miri coba merayunya, tak ada kata yang dapat menghibur hati Kemal. Ia tak punya kesabaran pada orang yang pandai mengingkari janji.

“Disiplin itu nomor satu bagi seorang koki, Mir. Lelet dikit aja, alur kerja semua orang bakal berantakan! Buruan buka pintunya!” seru Kemal, sementara Miri membuka kunci pintu.

“Iya! Sabar! Bawel banget sih,” gerutu Miri.

Kedatangan Kemal yang rela menunggu di depan pintu apartemen Miri bukan tanpa sebab. Ada rencana besar yang akan Miri hadapi minggu depan. Sebagai ahli pasta di Nero&Bianco, Kemal menjadi satu-satunya koki yang dapat Miri andalkan untuk memuluskan misinya.

“Galak banget, deh, Chef Kamal. Kebanyakan melotot nanti matanya copot, loh,” goda Jihan, sambil menyikut lengan Kemal.

Pria itu mengerang.

“Kamu juga sama aja, Jihan. Kalau kamu temannya Miri, ingetin dia, dong, supaya cepetan jalannya. Masa bikin tamu nunggu?” protes Kemal.

“Kok aku kena semprot juga, sih? Kalau kita berdua bisa terbang, udah nyampe dari tadi, tahu!” balas Jihan tak kalah galak.

Miri menyuruh kedua sahabatnya menutup mulut. Dinding antar unit yang tipis dapat memanggil tetangga untuk mengintip keluar rumah. Siapapun yang ribut di lorong akan menjadi sasaran di rapat pertemuan berikutnya.

Setelah berhasil membuka pintu, Miri menarik kedua temannya masuk ke dalam. Keduanya masih saling mengomel saat Miri meletakkan bingkisan cucian bersih di dalam lemari.

“Miri!”

Suara Kemal yang memanggilnya memaksa Miri berlari kecil menuju dapur. Ia takut Jihan dan Kemal mulai saling jambak.

Di balik meja konter, Kemal telah memasang wajah serius. Di sampingnya, Jihan mendapat tugas dadakan untuk membongkar isi kantung plastik yang dibawa oleh Kemal.

“Kenapa, Mal?” tanya Miri bingung.

“Mir, kamu tahu aku datang ke sini bukan buat main-main. Kalian silahkan ketawa-ketiwi. Aku nggak akan segan pindahin neraka ke sini, supaya kalian bisa rasain akibatnya macam-macam sama Kemal,” ancam pria itu sambil menggulung lengan baju.

Jihan dan Miri saling melempar pandangan. Sepertinya sudah terlambat untuk mendepak Kemal keluar dari rumah.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk