Senang mendapat pekerjaan, Saga kembali pulang ke kos. Dia mengabari Sastra perihal hal tersebut. Dia langsung menuju warung tadi pagi dan memesan makan siang. “Bu, pakai itu dan itu,” tunjuknya ke arah sayur lodeh dan bakwan jagung. Dia tidak tahu apa namanya, jadi dia tunjuk saja apa yang ingin dia makan.
Ponselnya berdering. Sastra. “Iya, apa?” jawabnya. “Iya, di kantor ekspor impor, bagian admin,” lanjutnya.
Setelah menutup telepon, dia memakan makan siangnya dengan lahap. Sekarang dia tahu arti dari perkataan apapun makanan yang masuk akan terasa lebih nikmat jika sedang kelaparan. Selama ini dia makan apa yang disajikan di meja makan. Memilih makanan dan jijik saat melihat warung pinggir jalan. Sekarang, dia harus beradaptasi karena sudah memilih minggat dari rumah.
“Bu, potong yang tadi pagi, ya,” katanya setelah selesai makan.
Dengan langkah ringan, dia berjalan menuju kos. Setidaknya dia masih punya bekal uang cash yang ada di dompetnya sampai nanti menerima gaji pertamanya. Begitu sampai, dia mandi dan kemudian merebahkan diri di kasur tipis itu. Mulai menghitung sisa uangnya dan mengerutkan dahi saat memperkirakan uang itu tidak akan sampai beberapa bulan.
“Ternyata mencari uang susah,” gumamnya sambil membuka ponsel untuk melihat siapa saja yang menghubunginya. Nihil. Tidak ada yang mencarinya selain ketiga sahabatnya. Terutama Sastra. Pasti Papa sudah benar-benar melarang semua orang untuk mencarinya, keluh Saga dalam hati.
Entah jam berapa dia tertidur, tapi alarm pagi itu membangunkannya. Mengingat ini adalah hari pertama dia bekerja, maka dia bergegas untuk mandi. Setelah belajar dari pengalaman kemarin, Saga mengambil kemeja putih, dasi, serta celana. Dia ingin terlihat seperti karyawan lain yang dilihatnya di kantor. Setelah mematut diri di kaca, dia keluar kamar dan melihat Pak Kos sedang menjemur burungnya.
“Mari, Pak,” sapanya ramah.
“Oh, silakan, Mas,” jawab Pak Kos. Melihat penampilan Saga yang lebih santai, sepertinya anak itu sudah diterima kerja.
Saga tiba di kantor bahkan lebih dahulu daripada karyawan lain. Padahal dia sudah mampir sarapan di warung juga. Ternyata jarak kos ke kantor tidak memakan waktu lama.
“Mas sudah datang? Tunggu Pak Rudi dulu, ya,” kata Sari, front office kantor, yang sedang bersiap di mejanya.
Saga mengangguk dan menunggu di ruang tunggu. Dia memperhatikan beberapa karyawan mulai berdatangan. Orang yang mewawancarainya kemarin datang paling akhir, pas di jam delapan.
Tak berselang lama, dia dipanggil ke ruangan kemarin. “Saga, ini untuk MoU kontrak kerja. Silakan dibaca dulu,” kata Pak Rudi mengangsurkan berkas ke tangan Saga.
Sebenarnya dia tidak berharap banyak Saga akan menerima apa saja yang ada di sana. Latar belakang Saga sangat tidak cocok dengan fasilitas yang akan diberikan kantor.
Saga membaca semua klausul yang ada di kontrak tersebut. Gajinya hanya setara UMR, tidak ada penambahan lain. Bahkan fasilitas hanya ada BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang akan diberikan jika lulus probation.
Saga menatap Pak Rudi yang menatapnya balik. Pak Rudi melihat ada keraguan di mata Saga. Kini saatnya menunggu hasilnya. Mana ada anak dari kalangan elite yang mau menerima gaji hanya UMR.
“Saya tanda tangan di sini, Pak?” tanya Saga membuat Pak Rudi tak percaya.
“Iya, di sana,” kata Pak Rudi setelah menata pikirannya. “Kamu yakin, kan? Dengan semua fasilitas dan gajinya? Kamu tidak akan protes?” Pak Rudi masih belum yakin sepenuhnya.
“Yakin, Pak. Memangnya kenapa?” tanya Saga heran.
“Gajinya tidak terlalu kecil untukmu?” pancing Pak Rudi.
Saga kemudian tertegun. “Bukankah gaji pegawai biasa dan permulaan memang segini, Pak?” tanya Saga bingung.
Pak Rudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya sudah kalau kamu yakin,” kata Pak Rudi pada akhirnya. “Ayo, aku antar ke ruanganmu,” lanjut Pak Rudi kemudian beranjak dari kursinya.
Saga yang bersemangat mengikuti Pak Rudi menuju ruangan di sebelah. Layaknya ruangan admin pada umumnya, beberapa berkas, komputer, dan tumpukan data meminta untuk dikerjakan.
“Beberapa hari belakangan, pekerjaan ini dikerjakan serabutan oleh Sari, front office kami, makanya tidak maksimal. Kamu hanya harus mengecek data yang masuk, mengisinya di Google Form, lalu mengeceknya lagi sampai semuanya fix.” Pak Rudi menjelaskan pekerjaan yang langsung membuat kepala Saga mendadak nge-bug.
“Baik, Pak. Jadi ini data masuk yang harus saya cross-check dan masukkan ke Form, lalu nanti di-cross-check ulang?” ulang Saga membuat Pak Rudi mengangguk. Sepertinya Saga bisa diandalkan. Dia langsung paham pekerjaannya dengan baik.
“Aku akan pergi. Kerjakan, nanti kalau ada kesulitan beri tahu Sari,” imbuh Pak Rudi.
Saga kemudian menyingsingkan lengan bajunya. Menghadapi data yang menumpuk. Menatap komputer, lalu menghela napas. Ini adalah pilihannya. Menerima pekerjaan ini dan harus melakukannya dengan sepenuh hati.
Ponselnya berbunyi. Dengan gugup, Saga mematikannya. Sastra. Dia lupa membuat mode senyap. “Nanti aku telepon. Aku bekerja. Ini hari pertamaku,” kata Saga kemudian mematikan sambungan.
Pak Rudi sedang berada di ruangannya. Memijit keningnya yang mendadak pusing. Dia harus mengawasi Saga. Dia masih belum yakin anak itu tidak sedang bermain-main. Latar belakangnya sungguh tidak main-main.
Sastra yang sedang berada di kantor kemudian bengong. Kerja apa Saga? Kemarin dia bilang di kantor ekspor impor? Tangannya kemudian mencari perusahaan yang dimaksud.
Setelah mendapatkan data, Sastra masih tidak percaya. Apa Saga yakin bekerja di sana? Kemungkinan besar gaji yang dia dapat bahkan lebih kecil dari uang jajannya.
Mengingat tekad Saga yang ingin membuktikan pada papanya bahwa dia akan bisa bekerja dengan usahanya sendiri, Sastra geli sendiri. Dia sudah bertaruh dengan Bhumi dan Jagad berapa lama Saga akan bertahan di luar.
Saga masih berkutat dengan data-data yang harus dia masukkan ke komputer. Beberapa data begitu mudah karena tinggal meneruskan. Sementara di data lain, dia harus memulai dari data awal. Beruntung dia pernah menjadi admin di kantor papanya untuk beberapa waktu, mengisi liburan sekolahnya. Ilmu itu bermanfaat rupanya.
“Mas, makan siang gak?” Kepala Sari muncul di pintu membuat Saga terkejut. Dia melihat jam dan kaget karena rupanya jam makan siang sudah hampir lewat. “Ada warung dekat sini yang lumayan enak, Mas,” tawar Sari. “Bareng sama anak yang lain, kok,” lanjut Sari melihat keraguan Saga.
“Oh, oke.” Saga bangkit dan mengikuti Sari yang ternyata beberapa karyawan sudah menunggu di depan front office.
“Halo, aku Dina. Ini Pandu, itu Jeri,” kata seorang karyawan wanita sambil tersenyum manis ke arah Saga.
“Saga,” katanya dengan sedikit bingung.
“Ayo, nanti telat diomelin Pak Rudi,” ajak Sari membuyarkan tatapan mereka yang membuat Saga tak nyaman.
Mereka menuju warung yang berada di gang sebelah kantor. Warung khas dengan etalase berisi banyak makanan siap makan. Mulai dari sayur yang bisa Saga kenali sampai makanan yang dia tak tahu namanya.
“Mas Saga mau makan apa?” tanya Sari melihat Saga bengong di depan etalase.
“Itu saja,” kata Saga sambil menunjuk opor ayam.
“Minumnya?” tanya Bu Warung.
“Teh hangat.” Saga menerima piringnya.
Setelah dua hari berinteraksi dengan makanan rumahan, Saga sudah mulai bisa menerima semua itu. Dia duduk di kursi yang kosong. Karyawan lain mengikutinya.
“Mas Saga tinggal di mana?” tanya Dina ingin tahu.
“Hm… di gang dua belas, belakang kantor pengacara itu,” kata Saga.
Sari yang pertama melihat Saga datang ke kantor dengan setelan jas mahal tak percaya dia tinggal di daerah gang.
“Mas jalan kaki ke kantor?” tanya Jeri.
Saga mengangguk sambil mengunyah makanan yang rasanya tidak buruk di lidahnya. Mereka berpandangan tak percaya.
“Mas bukan orang sini?” tanya Sari.
“Bukan. Aku dari daerah utara,” kata Saga menyesap tehnya. “Kalian kalau gak cepat makan, nanti keburu jam makan siang selesai,” lanjutnya membuat mereka mengunyah makanan dengan cepat.
Saga tidak suka banyak orang mempertanyakan tentang dirinya. Namun, dia juga tidak bisa menolak pertanyaan-pertanyaan yang datang.
Dina memperhatikan Saga di sela makan. Laki-laki ini berbeda dari yang biasanya dia kenal. Sari menyikutnya karena takut Saga akan tersinggung dengan tatapan tanpa kedip Dina.
“Aku sudah selesai, aku kembali ke kantor dulu, ya.” Saga beranjak dan membayar makanannya. Dia harus sebisa mungkin menghindari interaksi yang berlebihan dengan orang lain agar tak terlibat masalah yang mungkin terjadi nanti.
Sari, Dina, Jeri, dan Pandu menatap punggung Saga yang mendahului mereka. Lalu mereka berpandangan.
“Dia bukan orang biasa, kan?” Pandu mengeluarkan suaranya.
“Pertama kali datang, dia memakai setelan jas yang terlihat mahal,” desis Sari.
“Pasti dia anak orang kaya,” timpal Jeri.
Mereka mengangguk sepakat dalam diam dan berasumsi dalam pikiran masing-masing.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!