Bab 10

0 dibaca

A

“Apakah semuanya bisa berubah menjadi baik-baik saja?”


Tubuh Rindu terkulai lemah di samping tempat tidur. Napasnya begitu lambat dan kesadarannya benar-benar hilang. Dalam keadaan genting ini, Jiro mengambil tindakan cepat. Ia membopong tubuh Rindu di punggungnya. Kaki panjang lelaki tersebut melangkah lebar keluar kamar. Sementara di belakangnya, Rafandra menyusul.

Tiba di halaman depan rumah, adik bungsu Rindu itu berlari ke garasi, menyalakan mesin mobil dan mengeluarkannya dari garasi. Istri Rafandra membuka gerbang lebih lebar. Ketika para anak muda berusaha bergerak cepat, para orang tua malah terpaku. Bapak tampak syok melihat bagaimana putri sulungnya terkapar. Ibu sendiri termenung di undakan tangga terbawah.

Mata ibu menatap ke arah kegaduhan. Tangannya masih memegang piring berisi nasi beserta lauk dan sayur untuk Rindu. “Dasar anak bandel.” Gumamnya lebih terdengar lirih daripada kesal.

“Di depan rumah, Jiro berhasil memasukkan Rindu ke bangku penumpang belakang. Lelaki itu ikut masuk dan menjadikan pahanya sebagai bantal sang teman masa kecil.

Di depan, Rafandra mengemudi. Ia segera tancap gas begitu mobil keluar dari halaman. Sesekali, matanya melirik ke arah rear view, memastikan kalau sang kakak masih bernapas. Perjalanan malam ini terasa sangat sunyi. Jiro sendiri tidak lepas menatap ke arah wajah Rindu yang sangat pucat. Peluh sebesar biji jagung juga keluar dari kening dan pelipisnya.

Beruntung, lokasi komplek perumahan masih termasuk dalam kawasan kota. Tidak jauh dari sana, ada rumah sakit dengan IGD 24 jam serta peralatan medis lengkap. Begitu mobil SUV hitam milik Rafandra berhenti di depannya, Jiro segera membopong Rindu.

Malam yang belum begitu larut menjadikan para petugas medis lebih sigap. Mereka berlari membawa brankar dan membantu Jiro meletakkan tubuh lemah Rindu di atasnya. Dokter jaga pun segera melakukan pemeriksaan dasar. Brankar itu ditempatkan pada salah satu sudut dengan kelambu ditarik hingga menyelubungi sekitarnya. Hal ini memberi privasi sekaligus membatasi Jiro dari melihat proses penanganan yang diterima oleh Rindu.

“Tensi terus turun.” Suara dari balik tirai terdengar.

“Epinefrin.” Kali ini ada suara berbeda.

Kesibukan terjadi di area tempat Rindu kini ditangani. Sementara Jiro tidak berdaya. Lelaki itu hanya bisa menunggu dalam resah dan ketakutan. Pandangannya sulit untuk fokus. Bahkan, lelaki itu sampai tidak mendengar Rafandra memanggilnya beberapa kali.

“Abang!” Jiwanya ditarik kenyataan saat tangan Rafandra menepuk bahunya.

“Kita… kita tunggu dulu.” Jiro terbata. Ia berusaha tenang tetapi rasanya sangat sulit. Ia memalingkan wajah dari tempat penanganan Rindu. Lelaki tersebut membawa Rafandra duduk di ruang tunggu hingga seorang perawat menghampiri.

“Keluarga pasien yang baru datang?” Tanyanya.

Jiro hendak mengangkat tangan. Tapi, ia sadar kalau dirinya bukan keluarga. Di sampingnya, Rafandra yang beranjak sebab petugas medis memang memanggilnya masuk untuk mengurus administrasi.

“Bang, ayo ikut.” Tanpa dinyana, lelaki yang lebih muda itu berbalik dan mengajak Jiro masuk untuk menemui Rindu.

=+=+=+=

Cahaya terang mulai masuk ke mata Rindu. Begitu mata perempuan tersebut terbuka sempurna, ia dapat merasakan dengan jelas hangat pada telapak tangan kanannya. Ia merintih manakala kepalanya bergerak. Sakit di kepala itu terasa bagai menghantam, layaknya batu besar baru saja dilempar dan mengenai kepalanya.

“Rindu?” Suara itu. Suara seseorang yang beberapa hari ini dihindari sejak pulang dari resort.

Mata Rindu mengerjap. Hangat pegangan tangan itu terlepas. Kali ini, wajah Jiro tampak di matanya. Ekspresinya jelas menyatakan kekhawatiran sekaligus lega. “Mana yang sakit?” Tanyanya.

Rindu menelan ludahnya susah payah. Kerongkongan perempuan itu begitu kering hingga sulit untuknya bersuara. Alih-alih sebuah kata, suara yang keluar malah gumaman tidak jelas yang berhasil membuat Jiro semakin mendekatkan telinganya ke wajah perempuan itu.

“Air.” Akhirnya, Rindu bisa mengucapkan satu kata itu.

Setelah tahu apa yang diminta Rindu, Jiro segera membuka botol air mineral. Ia memasangkan sedotan, mengatur ranjang hingga Rindu berada dalam posisi setengah duduk. Baru setelahnya membantu sang teman masa kecil meneguk air.

“Mau makan juga?” Tawar Jiro.

Kepala Rindu menggeleng. “Nggak.”

Sayang, jawaban semacam itu ternyata salah besar. Jiro berdecak dan melotot. Ekspresi yang diperlihatkan lelaki tersebut sangat lucu sebab matanya yang kecil seperti memaksa untuk terbuka jauh lebih lebar. Tiba-tiba saja Rindu terkekeh, meski setelahnya malah meringis karena sakit di kepala kembali menyerang.

“Kamu harus makan bubur. Sebentar, aku minta ke perawat di depan.” Lelaki itu beranjak dari kursi di sisi ranjang. Ia melangkah keluar kamar dengan gerakan cepat, meninggalkan Rindu yang termenung.

Kali ini, pandangan Rindu mengedar ke penjuru ruang rawat. Dalam ruangan itu, ia sendirian. Kalau dilihat lagi, sepertinya Rindu berada di dalam ruang perawatan VIP. Selain ranjang untuk orang yang sakit, ada pula sofa empuk yang bisa dijadikan ranjang bagi penunggu pasien. Ada pula televisi berukuran besar lengkap dengan speaker yang menggantung di tembok.

Rindu menatap layar yang menyala. Tayangannya adalah program dokumenter tentang perjalanan keliling dunia seorang pesohor internasional. Ada pula vas bunga berisi rangkaian mawar warna-warni di dekat jendela besar tepat di sebelah sofa.

Belum selesai Rindu memindai seluruh keadaan ruangan, pintu bergeser terbuka. Jiro kembali sambil mendorong sebuah troli kecil berisi makanan. Ada tiga piring keramik warna putih yang bagian atasnya ditutup plastik wrap. Tampilan piring itu mengingatkan Rindu pada penyajian makanan di sebuah rumah makan khas masakan Padang.

“Kenapa ngeliatnya begitu banget?” Jiro mengernyit.

Lelaki itu mengatur lagi ranjang Rindu agar posisi si perempuan menjadi duduk lebih tegak. Ia juga tanpa banyak kata menyeret meja khusus makan pasien dan memindahkan piring-piring yang ada di troli. Segala perlakuan itu tidak luput dari perhatian Rindu.

“Kenapa?” Tanya perempuan itu.

Jiro yang sedang membuka plastik wrap di piring-piring mengalihkan atensi. Manik coklat terangnya menilik manik kelam milik Rindu. “Apanya yang kenapa?”

“Kenapa kamu selalu baik begini?” Dua telapak tangan Rindu mengepal kuat. “Kenapa kamu nggak pernah cuek dan membiarkan aku?”

Atensi Jiro kini utuh pada sosok Rindu. Posisi duduknya miring agar bisa semakin leluasa menilik wajah teman masa kecilnya. “Sama orang asing aja aku sulit untuk cuek, apalagi sama teman yang sejak kecil aku kenal.”

“Tapi…”

“Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti kemarin lagi. Kamu bisa cerita masalah kamu ke aku atau minta tolong ke aku untuk pergi cari bantuan. Jangan lagi seperti kemarin dan membuat semua orang khawatir.” Jiro mendumal.

Tangan lelaki itu meraih piring berisi bubur yang sangat encer. Ia menyendok sedikit bubur dan mengarahkannya ke depan mulut Rindu. “Makan.”

Tatapan tajam Jiro berhasil membuka mulut perempuan itu. Rindu menerima suapan pertama dan segera menelan bubur. Ia pun mengulang hingga suapan kelima sebelum menutup rapat mulut karena mual. “Sudah.”

Kali ini, Jiro tidak mengomel. Lelaki itu meraih piring lain berisi dua butir telur rebus yang sudah dikupas cangkangnya. Ia memotong telur itu menjadi potongan kecil. Menggunakan sendok, ia memilih potongan bagian putih dan kuning yang masir.

Rindu menggeleng. Ia tidak ingin makan lebih banyak. Namun, Jiro tampaknya tidak menerima penolakan. Lelaki itu menatap tajam ke arah Rindu lagi. Jadi, dengan terpaksa Rindu menerima suapan telur.

“Kamu juga butuh asupan protein. Manusia itu butuh nutrisi yang seimbang. Bukannya malah makan snack penuh natrium yang merusak badan. Kamu juga harus minum air yang cukup. Bagaimana bisa kekurangan nutrisi dan lemas masih kuat dorong lemari buat tutup pintu?” Jiro mendumal lagi.

Rindu diam saja. Ia tidak hanya menelan makanan dengan susah payah. Perempuan tersebut juga harus menelan pahitnya kekesalan tetangga depan rumahnya. Jujur, Rindu sendiri tidak yakin bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit. Semalam, ia sempat sadar saat dokter menangani, tapi kembali tertidur sebab memang diberi obat agar bisa istirahat lebih nyaman.

Begitu bangun dari tidur panjang, ia sudah ada di ruang VIP dan ditemani Jiro. Ada banyak pertanyaan kini bercokol di kepala perempuan itu, tapi ia tidak kuasa bertanya. Rindu takut mendengar cerita akan reaksi keluarganya saat menemukan dirinya di kamar. Benar, ia sengaja mengganjal pintu dengan lemari agar tidak diganggu.

Malam kemarin, Rindu hanya ingin sendirian dalam rasa sakit di tubuhnya. Sakit akibat dirinya yang enggan makan. Ia tahu mungkin tubuhnya tidak akan bertahan dalam keadaan itu. Namun, Rindu sengaja membiarkannya agar tubuhnya melemah dan perlahan mematikan semua fungsinya.

Hening menguasai ruangan. Suara dari televisi dengan volume kecil menjadi yang mengisi keadaan selain helaan napas dua teman yang sejak kecil telah bermain bersama. Jiro sedikit menunduk setelah beberapa saat menatap galak ke arah Rindu.

“Hidupmu jauh lebih berharga dari apa yang kamu pikirkan, Rin,” tutur Jiro dengan suara sedikit bergetar.

Rindu belum sempat merespons dan pintu ruang rawatnya bergeser terbuka. Sosok Rania muncul bersama suaminya. Adik perempuan Rindu itu menyerbu masuk dan memeluk erat kakaknya. “Aku kan udah bilang untuk makan yang benar,” dumalnya seraya menepuk punggung Rindu agak keras.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk