Saga kembali berkutat dengan data dan layar komputer di depannya. Dia harus menunjukkan kepada Pak Rudi bahwa dia kompeten. “Ah, sepertinya aku harus membeli botol minum untuk berhemat. Di sini ada air mineral yang bisa kuambil.” Saga menatap dispenser di dekat meja Sari.
Ponselnya bergetar. Sudah jam pulang. Saga membereskan ranselnya dan bersiap pulang. Begitu keluar ruangan, beberapa orang sudah melangkah melewati pintu depan.
Begini rupanya rasa pulang kerja, Saga meringis. Dia berjalan dengan ringan menuju pintu depan. Dia terkejut saat melihat di parkiran ruko, mobil Sastra yang mentereng sudah terparkir dengan rapi, dan si empunya berdiri bersedekap menatapnya tak percaya. Bergegas Saga menghampiri sahabatnya yang sedikit gila itu. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menjemputmu untuk merayakan hari pertamamu kerja.” Sastra membuka pintu dan terlihat Nathan, sepupu Saga, sudah duduk di sana dengan wajah polosnya.
“Om, ayo, Om Jagad dan Om Bhumi menunggu!” teriaknya antusias.
“Apa yang kalian rencanakan?” Saga curiga dengan sikap mereka.
Sastra mendorongnya masuk ke mobil dan menutup pintu dengan keras. Dia kemudian masuk ke kursi depan sebelah sopir. “Jalan, Pak. Kafe biasa.” Sastra menginstruksikan dengan senyum jahil yang tak lepas dari wajahnya.
“Om, beneran, kata Om Sastra tidur di kamar kecil?” Nathan penasaran dengan kondisi omnya yang terlihat memprihatinkan itu.
Saga mendelik ke arah bocah yang belum genap berusia lima belas tahun itu. Nathan bergidik ngeri dan menjauh. “Jangan pernah bilang sama Bang Saka atau Papa,” ancam Saga.
“Mana berani aku kepada Papa Pram? Om mau aku digorok?” Nathan berpura-pura mencekik lehernya sendiri.
Sastra tertawa melihat Nathan dan Saga, yang langsung menjambak rambutnya dari belakang. “Diam kau!”
Mobil Jagad dan Bhumi terlihat di parkiran kafe yang mereka tuju. Saga turun dengan malas karena tahu apa yang akan terjadi di dalam. Seharusnya dia tadi kabur saja begitu melihat Sastra di halaman kantornya.
Melihat penampakan Saga yang tak seperti biasanya membuat tawa Bhumi dan Jagad pecah. Nathan sudah memberi isyarat pada keduanya untuk diam. Sementara Sastra menahan Nathan agar diam saja dan membiarkan mereka membuat Saga marah.
“Diam kalian!” Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mengambil es teh yang ada di depan Bhumi.
“Heh, pesan sendiri!” Bhumi merebut gelas itu dan membuat Saga berkelit.
Pelayan datang. Sastra menyebutkan beberapa pesanan mereka tanpa perlu bertanya, karena sudah hafal apa yang akan dipesan.
“Kamu bekerja? Jadi admin? Gajimu?” Bhumi penasaran. Saga mengeluarkan salinan kontrak dari tasnya. Bhumi melihatnya dan tertawa dengan keras. “Kamu yakin bisa hidup dengan uang ini?”
Jagad mengambil kertas itu dan ikut tertawa. Dibanding ketiga temannya itu, kehidupan Jagad mungkin yang paling biasa saja, tapi melihat gaji Saga itu bahkan masih di bawahnya.
“Akan aku usahakan bisa berdiri sendiri,” putus Saga membuat keempat orang itu tertawa semakin keras.
“Keras kepalamu sama seperti Om Pram.” Jagad menepuk pundak Saga iba.
“Pakai sandi kalau butuh bantuan,” kata Bhumi tak tega melihat Saga.
“Lupakan, apa kalian mau digorok?” Nathan memperagakan mencekik leher dengan kedua tangannya.
“Aku tidak butuh bantuan kalian,” ketus Saga.
“Iya, iya. Kami tahu. Anak mandiri,” ledek Sastra.
Saga menatap tajam ke arah Sastra. Dia tahu mereka sedang menertawakannya, tapi di antara rasa kesal itu, Saga juga tahu mereka datang karena khawatir. Hanya saja, dia tetap tidak mau mengakuinya. “Makan saja. Setelah itu antar aku pulang,” kata Saga.
“Pulang ke kos lima ratus ribu?” tanya Jagad menahan tawa.
“Jagad!”
“Oke, oke. Ampun.”
Nathan terkikik, lalu buru-buru menutup mulut ketika Saga menatapnya.
Malam itu, mereka makan seperti biasa, hanya saja Saga yang biasanya paling santai kini terlihat lebih kusut dengan kemeja kerja dan wajah lelah. Bhumi sesekali menatap kontrak kerja Saga, lalu menggelengkan kepala. Sastra masih tertawa sendiri membayangkan Saga bekerja sebagai admin. Jagad terus meledeknya, sementara Nathan tampak terlalu antusias melihat omnya menjalani kehidupan yang menurutnya seperti petualangan baru.
Setelah selesai, Saga berdiri lebih dulu. “Aku mau pulang. Besok kerja.”
“Dengar itu,” kata Sastra sambil menatap Bhumi dan Jagad. “Besok kerja. Saga bicara seperti karyawan sungguhan.”
“Memang aku karyawan sungguhan,” balas Saga kesal.
Mereka kembali tertawa, membuat Saga semakin ingin cepat-cepat pulang ke kos. Namun, saat mobil Sastra berhenti di jalan besar dekat gang, Saga langsung turun sebelum Sastra sempat menawarkan untuk mengantar sampai depan kamar.
“Sampai sini saja,” katanya.
“Serius? Jalannya gelap,” kata Sastra.
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Jangan keras kepala terus,” ujar Bhumi dari kursi belakang.
“Kalau aku butuh bantuan, aku akan bilang,” kata Saga, meski dia sendiri tidak yakin akan benar-benar melakukannya.
Nathan membuka kaca mobil. “Om, semangat kerja besok!”
Saga menatap bocah itu, lalu mendengus pelan. “Kamu belajar saja yang benar.”
“Siap, Om!”
Saga berbalik dan berjalan masuk ke gang. Dari belakang, dia masih mendengar suara tawa mereka sebelum mobil Sastra akhirnya pergi. Sesampainya di kamar, Saga melepas sepatu dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur kapuk. Punggungnya protes, tapi kali ini dia terlalu lelah untuk mengeluh. Hari pertamanya bekerja sudah selesai. Dia belum tahu apakah besok akan lebih mudah atau lebih sulit. Yang jelas, dia masih bertahan. Dan untuk Saga, malam itu saja sudah cukup.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!