Ratu Umbrella sampai di Bumi diiringi dengan hujan deras serta suara halilintar yang saling bersahutan. Sepertinya, perang yang terjadi di Negeri Mizumi berpengaruh hingga ke sini. Ia berjalan pelan sambil mencari tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Jangan sampai ada manusia bumi yang melihat dirinya dengan penampilan bak bidadari khayangan. Rambut panjang berwarna putih, mata beriris biru, dan kulit seputih susu. Ia juga sudah mulai merasakan sakit yang timbul-tenggelam, sepertinya bayi dalam kandungannya ingin segera ke luar.
Dengan menahan sakit, Ratu Umbrella berjalan menuju pohon besar di pojok taman yang bisa digunakan untuk tempat sembunyi sementara. Ia duduk di antara akar-akar pohon yang timbul ke permukaam tanah, sepertinya usia pohon ini sudah cukup tua. Kemudian ia mencoba untuk mengurangi sakit dengan cara menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Namun, apa yang ia lakukan tidak mengurangi rasa sakit, malah semakin bertambah.
“Alae garasai haeatu.” Ratu Umbrella membaca mantra kehidupan. Tiba-tiba akar pohon bergerak, daun-daun yang berserakan serta ranting berterbangan. Akar itu membentuk anyaman dan melindunginya dari tetesan hujan, sedangkan ranting dan daun bersatu membentuk tirai. Ia harus kuat melahirkan sendirian karena Darda tidak ada bersamanya.
Di Kota Hilitar, Darda masih berusaha untuk mengalahkan pasukan Ferez. Segala ilmu yang ia miliki dikerahkan tetapi ternyata tak sebanding. Beberapa kali ia terkena pukulan dan terjatuh dengan luka yang cukup parah. Namun, ia tidak menyerah. Ia harus bertahan demi Ratu Umbrella jika bukan karena kebaikan hati ratu, ia tidak akan hidup sampai sekarang. Maka dari itu, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Darda teringat mantra yang dipelajarinya bersama Teresia. Mantra yang hanya bisa dipakai dua kali seumur hidup. Mungkin kali ini, ia harus mengucapkan mantra itu. Mantra ini bisa membuat musuh mati dan menghilang seperti asap. Ya, demi ratu, ia akan memakai kesempatan pertamanya.
“Kaleo sivarus.” Akhirnya, Darda mengambil kesempatan pertamanya. Seketika pasukan Ferez hilang menjadi asap. “Aku harus segera ke Bumi. Ratu pasti membutuhkanku.”
Darda membuka portal penghubung Bumi dan Negeri Mizumi. Tak ada satu pun yang tahu jika ia bisa membuka portal itu. Di Negeri Mizumi yang bisa membuka portal ke dunia lain hanya ada tiga orang, yaitu Ratu Umbrella, Raja Peter dan Guru Pataya. Ia diam-diam meminta Guru Pataya untuk mengajarinya cara membuka portal itu karena ia yakin suatu saat akan diperlukan. Dan itu terbukti sekarang.
Portal berhasil dibuka. Darda langsung masuk ke sana, lalu menutupnya kembali. Ia takut terjadi sesuatu pada ratu ditambah sedang hamil besar. Ia yakin sudah waktunya ratu untuk melahirkan.
Darda tiba di Bumi. Ia melihat ke segala arah, berharap bisa menemukan ratu. Namun ternyata nihil. Kemudian ia berjalan mengikuti ke mana kakinya melangkah. Banyak hal aneh yang ia temui di Bumi, seperti bentuk rumahnya, kendaraan dan lain-lain. Di sini, ia tidak bisa memanggil awan untuk mengantarnya ke mana pun ia mau. Namun, sekarang ia harus berjalan.
“Aku harus mencari Ratu Umbrella ke mana?” tanya Darda pada dirinya sendiri. “Apa aku coba telepati saja. Semoga bisa berfungsi di sini.”
Darda memejamkan mata, lalu memusatkan pikirannya agar terhubung dengan Ratu Umbrella. Akhirnya, ia menemukan keberadaan. Tempat itu ternyata jaraknya dekat dari keberadaannya. Lekas ia menuju pohon tempat ratu berada. Sesampainya di sana, ia melihat ratu sedang berusaha melahirkan.
“Ratu, mari saya bantu.”Darda langsung memegang tangan ratu untuk sekedar memberinya kekuatan, lalu ia membaca mantra agar bayi dalam perut ratu segera lahir.
Setelah membaca mantra itu, terdengarlah suara tangis bayi yang memecah malam. Untung hujan masih turun dengan deras dan tidak ada satu manusia pun yang lewat sana karena hari memang sudah larut malam. Bayi yang terlahir itu, berjenis kelamin perempuan.
“Bayinya perempuan, Ratu. Cantik sekali.” Darda menggendong bayi itu. Lalu ia meletakkan bayi itu di sisi Ratu Umbrella. Kemudian ia mengeluarkan air dari telapak tangannya untuk membersihkan bayi mungil itu, lalu membuat selimut dari daun untuk menutupi tubuh bayi itu.
“Darda, terima kasih. Kamu sudah datang tepat waktu. Tapi, bagaimana cara kamu bisa sampai di sini?” tanya Ratu Umbrella.
“Maaf, Ratu. Saya meminta Guru Pataya untuk mengajari cara membuka portal dunia lain.” Darda memohon maaf dengan memasang wajah bersalah.
“Tidak apa-apa, Darda. Karena sifatmu selalu ingin belajar, kamu bisa menolongku dan bayi mungilku,” ujar Ratu Umbrella sambil tersenyum. “Apa kondisi Negeri Mizumi sudah aman? Jika aku membawa bayi ini ke sana?”
“Sepertinya, kondisi semakin buruk, Ratu,” jelas Darda. “Saya boleh memberi saran, Ratu.”
“Silakan, kamu pelayan setiaku. Apa pun saranmu pasti terbaik untukku.”
“Bagaimana kalau bayi ini ditinggalkan di bumi?”
Ratu Umbrella termenung mendengar penuturan Darda. Namun, dalam kondisi genting seperti ini, memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti saran dari pelayannya itu. Akhirnya, Ratu Umbrella dengan kekuatan yang sudah pulih bangkit sambil menggendong bayinya dan berjalan diikuti Darda dari belakang. Ia akan mencari rumah untuk menitipkan bayinya di sana. Jika keadaan Negeri Mizumi sudah membaik, ia akan menjemputnya kembali.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!