Bab 1 Peperangan Dimulai

0 dibaca

A

Dari kejauhan terlihat gumpalan awan hitam dari arah Kota Ace menuju Kota Gagara. Sedangjan pusat kota Negeri Mizumi adalah Kota Hilitar. Suara gemuruh disertai petir terdengar menggelegar tidak seperti biasanya. Pengawal perbatasan kota Gagara yang bernama Laksa mengambil teropong jarak jauh untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata di sana terjadi penyerangan. Ia memanggil awan untuk mengantarnya ke istana serta memberitahu tentang penyerangan ini. Namun, ketika ia akan menaiki awan, ada suara yang memanggilnya.

“Werly, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan penyerangan ini?” tanya Laksa saat tahu orang yang memanggilnya adalah Werly, pengawal perbatasan antara Kota Ace dan Kota Gagara.

Werly turun dari kendaraan awannya. “Ferez, adik Baginda Raja. Kota Ace sudah hancur dan tidak ada satu orang pun yang tersisa. Sekarang pasukan Ferez maju ke Kota Gagara. Aku mendapat perintah dari kepala kota untuk mencari bantuan.”

“Ferez? Apa alasannya?” tanya Laksa penasaran. Setahunya, hubungan Ferez dan Baginda Raja baik-baik saja. Mereka berdua akur, seperti kakak-adik pada umumnya.

“Aku tidak tahu. Sekarang yang terpenting, kita harus bisa memukul mundur pasukan tuan Ferez agar tidak masuk ke kota Hilitar,” ujar Werly.

“Baiklah, aku akan coba mengirim pesan melalui telepati pada pengawal yang ada di sekitar sini.” Laksa memejamkan mata, lalu memusatkan pikirannya agar pesannya bisa segera sampai. Semua pengawal memang diajari ilmu telepati untuk memudahkan komunikasi saat keadaan genting, seperti sekarang.

Satu. Dua. Tiga. Pengawal mulai berdatangan hingga terkumpul dua puluh orang. Laksa memerintahkan mereka semua untuk ikut dengan Werly ke kota Gagara. Sedangkan ia akan pergi ke istana untuk memberitahu tentang penyerangan yang dilakukan Ferez.

Tidak butuh waktu lama bagi Laksa untuk sampai di istana. Setelah melewati beberapa pengawal serta menanyakan keberadaan baginda raja. Akhirnya, ia bisa menemui Raja Peter dan Ratu Umbrella yang sedang hamil besar. Ia langsung membungkukan sedikit badannya sebagai tanda penghormatan pada rajanya.

Raja Peter terheran-heran dengan kedatangan Laksa. Karena, pengawal perbatasan tidak akan datang ke istana langsung jika tidak terjadi apa-apa. Ia yakin telah terjsdi sesuatu di perbatasan.

“Maaf, saya telah mengganggu waktu Baginda,” ujar Laksa dengan penuh hormat.

“Apa yang membawa kamu ke sini?” tanya Raja Peter penasaran.

“Baginda, telah terjad Kota Ace hancur, bahkan tidak ada satu penduduk yang selamat. Sekarang penyerangan itu sudah sampai ke Kota Gagara,” jelas Laksa.

“Apa kamu tahu? Siapa yang melakukan penyerangan itu?” tanya Raja Peter.

“Tuan Fer ...,” belum selesai Laksa menyebutkan nama si penyerang. Tiba-tiba dari luar istana terdengar suara petir dan kekuatan lain yang saling bersahutan. “Baginda, sepertinya pasukan Tuan Ferez sudah berhasil mengalahkan Werly. Sebaiknya, Baginda dan Ratu bersembunyi di tempat yang aman.”

“Ferez? Dalang dari penyerangan ini?” tanya Baginda Raja tidak menyangka.

“Iya. Mari, Baginda, kita bersembunyi,” ajak Laksa. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Raja yang baik hati seperti Raja Peter.

Raja dan Ratu serta Darda, pelayan setianya ikut untuk mendampingi sang ratu ketika nanti melahirkan. Raja Peter menunjukkan arah tempat rahasia yang ada di bawah tanah pada Laksa. Namun, sebelum mereka sampai di sana. Pasukan Ferez menemukan keberadaan mereka. Laksa meminta Raja untuk segera pergi. Biar ia yang melawan pasukan Ferez.

Raja Peter tidak mau meninggalkan Laksa melawan pasukan itu sendirian. Akhirnya ia meminta pada Ratu Umbrella untuk pergi meninggalkan istana bersama Darda. Awalnya, Ratu enggan untuk pergi. Namun, Raja Peter ingin anak dalam kandungan Ratu lahir dengan selamat.

Dengan berat hati Ratu dan Darda ke luar dari istana menuju Kota Sabaraz. Di sana ada pintu penghubung antara Negeri Mizumi dan Bumi. Kondisi Ratu yang sedang hamil besar, membuat pergerakan mereka lambat. Tiga pasukan Ferez berhasil menemukan keberadaan mereka berdua. Tidak ada lagi yang bisa Darda lakukan, selain melawan pasukan itu.

“Ratu, pergilah ke Bumi. Biar mereka, aku yang hadapi,” ucap Darda sambil memasang badan untuk bertempur.

“Tapi, Darda.” Ratu Umbrella tidak tega meninggalkan Darda.

“Cepat, Ratu. Buka portalnya!” Seru Darda dengan nada tinggi.

Akhirnya Ratu Umbrella membuka pintu, lalu membaca mantra. Portal terbuka. Ia masuk ke sana menuju Bumi, lalu menutup kembali portal itu agar pasukan Ferez tidak mengikutinya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk