“Ketika luka punya tingkatan tapi dia hanya pengingat bukan penyebabnya.”
“Jiro,” gumam Rindu.
Sosok yang sempat menggamit pergelangan tangan Rindu itu segera menarik tangannya begitu ditepis. Lelaki itu—Jiro—menggosok tengkuknya kikuk. “Hai,” sapanya.
Bayangan dari tinggi Jiro yang menjulang menghalangi terik mentari menyapa permukaan kulit Rindu. Perempuan itu bergeser sedikit lagi agar bayangan si lelaki secara sempurna memblokir panasnya matahari. “Halo.” Rindu merespons tidak kalah canggung.
Siapa sangka, dua orang ini adalah teman sebaya yang sejak SD sudah sering bermain bersama. Panas-panasan bukan penghalang mereka menjelajahi komplek perumahan di pinggiran kota kecil yang masih punya banyak sawah. Sayang, sawah-sawah itu banyak yang berubah menjadi rumah-rumah baru.
Kini, dua teman masa kecil itu berjalan berdampingan. Jiro yang paham kalau Rindu kepanasan menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Sesekali, ia melirik ke arah sang teman kecil yang menatap lurus ke depan. Ekspresi Rindu sangat datar, seolah tidak ada lagi emosi di dalamnya. Seperti tidak berjiwa.
“Kapan balik dari Jakarta?” Tanya lelaki itu. Bagi Rindu, terdengar seperti basa-basi.
Masih menatap ke depan, Rindu menghela napas dengan berat. “Seharusnya kamu sudah tau sejak kapan dan sampai kapan aku akan di sini.”
Rindu berasumsi bahwa kabar dirinya yang menjadi pengangguran sudah sampai ke seantero komplek perumahan. Jadi, tidak ada alasan bagi Jiro untuk tidak mengetahui soal ini. Setahu Rindu, Asisten Rumah Tangga Jiro kerap ikut dalam adu gosip di lapak keliling Mas Joko si tukang sayur.
Di sampingnya, Jiro terkekeh. “Aku nggak tau apa-apa. Aku baru sampai sini kemarin malam, tengah malam lebih tepatnya.”
“Oh, jadi suara mobil semalam itu ke arah rumah kamu.” Rindu menggumam sambil mengangguk kecil.
“Jadi, kamu nggak mau kasih tau sejak kapan sudah pulang?” Lelaki itu mundur sedikit agar bayangannya bisa menghalangi sinar matahari menerangi tubuh Rindu.
“Sudah seminggu dan sekarang aku pengangguran. Aku juga punya julukan dari ibu-ibu komplek. Seru loh julukannya.” Perempuan itu menoleh agak ke belakang. Kali ini, ia penasaran dengan ekspresi Jiro saat dirinya memberitahu julukan yang kini melekat pada dirinya. “Si Perawan Tua Menyedihkan.”
Jiro mengernyit. “Memangnya kamu merasa menyedihkan?”
“Nggak juga. Lagian, julukan mereka agak kurang tepat.” Bahu Rindu mengedik dan tatapannya berubah menjadi dingin.
Di posisinya berjalan, Jiro mengerjapkan mata. Ia kembali menggosok tengkuknya sebab kecanggungan melanda secara mendadak. “Kamu nggak tanya kenapa aku pulang?” Lelaki itu mengalihkan topik.
Rindu tetap menatap ke depan. “Liburan tentunya.” Ia menebak dengan mudah.
Ayolah, daerah tempat mereka lahir dan dibesarkan merupakan tempat wisata. Keluarga Jiro sendiri punya usaha travel perjalanan. Armada kendaraannya banyak, bisa pilih mulai dari motor, mobil, sampai bus. Dahulu, sekolah Rindu dan Jiro sering memakai bus dari perusahaan milik keluarga Jiro untuk pergi wisata ke pantai.
“Bisa jadi menetap juga, nggak sekadar liburan.” Jawaban Jiro tidak terduga. Hal itu berhasil membuat Rindu menoleh ke arah teman masa kecilnya.
“Apa sekarang lagi musim pulang kampung for good?” Sebelah alis sang perempuan terangkat.
“Lebih tepatnya ada tren slow living. Daerah sini lagi jadi tempat yang dicari orang-orang yang mau hidup lebih santai.” Jiro mengoreksi.
Netra Rindu berotasi. “Ya, dengan penghasilan ibu kota tentunya. Kalau penghasilan standar sini mana tahan mereka.”
Jiro terkekeh lagi. “Betul.”
Langkah mereka terhenti tepat di bawah pohon jambu air. Tiba-tiba saja Rindu berbalik, berdiri berhadapan dengan Jiro. Matanya memicing, menatap penuh curiga ke arah sosok yang waktu kecil dulu sering dipanggilnya gembul. “Kamu gitu juga, kan?”
“Apanya yang gitu?” Si lelaki tidak mengerti.
“Kamu kerja gaji ibu kota dan menghemat dengan tinggal balik ke sini,” tuduh Rindu.
“Memang kamu nggak gitu juga?” Jiro membalik keadaan, agaknya tidak menyimak dengan baik perkataan Rindu tentang dirinya tadi.
“Aku kan bilang kalau sekarang nganggur, jadi nggak ada penghasilan. Aku hidup dari tabungan aja. Entah kalau sudah habis. Mungkin cari kerja atau…” perempuan itu menggantung kalimatnya. Ia mengedikkan bahu dan kembali menjejakkan sandal di atas aspal.
“Atau?” Jiro menyusul. Ia menunggu lanjutan ucapan Rindu dengan penuh antisipasi.
“Never mind,” katanya.
Meski penasaran, Jiro tidak memaksa teman kecilnya melanjutkan ucapan. Lelaki itu memutuskan untuk berjalan saja, mengikuti Rindu dari belakang. Dirinya melanjutkan menjadi tameng penahan panas sengat matahari menggunakan bayangannya.
Selama berjalan itu, tidak ada lagi konversasi. Rindu sibuk dengan isi kepalanya yang riuh. Sementara itu, Jiro juga berusaha menekan rasa penasarannya. Jujur, lelaki itu ingin banyak bertanya soal kabar Rindu. Ia ingin tahu seperti apa kehidupan perempuan itu selama mereka terpisah begitu lama. Apakah Rindu menjalani hari-harinya dengan baik?
Namun, melihat bagaimana sosok itu sekarang, pikiran Jiro melayang. Ia ragu jika Rindu menjalani hidup dengan baik-baik saja. Caranya bicara dan berpikir sangat kelihatan kalau sosok teman masa kecilnya telah melalui hal yang sulit. Mungkin, lebih sulit dan berat daripada saat mereka masih kanak-kanak dan remaja.
“Aku tau kamu terus mandangin belakang kepalaku. Mau tanya soal apa?” Seolah punya mata di belakang kepalanya, Rindu bisa menebak tatapan Jiro begitu fokus padanya. Perempuan itu menoleh ke belakang.
“Boleh aku tanya-tanya memangnya?” Perasaan Jiro campur aduk antara ragu dan segan melontarkan pertanyaan yang mungkin bisa menyakitkan.
“Tanya aja. Kalau aku berkenan pasti aku jawab.” Rindu tetap berjalan meski kepalanya miring agar bisa menatap Jiro.
“Kalau kamu nggak berkenan?” Dua alis tebal lelaki itu bertaut.
“Paling aku tonjok kamu.” Si perempuan terkekeh.
“Oke, aku mau tanya. Apa selama ini kamu hidup dengan baik?” Pertanyaan itu sudah ada di ujung lidah Jiro sejak tadi.
“Not really, but I survived.” Rindu tersenyum kecil.
Kali ini, langkah mereka sudah mencapai jalanan dengan pohon-pohon perdu di kiri dan kanan. Jiro pun maju dua langkah, mensejajari posisinya dengan Rindu. Dua teman masa kecil itu pun sesekali saling menoleh untuk menilik ekspresi masing-masing ketika bicara.
“Is it a hard life?” Pertanyaan lain terlontar, masih seputar rasa penasaran Jiro akan kehidupan Rindu.
“Sedikit. Aku bisa melewati kesulitannya.” Si perempuan nyengir.
Hanya saja, di mata Jiro, senyum kecil maupun cengiran itu lebih seperti mekanisme pertahanan Rindu. Sorot matanya mengatakan sebaliknya. Kesulitan itu masih ada dan belum terlewati dengan baik.
Jiro hendak bicara lagi, tapi suaranya tertahan karena seruan dari arah rumahnya. “Papa!”
Air muka Rindu jelas memperlihatkan keterkejutan. “Papa?” Ulangnya.
Atensi mereka pun tertuju pada derap langkah kecil. Sosok anak lelaki muncul dari balik gerbang rumah keluarga Jiro yang luas. Seingat Rindu, rumah itu terdiri dari tiga unit rumah yang dijadikan satu dan dibangun bertingkat.
“Papa!” Anak lelaki yang berseru kencang menubruk tubuh Jiro. Lelaki itu dengan sigap merentangkan tangan dan membawa anak itu ke dalam gendongan.
Sementara Rindu yang terkejut dengan cepat menyadarkan dirinya. Ia tersenyum simpul manakala matanya beradu dengan mata bulat dan sorot jernih anak itu.
“Tante pacarnya papa?” Tanya anak itu.
“Hah?” Rindu terkejut. Bagaimana mungkin anak itu tiba-tiba melontarkan tuduhan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!