Bab 9

0 dibaca

A

“Tidak ada orang yang benar-benar baik-baik saja dalam hidupnya.”


Jendela kamar di rumah seberang sudah tiga hari ini tertutup rapat. Jiro yang biasa melihat Rindu dari jauh kini hanya bisa menatap kosong ke arah jendela tertutup itu. Bahkan di malam hari, lampunya terus padam. Selama itu pula, Jiro belum bertemu lagi dengan si penghuni kamar.

Pulang dari resort malam itu, Rindu memang menjadi pendiam. Tidak ada obrolan sepanjang jalan. Hanya hela napas berat dari sosok perempuan itu yang menjadi tanda bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Inginnya, Jiro melawat ke seberang tapi ragu karena mata para tetangga semakin tajam saja.

Kemarin pagi, Asisten Rumah Tangganya bercerita pada Ibu Miyuki soal gosip terbaru di antara para tetangga. Beberapa kali mereka melihat Rindu dan Jiro berduaan. Bahkan, ada yang melihat Jiro membukakan pintu mobil untuk Rindu tiga hari lalu.

Mami tidak marah atau melarang. Sosok Ibu Miyuki memang lebih cuek dengan omongan tetangga. Ia juga tidak masalah Jiro mendapat cibiran sebagai duda. Hanya saja, Jiro sendiri yang merasa tidak enak pada sahabat kecilnya. Mungkin, gosip itu juga yang membuat Rindu tidak pernah lagi bertemu dengannya tiga hari ini.

“Pa.” Suara Raja menyadarkan Jiro dari lamunan.

“Ada apa, boy?” Senyum lelaki itu merekah. Ia berlutut, menyamakan level mata dengan sang anak. “Kamu mau pergi main ke taman atau…”

“Aku mau ke bunda,” potong anak itu.

Air mata Raja meleleh. Anak itu seminggu ini menahan rasa inginnya untuk bertemu sang bunda. Tetapi, dirinya merasa tidak enak untuk bicara jujur pada Jiro. Anak itu tidak mau merepotkan dengan rengekannya.

Seketika, Jiro memeluk tubuh mungil itu. “Suatu saat kamu bisa ketemu bunda,” bisiknya.

“Kapan?” Tanya Raja.

Jujur, Jiro sendiri tidak tahu pasti kapan. Wanita yang telah melahirkan Raja seolah menghilang begitu saja. Ia dengan tega meninggalkan anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Lebih dari tiga bulan Raja menunggu kedatangan wanita itu. Tanpa lelah Jiro juga mencari keberadaannya, tapi semua nihil. Oleh karena itu, Jiro memutuskan membawa anak itu kembali ke kampung halamannya. Mungkin, suasana pulau dan kota kecil bisa membuatnya sedikit melupakan kerinduan tentang bunda. Sayang, ia lupa seberapa nyinyir para tetangga. Akibatnya, Jiro jarang mengizinkan Raja bermain keluar. Tentu saja, kecuali ke rumah depan karena seperti pagi tadi, keponakan kembar Rindu meneriakkan namanya di depan gerbang.

“Raja harus sabar dan terus berdoa.” Pelukan terurai dan Jiro menatap lembut ke arah sang putra.

Anak itu mengangguk kecil. Bibirnya masih mengerucut dan matanya merah akibat tangis yang sempat pecah. Menggunakan ibu jarinya, Jiro mengusap air mata itu. Ia menggandeng Raja keluar dari kamar dan mengajaknya berenang di halaman belakang.

Sayangnya, keseruan berenang tidak juga membuat kegamangan hati Raja reda. Semua makin parah karena sebenarnya suasana hati Jiro tidak begitu baik akibat memikirkan tentang Rindu. Ia masih penasaran, ingin mengulik semuanya guna membantu sang teman masa kecil keluar dari zona ketakutan yang ia lihat dari luar.

“Papa!” Kali ini, Raja berteriak nyaring untuk memecah lamunan sang papa.

Jiro yang tersadar akhirnya melihat putranya yang kesusahan mengapung dan hampir tenggelam. Lelaki itu segera menghampiri dan menggendong Raja. “Pelan-pelan aja. Berenangnya di pinggir dulu jangan sampai ke tengah,” tegur Jiro.

Bibir Raja cemberut lagi. Tetapi, kepalanya tetap mengangguk tanda akan patuh. Kegiatan berenang pun berlanjut selama lima belas menit sampai akhirnya Raja minta untuk bermain keluar rumah. Tiga hari ini, anak itu terlalu banyak main di dalam ruangan.

Benar saja, begitu sore menyapa, Jiro mengajak putranya ke taman. Anak itu menaiki skuter dan tampak lebih riang. Berbeda dengan sang papa yang masih kepikiran soal tetangga depan rumah. Lelaki tersebut menghela napas berat beberapa kali dan itu disadari Raja.

“Papa kenapa sih?” Tanya anak itu.

Raja urung bermain perosotan. Ia berdiri di depan Jiro dengan kening mengernyit, menunggu jawaban dari sosok yang selalu menyayanginya itu. Telapak tangan mungil Raja menangkup pipi Jiro cukup kuat.

“Raja, papa boleh tanya?” Akhirnya Jiro terpaksa menggunakan anaknya untuk mencari tahu soal keadaan Rindu.

“Tanya apa, Pa?” Mata bulat anak itu menatap polos.

Tangan besar Jiro bertengger di bahu putranya. “Dari kemarin kamu kan main sama si kembar Lira dan Lina, kamu lihat ada Tante Rindu di rumah depan nggak?”

“Tante Rindu ada di kamarnya. Aku sama si kembar beberapa kali ketok pintu, tapi nggak pernah dibukain. Si Lina hampir aja buka paksa pintunya, cuma aku larang karena itu nggak sopan. Kata neneknya si kembar, Tante Rindu lagi sakit.” Raja bercerita dengan polosnya.

“Sakit?” Dua alis tebal Jiro bertaut.

“Cuma nenek nggak ngasih tau sakit apa,” lanjut Raja.

Kepala Jiro mendadak ribut. Pikirannya berkecamuk dan ingin sekali mendatangi Rindu untuk membicarakan apa sebenarnya yang terjadi. Tetapi, jika memaksa belum tentu temannya itu mau membuka diri. Ia tahu persis keadaan ini pernah terjadi di masa lalu juga.

Pulang dari taman, atensi Jiro terus tertuju pada jendela kamar Rindu. Makan bersama keluarga pun jiwanya masih terbawa gamang. Mami dan ayah yang sadar dengan tingkah aneh putra mereka sampai menegur.

“Kamu ada masalah kerjaan atau apa?” Tanya ayah saat makan malam baru saja selesai.

Kebiasaan di rumah keluarga Jiro, setelah makan anggota keluarga tidak langsung membubarkan diri. Mereka tetap berkumpul sambil makan kudapan dan minum teh jahe. Lalu, mengobrol santai tentang keseharian. Hal ini diterapkan karena dulu orang tuanya sangat sibuk bekerja. Setelah pensiun, kebiasaan ini masih mengakar hingga kegiatannya tidak pernah hilang.

“Papa sedih karena Tante Rindu sakit.” Raja buka suara.

Bapak Beni dan Ibu Miyuki menatap pada sosok imut yang duduk di sebelah Jiro. “Kenapa Raja bisa berpikir begitu?” Tanya Ibu Miyuki.

“Karena memang aku kepikiran. Sejak pulang makan bareng, Rindu nggak pernah kelihatan lagi. Kamarnya selalu gelap dan jendelanya tertutup.” Jiro angkat bicara.

Pak Beni berdehem. “Kamu merasa bersalah karena setelah mengajak makan, Rindu malah jadi sakit?”

Jiro diam saja. Entahlah, sepertinya bukan karena itu. Air muka penuh keraguan itu ditangkap oleh Ibu Miyuki. Tangannya mengelus lembut punggung tangan sang putra bungsu. Gerakan kecil itu membuat putranya menjadi sedikit lebih tenang.

“Kalau khawatir ya dijenguk aja. Kalian dari kecil kan sudah dekat sekali, teman sepermainan. Wajar kalau sekarang khawatir, apalagi mengingat bagaimana Rindu sekarang. Sejak pulang dari ibu kota, mami liat dia sangat nggak baik-baik aja.” Diam-diam, Ibu Miyuki memperhatikan anak dari tetangga rumah depan.

“Ya kan? Rindu beneran nggak baik-baik aja?” Rasanya lelaki itu seperti mendapat validasi dari dugaannya tentang Rindu selama ini.

“Ayah sempat bilang ke Pak Iskandar untuk bawa Rindu ke psikolog atau psikiater. Anak itu mungkin burnout di tempat kerjanya. Bisa jadi ada masalah juga sama kerjaannya sampai akhirnya berhenti kerja. Kepribadiannya juga agak berubah, nggak seperti dulu.” Pak Beni semakin membuat Jiro yakin akan keadaan teman masa kecilnya sekarang.

Tiba-tiba, lelaki itu beranjak dari tempat duduknya. Sebelum keluarganya mengeluarkan pertanyaan, ia lebih dulu berkata, “Aku ke rumah depan sebentar.”

Sementara itu, di rumah keluarga Rindu, ibu berusaha membuka pintu kamar. Hanya saja seperti ada yang mengganjal di baliknya. “Rindu!” panggilnya.

“Mungkin pintunya diganjal meja.” Rafandra—adik bungsu Rindu—menghampiri. Ia menggantikan posisi ibu yang membawa makanan di depan pintu. Lelaki itu sekuat tenaga mendorong pintu kamar kakaknya, tapi nihil.

“Kakak keluar kamar terakhir itu kemarin siang.” Nadira, istri Rafandra bersuara. Ia menggigit bibir bawahnya, jelas sangat khawatir.

“Kak! Kak Rindu!” Sang adik memanggil nama lebih keras. Rafandra kini dibantu oleh bapak berusaha mendobrak pintu.

“Padahal kan ibu sengaja nggak kasih kunci kamar, ya biar hal kayak gini nggak nyusahin,” gerutu ibu.

Disaat para lelaki di rumah kesusahan, Jiro muncul. “Permisi?” Lelaki itu terpaksa masuk ke rumah karena tidak ada yang menyahut kala dia memanggil, sementara pintu rumah terbuka lebar.

“Bang Jiro, bantu kami!” Pinta Rafandra.

“Ada apa ini?” Jiro segera mendekat.

“Pintu kamar Kak Rindu susah dibuka. Dia belum keluar kamar dari kemarin.” Nadira yang menjawab pertanyaan.

“Dasar anak bandel.” Sementara ibu malah menggerutu, bukannya khawatir.

Jiro pun mengerahkan tenaganya untuk mendorong pintu. Kali ini, sesuatu di baliknya terasa bergeser. Pintu sedikit terbuka, tapi hanya cukup untuk mengintip ke dalam. Masalahnya, kamar Rindu sangat gelap.

“Rindu?” Panggil Jiro.

“Rindu! Jangan main-main!” Kali ini ibu membentaknya.

Semua orang menatap ke arah ibu. Terutama Jiro yang tidak percaya kalau kekhawatiran sama sekali tidak terpancar dari air muka Ibu Sumi.

Sekali lagi, para lelaki mendorong pintu sampai akhirnya pintu bisa terbuka lebih lebar. Satu orang bisa melewatinya untuk masuk. Jiro pun mengambil kesempatan itu. Ia mendorong lemari kayu yang mengganjal pintu agar daun pintu bisa terbuka lebih lebar. Setelah itu, lampu kamar dinyalakan dan mata lelaki tersebut membulat.

“Rindu!” Serunya, dengan suara bergetar yang sarat akan ketakutan dan kekhawatiran.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk