Baju Putih yang Berkhianat

2 dibaca

A

Pagi itu Saga bangun dengan tubuh pegal. Dia menatap langit-langit kamar kos yang rendah sambil mengumpulkan nyawa. Hidup sebagai anak kos ternyata bukan hanya soal punya kamar dan bisa tidur di dalamnya. Ada pekerjaan kantor, ada makan yang harus dipikirkan, ada uang yang harus dihitung, dan ada baju yang tidak akan bersih sendiri.

Saga bangkit dan menuju belakang kamar untuk mengambil jemurannya. Dia cukup bangga ketika melihat beberapa potong baju sudah kering. Namun, kebanggaan itu langsung runtuh saat dia melihat salah satu kemeja putihnya berubah warna. Putihnya tidak lagi putih. Ada semburat merah muda yang sangat jelas. Saga mematung. “Tidak mungkin,” gumamnya sambil mengambil kemeja itu.

Dia membolak-balik kemeja tersebut, berharap matanya salah melihat. Sayangnya tidak. Kemeja putih mahal itu benar-benar berubah menjadi merah muda pudar karena semalam dia mencampurnya dengan baju berwarna. Saga menatap baju itu seolah baju tersebut baru saja mengkhianatinya.

“Mas, itu luntur, ya?” tanya ibu penghuni kos yang kemarin memberinya nasihat soal detergen.

Saga menoleh kaku. “Sepertinya begitu, Bu.”

“Lain kali yang putih jangan dicampur sama yang warna. Nanti luntur.” Saga mengangguk pelan. Dia ingin mengatakan bahwa dia tahu, tapi setelah melihat kemeja putih di tangannya, ucapan itu jelas tidak akan dipercaya siapa pun. “Masih bisa dipakai di rumah, kok,” hibur ibu itu.

Saga menatap kemeja itu dengan wajah datar. “Untuk tidur?”

“Iya, kalau Mas mau.”

Saga menarik napas panjang. Satu lagi pelajaran hidup yang datang dengan cara menyebalkan. Setelah mandi, Saga memilih kemeja lain yang masih aman. Dia sengaja melipat kemeja putih yang sudah berubah warna dan memasukkannya ke bagian bawah koper, seolah dengan begitu aibnya bisa disembunyikan. Namun, saat dia keluar kamar, Pak Kos melihatnya sedang menutup koper dengan gerakan terlalu cepat.

“Bajunya ada yang kelunturan, Mas?” tanya Pak Kos polos.

Saga berhenti. “Siapa yang bilang, Pak?”

Pak Kos menunjuk jemuran belakang. “Kelihatan, Mas. Warna pink begitu.”

Saga memejamkan mata. Rupanya hidup di kos juga berarti semua kegagalan kecil bisa diketahui orang. “Saya berangkat kerja dulu, Pak,” katanya cepat.

Pak Kos hanya tertawa kecil. “Hati-hati, Mas.”

Di warung, Bu Warung juga sepertinya sudah tahu. Entah bagaimana berita kemeja luntur bisa bergerak secepat itu. Saga baru saja duduk ketika Bu Warung menatapnya sambil menahan senyum. “Mas Saga, bajunya yang putih jangan dicampur sama yang merah.”

Saga menatap Bu Warung. “Saya belum cerita, Bu.”

“Lha wong ibu sebelah tadi beli sayur sambil cerita.”

Saga menunduk, mengambil sendok dengan lebih cepat. “Saya makan saja, Bu.”

Bu Warung tertawa sambil menyiapkan makanannya. “Namanya juga baru belajar. Lama-lama bisa.”

Saga tidak menjawab. Dia hanya makan dengan cepat, lalu berangkat ke kantor dengan perasaan bahwa hari itu bahkan belum benar-benar dimulai, tapi harga dirinya sudah jatuh lebih dulu.

Sampai di kantor, Sari langsung melihat wajahnya. “Mas Saga kenapa?” tanya Sari.

“Tidak apa-apa.”

“Wajahnya seperti orang kalah perang.”

Saga meletakkan tas di kursinya. “Baju saya luntur.”

Sari terdiam sebentar, lalu tertawa. Tidak keras, tapi cukup membuat Saga menatapnya tajam. “Maaf, Mas. Tapi itu memang fase wajib anak kos.”

“Kenapa semua orang tahu fase anak kos?”

“Karena hampir semua orang pernah ngekos, Mas. Kecuali Mas Saga mungkin.”

Saga memilih menyalakan komputer dan tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, Jeri lewat sambil membawa tumpukan berkas.

“Mas Audit, katanya bajunya jadi pink?”

Saga menoleh cepat. “Sari.”

Sari langsung mengangkat tangan. “Bukan aku!”

Dari meja depan, Dina menahan tawa. Pandu yang baru datang ikut menimpali, “Kalau pink, masih bisa dipakai, Mas. Anggap saja fashion.”

“Diam kalian,” kata Saga datar.

Mereka tertawa sebentar, lalu kembali bekerja. Saga mencoba fokus pada data, tapi beberapa kali pikirannya kembali pada kemeja putih yang berubah warna. Kalau di rumah, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Baju tinggal masuk keranjang, lalu kembali rapi di lemari. Dia tidak pernah bertanya siapa yang mencuci, bagaimana caranya, mana yang boleh dicampur, mana yang tidak. Sekarang satu kemeja luntur saja sudah cukup membuatnya sadar bahwa hidup yang selama ini dia anggap biasa ternyata disusun oleh banyak pekerjaan kecil yang tidak pernah dia lihat.

Pekerjaan hari itu lebih banyak dari kemarin. Pak Rudi meminta Saga mengecek beberapa data yang masuk tidak lengkap. Ada nomor invoice yang kurang, alamat yang tidak sesuai, dan beberapa file yang harus ditanyakan kepada bagian operasional. “Kalau tidak yakin, jangan asal isi,” kata Pak Rudi saat menyerahkan berkas. “Tanya dulu. Salah di awal, nanti panjang urusannya.”

“Baik, Pak.” Saga mengerjakannya dengan serius. Dia mulai tahu bagian mana yang harus dicek ulang, mana yang bisa langsung dimasukkan, dan mana yang harus ditahan. Beberapa kali dia bertanya kepada Sari, lalu ke Pandu, dan akhirnya ke Arman dari bagian operasional. Arman menjelaskan sambil menunjuk beberapa kode yang awalnya terlihat tidak penting bagi Saga.

“Ini kalau salah kode, barangnya bisa nyasar,” kata Arman.

Saga mengangguk. “Berarti ini harus disamakan dengan data pengiriman?”

“Iya. Jangan cuma lihat nama barangnya. Lihat kode, jumlah, sama tujuan.” Saga mencatat itu di kertas kecil. Dia tidak mau salah hanya karena gengsi bertanya.

Saat makan siang, mereka kembali ke warung sebelah kantor. Saga kali ini tidak terlalu lama memilih makanan. Dia menunjuk ayam kecap dan sayur bening.

“Sudah mulai hafal lauk, Mas?” ledek Dina.

“Sedikit.”

“Besok-besok bisa pesan tanpa nunjuk,” sambung Jeri.

Saga menatapnya. “Jangan terlalu berharap.”

Mereka tertawa. Kali ini Saga tidak terlalu kesal. Dia masih tidak suka dijadikan bahan ledekan, tapi ledekan mereka tidak terasa seperti merendahkan. Berbeda dengan tatapan orang-orang yang dulu hanya melihatnya dari nama belakang atau penampilan. Di kantor ini, mereka meledeknya karena dia benar-benar ada di sana. Karena dia bekerja bersama mereka. Karena dia ikut makan, ikut bingung, ikut salah, dan ikut belajar.

Sore hari, Pak Rudi memeriksa pekerjaan Saga dan mengangguk kecil. “Lebih rapi dari kemarin.”

Saga menahan diri agar tidak terlihat terlalu senang. “Terima kasih, Pak.”

“Jangan cepat puas. Besok masih ada data masuk.”

“Baik, Pak.”

“Dan jangan datang dengan baju pink kalau belum siap diledek satu kantor,” tambah Pak Rudi datar sebelum keluar.

Saga membeku. Dari luar ruangan, Sari tertawa keras. Saga menatap pintu dengan wajah tidak percaya. Rupanya bahkan Pak Rudi sudah tahu.

Malamnya, setelah makan di warung dan kembali ke kos, Saga duduk di lantai kamar sambil menatap kemeja putih yang sudah menjadi merah muda. Dia mengangkat ponsel dan memotretnya, entah untuk apa. Beberapa detik kemudian, dia mengirim foto itu ke grup sahabatnya.

Balasan Sastra datang paling cepat.

[HAHAHAHAHAHAHAHA.]

Bhumi menyusul.

[Sudah kubilang hidup sendiri tidak semudah gaya bicaramu.]

Jagad mengirim pesan berikutnya.

[Selamat. Kamu resmi menjadi anak kos.]

Nathan muncul terakhir.

[Om, bajunya lucu.]

Saga menatap pesan Nathan dengan kesal.

[Jangan bilang siapa-siapa.]

Balasan Nathan datang cepat.

[Aku sudah kirim ke Bang Saka.]

Saga langsung duduk tegak.

[NATHAN!]

Tidak sampai satu menit, pesan dari Saka masuk.

[Baju putih jangan dicampur warna.]

Saga menatap layar ponsel itu dengan wajah kaku. Dia tidak tahu harus marah kepada Nathan, kepada Saka, kepada detergen, atau kepada dirinya sendiri.

[Aku tahu.]

Balasan Saka singkat.

[Sekarang.]

Saga melempar ponselnya ke kasur dengan kesal. Namun, beberapa detik kemudian dia mengambilnya lagi. Tidak ada pesan dari Papa. Tidak ada panggilan. Tidak ada perintah. Tidak ada larangan. Hanya pesan dari Saka yang menyebalkan seperti biasa.

Saga menatap kemeja pink itu lagi, lalu menghela napas. Besok dia harus bekerja lagi. Dia harus mencuci lagi. Dia harus makan lagi. Dia harus menghitung uang lagi. Semuanya menyebalkan, kecil, dan melelahkan. Namun, semua itu miliknya. Dan meskipun satu kemeja sudah berkhianat, Saga masih belum pulang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk