Malam mulai turun ketika Rhea dan Bram meninggalkan kawasan pasar. Cahaya matahari perlahan menghilang di balik bangunan-bangunan tinggi, tetapi Veyloria justru semakin ramai. Para pedagang mulai menyalakan lentera yang tergantung di depan toko, membuat satu demi satu jalan dipenuhi cahaya.
Ribuan lentera dipasang di sepanjang jalan utama, sebagian berbentuk bulat, sebagian lagi dibuat menyerupai bulan sabit. Simbol yang sama juga terlihat pada kain-kain yang digantung di antara bangunan, bendera kecil, bahkan perhiasan yang dikenakan beberapa penduduk.
Rhea memperhatikan semuanya tanpa banyak komentar. Sejak sore, jumlah orang yang menuju pusat kota semakin bertambah. Keluarga membawa anak-anak, para pedagang menutup kios lebih awal, dan sekelompok pemusik berjalan menuju alun-alun sambil membawa alat musik mereka.
“Apa semua orang pergi ke alun-alun?” tanya Rhea, menatap kerumunan yang kian padat.
“Hampir semua,” jawab Bram, menepis dahan dekorasi yang menghalangi jalan. “Prosesi utama akan dimulai sebentar lagi. Setelah lonceng berbunyi, mereka akan menyalakan lilin dan membawa persembahan ke kuil.”
“Persembahan untuk Selene?”
Bram mengangguk. “Hari kelahirannya selalu dirayakan seperti ini. Setiap tahun semakin besar.”
Rhea memandang salah satu lentera berbentuk bulan sabit yang tergantung di atas jalan. Ia masih belum mengerti mengapa sebuah kota bisa merayakan kelahiran seseorang yang disebut sebagai dewi terkutuk. Sejak tiba di Veyloria, ia mendengar terlalu banyak versi tentang Selene.
Ada yang menganggapnya sebagai pelindung, ada yang menyalahkannya atas bencana masa lalu, dan ada pula yang percaya bahwa suatu hari ia akan kembali. Rhea belum memiliki cukup informasi untuk memilih mana yang benar, dan ketidaktahuan itu membuatnya tetap berada dalam posisi siaga.
“Apakah kau ikut setiap tahun?” tanya Rhea lagi.
Bram tersenyum, menatap lurus ke depan. “Aku lahir di Veyloria. Tentu saja aku pernah melihat ritual ini berkali-kali. Saat kecil, aku bahkan ikut berdesakan di depan kuil hanya untuk melihat prosesi.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku lebih suka melihatnya dari tempat yang tidak terlalu ramai.” Bram tertawa kecil sambil mengedikkan bahu.
Rhea hampir tersenyum, tetapi langsung mengurungkan niatnya dan kembali memasang wajah datar. Mereka terus berjalan mengikuti arus orang menuju alun-alun. Musik terdengar semakin jelas. Suara alat musik berdawai bercampur dengan bunyi lonceng kecil dan percakapan penduduk yang saling bersahutan.
Rhea sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan perayaan itu. Ia sudah mendapatkan satu hal penting dari Veyloria, kota ini mungkin menyimpan informasi tentang dirinya, tetapi ia tidak berharap menemukan jawabannya dalam sebuah festival. Ia hanya ingin mengamati, mengumpulkan informasi, kemudian kembali ke penginapan dengan aman. Namun, ketika mereka melewati sebuah persimpangan gang, langkah Rhea mendadak terhenti.
Ada suara. Samudra bising di sekitarnya seolah-olah meredup, menyisakan satu bisikan yang menusuk kepalanya.
”Putri Saturnus ....”
Rhea tidak bergerak. Tangannya langsung turun, mendekap hulu pedang di balik jubah. Kerumunan terus berjalan di sekelilingnya tanpa peduli. Seorang pria membawa keranjang besar melewati bahunya hingga menyenggol tudung jubah Rhea, dua anak kecil berlari cepat menuju alun-alun, dan Bram yang berjalan beberapa langkah di depan baru menyadari bahwa Rhea tidak lagi mengikutinya.
Bram berbalik cepat dan melangkah mundur menghampirinya. “Ada apa?”
Rhea tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak tajam menyisir sekeliling. Suara itu sudah pernah ia dengar saat pertama kali terbangun di tumpukan jerami desa terpencil. Itu bukan suara manusia yang terdengar jelas dari jarak dekat. Suaranya seperti datang dari tempat yang sangat jauh, tetapi entah bagaimana hanya Rhea yang bisa mendengarnya langsung di dalam kepalanya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang sedang menatap atau berbicara kepadanya dari dekat.
“Nona?” Bram mengguncang bahunya pelan.
“Aku dengar sesuatu,” bisik Rhea dengan kening berkerut.
Bram mendekat, ikut mengedarkan pandangan ke jalanan yang ramai. “Apa?”
Rhea mengamati orang-orang di sekitarnya sekali lagi sebelum menjawab, “Aku tidak tahu.”
Ia memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh. Jika Bram tidak mendengarnya, tidak ada gunanya membuat pria itu ikut bingung mencari sumber suara. Rhea bahkan belum yakin apakah suara tersebut benar-benar berasal dari seseorang yang nyata atau hanya ilusi pikirannya yang rusak. Namun, tepat ketika ia hendak melangkah lagi, suara itu muncul kembali dengan lebih jelas.
”.... pulanglah ....”
Kali ini Rhea mendengarnya dengan sangat jelas hingga tubuhnya menegang. Ia tidak langsung mengejar sumbernya. Ada sesuatu yang berbeda dari suara itu. Sebelumnya, ia hanya menganggap gema namanya sebagai bagian lain dari misteri ingatan yang tercecer. Sekarang, setelah memikirkan siapa dirinya sepanjang hari, dua kata baru itu, Putri Saturnus dan perintah untuk pulang, terasa jauh lebih mengganggu.
Pulang? Ke mana? Kepada siapa ia harus kembali jika ia tidak mengingat satu pun tempat di dunia ini?
Rhea berdiri di tengah kerumunan sambil memandang wajah-wajah asing yang bergerak di sekelilingnya. Seebuah kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan muncul di benaknya, bagaimana jika pemilik suara itu memang mengenalnya di masa lalu?
Bram menyentuh lengan Rhea dengan ringan untuk menarik perhatiannya kembali. “Kita harus lanjut, Nona. Kalau terlalu lama di persimpangan ini, kita akan sulit menembus gerbang alun-alun.”
Rhea yang tadinya tersentak karena sentuhan itu pun akhirnya mengalihkan pandangan dan menarik napas dalam-dalam. “Baik.”
Ia hendak melangkah mengikuti Bram ketika sesuatu di seberang jalan membuatnya kembali berhenti di tempat. Seorang lelaki tua berdiri diam di antara celah sempit dua toko yang tutup. Rambut pria itu sudah memutih seluruhnya dan tubuhnya kurus dibalut pakaian kumal, tetapi tatapannya tidak terlihat seperti milik orang yang kebetulan sedang menonton festival.
Pria tua itu sedang menatap Rhea. Lebih tepatnya, tertuju pada bagian belakang leher Rhea, tempat tudung jubahnya sedikit melonggar akibat gerakannya tadi.
Tanda bulan sabit, lelaki tua itu jelas melihatnya. Wajah keriput pria itu seketika berubah pucat, matanya melebar sempurna menahan kejut, kemudian bibirnya bergerak membentuk kata yang nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan jalan.
“Mustahil ....”
Rhea langsung berbalik sepenuhnya, mengabaikan Bram. “Lelaki itu!”
Ia melangkah lebar menuju seberang jalan, menyenggol beberapa peziarah yang menghalangi jalannya. Namun, lelaki tua tersebut rupanya memiliki insting pelarian yang lebih cepat.
Lelaki itu segera berbalik, menyelip dengan lincah di antara kerumunan manusia, dan langsung menghilang di balik beberapa orang yang membawa lentera-lentera besar. Rhea mempercepat langkah kakinya, bersiap untuk mengejar ke dalam kerumunan. Sayang, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara lonceng perunggu besar terdengar berdentang nyaring dari pusat kota.
Satu kali suara lonceng bergaung berat, kemudian disusul oleh dentangan kedua yang membuat seluruh percakapan di jalan berhenti seperti patuh pada ritual. Ribuan orang langsung merapatkan tangan di dada dan mulai menyalakan lilin dengan batu api yang mereka bawa di dalam wadah tanah liat. Dalam hitungan detik, cahaya-cahaya kecil muncul serentak di sepanjang jalan, memenuhi tangan penduduk, ambang jendela, kios, dan tangga menuju alun-alun.
Bram yang terdorong arus massa kini sudah berada beberapa meter di depannya, melambaikan tangan dengan cemas. “Nona! Ayo! Jangan sampai terpisah di sini!”
Rhea menatap tajam ke arah kerumunan tempat lelaki tua itu menghilang. Di bawah ribuan cahaya lilin yang baru dinyalakan, ia sudah sepenuhnya kehilangan jejak orang itu. Rhea mengepalkan tangannya dengan gusar, tetapi satu hal penting telah berubah malam ini. Sebelum-nya, hanya Rhea yang mencari jawaban tentang tanda di lehernya sendirian tanpa petunjuk. Sekarang ia memegang kepastian mutlak bahwa seseorang di Veyloria juga mungkin mengenali segel tersebut dan tahu siapa dirinya.
Rhea akhirnya melangkah mengikuti Bram menuju arah alun-alun kota. Semakin dekat mereka ke pusat keramaian, semakin padat pula jalanan yang harus mereka lewati. Manusia tumpah ruah dari berbagai penjuru jalan tikus, datang membawa lilin-lilin kecil, sekeranjang makanan, serta karangan bunga liar.
Anak-anak kecil berlarian lincah menerobos celah sempit di antara kerumunan, sementara para orang tua tampak setengah mati berusaha memegangi ujung baju mereka agar tidak terpisah di tengah lautan manusia. Dari arah panggung kayu yang didirikan tepat di tengah alun-alun, suara alunan musik tiup dan tabuhan genderang terdengar semakin nyaring bergaung mengidi udara malam yang kian dingin.
Bram beberapa kali terpaksa memperlambat laju langkah kakinya yang lebar karena Rhea lebih sering menahan langkah untuk memperhatikan keadaan sekitar ketimbang mengikuti arus manusia. Bola mata ungu gadis itu menyisir tajam setiap gerakan mencurigakan di balik bayangan bangunan.
Ketika mereka hampir sepenuhnya terpisah oleh rombongan keluarga besar yang mendadak memotong jalan, Bram mengangkat tangan kanannya ke udara untuk memberi tanda, lalu berseru memanggilnya agar mendekat. “Jangan berjalan terlalu jauh di belakangku, Nona,” ujar Bram sembari memundurkan langkah untuk merapatkan barisan mereka. “Kalau kau sampai kehilangan jejakku di tempat sepadat ini, mencari jalan kembali ke penginapan akan jauh lebih merepotkan daripada yang bisa kau bayangkan.”
Rhea mendengkus pelan, membetulkan posisi jubah yang sempat bergeser. “Aku masih bisa mengingat jalan dan menemukan penginapanmu sendiri tanpa bantuan.”
“Baguslah kalau begitu,” timpal Bram dengan kekehan berat. “Berarti setidaknya aku tidak perlu cemas akan menemukanmu tidur telentang di emperan jalan besok pagi.”
Rhea mempercepat derap langkahnya untuk menyusul di sisi pria itu. “Kau selalu memikirkan skenario dengan kemungkinan terburuk.”
“Karena biasanya kemungkinan terburuk itulah yang paling menguras tenaga dan merepotkan untuk diselesaikan,” sahut Bram santai sembari menyilangkan lengan di dada.
Rhea tidak berniat membantah, ia justru mengalihkan fokus pandangan lurus ke arah panggung utama festival yang kini berada tepat di depan mereka. Sebuah patung perempuan yang megah berdiri kokoh di bagian belakang panggung. Batu gunung itu dipahat seperti tengah mengenakan jubah panjang yang menjuntai hingga ke lantai, dengan kedua telapak tangan terangkat terbuka di depan dada dalam posisi menerima.
Tepat di atas kepala patung yang menunduk anggun, terdapat sebuah lambang bulan sabit berukuran besar yang terbuat dari logam perak murni. Permukaan patung tersebut terlihat sudah sangat tua, dipenuhi guratan retakan halus di beberapa sudut, tetapi penempatannya membuktikan bahwa benda itu masih dirawat dengan sangat baik oleh otoritas kota.
“Itu ... Selene?” tanya Rhea, matanya menyipit menatap ukiran bulan sabit perak tersebut.
Bram mengangguk mantap. “Ya. Para leluhur kota ini memasangnya lebih dari seratus tahun lalu di pusat alun-alun.”
Rhea mengamati detail pahatan patung itu beberapa saat, mencari tahu apakah ada getaran memori yang terpicu di kepalanya, tetapi hasilnya tetap nihil. “Kenapa kota ini bersikeras merayakan hari kelahirannya secara kolosal jika sebagian besar penduduk mengutuk namanya?”
“Karena pada zaman dahulu, jauh sebelum generasi kita lahir, Selene pernah dianggap sebagai pelindung agung bagi Veyloria,” jawab Bram.
“Pernah?” Rhea menaikkan sebelah alisnya, menangkap inkonsistensi sejarah tersebut.
Bram memasukkan tangan kirinya ke dalam saku mantel kulit yang tebal, menatap lurus ke arah patung batu. “Cerita tentang dirinya berubah total setelah sebuah bencana besar menghantam dan mematikan tanah wilayah utara ratusan tahun lalu. Setelah tragedi itu terjadi, sebagian besar catatan sejarah dan tradisi lisan penduduk mulai beralih menyebutnya sebagai dewi terkutuk pembawa petaka.”
“Apa sebenarnya yang telah dia lakukan hingga membuat tanah itu mati?” desak Rhea penasaran. Matanya membulat sempurna.
Bram menoleh ke arah Rhea, lalu tertawa kecil melihat raut wajah gadis itu yang mendadak sangat serius. “Kalau aku tahu jawabannya secara pasti, Nona, mungkin saat ini aku sudah duduk nyaman menjadi seorang sejarawan istana di distrik dalam, bukannya menjadi pekerja kasar di penginapan tua.”
Rhea hanya menatap pria itu datar tanpa membalas candaannya.
Bram berdeham pelan, menyadari bahwa tamunya tidak menyukai gurauan di tengah situasi ini. “Serius, Nona. Tidak banyak orang awam di kota ini yang mengetahui cerita lengkap atau kronologi aslinya. Versi sejarah yang beredar di antara penduduk pasar sangat berbeda satu sama lain. Ada kelompok penganut lama yang mengatakan Selene sengaja meninggalkan kota karena dikhianati, ada kelompok kuil yang percaya dia dihukum oleh para dewa lain yang lebih tinggi, dan ada pula sekte radikal yang yakin bahwa dia sebenarnya masih hidup terikat segel dan suatu hari nanti akan kembali ke dunia fana.”
“Dari semua dongeng itu, kau sendiri memilih untuk mempercayai versi yang mana?” tanya Rhea, matanya memaku sorot mata Bram.
“Aku pribadi percaya bahwa orang-orang Veyloria ini hanya terlalu suka membuat-buat cerita dramatis demi mengisi waktu luang mereka,” jawab Bram acuh tak acuh.
Jawaban skeptis itu membuat Rhea sedikit mengangkat alisnya, merasa tertarik dengan cara pandang pria lokal ini. “Jadi menurut pemikiranmu, semua perayaan besar-besaran ini hanya sebatas festival biasa?”
“Festival tetaplah festival, Nona,” sahut Bram sembari menunjuk ke arah stan makanan di sudut alun-alun. “Rakyat kecil tidak perlu ambil pusing atau mempercayai setiap bait sejarah kuno hanya untuk bisa menikmati pembagian makanan gratis, anggur, dan pertunjukan musik yang disediakan oleh kerajaan.”
Rhea kembali memperhatikan dinamika kerumunan manusia di sekeliling mereka. Anak-anak kecil yang berlarian memang terlihat jauh lebih tertarik pada gulali manis dan permainan ketimbang barisan doa suci yang akan segera dimulai di depan panggung. Di dalam benaknya, Rhea mulai merenungkan eksistensi dirinya sendiri.
Aku sebenarnya siapa? Dan mengapa namaku, tanda di leherku, serta sihir di darahku terus-menerus ditarik menuju pusaran legenda dewi terkutuk ini?
Kebingungan ini terasa mencekik jiwanya. Ia tidak ingin menjadi bagian dari ramalan atau dongeng kuno mana pun, ia hanya ingin tahu dari mana ia berasal dan mengapa ia dibuang ke dunia ini.
“Tapi tetap ada sesuatu yang terasa sangat aneh di sini,” kata Rhea, memutus lamunan batinnya sendiri.
Bram menoleh. “Apa yang aneh?”
“Kalau Selene memang secara resmi dianggap sebagai sosok yang terkutuk dan membawa bencana bagi kerajaan, lalu kenapa pihak istana masih rela menghabiskan tumpukan uang emas setiap tahun hanya untuk merayakan hari kelahirannya?” tanya Rhea, mengajukan hal yang mengganjal pikirannya.
Bram terdiam sebentar, dahinya berkerut. Baru pertama kali memikirkan pertanyaan tersebut dari seorang asing. Ia kemudian mengangkat bahunya lebar. “Mungkin karena sebuah tradisi yang sudah mengakar kuat selama ratusan tahun jauh lebih sulit untuk dihapus dari ingatan massa daripada yang diperkirakan oleh orang-orang istana.”
Jawaban itu memang cukup masuk akal secara politis, tetapi Rhea tidak sepenuhnya merasa puas dengan penjelasan superfisial seperti itu. Pasti ada sesuatu yang lebih besar yang sengaja disembunyikan oleh pihak berwenang.
Sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan lanjutan, suara alunan musik tiup dari panggung berhenti total. Percakapan riuh di sekitar alun-alun perlahan mereda hingga menyisakan kesunyian yang mencekam ketika beberapa orang pendeta keluar dari pintu bangunan suci di belakang panggung utama.
Mereka berjalan lambat dalam satu barisan rapi sambil membawa lilin-lilin panjang yang menyala terang. Pendeta yang berada di barisan paling depan tampak membawa sebuah cakram perak besar dengan ukiran timbul berbentuk bulan sabit dengan tiga garis melintang di bagian tengahnya.
Tepat ketika cakram logam perak itu melintas beberapa langkah di hadapan Rhea, sebuah sensasi panas yang sangat menyengat mendadak muncul dan membakar kulit di tengkuknya.
Rhea tidak bergerak sedikit pun dari posisinya, menolak untuk menunjukkan tanda kelemahan fisik di depan publik. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat di dalam saku jubah, menahan napas hingga rombongan pendeta tersebut menjauh beberapa meter sebelum akhirnya ia perlahan mengangkat tangan kirinya untuk menyentuh leher belakangnya sendiri.
Bram yang berdiri di sampingnya ternyata menyadari gerakan tersebut dan langsung meliriknya dengan dahi berkerut. “Kau kenapa, Nona? Wajahmu pucat.”
“Tidak apa-apa,” jawab Rhea sambil menggeleng.
“Kau kelihatan sangat tidak yakin dengan jawabanmu sendiri,” desak Bram, menyipitkan mata menyelidik.
“Aku memang tidak yakin dengan banyak hal hari ini,” sahut Rhea sembari menurunkan kembali tangannya dengan cepat ke sisi tubuh. Memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh mengenai reaksi fisik yang baru saja dialaminya. Rasa panas menyengat di lehernya kini sudah sepenuhnya menghilang, meninggalkan sensasi hangat saja, tetapi Rhea mengingat getaran energinya dengan sangat jelas.
Ini adalah kedua kali tubuhnya memberikan reaksi penolakan atau sinkronisasi terhadap benda-benda yang memiliki simbol bulan sabit khas Selene.
Darahku mengenal benda itu, batin Rhea dengan rasa gugup yang mulai merayap di dadanya. Mungkin ada ikatan antara segel di leherku dengan sihir yang digunakan oleh para pendeta.
Keinginan untuk mengupas tuntas identitas dirinya makin membara.
Di depan mereka, rombongan pendeta akhirnya berhenti tepat di hadapan patung batu Selene. Pemimpin pendeta mengangkat cakram perak tersebut tinggi-tinggi ke udara, sementara para pendeta di belakangnya mulai merapalkan doa suci dalam bahasa kuno yang monoton. Ribuan penduduk di alun-alun secara serentak menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan khidmat.
Rhea tetap berdiri tegak, matanya lurus menatap ke depan tanpa ada niat sedikit pun untuk merunduk.
Bram melirik ke arah Rhea sekilas, lalu berbisik rendah di dekat telinganya. “Kau tidak ikut menundukkan kepala dan berdoa, Nona?”
“Aku bahkan tidak tahu apa arti dari kalimat yang sedang mereka doakan,” jawab Rhea datar, tatapannya tidak bergeser dari panggung.
Bram tertawa tanpa suara. “Jawaban yang sangat masuk akal untuk seorang pengembara.”
Rhea menoleh, menatap pria bertubuh tinggi besar di sisinya. “Kau sendiri, apakah kau benar-benar percaya pada kesucian Selene?”
Bram menggelengkan kepala sangsi. “Aku tidak pernah memikirkan hal-hal mistis seperti itu terlalu jauh, Nona. Almarhum ibuku selalu mengikuti festival ini dengan taat sewaktu aku kecil, jadi aku ikut berjalan bersamanya karena terbiasa. Setelah dewasa dan bekerja, aku datang kemari hanya karena sudah menjadi bagian dari rutinitas tahunan yang terjadwal.”
“Jadi kau benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Selene ratusan tahun lalu,” simpul Rhea, nadanya terdengar sedikit kecewa.
“Tidak tahu,” jawab Bram jujur.
“Lalu siapa di kota ini yang memegang kunci jawaban atas sejarah aslinya?” tanya Rhea, menuntut sebuah nama atau otoritas.
Bram tampak berpikir sejenak, mengusap dagunya yang berbonggol kasar oleh anakan janggut. “Mungkin para pendeta tinggi yang tinggal di kuil pusat. Lingkaran dalam keluarga kerajaan juga pasti mengetahui informasi jauh lebih banyak dan akurat daripada yang dilemparkan kepada rakyat biasa di pasar.”
“Kenapa mereka bisa tahu lebih banyak?” desak Rhea lagi.
“Karena beberapa dokumen dan catatan lama yang ditulis langsung pada era bencana dua ratus tahun lalu disimpan rapat di dalam arsip rahasia, dan benda itu hanya boleh dibaca oleh mereka yang memiliki izin khusus dari istana,” jelas Bram.
Rhea menghadap Bram, sorot mata ungunya menusuk menembus kegelapan tudung. “Catatan lama? Kau yakin tempat itu ada?”
Bram tersenyum tipis, menyadari perubahan drastis pada atensi dan fokus perhatian Rhea yang sangat intens. “Sekarang aku tahu pasti bagian mana dari dongeng kematian dewi ini yang benar-benar membuatmu tertarik sejak kita meninggalkan penginapan tadi.”
“Aku hanya bertanya untuk mengisi kekosongan,” kilah Rhea, berusaha meredam intonasi suaranya agar kembali terdengar acuh tak acuh, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang.
“Kalau kau memang ingin tahu tempatnya, jawabannya adalah bangunan kuil utama di belakang panggung itu,” kata Bram sembari menunjuk struktur bangunan batu besar yang berdiri kokoh di kegelapan. “Tapi kau tidak akan bisa masuk atau menyusup ke dalam bagian arsip rahasia itu sesuka hatimu. Penjagaannya sangat ketat, terutama selama musim festival berlangsung.”
Rhea mengangguk, lalu kembali berbalik menghadap ke depan. Informasi krusial itu sudah lebih dari cukup untuk ia simpan di dalam memori strateginya. Ia memang belum tahu pasti apakah catatan kuno tersebut akan berguna atau justru akan mendatangkan bahaya besar baginya, tetapi untuk saat ini, ia berhasil menemukan sebuah lokasi fisik yang nyata yang mungkin menyimpan jawaban atas asal-usul dirinya.
Jika namaku ada di dalam arsip itu, aku akan tahu siapa yang membuangku ke sini, pikir Rhea dengan tekad yang mengeras.
Prosesi ritual di depan panggung terus berlanjut dengan khusyuk. Setelah pembacaan doa suci selesai dirapalkan oleh para pendeta, ribuan penduduk di alun-alun mulai mengangkat lilin-lilin menyala mereka tinggi-tinggi ke udara. Alun-alun Veyloria seketika dipenuhi oleh jutaan cahaya kecil yang bergerak bagai gugusan bintang saat orang-orang mengangkat tangan mereka serentak.
Rhea mengabaikan keindahan visual di sekelilingnya dan tetap memandang lurus ke arah bangunan gelap kuil utama di belakang patung Selene. Jika sejarah panjang tentang Selene memang sengaja dimanipulasi dan menyembunyikan bagian penting yang tidak boleh diketahui oleh masyarakat luas, maka menyusup ke tempat itu akan jauh lebih berguna daripada ia harus membuang waktu bertanya kepada penduduk kota satu per satu.
Ia tidak perlu terburu-buru mengambil tindakan malam ini yang bisa memicu alarm penjaga kota. Besok, setelah tenaganya pulih sepenuhnya dan ia berhasil mencari rute pelarian yang aman, ia bisa mencari tahu bagaimana cara untuk menyusup masuk ke dalam ruang arsip kuil tersebut.
Malam ini, di tengah riuh rendah festival yang asing bagi jiwanya, Rhea cukup mengingat satu informasi penting sebagai modal awal. Ada catatan lama tentang pelindung yang dikutuk itu di dalam kuil. Mungkin, di dalam tumpukan lembaran dokumen kuno yang berdebu tersebut, terdapat sesuatu rahasia besar yang berhubungan langsung dengan identitas dirinya yang hilang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!