Bab 01

Bab 1 - Aksara Surgawi

2 dibaca

A

Di ruangan minim cahaya, lilin adalah satu-satunya lentera. Sinarnya berpendar menyibak empat buku tebal berserakan di atas meja—beberapa halaman dibiarkan terbuka dan terlipat—ditemani seorang laki-laki masih keras kepala menulis sesuatu meski ia berkali-kali nyaris menyelami mimpi. Ia belum ingin menyudahi temuan barunya, tak cukup sabar menunggu kebangkitan mentari. Menurutnya, ia tak akan beristirahat sebelum menguak secuil misteri dari Aksara Surgawi.

“Simbol ini,” ia berbisik, kedua alisnya mengerut lalu membalik beberapa kertas. “Bentuk serupa banyak ditemukan di daerah lain.”

Ia menghela napas, merebahkan tubuh lelahnya di kursi sembari mendongak. “Kalau mereka sama, mengapa memiliki arti berbeda?”

Ia mengambil satu buku, diperhatikan lamat-lamat sebelum menutupnya. Di sampul itu tertulis “Serat Telaah: Aksara Surgawi dan Mitos di Baliknya, oleh Suluh”. Kedua mata cokelatnya merefleksikan cahaya, memancarkan kepuasan hati sulit untuk disembunyikan di sana. Setelah bertahun-tahun menelusuri naskah dan mencatat setiap kemiripan, akhirnya ia berhasil merangkum temuannya dalam satu karya. Tatkala sebagian orang masih sibuk mempelajari cara melafalkan dan menulis huruf, Suluh lebih dahulu melangkah. Ia telah menelusuri Aksara Surgawi, asal-usulnya, membandingkan bentuknya, dan mempertanyakan kisah-kisah legenda di berbagai wilayah.

“Walaupun hanya sekadar mitos, apa alasan kuat warga masih tetap mempercayainya?”


Ufuk timur cakrawala mulai berubah cerah, menerangi candi-candi megah. Gapura dari bata merah berdiri di antara taman bunga, bangunan itu berukuran besar dengan sudut-sudut berundak ke atas; di tengahnya sengaja dibuat celah lebar untuk dilewati semua khalayak Padepokan Sastra. Beberapa terlihat masuk sambil bercengkrama, sebagian masih sekadar melihat-lihat tanaman, sementara Suluh melangkah gontai; berusaha mempertahankan mata agar terus terbuka.

Para murid tampak mengenakan busana berbeda. Wastra Padepokan memiliki tiga warna sebagai tanda tingkatan: putih, biru, dan hitam. Jubah bagian luarnya dilapisi kain tebal tanpa lengan, dikenakan di atas kain menjuntai nan lebar. Sementara di bagian dada terdapat lambang kuas dan tinta; ciri khas Padepokan Sastra. Sebagian tak terlalu memikirkan arti dari sebuah busana, sebagian lain membawa suatu makna. Terutama bagi Suluh, ia sampai mengorbankan semuanya demi diterima di sini—meninggalkan tempat di mana ia dulu menyebutnya rumah.

Ia telah berdamai dengan masa lalu meski luka masih belum sepenuhnya sirna. Di sela-sela ia hanyut ke dalam kenangan, Suluh dikejutkan oleh seseorang yang muncul entah dari mana, seraya mengacak-acak kepala. “Suluh! Ada apa denganmu?”

“Jangan bilang kau tidak tidur semalaman?” katanya terkekeh. “Sebaiknya kau beristirahat, sebab kau akan bangun selamanya kalau kau memaksakan diri mengulik misteri tulisan itu!”

Suluh tak menoleh, lebih memilih membenarkan sabuk dan busana biru yang dipakai serampangan. “Kau sendiri apa sudah selesai dengan tafsiranmu, Aris?”

Pemuda itu mendengus, lalu tersenyum tipis. “Masih banyak kesalahan. Ada bagian-bagian kata memiliki banyak arti, dan setiap arti bisa memiliki maksud berbeda bila dilihat dari keseluruhan kalimat. Hah, benar-benar membingungkan.”

“Mungkin inilah tantangan terbesar mempelajari Aksara Surgawi,” ia meneruskan. “Kalau tidak, semua orang bisa saja memperalat tulisan sesuai kebutuhan mereka.”

Tak memberikan respons, Suluh menunduk sambil mengatur kerah baju terhias ornamen sulur dan dedaunan berwarna emas di bawahnya. “Jadi, apakah maknanya bisa terikat oleh tempat ia dilahirkan?”

Aris sempat memikirkan sejenak, memberikan anggukan kepala. “Ada benarnya, tapi kita tidak boleh terburu-buru. Tunggu, bukankah itu adalah tugas kita sebagai Madya?”

“Meneliti?”

“Ya, sekaligus berkelana ke berbagai daerah Bentala! Ah, aku tidak sabar menemukan aksara itu dengan mata kepalaku sendiri.” Aris membetulkan tas selempang kainnya, tak sadar mempercepat langkah kala bersemangat. “Dan memahami lebih dalam kalimat dewa.”

Secara historis, masyarakat setempat selalu mengaitkan Aksara Surgawi dengan bahasa dewa, suatu entitas supernatural teramat menakutkan, atau bisa menjadi indah dan penuh belas kasihan. Mereka tergambarkan sebagai makhluk yang mempunyai kepribadian dan bentuk, bahkan satu dewa mampu melahirkan beraneka wujud di banyak kebudayaan—semua berdasarkan seberapa besar kepercayaan.

Padepokan Sastra terbentang luas sesuai mata angin, setiap sisi dirancang untuk memuat tujuan-tujuan tertentu supaya kegiatan belajar mengajar dapat terjalin teratur dan tanpa hambatan. Suluh dan Aris menuju ke suatu tempat di area sebelah timur dari halaman utama, disambut oleh banyak sekali tumbuhan bambu; berdansa liar diterpa oleh semilir angin. Tak ada bangunan lain di sekitar mereka kecuali aula di balik telaga, sudah dipenuhi oleh murid-murid sedang sibuk oleh suatu urusan.

Paviliun itu berisi tumpukan buku dan daun lontar. Beberapa meja tertata rapi di tengah area, dilengkapi oleh segala alat tulis menulis dan tinta. Sementara kebanyakan murid membahas temuan mereka, berdiskusi satu sama lain, dan menelaah simbol-simbol di lontar aksara. Dahulu kala, Aksara Surgawi kebanyakan tercetak di bebatuan dan di tempat-tempat sakral. Maka dari itu, dibuatlah lembaran kecil dari daun lontar; disalin untuk dipelajari seksama. Lantas medium ini terus dilestarikan untuk menjaga tradisi dan mempertahankan keakuratan akan bentuk-bentuk mereka.

“Kau tahu? Prana ternyata ada kaitannya dengan aksara!” salah satu murid memakai blangkon berseru.

“Maksudmu, energi alam?”

“Ya! Aku menemukan kalau Prana tidak hanya digunakan untuk kekuatan semata, tapi berperan dalam memecahkan korelasi antar kalimat!” Ia menimpali.

Suluh berbalik saat kebetulan melewati mereka, rasa kantuknya mendadak sirna. “Tunggu, apa?”

“Kau baru mendengarnya, Suluh?” Laki-laki tersebut mengambil secarik kertas di meja. “Lihat, aku telah memecahkan teka-teki dari dua tulisan ini.”

Aris ikut ingin tahu, menilik intisari dari kesimpulan temannya. “Apabila Prana telah terbuka, ia bagaikan cahaya dalam bayangan kata.”

Ia lalu mendongak memperhatikan si lelaki mengenakan blangkon, tercetak keraguan di mukanya. “Kau benar-benar berpikir demikian?”

“Prana merupakan unsur misterius.” Suara berat nan serak tersebut mampu membuat seluruh insan di sana menoleh secara bersamaan, seketika mereka berhamburan duduk di tempat masing-masing. “Ia mengalir di segala tempat, menyatu dengan alam.”

Ia berjalan melewati beberapa murid dengan kedua tangan terlipat di belakang, rambut sebahu memutihnya melambai-lambai sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan mereka semua. Adiarta, merupakan salah satu Pandita terkemuka karena menghasilkan empat Serat Surgawi; dipergunakan sebagai rujukan oleh seluruh sastrawan di Bentala. Pengetahuannya terhadap aksara tak dapat diragukan, terutama keahliannya dalam menafsir nyaris selalu akurat tanpa menjalankan metode lainnya.

“Namun, Prana melimpah hanya ada di daerah tertentu, kondisi mempuni, dan seberapa besar lingkungan bereaksi.” Janggutnya tidak terlalu lebat untuk menutupi ornamen daun emas di kerah baju hitam itu. “Ribuan tahun lalu, Gunung Amerta meletus tapi karena olehnya, tanah di sekitar menghasilkan Prana lebih kuat berkali-kali lipat daripada di bukit rumput.”

Pandita melirik ke sekitar, ke arah bambu-bambu di luar sana. “Di sini, Prana berhamburan. Mereka menyentuh ketenangan dalam dirimu, membisikkan sesuatu kau belum mengerti arti di baliknya. Termasuk Aksara Surgawi.”

Suluh menyimak serius, tak sekalipun teralihkan ke mana-mana. Selama ini ia hanya tahu sedikit mengenai Prana, kebanyakan berputar di kegunaannya untuk tubuh. Cerita-cerita rakyat selalu membahas Prana sebagai unsur memperkuat fisik ke tingkatan ekstrem; menghancurkan batu raksasa, membelah sungai, maupun kebal benda tajam. Mereka menyebut ini sebagai ilmu kanuragan, konon digunakan oleh kaisar dalam misinya menaklukkan kerajaan.

“Kalian telah menelaah banyak dari mereka, menyusun kepingan tulisan, sampai akhirnya mencoba menafsirkan isinya,” Pandita Adiarta melanjutkan. “Tapi, apakah kalian yakin kalau kata demi kata itu adalah suatu kalimat utuh berkesinambungan?”

“Apakah kalian tidak memperkirakan bahwa kalimat ini memiliki maksud lain pada masa ketika ia dituliskan?”

Kesunyian lantas terdengar bisikan, sadar bahwa mereka mungkin baru saja menemukan kepingan yang selama ini terlewat. Suluh cepat-cepat membuka bukunya, menyibak beberapa halaman sampai terdiam di satu coretan. “Aksara berasal dari semesta Bentala,” ia berkata lirih, mendongak untuk kembali memperhatikan si Pandita. “Dan Prana menyatu dengannya.”

“Menarik, bukan?” Aris berceletuk, duduk tepat di sebelah Suluh. “Selama ini kita selalu mencari kekurangan dalam menafsirkan. Ternyata kuncinya tepat berada di bawah kaki kita.”

“Maksudku, aku saja tak berpikir kekuatan dipergunakan untuk menghancurkan itu ternyata terdapat fungsi lain.”

Pandita lalu duduk bersila, mengambil suatu kertas di meja. “Kurasa kalian sudah memahaminya. Kalau begitu, aku ingin kalian menelaah kembali Aksara Surgawi menggunakan unsur alam.”

Ia menjeda, mengedarkan pandangan kepada seluruh murid. “Tapi sebelum itu, adakah di antara kalian belum menarik aliran Prana?”

Mereka menoleh, memeriksa teman-teman sekitar. Hampir semuanya telah menyerap energi tersebut ke dalam tubuh, kecuali satu. “Saya, Pandita.”

Adiarta memicingkan mata ke salah satu insan mengangkat tangan. “Suluh? Apakah kau sama sekali belum bertapa?”

Laki-laki itu menunduk malu, mengakui kelemahan terbesarnya. “Benar … Pandita.”

“Apa boleh buat,” respons kakek tersebut, menulis sesuatu dengan sebuah tinta dan kuas. “Berlatihlah. Tanpa Prana, kau mungkin mampu membaca Aksara Surgawi. Namun, kau tak akan memahami keseluruhan makna sebenarnya.”

Kata-kata itu menghantam Suluh lebih keras daripada yang seharusnya. Alasan ia selama ini belum merasakan Prana maupun mencoba menyatukan mereka ke dalam tubuh bukan serta merta ia tidak ingin, tetapi berkaitan erat dengan masa lalunya. Suatu luka teramat menusuk di mana ia sendiri berusaha untuk menguburnya dan tak ingin digali kembali. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Padepokan Sastra baru saja meminta Suluh membuka trauma itu.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk