Hembusan angin dingin sudah mulai menjajah lingkungan kota Bandung selama seminggu terakhir ini. Udara pagi yang barusan meraba kulit berhasil membuat setiap helai bulu meremang.
Pagi ini, gadis itu menyeret kakinya dengan susah payah melewati gerbang sekolah yang tiga menit lagi hampir ditutup. Seragam rapinya tertutup hoodie zipper berwarna hitam kebesaran yang dia pakai untuk menghadang hawa dingin.
Dia memperlambat langkahnya, mencoba untuk memindai setiap sudut lingkungan sekolah yang baru saja menjadi tempat belajarnya sejak sebulan yang lalu. Lingkungan yang masih terasa asing.
Ruang kelasnya berada di ujung barisan lantai dua, dengan teras koridornya yang terbuka dan langsung menampilkan lapangan sekolah.
Kelas 11 IPA 4.
Gadis itu tidak langsung masuk ke kelas.
Dia menyempatkan diri untuk berdiri di dekat pagar koridor, menatap pemandangan seluruh gedung sekolah yang terlihat dari sudut itu.
Di belakangnya, para siswa berjalan keluar-masuk kelas bergantian, menunggu bel sekolah berbunyi.
Satu tarikan napas.
Buang.
Tarik napas.
Buang.
Dia mencoba menetralkan hati dan pikirannya. Berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasan pada dirinya. Sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah memasuki kelas.
Kelasnya ramai. Sangat ramai. Saking ramainya, tidak ada yang menyadari—atau peduli—bahwa gadis itu lewat. Dia memang siswa baru. Dan kehadirannya masih terasa asing bagi lingkungan kelasnya.
Kaki kurusnya berhenti di meja paling ujung di belakang kelas, dekat jendela. Tempat yang pas untuk menjadi tidak peduli dan tidak terlihat.
Di sudut atas meja itu, terdapat tulisan tangan: Rumi Hana.
Dia menamai mejanya supaya tidak ada yang duduk dan mengambil tempat nyamannya selama sebulan terakhir ini.
Tas ranselnya sudah dia taruh di dekat kaki meja. Tangannya bergerak membuka resleting, mengambil sebuah buku sketsa ukuran A5 yang bersampul kuning. Buku kesayangannya. Buku dengan kertas putih polosnya yang sering menjadi tempat Rumi melampiaskan semua emosinya.
Dia suka menggambar.
Atau lebih tepatnya, disuruh suka menggambar.
Tuk.
“Akh–” Rumi tersentak saat tiba-tiba sebuah penghapus karet mengenai pelipisnya dan jatuh di atas mejanya. Dia menoleh, menatap tajam anak laki-laki yang sejak tadi sedang asik bermain lempar-tangkap bersama temannya.
“Sori, Rum. Gak sengaja,” ujarnya takut-takut sambil perlahan mendekat untuk meminta kembali penghapusnya.
“Eh, woy! Juhan balik!” seseorang berteriak dari luar kelas.
Mendengar seruan itu, semua anak di dalam kelas pun heboh dan berlarian.
Rumi sedikit terkejut dan terheran menatap semua anak kelasnya yang berkerumun di pintu kelas—termasuk anak yang tadi melempar penghapus karet.
“Juhan? Siapa?” bisik Rumi pada dirinya sendiri. Matanya ikut menatap penasaran ke arah pintu.
Kira-kira, pangeran seperti apa yang membuat semua orang bersemangat untuk menyambutnya?
Kerumunan orang di depan pintu secara alami membuka jalan saat anak yang dimaksud itu mulai memasuki kelas, memberikan efek prajurit yang berbaris menyambut pemimpin pasukannya.
Rumi menatap anak laki-laki itu.
Tubuhnya tinggi-kurus, wajahnya kecil, pakaian dan rambutnya sangat rapi. Wajah tenangnya tersenyum, tidak seirama dengan tatapan matanya yang terlihat kosong.
Dia berjalan lurus, menuju meja kosong di depan Rumi.
Sebelum duduk, dia sempat berdiri sejenak, menatap Rumi dengan tatapan memindai. Mungkin sedang berusaha mengenali spesies yang saat ini ada di jangkauan pandangannya.
Mungkin, dia sedang memastikan tidak adanya tanda-tanda ancaman.
Atau mungkin, dia sedang mendeteksi wilayah baru untuk tempat tinggalnya.
Bel istirahat berbunyi.
Bel ke tiga puluh dua sejak Rumi masuk ke sekolah itu.
Sudah sebulan Rumi menghabiskan istirahatnya di perpustakaan. Setelah membeli satu kopi botol dingin dan dua roti pisang cokelat di kantin, dia akan langsung melangkah menuju perpustakaan.
“Dilarang membawa makanan dan minuman.”
Begitulah tulisan di pintu perpustakaan. Tapi, Rumi tetap membawa jajanannya di tangan dengan dibalut hoodie zipper yang sudah dia lepas.
Rumi sudah rutin melakukan itu sejak mengenal kenyamanan perpustakaan.
Dia berjalan menuju rak paling pojok. Di sana, ada sebuah bean bag yang selalu Rumi tempati. Kursi santai itu tersembunyi di balik rak yang melintang. Rak buku Sastra dan Sejarah yang sepertinya jarang sekali dinikmati oleh para siswa di sekolah itu, memberikan kesempatan untuk ketenangan mengambil alih pikiran Rumi.
Namun, sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya.
Di sana, di atas bean bag kesukaannya, bersandar seorang anak laki-laki yang kepalanya terkulai ke belakang. Matanya terpejam. Rambutnya berantakan. Kancing seragamnya dibuka sampai bawah, menampakan kaos putih polos yang dia pakai sebagai dalaman.
“Kenapa?” tanyanya tiba-tiba dengan suara serak. Kepalanya terangkat, matanya sayu menatap Rumi yang masih berdiri kaku di dekat rak. Sepertinya dia menyadari ada suhu tubuh lain yang mendekat.
Rumi mengenali wajah itu.
Wajah Juhan.
Wajah yang beberapa jam lalu terlihat sangat rapi dan berwibawa di kelas.
“Lo ngapain disitu?” Juhan kembali bertanya karena lidah Rumi terasa kelu untuk menjawab.
Dia masih terkejut. Tempat nyamannya selama sebulan ini tiba-tiba diambil alih oleh anak yang baru saja datang tadi pagi.
“I-ini tempat gue,” jawab Rumi. “Lo yang ngapain?”
Alis Juhan mengerut. “Emang ada label namanya?”
“Gue udah sebulan duduk di situ.”
Juhan tertawa pelan, kembali menyandarkan kepalanya ke kepala bean bag. “Cari tempat lain aja. Perpustakaan ini luas.”
Rumi mendengus sebal. Kakinya langsung bergegas pergi meninggalkan Juhan yang sudah memejamkan matanya lagi.
Anak laki-laki itu benar. Perpustakaan memang luas. Tapi tidak ada sudut yang sama tersembunyinya seperti sudut rak Sastra dan Sejarah.
Mau tidak mau, Rumi pun duduk di meja yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat Juhan. Tempat itu masih sedikit tertutup oleh rak buku terjemahan. Masih sama sepinya.
Rumi kehilangan minat untuk makan. Dia hanya menaruh jajanannya—yang masih terbalut hoodie—di atas meja. Kemudian dia menyembunyikan wajahnya di tumpukan lengan. Dia ingin tidur.
Lima menit berlalu sejak kesadaran Rumi menghilang, sebuah suara gesekan kursi berhasil menarik kembali nyawanya.
Rumi bisa merasakan ada seseorang yang menarik kursi di sampingnya.
Kepalanya terangkat dengan malas, menoleh ke sumber suara.
Di sampingnya, duduk seseorang yang tadi merebut bean bag kesayangannya.
“Bilang dong kalau mau tidur,” ucap Juhan sambil membuka buku yang sepertinya baru dia ambil. “Sana. Gue udah gak ngantuk.”
“Gak papa.” Rumi memiringkan kepalanya, membelakangi Juhan.
Hening.
Tidak ada sanggahan, tidak ada suara langkah. Hanya ada suara napas yang tenang.
Juhan tidak pergi. Dia masih duduk di samping Rumi—mungkin sambil membaca buku.
Rasanya aneh.
Sejak Rumi pindah sekolah, belum pernah ada satupun anak yang mau duduk lama di sampingnya. Semuanya punya teman masing-masing, jadi tidak ada yang peduli dengan kesepian yang Rumi alami.
Namun siang ini, seorang anak laki-laki baru saja mengambil sebuah keputusan.
Duduk menemani dengan tenang, tanpa niat mengganggu.
Rumi bisa merasakan sebuah energi kesepian yang sama dengan dirinya.
Dia mungkin memang belum paham. Tapi energi itu, kelak akan menjadi salah satu simpul yang menjaga kekokohan gubuk kecil mereka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!