Bab 3 Tangisan Di Malam Hari

1 dibaca

A

Sejak lima jam yang lalu, hujan menguyur bumi disertai suara petir yang menggelegar. Namun, Pak Hermawan tetap mengemudikan mobil menuju Bandung. Tadi pagi, ia mendapat telepon dari atasan untuk hadir dalam meeting penting perusahaan di Jakarta bersama klien yang berasal dari Belanda. Ternyata dihari yang sama, istrinya Alda juga ada acara di sekitaran Jakarta. Akhirnya, ia memutuskan untuk berangkat bersama. Anak semata wayang mereka, Rega juga ikut, tak mungkin anak itu ditinggalkan sendirian di rumah. Karena Alda tidak mau menggunakan ART, padahal ia sudah sering menawarkan pada sang istri agar tidak terlalu cape mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun, Alda menolak. Istrinya itu lebih senang mengurus keluarga dengan tangannya sendiri. Apalagi marak kasus pembantu yang memberikan obat tidur agar anak yang diasuh tertidur lelap.

Selain itu, Pak Hermawan sudah lama tidak mengajak mereka berdua jalan-jalan. Mungkin setelah meeting selesai, ia bisa mengajak mereka pergi nonton atau ke tempat wahana permainan. Namun, ternyata rencana tinggallah rencana. Dari sejak sore tadi hujan mengguyur Jakarta sehingga rencana mereka pun batal.

Sampai malam, pukul 20.00 WIB, hujan belum juga reda. Pak Hermawan belum juga sampai rumah karena ada beberapa titik yang terkena banjir, meskipun banjirnya tidak terlalu parah. Namun, ia tetap harus hati-hati. Ia mengendari mobil dengan perlahan hingga mereka baru setengah jalan menuju rumah.

“Pa, apa kita nginep aja di hotel sekitaran sini? Kayaknya hujan enggak bakalan berhenti, deh.” Bujuk Alda. Ia merasa khawatir jika mereka meneruskan perjalanan.

“Tidak! Kita pulang saja. Ada berkas penting yang harus Papa bawa untuk meeting besok karena berkas itulah yang akan dibahas dalam meeting besok.” Tolak Hermawan masih fokus ke jalanan yang dilaluinya.

“Baiklah. Kalau begitu, aku mau tidur sebentar,” ujar Alda sambil menoleh dan melihat Rega yang sudah tertidur lelap. “Ternyata sudah tidur.

Alda menyandarkan badan ke kursi. Matanya perlahan tertutup. Hanya butuh lima menit untuk perempuan itu langsung mengunjungi alam mimpi.


Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, Pak Hermawan sampai di rumah. Rega yang satu jam lalu sudah terbangun. Ia langsung keluar dari mobil dan berlari ke pintu utama rumah itu. Pak Hermawan menyimpan dulu kendaraanya ke garasi. Tiba-tiba terdengar teriakan Rega.

“Papa, Mama, li-lihat ke-si-ni!” Teriak Rega dengan raut terkejut saat melihat ada bayi aneh di teras rumahya.

“Apa, Nak?” Tanya Alda sambil berjalan mendekati Rega.

“I-tu, ada ba-yi.” Tunjuk Rega.

“Mana mungkin ada bayi di sini? Kamu lagi berkhayalkan?” tanya Alda sambil mengarahkan telunjuknya sebuah keranjang.

Alda terkejut ketika melihat di dalam keranjang itu ada bayi mungil dengan penampilan yang aneh. Rambut bahkan kulitnya berwarna putih, bola matanya biru. Tak ada tangis yang terdengar, bayi itu seolah-olah anteng jika bermain sendirian. Ia menggendong bayi berjenis kelamin perempuan ini. Bayi itu terlihat bahagia.

“Ma, ada apa?” Tanya Hermawan yang ternyata ada di dekatnya. “Bayi, siapa itu?”

“Mama tidak tahu. Bayi ini sudah ada di keranjang itu.” Tunjuk Mama ke arah keranjang yang ada di depan wajahku. “Bayinya berjenis perempuan, Pa. Bagaimana kalau kita adopsi saja bayi ini? Bukankah Rega sudah waktunya punya adik? Mungkin ini jawaban doa kita setiap malam. Papa, tau sendiri. Aku tidak bisa lagi memberikan keturunan. Boleh ya, Pa?”

“Baiklah. Nanti aku akan minta Sandi untuk memgurus segala surat-suratannya agar semua dilakukan secara resmi dan kita juga tidak dituduh sebagai sindikat penjualan bayi,” jelas Hermawan.

“Rega, mulai sekarang kamu harus panggil bayi ini adik karena bayi cantik ini akan tinggal bersama kita “ ucap Alda.

“Asyik! Rega punya adik kecil.” Rega bersorak sambil joget ala budak. “Nama bayinya siapa, Ma?

“Hmmm, kasih nama apa ya? “ Alda bingung. “Bagaimana kalau kita kasih nama ‘Reyna Rain’?”

“Horee.” Rega bersorak bahagia.

“Sudah larut malam. Sebaiknya kita masuk ke rumah,. Lagi pula angin malam tidak baik untuk bayi. Rega, kamu besok harus sekolah kan,” ujar Hermawan sambil menatap.

Alda berjalan menuju pintu utama sambil menggendong bayi yang diberi nama Reyna Rain. Dari belakang, Rega mengikuti sang ibu masuk ke rumah sambil tersenyum bahagia karena ia tidak sendirian lagi. Bayi itu tampak tenang dipangkuannya. Beruntung, baju Rega saat masih bayi belum sempat diberikan kepada Ines—saudaranya—yang baru saja melahirkan satu Minggu yang lalu. Untuk sementara waktu, Reyna bisa mengunakan baju bekas Rega. Besok, dia akan membelikan banyak baju lucu berwarna pink, bando, sweater, jepit, dan aksesoris anak perempuan yang lainnya.

Mungking, kesannnya Alda terlalu berlebihan. Dia benar-benar ingin memiliki anak perempuan. Tuhan seakan mendengar keinginannya itu. Kemudian, menghadirkan bayi mungil ini secara tidak terduga.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk