“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.
“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.
Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan Miri, putrinya. Meski tampak lelah, ia masih tersenyum.
Ia melepaskan jaket dan meletakkan tas kerjanya di sofa. Tubuhnya yang mungil terlihat ringkih, seakan menyisakan raga tanpa tenaga.
“Jatah makan siang Tante ada nggak, Kemal?” goda Bu Sara.
“Ada, dong, Tante. Yuk, makan. Mumpung masih panas,” ajak Kemal ramah.
Bu Sara celingukan, mencari Miri yang masih menenggak air di dapur. Ia menghampirinya, tampak terkejut melihat wajah Miri yang memerah. Ketika Miri bercerita ia kepedasan karena masakan Kemal, Bu Sara hanya tertawa.
“Bisa-bisanya ada chef kepedasan,” canda Bu Sara, membelai kepala Miri penuh sayang.
“Emangnya chef nggak boleh kepedasan?” protes Miri.
Sebelum bergabung dengan para anak muda di meja makan, ia menghilang sejenak ke ruangan lain untuk mengganti baju dan membersihkan diri. Miri yang telah kembali tenang, duduk kembali di kursinya.
Ia membiarkan Jihan menghabiskan sisa porsinya. Lidahnya sakit dan hidungnya tak berhenti mengalirkan ingus. Membayangkan dirinya harus belajar makan pedas seminggu ke depan rasanya seperti neraka.
“Mir, mama kamu baru pulang? Shift malam di kantor?” tanya Kemal.
Miri mengangguk.
“Kasihan. Kayaknya capek banget. Tapi, aura Tante belakangan beda, ya? Kelihatan lemas tapi happy juga. Bisa begitu, ya?”
Miri mengalihkan pandangan. Jihan dan Kemal saling melirik, lalu mengerutkan kening. Reaksi Miri yang canggung membuat keduanya bingung.
“Mamaku … lagi dekat dengan seseorang. Belakangan ini dia sering ke tempat pacarnya,” jawab Miri lambat-lambat.
“HAH?!” jerit Jihan dan Kemal bersamaan.
Jihan buru-buru menutup mulut dengan tangan. Kemal mematung, berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Miri hanya mengangkat bahu.
“Sori, ya, aku nggak cerita soal ini. Kalian udah pusing dengan curhatanku soal Baskara dan si ibunya. Kalau aku cerita Mama lagi puber kedua, bisa-bisa kepala kalian meledak,” Miri beralasan.
Jihan dan Kemal terdiam. Yang tersisa adalah denting sendok milik Jihan yang beradu dengan piring. Isinya telah kosong. Hanya milik Bu Sara yang masih penuh.
“Wow,” gumam Jihan.
Kemal menyikut lengannya.
“Maksudku–itu … berita bagus, kan? Mamamu selama ini udah lama sendirian.”
Miri membuang napas panjang. Jari-jarinya mengetuk bibir gelas, teringat kembali di hari Bu Sara menyampaikan berita itu pada Miri.
Seorang teman lama yang kembali dalam kehidupannya. Teman masa SMA yang pernah dekat, tapi tak pernah berakhir menjadi kisah percintaan. Ketika bertemu kembali 40 tahun kemudian, keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan dewasa.
“Aku setuju udah waktunya mamaku punya teman hidup baru. Bertahun-tahun dia hidup sendirian dan ngurusin aku. Kalau aku dan Baskara jadi menikah, berarti Mama akan hidup sendiri. Rasanya aku lebih tenang kalau dia punya teman,” ucap Miri.
“Di sisi lain, aku merasa canggung Mama bertemu pria selain ayahku. Rasanya aneh melihat dia masih punya kehidupan yang terus berjalan. Sementara ayahku hanya akan menjadi cerita masa lalu.”
Ruangan hening. Dari jendela, suara mesin dan klakson kendaraan sayup-sayup saling menyahut. Selama ini Miri sibuk dengan dunianya hingga berhenti mengamati sekitar.
Di luar pengawasannya, ibunya telah memilih untuk jatuh cinta dengan pria lain. Seorang laki-laki yang tak pernah Miri kenal. Sungguh naif bagaimana Miri mengira ayahnya adalah satu-satunya pria dalam kehidupan Bu Sara.
“Mir, kamu cuma seorang anak. Tapi, kamu juga manusia. Kamu punya kehidupan, begitu juga ibumu. Jadi, wajar kok kalau misalnya duniamu saat ini penuh dengan ceritamu sendiri,” hibur Jihan.
Ia mengulurkan tangan, menggenggam lengan Miri. Tangan itu terasa hangat dan bersahabat.
“Kalau kamu pikir kita berdua bakal pusing dengar ceritamu soal Tante, kamu salah besar, Mir. Justru kita berdua bakal ikutan senang dengarnya. Yah, udah waktunya juga, sih. Si Tante juga masih cantik! Kalau saja dia tiga puluh tahun lebih muda, aku juga mau deketin dia–”
Miri mengangkat tangan, siap mengayunkan tinju ke arah Kemal. Kedua sahabatnya tertawa-tawa melihat reaksi Miri. Terlepas dari candaan Kemal, mereka benar. Bu Sara berhak bahagia setelah bertahun-tahun berjuang sendirian.
Menjadi orang tua tunggal bukanlah pilihan yang mudah. Sejak kecil, Miri telah menghabiskan waktunya sendirian, menunggu ibunya pulang. Ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan kadang tak pulang ke rumah.
“Intinya, aku dan Kemal senang dapat bahan gibah baru,” canda Jihan, menaik turunkan alisnya dengan usil.
Kemal pun sepakat.
“Tapi seriusan, deh. Gimana si ‘om’? Ganteng? Tinggi? Kaya? Kamu pernah ketemu? Atau jangan-jangan … brondong?”
Jihan pura-pura terkejut, membuat Miri kesal.
“Nggak berondong juga, ya! Gila kali!” seru Miri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!