Kamu sedang membaca sebagai tamu. Masuk untuk memberi vote, menyukai, menyimpan, dan berkomentar.
MasukBagi Suluh, membaca berarti mengalami. Untuk lulus dari Padepokan Sastra, ia diharuskan meneliti Aksara Surgawi di titik tertentu dunia Bentala. Ia bertolak ke tempat-tempat dengan budaya berbeda, ke hutan tanpa cahaya, dan menghadapi mara bahaya tak kasat mata. Di saat murid lain menghabiskan bertahun-tahun lamanya hanya untuk menafsirkan isi dari aksara kuno, Suluh memiliki kemampuan aneh. Ia merasakan huruf-huruf tersebut seakan melebur ke dalam dirinya—hidup di dunia di mana cerita bukan sekadar mitos belaka melainkan suatu kisah nyata tak lagi dipercaya. Semakin tenggelam Suluh menelusuri, semakin sesak ia menyadari bahwa ada sesuatu lebih besar di balik Aksara Surgawi. Ia mungkin secara tidak sengaja menguak bagaimana manusia selalu memiliki cara memanipulasi sejarah, tahu bagaimana mengubur masa lalu demi membungkam suara, bahkan kebenaran teramat berbahaya bila terdengar oleh telinga. Namun, dari sanalah ia melahirkan karya sastra berupa Serat Kayangan. Meski Suluh tahu ini mengancam nyawa dan cita-citanya sebagai Pengurai Aksara, ia mengerti satu hal; kalau kebenaran tak seharusnya disembunyikan, maka seseorang harus berani menuliskannya.


Belum ada komentar. Jadi yang pertama!