Bab 11

0 dibaca

A

“Ada luka yang bisa sembuh, ada pula yang hanya mengering dan membekas jelas.”


Rindu berdiri di depan pintu kamar yang kini tidak mempunyai daun pintu. Sebuah kelambu menjadi batas privasi untuknya. Saat masuk ke dalam, lemari kayu tempatnya menyimpan baju juga sudah tidak ada di tempat. Nakasnya pun hilang begitu saja. Bahkan, meja juga tidak ada. Satu-satunya perabotan yang tersisa di dalam kamar itu hanyalah sebuah ranjang.

Rasanya, kebebasan Rindu seperti dilucuti. Perempuan itu menghela napas berat dan duduk di pinggir ranjang. Kelambu yang menggantung di pintu tersingkap. Adiknya, Rania, masuk ke dalam kamar dengan bahu terkulai.

“Mau tinggal di rumahku aja?” Tawar sang adik.

Atensi Rindu tertuju pada perempuan yang lebih muda itu. Ia menggeleng lemah, sebab tahu bahwa rumah adiknya tidak seberapa luas. Ia hanya punya dua kamar dan si kembar sudah tidur di kamar mereka sendiri. Tentu saja, Rindu tidak akan sampai hati menggusur ruang pribadi keponakan-keponakannya itu.

Seharusnya, Rindu sudah punya tempat sendiri. Jika menuruti aturan, ia sudah harus punya banyak hal dalam genggaman. Namun, ia pulang ke rumah orang tua tanpa menjadi apa-apa. Seperti saat pergi dari rumah dulu, ia kembali dalam keadaan di mana ibu menyebutnya sebagai sosok memalukan.

Kali ini, Rania mendekat dan duduk di samping kakaknya. Ia bersandar di bahu Rindu, menatap kelambu yang bergerak tertiup angin dari arah jendela. “Bagaimana kalau ngekos?”

“Aku akan cari kerja di luar kota,” tutur Rindu.

Sang adik langsung duduk tegak. Ia menatap lekat profil samping wajah kakaknya. “Kakak yakin?”

Rindu menelan ludah. Matanya mengerjap, tidak sanggup menoleh untuk membalas tatapan Rania. “Entahlah.”

“Bapak sama ibu juga pasti nggak bakalan setuju. Kemarin, pas kakak masih di rumah sakit, ibu membahas soal perjodohan. Katanya, kakak stres karena sampai umur tiga puluh tiga tahun belum nikah,” adu Rania.

“Yang bener aja?” Seketika Rindu menoleh. Ia menatap horor ke arah adiknya. “Apa aku tinggal di rumah sakit jiwa sekalian?”

“Kak!” Rania memukul bahu kakaknya sambil cemberut. Mungkin, ia pikir Rindu sedang bercanda. Tetapi, wajah sang kakak tampak sangat serius.

“Aku serius, Ran.” Bahu Rindu semakin terkulai. “Obat yang harus aku minum entah dibuang kemana sama ibu. Semuanya ada di dalam laci nakas. Tinggal menunggu waktu aja sampai aku gila beneran.”

“Kak…” lirih perempuan yang lebih muda. Sorot matanya berubah menjadi nanar saat menatap Rindu.

Manik mereka yang serupa bersirebak. Namun, beberapa detik setelahnya Rindu malah terkekeh. Sontak saja Rania mencebik kesal. Ia pun pamit pergi karena harus kembali ke kantor. Kebetulan, setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Rindu sudah diperbolehkan pulang siang ini. Berhubung Rafandra tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan Jiro ada pekerjaan mendesak sehingga lelaki itu harus keluar kota, Rania yang datang menjemput.

Tadinya, bapak sudah menawarkan diri untuk menjemput. Hanya saja Rindu menolak. Perempuan tersebut bahkan tidak berani menatap mata bapak saat bertemu di pintu depan. Sementara ibu diam saja, tidak menatapnya juga. Mungkin masih kesal dengan apa yang dilakukan Rindu dua hari lalu.

“Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku aja. Kakak juga bisa minta tolong sama si kembar. Mereka di sini sampai sore nanti seperti biasa.” Rania menepuk pelan bahu kakaknya sebelum pergi.

Sepeninggal adiknya, Rindu merebahkan diri di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar yang sudah bersih dari sarang laba-laba. Sepertinya, selama dua hari ada pembersihan besar-besaran di ruangan itu. Bersihnya tidak kira-kira, bahkan sampai lemari, meja, dan nakas juga disingkirkan.

“Bajuku disimpan di mana?” Rindu baru kepikiran. Perempuan itu pindah posisi menjadi duduk tegak.

Saat ia hendak beranjak, kelambu yang menutup pintunya tersibak lagi. Kali ini, tiga anak kecil muncul, mengintip sambil tersenyum polos ke arahnya.

“Bibi udah nggak sakit lagi?” Tanya Lira.

“Bibi diinfus pas di rumah sakit?” Lina tidak mau kalah.

Sementara itu, satu sosok anak yang selalu menempel pada si kembar diam saja. Mata bulatnya hanya menatap Rindu dengan sorot agak sendu. “Tante nggak apa-apa, kan?”

Melihat bagaimana anak-anak itu mengkhawatirkannya dengan gaya polos, Rindu tersenyum kecil. Ia memberi isyarat tangan pada mereka agar mendekat. Ketiganya berlari kecil masuk kamar dan duduk di sisi kiri dan kanan Rindu—si kembar di kiri dan Raja di kanan.

“Kalian dengar apa kata tetangga soal sakitnya bibi?” Rindu mulai mengorek informasi dari para keponakannya.

Begini, apa-apa yang terjadi di komplek terutama RT tempat keluarganya bermukim pasti cepat menyebar. Rindu tidak tahu seberapa heboh malam itu saat semua orang berusaha membuka pintu, tapi pasti ada yang menyadari sesuatu telah terjadi.

“Nggak tau,” jawab Lina dan Lira kompak sambil mengedikkan bahu.

Wajar sebab mereka bukan anak-anak komplek sini. Maka, atensi Rindu beralih pada sosok Raja. “Raja ada dengar sesuatu?”

Raja meremas jemari mungilnya. Kepala anak itu mengangguk dan matanya yang bulat kini memancarkan kesedihan. “Katanya tante pura-pura sakit untuk cari perhatian.”

Jelas saja Rindu mengernyit. “Cari perhatian?”

“Kata Bu Azizah sih begitu. Terus, Tante Salma juga bilang kalau tante mau godain papa.” Informasi dari Raja jelas saja membuat Rindu naik pitam. Perempuan itu mengepalkan tangannya.

Selalu saja ada hal yang bisa di-twist oleh para tukang rumpi. Kali ini, Rindu mencoba lebih tenang. Ia menyentuh lembut bahu Raja. “Tante nggak akan goda papa kamu, tenang aja. Papa dan mama kamu pasti cuma sementara marahannya.”

Raja mengerjapkan mata. “Papa sama bunda nggak pernah marahan.”

“Gimana?” Pernyataan Raja membuat Rindu bingung. “Oh, mereka mungkin lagi ada salah paham aja,” ralat Rindu.

Pikir perempuan itu, Jiro sangat menjaga mental Raja sampai tidak pernah tampak bertengkar dengan istrinya di depan sang putra. Mungkin, masalah teman masa kecilnya itu lebih pelik lagi. Terkadang, ada masalah yang memang sengaja ditutup rapat supaya tidak menyakiti siapa-siapa.

Merasa kasihan pada Raja, Rindu tiba-tiba memeluknya hangat. Supaya adil, sebelah tangannya merangkul para keponakan juga. “Ada yang mau makan es krim?” Tawarnya.

Anak kecil mendapat penawaran semacam itu pastinya tidak akan menolak. Mereka bersorak senang dan menarik tangan Rindu agar beranjak dari kamar. Meski bapak sempat melarang Rindu keluar manakala turun ke lantai bawah, perempuan itu tetap tidak menurut.

Keluar sebentar cukup membuat dirinya merasa lebih bebas. Ia ingin sejenak melupakan kondisi kamar yang kosong tanpa pintu. Berada di bawah matahari terik cukup membuat ia sadar bahwa kegelapan bukanlah hal bagus. Segala pikiran buruknya dapat mengambil alih manakala dirinya membiarkan gelap menguasai.

Sekali lagi, Rindu menatap Raja ketika anak-anak memilih es krim. Perempuan itu merasa seperti bercermin. Walau masih kecil, tapi anak itu jelas menyimpan luka. Raja diam saja, namun senyum dan tatapannya menyiratkan kesakitan yang tidak terucap.

Sebagai seseorang yang telah lama punya luka tak mengering, ia tahu bahwa Raja juga sama. Anak itu rapuh di balik topeng ceria, cerdas, dan penurutnya. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga kecil Jiro, tapi Rindu tahu bahwa seorang anak telah menjadi korban dalam perselisihan nyata.

“Abang Raja!” Lira berseru kaget.

“Abang!” Lina tidak mau kalah.

Sementara mata Rindu melotot. Tiba-tiba saja Jiro mimisan. Anak itu menyeka hidungnya dan tersenyum kaku. “Nggak apa-ap…” belum selesai ia mendeklarasikan diri bahwa kondisinya baik-baik saja, Raja malah kehilangan kesadaran.

Untungnya, Rindu dengan cepat menangkap tubuh kecil anak itu. Ia pun segera menggendongnya dan meminta kasir minimarket memesankan taksi. Mendadak, Rindu takut. Ia takut menjadi samsak kesalahan sebab membawa Raja pergi panas-panasan demi membeli es krim.

“Bibi.” Lira dan Lina mulai menangis di dalam taksi. “Abang Raja.”

Kepala Rindu yang pusingnya belum sembuh jadi kambuh lagi. Hal pertama yang dilakukannya adalah memberitahukan Rania kalau dirinya membawa si kembar ke rumah sakit. Baru setelahnya menghubungi Jiro.

“Jiro, ini Raja sama aku dan dia… mimisan.” Begitu lapornya di telepon.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk