“Saat rumah tidak benar-benar menjadi tempat pulang.”
“Kasihan sekali itu si Rindu. Umurnya sudah lebih dari tiga puluh, nganggur, dan masih perawan.” Suara itu sayup-sayup terdengar ke telinga perempuan bernama Rindu. Ia menggeliat di atas kasur. Matanya terbuka, tapi belum ingin beranjak dari kasur.
“Mungkin karena adik-adiknya belum bayar denda melangkahi kakaknya. Jadi, si Rindu kena sialnya.” Obrolan para ibu-ibu masih berlanjut. Mereka santai sekali membicarakan seseorang tepat di depan jendela kamar yang digosipkan.
“Saya sudah bilang sama Bu Sumi buat ke orang pintar aja. Sepupu saya dulu dibawa kesana dan nggak lama dapat jodoh. Daripada nganggur mending nikah aja biar ada yang nafkahi. Nggak jadi beban orang tua deh.” Pembicaraan sudah melebar kemana-mana.
Kali ini, Rindu terduduk. Ia menoleh ke arah jendela kamar yang setengah terbuka. Orang-orang itu tidak akan melihatnya karena posisi kamar di lantai dua. Sudah hampir seminggu ini Rindu mendengar hal serupa tentang dirinya.
“Si Perawan Tua Menyedihkan.” Begitulah julukan perempuan itu belakangan ini. Padahal, Rindu sama sekali tidak merasa terpuruk dengan statusnya. Ia baik-baik saja dan merasa jauh lebih bebas seperti sekarang.
Namun, soal pengangguran, itu benar. Ia berhenti bekerja sebagai Asisten Manajer Keuangan sebuah perusahaan retail ternama di ibu kota. Rindu lelah secara fisik dan mental sehingga memutuskan pulang saja untuk memulihkan diri. Sayangnya, rumah tidak bisa benar-benar menjadi tempat pulang untuk perempuan itu.
Ia menjadi sumber omongan para tetangga. Belum lagi omelan ibunya setiap hari. Di jam ini, sebentar lagi ibu akan membuka pintu kamarnya dan membeo soal waktu. Rindu mulai menghitung dalam hati dan dalam hitungan ketiga semua prediksinya menjadi nyata.
Pintu kamar yang tidak dikunci menjeblak terbuka. Di depan pintu, ibu berdiri berkacak pinggang sambil memegang spatula kayu berlumur tepung. “Rindu, ini sudah lewat dari pagi. Kamu setiap hari begini terus, buang-buang waktu. Coba keluar dan hirup udara segar. Berjemur di bawah matahari supaya lebih sehat. Anak gadis kok bangunnya selalu siang.”
Tiap kata yang terlontar sejak hari ketiga kepulangannya terulang sama persis. Rindu sampai hafal. Perempuan itu mengangguk kecil sebagai respons. Ia beranjak dari kasur, masuk kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, turun ke lantai bawah untuk makan, lalu rebahan lagi di depan televisi.
“Rindu!” Ibu tampak begitu kesal. Ia menarik tangan putri sulungnya, membuat perempuan itu terbangun dari posisi rebahan. “Mending kamu bantu adik ipar kamu cetak kue.”
“Aku petik sayur aja di halaman.” Perempuan itu menolak masuk dapur. Ia sangat tidak suka mengotori tangan dengan adonan. Baginya, dapur bukan tempat yang cocok untuk kepribadian pembersih sepertinya. Bisa membuat tambah stres.
Kalau berkebun, ia lebih suka menyiram tanaman atau memanen sayur juga buah. Intinya, tidak mengotori tangan. Satu-satunya hal kotor yang bisa diterima adalah saat makan sambal lalapan, makan ayam goreng, atau makan pizza. Jelas saja, hal ini membuat ibu semakin geram dan tidak akan pernah bosan melontarkan nasihat. Padahal semuanya akan masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
Beginilah kehidupan sehari-hari Rindu. Ia hidup tanpa ada rasa semangat. Ia tetap bernapas dan menunggu waktu bergulir cepat. Perempuan itu hanya butuh hari berganti membuatnya kehabisan waktu untuk bertahan dalam kelamnya dunia. Rindu tahu dirinya sedang terperosok di dalam lubang tak berdasar dari mental yang sakit dan terluka. Namun, ia menahannya sendirian dan mencoba bertahan meski enggan.
Di halaman rumah, Rindu menatap malas selada yang ditanam bapak. Daunnya belum besar, tidak cukup bagus untuk panen. Kakinya menyeret ke bagian lain halaman guna memeriksa tanaman apa yang siap dipanen. Matanya pun menangkap warna merah dari cabe rawit yang tumbuh subur serta rimbun di sisi dalam pagar rumah.
“Oke, panen cabe rawit,” gumamnya.
Secara brutal, perempuan itu memetik cabe. Bukan hanya sedikit tangkai, bahkan beberapa helai daun ikut dipetik bersama dengan buah yang ranum. Caranya yang salah mengundang omelan bapak yang kebetulan baru masuk halaman. Bapak baru saja pulang dari kerja bakti di lapangan komplek.
“Rindu!” Mata bapak terbelalak. “Itu namanya kamu menyiksa tanaman!”
Perempuan itu menghela napas kasar. “Memang aku nggak pantas juga berkebun.”
Ia meletakkan hasil panennya di atas tanah. Kakinya melangkah melewati bapak dan keluar dari halaman rumah. Berbekal ponsel di kantong gaun rumahannya, Rindu terus berjalan. Ia belum menentukan akan kemana, tapi setidaknya keluar dulu dari lingkungan rumah yang menyesakkan.
Di bawah terik mentari, perempuan itu terus membawa kakinya melewati jalanan aspal nan panas. Sandal jepitnya terasa akan meleleh, tapi Rindu tidak peduli. Kakinya melaju ke arah gapura komplek. Mungkin, ia bisa ke pantai atau duduk santai di minimarket depan. Begitulah ide yang kini terlintas di kepalanya.
Sebisa mungkin perempuan itu mengabaikan tatapan beberapa tetangga yang berkumpul untuk bergosip. Salah satu topik utamanya sudah jelas tentang Rindu juga. Mereka melirik ke arah Rindu, tapi pura-pura mengalihkan pandangan begitu tatapan itu dibalas sang perempuan.
“Kalau nggak ada kerjaan, enak rebahan daripada senam mulut yang nggak guna,” gerutu Rindu.
Bagi orang-orang yang melihat, tingkah ini seperti kewarasan Rindu sudah sirna. Sosok gadis itu berjalan di siang terik sambil menggerutu memang cocok sekali untuk diberi label menyedihkan. Lebih tepatnya Si Perawan Tua Menyedihkan.
Berhubung Rindu belum terlalu gila, ia memutuskan untuk masuk ke minimarket saja. Perempuan itu berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol minuman bersoda rasa leci. Ia juga membeli biskuit coklat untuk mendampingi minumannya.
Usai membayar minuman dan cemilan, ia duduk di kursi panjang yang tersedia di dalam minimarket. Kursi dan meja itu menghadap ke arah jendela besar, membingkai pemandangan jalanan sepi di tengah hari bolong. Dari jendela itu, beberapa petak sawah yang tersisa—belum berubah menjadi perumahan baru—terlihat menyejukkan mata.
Di tempat duduknya Rindu mengunyah biskuit sambil termenung. Samar-samar bayangan tentang rasa lelah serta sakitnya terlihat. Perempuan tersebut segera menggelengkan kepala, menghapus semua bayangan itu. Tangannya sedikit bergetar saat meraih botol minuman bersoda.
“Lupakan semua,” bisiknya pada diri sendiri.
“Selamat datang, selamat berbelanja!” Kasir menyambut pembeli yang baru saja masuk. Hal itu menarik atensi Rindu.
Mata Rindu beralih dari pemandangan di balik jendela menjadi sosok yang baru saja masuk. Ia melihat punggung lebar dan tubuh tinggi menjulang yang berjalan melewati rak menuju lemari pendingin, tempat berbagai minuman segar disimpan. Sesaat, sosok itu tidak terlihat ketika menunduk.
Bahu Rindu mengedik. Manakala ia hendak menoleh ke arah berbeda, sosok lelaki tinggi dengan punggung lebar itu berbalik. Mata mereka pun bertemu pandang. Sontak saja Rindu beranjak dari tempatnya. Seperti melihat hantu, dia bergegas keluar dari minimarket.
“No no no no.” Langkahnya lebar-lebar, setengah berlari menuju gapura perumahan.
“Rindu!” Iya, tentu saja dirinya akan dipanggil.
Namun, Rindu tidak menghentikan langkah. Sayangnya, ia mendengar derap sepatu yang berlari cepat dan tiba-tiba saja ia merasa pergelangan tangannya disentuh.
“Rindu.” Suara itu sangat dekat.
Tubuh Rindu sedikit bergetar dan ia menepis keras pegangan ringan di pergelangan tangannya. Matanya menatap dengan sorot goyah sosok tinggi yang sudah sangat lama tidak pernah ia temui.
“Jiro,” gumam perempuan itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!