Rhea berjalan di samping Bram menyusuri jalan utama Veyloria. Kota ini ternyata jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan sebelumnya, hiruk-pikuk seketika merongrong pendengarannya yang sensitif. Gerobak barang berukuran besar memenuhi sisi kiri dan kanan jalan, sementara para pedagang berteriak lantang menawarkan kain, rempah, hingga ternak dari atas podium kayu mereka.
Rombongan saudagar dengan pakaian sutra mewah dari berbagai daerah tampak keluar masuk toko dengan membawa peti-peti kayu berikat besi serta karung-karung rami yang penuh.
Rhea mencengkeram jubahnya lebih rapat, matanya melirik waspada. Kerumunan yang masif ini adalah tempat berlindung sempurna, sekaligus labirin paling mematikan jika ada musuh yang mengintainya dari balik punggung orang-orang.
Bram berjalan dengan santai di sebelahnya, langkah kakinya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun sebagai orang lokal. Tubuhnya yang besar dan kekar secara alami membuat beberapa pejalan kaki harus bergeser menjauh ketika mereka berpapasan, tetapi pria itu tampaknya sudah sangat terbiasa dengan keadaan tersebut dan tidak memedulikannya.
Rhea memanfaatkan siluet tubuh Bram sebagai tameng untuk menyembunyikan sisi kirinya yang memegang pedang, sambil terus memindai pergerakan tangan setiap orang yang melintas di dekat mereka, memastikan tidak ada jemari jahil yang mendekati tas pinggangnya.
“Kalau kau baru pertama kali datang ke Veyloria, jangan terlalu sering menunjukkan uangmu,” kata Bram, suara beratnya cukup jelas di tengah kebisingan pasar. “Kota ini memang terkenal sebagai pusat perdagangan utama, tetapi itu juga berarti banyak orang jahat datang kemari karena tahu ada pedagang membawa kekayaan dalam jumlah besar dari luar perbatasan. Kalau seseorang melihatmu membawa satu kantong penuh emas tanpa pengawalan, dia tidak akan peduli dari mana kau mendapatkannya atau siapa dirimu. Kau hanya akan berakhir di selokan dengan leher tergorok.”
Rhea melirik pria itu sekilas dari balik bayangan tudung jubah, tidak menyukai nada menggurui itu meski ia mengakui kebenarannya. “Aku tidak menunjukkan uangku kepada siapa pun,” sahut Rhea. Ia membatin bahwa koin emas yang ia berikan pada pemilik penginapan kemarin adalah keharusan, bukan ajang pamer kekayaan.
“Benar. Tapi pakaianmu yang baru, pedang mahalmu, dan cara kau berjalan yang selalu tegang sudah cukup membuat orang-orang di sudut jalan penasaran,” timpal Bram sembari melirik hulu pedang hitam Rhea yang mengintip tipis.
Rhea menatap pakaiannya sendiri secara sekilas tanpa menghentikan langkah. Setelah membeli pakaian baru kemarin, ia memang terlihat jauh lebih layak dan bersih dibanding saat pertama tiba di kota dengan gaun compang-camping berlumur abu jerami. Pakaian kulit rusa dan kemeja rami ini memeluk tubuhnya dengan pas, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, ia tahu Bram benar; pedang hitam bertakhtakan permata yang tergantung di pinggangnya tetap sulit disembunyikan.
Terlebih pedang ini memancarkan aura senjata mematikan yang tidak selaras dengan status pengembara biasa.
“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan agar tidak mencolok?” tanya Rhea, menekan ego dan rasa curiganya demi menyerap ilmu bertahan hidup di kota ini.
“Jangan terlihat seperti orang yang selalu waspada. Jangan juga terlihat seperti orang yang sengaja mencari masalah dengan menantang pandangan orang lain. Berjalanlah seperti orang biasa yang punya tujuan jelas,” jawab Bram mengedikkan bahu.
“Aku tidak tahu seperti apa orang biasa,” bisik Rhea jujur. Pikirannya menolak memberikan referensi tentang bagaimana manusia normal bertingkah laku, memori pertamanya hanyalah rasa sakit, pelarian, dan ancaman bilah baja.
Bram tertawa kecil, suara kekehannya terdengar terhibur. “Kalau begitu, kau memang punya masalah yang cukup besar, Nona.”
Rhea tidak menjawab cemoohan ringan tersebut. Ia memilih mengabaikannya dan justru kembali memusatkan perhatian pada dinamika jalan di depan mereka. Sepasang matanya yang ungu seindah nebula mengamati seorang pedagang yang sedang berdebat sengit hingga urat lehernya menonjol dengan seorang pembeli mengenai harga gulungan kain sutra. Tidak jauh dari sana, dua anak kecil berlari lincah menerobos celah kerumunan sambil tertawa riang membawa sebongkah roti segar, sementara seorang wanita tua duduk tenang di depan toko ramuan dengan beberapa botol kaca berwarna-warni yang berjajar rapi di atas meja kayu.
Secara kasat mata, Veyloria tidak terasa seperti kota yang sedang menghadapi masalah atau dikutuk seperti yang diracaukan oleh si pemabuk Garren tadi subuh. Semua orang tampak sibuk dengan urusan perut dan koin mereka sendiri untuk memeduliki dongeng masa lalu tentang dewi yang mati. Namun, Rhea tahu ada lapisan yang sengaja disembunyikan di balik kemakmuran ini, terutama setelah melihat simbol bulan sabit yang dipajang secara paksa di setiap sudut bangunan.
“Di mana istana?” tanya Rhea mendadak, mengalihkan fokusnya pada otoritas tertinggi yang mengatur wilayah ini.
Bram menoleh kepadanya dengan sebelah alis terangkat, sedikit terkejut dengan arah pertanyaannya. “Jauh dari distrik luar ini. Istana berada di pusat distrik dalam, dibatasi oleh tiga lapis dinding batu yang dijaga ketat oleh prajurit zirah berat. Kenapa kau mendadak bertanya tentang tempat itu?”
“Aku hanya ingin tahu siapa yang memerintah kota ini dan memegang kendali atas semua aturan suci festival,” jawab Rhea, menyembunyikan motif aslinya yang ingin menyelidiki asal-usul tanda di tengkuknya.
“Raja Veyloria masih sangat muda. Dia jarang muncul di depan publik atau mencampuri urusan harian rakyat. Dia hanya memerintahkan dari balik istana.” Bram menjelaskan sembari menyingkirkan sebuah dahan dekorasi yang menghalangi jalan mereka. “Sebagian besar urusan kota, hukum pasar, dan festival ditangani oleh para pejabat perdagangan serta lingkaran bangsawan elit yang menguasai wilayah tanah subur di sekitar perbatasan.”
“Jadi orang yang memiliki uang paling banyak punya pengaruh paling besar di sini,” simpul Rhea, membaca struktur sosial Veyloria dengan cepat.
“Di Veyloria, uang tidak hanya bicara, Nona. Uang hampir selalu punya suara mutlak untuk mengubah hukum,” sahut Bram dengan nada yang getir nan realistis.
Rhea menyimpan informasi krusial itu dalam laci pikirannya. Kota ini jelas bukan tempat yang bisa ia pahami secara instan hanya dengan melihat keindahan jalan dan kemegahan bangunannya. Jika ia ingin menemukan jawaban tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan mengapa ia dihempaskan ke dunia ini, ia membutuhkan informasi yang valid, bukan sekadar gosip jalanan dari orang mabuk, dan untuk mendapatkan informasi berharga itu, ia harus tahu siapa yang bisa dipercaya atau dimanfaatkan. Masalahnya, sampai detik ini, ia belum menemukan seorang pun yang memenuhi syarat keamanan tersebut, termasuk Bram yang berjalan di sebelahnya dengan senyum yang ramah.
Bram mendadak memperlambat langkahnya, lalu mengangkat tangan kirinya untuk menunjuk sebuah gang sempit yang gelap di antara dua bangunan batu yang tinggi. “Dengar, apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah masuk ke dalam gang itu sendirian. Terutama saat matahari mulai tenggelam.”
Rhea menghentikan langkah, memicingkan mata mengamati celah sempit yang lembap tersebut. “Kenapa?”
“Itu adalah salah satu wilayah kekuasaan yang sering digunakan oleh kelompok pencuri dan kriminal bawah tanah. Mereka menyebut diri mereka Guild Bayangan,” tutur Bram, menurunkan volume suaranya hingga berbisik. “Petugas keamanan kota sebenarnya tahu keberadaan mereka, tetapi sangat sulit untuk menangkap semua anggotanya karena mereka punya mata dan telinga di banyak tempat penting, bahkan mungkin di dalam barisan penjaga sendiri.”
Rhea memperhatikan gang gelap tersebut selama beberapa detik dengan saksama. Tidak ada sesuatu yang tampak mencurigakan secara fisik, hanya tumpukan tong kosong dan bayangan yang memanjang. Namun, justru keheningan di tengah pasar yang bising itulah yang membuatnya menarik bagi insting waspada Rhea. Jika tempat itu adalah sarang kriminal yang terorganisir, maka tempat itu menyimpan lebih banyak rahasia daripada perpustakaan kota.
“Kalau mereka punya orang di banyak tempat penting dan mampu menghindari pengamanan kota, berarti mereka bukan sekadar komplotan pencuri murahan,” cetus Rhea, menganalisis struktur kelompok tersebut dari sudut pandangnya.
Bram mengangguk, sorot matanya menunjukkan rasa kagum. “Kau cepat sekali menangkap polanya. Benar, mencopet hanyalah bisnis sampingan mereka. Guild Bayangan sebenarnya menjual informasi rahasia, memalsukan dokumen resmi kerajaan, mencari barang berharga yang hilang, bahkan kadang menjadi perantara rahasia untuk orang-orang kaya yang tidak ingin namanya diketahui dalam transaksi gelap.”
Rhea kembali melangkah, membiarkan jubah kelabunya berkibar tipis searah angin pagi. Pikirannya langsung melompat pada sebuah kesimpulan ekstrim yang bertolak belakang dengan peringatan Bram. Jika kelompok itu menjual informasi dan memalsukan identitas, maka mereka adalah kunci yang ia cari selama ini.
“Kalau begitu, mungkin mereka bisa membantuku untuk menemukan apa yang kucari,” kata Rhea datar.
Bram mendengkus, menganggap pemikiran Rhea terlalu berani dan berbahaya. “Bantuan dari Guild Bayangan tidak pernah ada yang gratis, Nona. Mereka akan meminta bayaran yang sangat tinggi, atau menagih nyawamu sebagai gantinya jika kau gagal melunasi hutang.”
“Aku punya uang,” balas Rhea. Tangannya reflex menyentuh tas pinggang yang menyembunyikan kantung kulit hitam misteriusnya. Benda itu masih terasa berat, dan ia berniat menguji seberapa besar daya beli koin emas di dalamnya untuk membeli sebuah kebenaran tentang masa lalunya.
Bram menghentikan langkah sepenuhnya, menatap Rhea cukup lama dengan pandangan yang sulit diartikan sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Aku mulai mengerti kenapa gadis asing sepertimu bisa bertahan hidup sendirian. Kau punya nyali yang terlalu besar, atau kau memang tidak tahu cara untuk merasa takut.”
Rhea tidak tahu apakah ucapan Bram barusan adalah sebuah pujian tulus atau justru sebuah peringatan keras agar ia mundur. Ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh dan terus berjalan maju. Perlahan, ia mulai melihat kota Veyloria ini bukan sekadar tempat pelarian untuk bermalam sementara waktu. Kota perdagangan ini memiliki orang-orang dan jaringan bawah tanah yang mungkin mengetahui sesuatu tentang identitas dirinya, atau minimal mengetahui arti dari simbol bulan sabit yang terukir panas di leher belakangnya. Apabila mereka tidak tahu pun, setidaknya ia bisa menemukan benang merah pertama dari teka-teki hidupnya di sini.
Rhea hanya belum menyadari satu hukum alam yang berlaku di kota berdarah ini, bahwa semakin banyak informasi rahasia yang ia cari di kegelapan, semakin banyak pula mata-mata berbahaya yang akan mulai memperhatikannya dan mengincar nyawanya.
Di tengah perjalanan menembus ramai pasar, Rhea mulai memikirkan kembali semua hal yang ia ketahui tentang dirinya. Namanya Rhea. Setidaknya, itu adalah satu-satunya nama yang bergaung di benaknya, setelah menyadari bahwa ia tidak memiliki identitas lain untuk dipanggil sejak terbangun. Ia bisa menggunakan pedang dengan sangat baik meskipun tidak pernah mengingat siapa yang mengajarinya mengayunkan bilah besi tersebut.
Tubuhnya memiliki beberapa bekas luka lama yang tidak bisa ia jelaskan asal-usulnya. Ia juga mampu menggunakan sihir secara naluriah untuk menarik benda, seolah-olah tubuh dan darahnya mengenal sesuatu yang tidak pernah sampai kepada ingatan di kepalanya. Kemudian, ada tanda bulan sabit misterius yang terukir di lehernya.
Ada pula kantong emas di pinggangnya yang sejak awal terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak ia miliki. Setiap kali tangannya menyentuh permukaan kulit kantong itu, muncul perasaan aneh bahwa benda tersebut sangat penting. Bukan sekadar karena isinya berharga, tetapi karena ia merasa kantong itu berkaitan erat dengan eksistensi dirinya. Yang paling sulit dijelaskan adalah bagaimana ia bisa sampai di dunia ini. Ia tidak terjatuh dari tebing tinggi, tapi dari langit.
Tidak ada kapal karam atau kecelakaan yang bisa menjelaskan kondisinya saat terdampar di desa terpencil kemarin. Ia hanya mengingat kilatan cahaya di langit malam, rasa sakit yang luar biasa, kemudian dirinya terbangun di atas tumpukan jerami yang terbakar. Jika seseorang sengaja mengirimnya ke dunia ini, berarti ada alasan tertentu. Jika bukan seseorang, mungkin ada sesuatu yang mengaturnya. Rhea sama sekali tidak menyukai kedua kemungkinan tersebut.
Selama ini ia terlalu sibuk mencari tahu di mana dirinya berada dan bagaimana caranya bertahan hidup hari demi hari. Namun, semakin banyak hal yang ia lihat di kota ini, semakin jelas bahwa pertanyaan tentang tempat tinggal bukan lagi masalah utamanya.
“Aku sebenarnya siapa?” gumam Rhea sangat pelan.
Bram yang berjalan beberapa langkah di depannya mendadak menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. “Kau mengatakan sesuatu, Nona?”
“Tidak,” jawab Rhea datar, wajahnya kembali mengeras tanpa emosi. “Bukan apa-apa.”
Rhea kembali memperhatikan jalanan batu yang mereka lalui, tetapi pikiran di kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Pertanyaan berikutnya jauh lebih mengganggu batinnya.
Mengapa aku dibuang ke dunia ini?
Ia belum menemukan jawabannya. Bahkan, ia belum memiliki cukup informasi untuk menentukan apakah kata ‘dibuang’ adalah istilah yang tepat untuk kondisinya saat ini. Namun, setiap kemungkinan yang muncul di benaknya terasa semakin tidak masuk akal jika ia terus menganggap semua yang terjadi sebagai kebetulan belaka.
Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa ia akan kehilangan ingatan. Seseorang mungkin mengetahui bahwa ia bisa menggunakan sihir. Seseorang mungkin bahkan sengaja membekalinya dengan pedang permata hitam dan kantong emas itu. Jika demikian, orang tersebut pasti tahu banyak hal tentang dirinya.
Rhea hanya perlu menemukan siapa orang itu.
Mereka melangkah memasuki bagian pasar yang jauh lebih padat dari sebelumnya. Bram beberapa kali harus memperlambat langkah besarnya dan menoleh ke belakang agar Rhea tidak tertinggal di antara kerumunan. Suara teriakan para pedagang bersahut-sahutan dengan percakapan tawar-menawar pembeli, berbaur dengan bunyi berderit dari roda gerobak kayu yang melewati jalan batu yang tidak rata.
Di salah satu kios kayu, seorang anak kecil berdiri sambil menangis sesenggukan sembari menarik-narik ujung baju ibunya. Ibunya sedang berbicara dengan penjual roti dengan raut wajah cemas. Wanita itu menghitung beberapa keping logam di telapak tangannya yang kasar, lalu mengembalikannya ke dalam kantong kain lusuh dengan helaan napas berat.
“Aku hanya punya cukup uang untuk membeli dua roti,” kata wanita itu, suaranya terdengar lirih dan lelah. “Berikan dua saja, Tuan.”
Penjual roti itu menatap tiga anak kecil di belakang wanita tersebut. “Tapi kau membawa tiga anak. Bagaimana kau akan membaginya?”
“Aku tahu,” sahut wanita itu pelan, menunduk tanpa mampu menatap mata anaknya. “Aku akan mengatur sisanya nanti.”
Rhea menghentikan langkah kakinya beberapa langkah dari kios roti tersebut. Matanya menatap datar pada punggung wanita itu. Ia sebenarnya bisa terus berjalan mengikuti Bram dan mengabaikan mereka. Kejadian ini tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia tidak mengenal wanita itu, tidak mengenal anak-anaknya yang kelaparan, dan ia sama sekali tidak memiliki kewajiban moral untuk ikut campur dalam urusan orang lain. Namun, pikirannya tiba-tiba kembali kepada keping emas yang ia gunakan untuk membayar penginapan kepada pria tua kemarin. Ia masih belum tahu berapa sebenarnya daya beli dan nilai dari uang yang dimilikinya saat ini.
Rhea berbalik, melangkah menuju kios makanan lain di dekatnya yang menjual bungkusan ransum kering. Ia mengambil sebungkus makanan sederhana, lalu memasukkan tangannya ke tas pinggang untuk menarik satu keping logam berkilau. Tanpa pikir panjang, ia meletakkannya begitu saja di atas meja kayu.
Pedagang ransum itu justru memandang keping emas tebal di atas mejanya dengan mata membelalak, lalu menatap Rhea dari bawah ke atas dengan pandangan sangsi.
“Nona, kau yakin ingin membayar makanan sederhana ini dengan ini?” tanya pedagang itu, suaranya mendadak gagap.
“Berapa harganya?” tanya Rhea balik, nadanya tetap lempang tanpa ekspresi.
“Enam keping tembaga,” jawab si pedagang sembari menunjuk sebungkus makanan di tangannya.
Rhea menunjuk koin emas di meja dengan dagunya. “Kalau begitu ambil saja itu.”
Pedagang tersebut terlihat semakin gelisah, melirik ke kiri dan kanan jalan dengan cemas. “Nona, satu keping emas nilainya jauh lebih besar daripada harga makanan ini! Ini bisa memancing keributan di pasarku.”
Rhea mengernyitkan keningnya, merasa janggal. “Berapa besar nilainya?”
Pedagang itu menatap Rhea sejenak dengan dahi berkerut, mungkin mengira perempuan di depannya sedang mempermainkannya atau sedang bercanda. Namun, setelah menyadari bahwa tatapan mata ungu di hadapannya benar-benar kosong dan serius, ia akhirnya menarik napas dalam-dalam. “Satu keping emas seperti ini bisa membuat satu keluarga dengan tiga anak makan dengan sangat layak selama seminggu penuh. Tergantung bagaimana kebutuhan mereka, tentu saja.”
Rhea terdiam di tempatnya berdiri. Ia melirik keping emas yang tergeletak di atas meja. Satu keping, dan kemarin ia baru saja membayar empat malam di penginapan distrik luar dengan satu keping emas tanpa mempertanyakan harganya sedikit pun. Pemilik penginapan itu jelas-jelas telah memerasnya habis-habisan.
Rhea segera mengambil kembali koin emas tersebut dari meja, menggantinya dengan beberapa keping tembaga kembalian yang ia temukan di kantong pakaian barunya. Setelah menerima makanan, ia berbalik dan kembali berjalan di samping Bram yang rupanya sejak tadi memperhatikan interaksinya.
“Jadi kau benar-benar tidak tahu nilai uangmu sendiri?” tanya Bram, nadanya terdengar menyelidik saat mereka kembali berjalan berdampingan.
Rhea tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia memasukkan bungkusan makanan yang baru dibelinya ke dalam tas kecil yang menggantung di tubuhnya. “Kurasa tidak,” jawabnya tak peduli.
Bram tertawa pendek, menggelengkan kepalanya yang besar. “Aku mulai curiga kau bukan sekadar pendatang baru dari luar kerajaan, Nona. Kau bertingkah seolah-olah kau baru saja turun dari langit.”
Rhea membiarkan spekulasi pria itu berlalu tanpa berniat meluruskan atau merespons. Kalimat Bram secara tidak sengaja menghantam kebenaran yang sesungguhnya. Sembari berjalan berlindung di balik jubah, tangan Rhea kembali masuk ke dalam kantong kulit hitam di pinggangnya. Jarinya menyentuh benda-benda keras yang dingin di dalam sana. Ia mulai menghitung jumlah koin emas tersebut satu per satu dengan ujung jarinya tanpa mengeluarkan kantong itu dari balik kain jubahnya.
Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh. Empat puluh. Lima puluh. Rhea berhenti menghitung pada angka lima puluh.
Rasa penasaran yang tinggi membuatnya bertindak ceroboh. Rhea menarik dua keping emas keluar dari kantong secara bersamaan untuk memastikan bentuknya. Namun, begitu kepingan emas itu muncul di antara celah jarinya di udara terbuka, kilau kuning pekatnya langsung memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat mencolok di tengah pasar yang padat.
Melihat logam mulia itu terekspos, wajah Bram seketika berubah pucat karena panik. Pria bertubuh kekar itu langsung bergerak cepat memotong jalur jalan Rhea. Dengan gerakan kasar yang terburu-buru, Bram membentangkan kedua lengan kekarnya dan memosisikan tubuh besarnya tepat di depan Rhea, menutupi seluruh tubuh gadis itu dari pandangan orang-orang di pasar.
“Kau gila?!” bisik Bram dengan penuh tekanan, matanya bergerak liar memindai setiap pasang mata di sekeliling mereka. “Simpan benda itu sekarang juga! Apa kau ingin kita berdua dirampok di tempat ini?!”
Bram menekan tubuhnya lebih dekat, menggunakan jubah luarnya sendiri untuk memblokir sudut pandang para pedagang di sekitar kios. Jantungnya berdegup kencang karena takut kilau emas itu telah memancing perhatian anggota Guild Bayangan atau preman pasar yang sering mengintai di sudut-sudut distrik luar.
Rhea terkejut dengan reaksi agresif Bram, tangannya reflex bergerak ke hulu pedang, tetapi ia segera menyadari bahwa pria itu sedang berusaha melindunginya dari bahaya nyata di kota ini. Rhea lantas memasukkan kembali dua keping emas tadi ke saku dalam pakaiannya. Ia kemudian memasukkan kembali tangan kanannya ke dalam kantong kulit hitam di pinggangnya untuk memeriksa sesuatu yang janggal.
Masih ada banyak koin di dalam sana. Ia meraba bagian dalamnya.
Rhea mengerutkan kening dan kembali menghitung secara kasar dengan ujung jarinya. Lima puluh. Jumlahnya tetap lima puluh keping emas. Ia mencoba mengingat dengan pasti jumlah sebelum ia mengambil dua keping tadi.
Angkanya adalah lima puluh keping sebelum diambil, dan tetap lima puluh keping setelah dua keping berada di sakunya. Kantong kulit hitam itu secara fisik sama sekali tidak terlihat cukup besar untuk menyimpan koin sebanyak itu. Akan tetapi, ia juga tidak bisa memastikan dengan akurat karena bagian dalam kantong itu terasa sangat gelap dan tangannya entah bagaimana tidak pernah bisa menyentuh dasar wadah tersebut.
“Mungkin memang dalam,” cetus Rhea pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di balik dada bidang Bram yang masih memblokir jalannya.
Ia tidak mencoba untuk mengambil koin lebih banyak lagi dari dalam sana. Belum saatnya. Benda itu jelas terlalu aneh dan mistis untuk diperlakukan seperti kantong uang biasa milik manusia fana.
Bram perlahan menurunkan kedua lengannya setelah memastikan situasi di sekeliling mereka kembali normal dan tidak ada orang yang mendekat dengan senjata. Ia mengembuskan napas lega, tetapi sorot matanya kini dipenuhi oleh rasa takut yang menyatu dengan waspada oada Rhea. “Jangan pernah lakukan itu lagi di tempat terbuka,” peringat Bram dengan suara yang masih menahan panik.
Rhea tidak membalas peringatan itu. Ia menatap jalanan di depannya sambil terus melangkah, menyimpan kedua keping emas yang kini aman di saku dalamnya. Lima puluh keping emas saja sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang menjadi sasaran pembunuhan banyak orang di kota yang dikuasai uang seperti Veyloria.
Apabila jumlah di dalam kantong itu ternyata jauh lebih banyak dari yang terlihat secara fisik, ia harus memastikan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
Sayang, hal yang membuat pikiran Rhea terus-menerus kembali kepada kantong kulit hitam itu bukanlah nilai kekayaan yang ada di dalamnya. Melainkan sebuah pertanyaan besar yang mendasar.
Siapa yang membuat dan memberikan kantong ini kepadaku?
Pertanyaan tersebut muncul begitu saja di kepalanya tanpa bisa ia cegah. Seseorang pasti telah menempa koin-koin ini. Seseorang pasti telah merancang kantong ajaib ini, dan jika benda misterius ini memang sengaja diikatkan pada tubuhnya sejak awal, berarti orang yang memberikan benda ini juga tahu pasti siapa identitas Rhea yang sebenarnya sebelum ia kehilangan seluruh ingatannya.
Rhea merasa bahwa ia mungkin sedang membawa kunci jawaban tentang masa lalunya di pinggang sendiri. Masalah utamanya adalah, jawaban tersebut berada di dalam sebuah benda sihir yang bahkan belum ia pahami cara kerjanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!