Seminggu Pertama

2 dibaca

A

Seminggu pertama Saga sebagai anak kos dan karyawan baru berjalan dengan banyak hal kecil yang membuatnya ingin marah, tapi tidak bisa dia lawan. Alarm yang terlalu cepat berbunyi, air kamar mandi yang dingin, kemeja yang harus dipilih dengan hati-hati karena dia belum mahir mencuci, sarapan di warung yang mulai membuat Bu Warung hafal kebiasaannya, lalu berjalan kaki ke kantor sambil membawa botol minum yang sekarang menjadi benda paling penting di dalam tasnya. Di kantor, pekerjaannya masih sama. Data masuk, Form, pengecekan ulang, berkas yang harus disusun, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang membuatnya kadang harus menahan gengsi untuk bertanya kepada Sari atau Pandu.

Saga mulai mengerti bahwa bekerja bukan hanya soal datang, duduk, lalu pulang. Ada rasa lelah yang berbeda ketika pulang sore. Ada kepala yang terasa penuh meski tubuh tidak terlalu banyak bergerak. Ada mata yang panas karena menatap layar terlalu lama. Ada perasaan kesal ketika data yang sudah dimasukkan ternyata harus diperbaiki karena ada satu angka yang keliru. Namun, anehnya, semua itu membuat Saga merasa sedikit lebih hidup. Dia punya sesuatu yang harus dikerjakan. Sesuatu yang bukan sekadar menunggu Papa selesai marah atau menunggu rumah kembali terasa bisa ditinggali.

“Mas Saga, ini data kemarin sudah rapi,” kata Sari suatu siang sambil meletakkan map di meja Saga.

Saga menoleh. “Tidak ada yang salah?”

“Belum ketahuan,” jawab Sari membuat Saga mengerutkan dahi.

“Kenapa jawabannya begitu?”

“Karena kalau kerja sama data, salahnya kadang baru ketahuan kalau sudah terlanjur percaya diri,” timpal Pandu dari meja sebelah. Saga menatap Pandu tidak suka, tapi dia mencatat ucapan itu dalam kepala. Jangan terlalu percaya diri. Bahkan bekerja pun ternyata tidak sesederhana merasa bisa.

Saat makan siang, Saga sudah tidak terlalu kaku lagi ketika berdiri di depan etalase warung. Dia memang masih menunjuk beberapa lauk karena tidak tahu namanya, tapi setidaknya dia tidak lagi menatap makanan seperti sedang membaca teka-teki.

“Itu namanya tumis kangkung, Mas,” kata Dina saat Saga menunjuk salah satu sayur.

“Aku tahu,” jawab Saga cepat.

Jeri menahan tawa. “Tadi Mas nunjuk dulu baru tahu?”

Saga menatapnya. “Makan saja.”

Mereka tertawa, tapi tidak lama. Setelah beberapa hari bersama mereka, Saga mulai bisa membedakan mana tawa yang mengejek dan mana tawa yang hanya bagian dari kebiasaan. Di kantor itu, orang-orang sering meledeknya karena penampilannya masih terlalu rapi, karena cara bicaranya terlalu formal, atau karena dia terlihat seperti orang yang baru mengenal warung dan ember. Tapi mereka tidak menertawakannya seperti Papa yang menganggapnya tidak akan mampu. Itu cukup berbeda.

Sore hari, Pak Rudi memeriksa pekerjaannya lagi. Kali ini lebih lama dari biasanya. Saga duduk dengan punggung tegak, menunggu hasilnya. “Lumayan,” kata Pak Rudi pada akhirnya.

Saga hampir menghela napas lega, tapi dia menahannya. “Ada yang harus diperbaiki, Pak?”

“Ada. Tapi tidak fatal. Kamu mulai paham alurnya.”

Saga mengangguk. “Saya perbaiki sekarang?”

“Besok saja. Sudah jam pulang. Jangan membawa pulang kerjaan kalau belum tahu cara membawanya dengan benar.”

Saga tidak sepenuhnya paham maksud Pak Rudi, tapi dia mengangguk. “Baik, Pak.”

“Dan besok jangan datang terlalu rapi. Kamu kerja admin, bukan mau rapat direksi.”

Saga menatap kemejanya sendiri. “Ini sudah tidak terlalu rapi, Pak.”

Pak Rudi menatapnya dari atas ke bawah. “Menurutmu.” Saga memilih diam.

Setelah pulang, Saga mampir ke warung Bu Warung seperti biasa. Dia makan dengan tenang, lalu menghitung sisa uangnya di kepala. Ternyata uang bisa terasa cepat habis bahkan ketika dia merasa tidak membeli apa-apa. Makan, sabun, detergen, botol minum, ember, gantungan, dan beberapa hal kecil lain yang dulu tidak pernah masuk hitungannya sekarang punya tempat sendiri dalam pikirannya.

“Mas Saga, tambah nasi?” tanya Bu Warung.

Saga menatap piringnya. “Berapa kalau tambah?”

“Dua ribu.”

Saga terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Tambah, Bu.”

Bu Warung tersenyum. “Mulai berhitung, ya?”

Saga tidak menjawab. Dia hanya menatap nasi tambahan itu dengan perasaan sedikit malu. Hidup hemat membuatnya bahkan harus tahu harga tambah nasi. Namun, dia tetap memakannya sampai habis.

Malamnya, saat dia sedang mencatat pengeluaran di kertas bekas yang dia sobek dari buku lama, ponselnya bergetar. Grup sahabatnya kembali ramai.

Sastra mengirim pesan pertama.

[Anak kos, masih hidup?]

Saga malas membalas, tapi tetap mengetik.

[Masih.]

Bhumi menyusul.

[Catat pengeluaran. Jangan cuma mengandalkan perasaan.]

Saga menatap kertas di depannya.

[Sudah.]

Jagad langsung membalas.

[Hebat. Besok mungkin dia sudah bisa beli bawang sendiri.]

Saga mengerutkan dahi.

[Untuk apa aku beli bawang?]

Sastra mengirim stiker tertawa. Nathan yang entah sejak kapan masuk dalam grup itu juga ikut mengirim pesan.

[Om, aku bangga.]

Saga menatap layar beberapa detik. “Anak ini,” gumamnya. Nathan mengirim banyak emotikon menangis, lalu Sastra mengirim pesan bahwa Saga benar-benar sudah berubah menjadi om-om galak. Saga meletakkan ponsel dan kembali mencatat pengeluarannya. Tulisan tangannya rapi, tapi angka-angka di sana membuat keningnya berkerut. Dia harus lebih hemat. Kalau tidak, uang yang dia bawa tidak akan cukup sampai gaji pertamanya.

Hari Sabtu pertama datang tanpa terasa. Saga mengira akhir pekan akan membuatnya bisa tidur lebih lama, tapi suara gang membangunkannya lebih pagi dari alarm. Dia duduk di kasur dengan wajah kesal. Ternyata bahkan hari libur pun tidak memberinya banyak kemewahan. Dia mencuci beberapa baju lagi, kali ini memisahkan warna putih dan warna lain dengan hati-hati. Ibu penghuni kos yang kemarin menegurnya lewat dan mengangguk puas.

“Nah, begitu. Yang putih sendiri.”

Saga mengangguk. “Iya, Bu.”

“Pintar.” Saga tidak tahu harus merasa tersinggung atau bangga dipuji karena berhasil memisahkan cucian.

Setelah menjemur pakaian, dia membersihkan kamar. Tidak banyak yang bisa dibersihkan karena kamarnya kecil, tapi debu tetap muncul entah dari mana. Saga menyapu lantai, merapikan koper, melipat baju, lalu duduk di kasur sambil menatap ruangannya. Kamar itu masih sempit, masih panas, masih jauh dari nyaman. Tapi setelah seminggu, dia mulai tahu di mana meletakkan tas, di mana menaruh botol minum, di mana menyimpan detergen agar tidak tumpah, dan bagian kasur mana yang paling tidak menyiksa punggungnya.

Ponselnya bergetar. Saka. Saga menatap nama kakaknya cukup lama sebelum membuka pesan.

[Papa tahu kamu masih kerja.]

Saga membaca kalimat itu berkali-kali.

[Lalu?]

Balasan Saka tidak langsung datang. Saga menunggu dengan dada yang mulai tidak nyaman.

[Dia bilang kalau kamu sudah puas mempermalukan diri sendiri, pulang.]

Saga menatap layar itu, lalu tertawa pendek. Tentu saja. Papa tidak akan bilang bagus. Papa tidak akan bertanya apakah dia baik-baik saja. Papa hanya akan melihat semua ini sebagai sesuatu yang memalukan.

[Aku tidak mempermalukan siapa-siapa.]

Balasan Saka datang beberapa saat kemudian.

[Aku tidak bilang kamu mempermalukan siapa-siapa. Aku hanya menyampaikan.]

Saga meletakkan ponsel di kasur. Dia tidak tahu harus marah kepada Papa, kepada Saka, atau kepada dirinya sendiri. Namun, satu hal yang jelas, Papa masih belum melihat apa yang sedang dia lakukan sebagai usaha. Di mata Papa, Saga hanya anak keras kepala yang sedang membuat keluarga terlihat buruk.

Siang itu, Sastra benar-benar datang meski Saga tidak mengundangnya. Kali ini dia tidak datang dengan rombongan lengkap. Hanya Sastra dan Nathan, membawa kantong berisi camilan yang langsung diletakkan di meja kecil.

“Aku tidak minta,” kata Saga.

“Aku tahu. Ini untuk Nathan,” jawab Sastra santai.

Nathan mengangguk cepat. “Iya, Om. Aku yang lapar.”

Saga menatap mereka berdua dengan curiga, tapi terlalu malas berdebat. Sastra masuk dan duduk di lantai tanpa banyak komentar, meski wajahnya tetap tampak tidak tega melihat kamar Saga. Nathan mengamati ruangan itu seperti sedang berkunjung ke tempat wisata.

“Om, kasurnya masih di lantai?”

“Menurutmu?”

“Punggung Om tidak sakit?”

“Sakit.”

“Terus kenapa masih di sini?”

Saga menatap Nathan. “Karena aku keras kepala.”

Nathan mengangguk seolah jawaban itu sangat masuk akal. “Oh.”

Sastra menahan tawa. “Setidaknya kamu sadar.”

Saga mengambil bantal kecil dan melemparkannya ke arah Sastra. Sastra menangkapnya sambil tertawa pelan.

Mereka tidak lama di sana. Sastra hanya memastikan Saga masih waras, Nathan hanya ingin melihat sendiri kehidupan baru omnya, lalu mereka pergi sebelum sore. Saga tidak mengantar sampai jalan besar. Dia hanya berdiri di halaman kecil, melihat mereka berjalan keluar gang.

“Kalau butuh sesuatu, kabari,” kata Sastra sebelum pergi.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tidak akan mengabari.”

“Benar.”

Sastra menghela napas. “Dasar.”

Setelah mereka pergi, Saga kembali ke kamar. Dia menatap camilan yang ditinggalkan Nathan di meja. Katanya untuk Nathan, tapi semuanya tertinggal di sana dengan sengaja. Saga mendengus pelan, lalu mengambil satu bungkus kecil dan membukanya.

Malam itu, dia kembali mencatat pengeluaran, mencuci gelas, lalu merebahkan diri di kasur. Seminggu lalu, dia tidak tahu harus ke mana setelah keluar dari rumah. Sekarang, dia masih belum tahu sampai kapan akan bertahan, tapi setidaknya dia sudah tahu besok pagi harus melakukan apa.

Bangun. Mandi. Sarapan. Bekerja lagi. Hal-hal sederhana itu tidak membuat hidupnya mudah. Tapi untuk saat ini, hal-hal sederhana itu membuatnya merasa masih berjalan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk